
Sore itu, seperti biasa Adit selalu mengerjakan pekerjaanya lebih dari jam kantor yang ditetapkan. Saat ia melihat jam di tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Adit menoleh ke arah ruangan Dini dan tidak mendapati Dini di sana.
"tumben langsung pulang," batin Adit dalam hati.
Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya sampai jam menunjukkan pukul 6 petang. Tiba tiba ia memikirkan Dini, karena Dini pergi tanpa berpamitan padanya seperti biasa.
Saat Adit akan menghubungi Dini, ponselnya kehabisan daya dan sialnya ia tidak membawa charger. Ingin menghubungi menggunakan telepon kantorpun tidak mungkin karena ia tidak mengingat nomor kontak Dini.
Adit mencoba untuk berpikir positif dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun semakin lama ia semakin gelisah dan memutuskan mengakhiri pekerjaanya.
Ia pun keluar dari kantor untuk meminjam charger pada satpam yang berjaga karena di dalam kantor sudah sangat sepi, tidak ada seorangpun yang berada di sana.
"Pak, bawa charger?" tanya Adit pada satpam.
"Bawa," jawab si satpam.
"Saya pinjam ya pak!"
"Baik pak, silakan!"
Aditpun duduk di pos satpam beberapa lama sambil menunggu daya ponselnya terisi.
"Tadi bapak liat Dini keluar nggak pak?" tanya Adit pada satpam.
"Barusan pulang pak, sama mbak Sela," jawab satpam.
"Sela? kenapa Dini pulang sama Sela?" tanya Adit dalam hati.
Adit lalu mengambil ponselnya berlari ke arah tempat parkir dan segera meninggalkan kantor menggunakan mobilnya. Ia tau Dini dan Sela memiliki hubungan yang kurang baik di kantor dan hal itu membuat Adit semakin menghkawatirkan keadaan Dini, mengingat Jenny selalu bekerja sama dengan Sela untuk melakukan hal hal yang merugikan Dini.
Saat baru saja mobilnya keluar dari area kantornya, ia melihat Dini yang dibawa masuk ke dalam mobil oleh 3 orang laki laki.
Tanpa pikir panjang, Adit segera mengikuti mobil itu. Di tengah pengejarannya, Adit mencoba mengaktifkan ponselnya dan berhasil.
Ia segera menyalakan Gpsnya dan meminta polisi untuk mengikutinya.
**
Tepat jam 6 petang sebelum Dimas pergi ke luar kota bersama Yoga. Entah kenapa dalam perjalanan Dimas merasa gelisah dan tidak tenang membuatnya memutuskan untuk membatalkan kepergiannya bersama Yoga.
"Sorry banget Ga, perasaan gue nggak enak, gue takut ada apa apa sama Andini," ucap Dimas pada Yoga.
"Lo nggak minta Andi buat jemput dia?"
"Gue nggak bisa hubungi Andi, gue harus balik ke tempat Andini Ga, sorry banget!"
"Oke, gue anter lo ke tempat kerjanya Dini!"
"Thanks Ga!"
Yoga pun mengantar Dimas kembali ke perusahaan X, tempat Dini bekerja.
Saat mereka sedang berada di lampu merah sebrang jalan, Dimas melihat Dini yang sedang berdiri di halte. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan Dini dan setelah mobil itu pergi, Dimas sudah tidak melihat Dini di sana.
"Andini!" pekik Dimas tak percaya apa yang baru saja ia lihat.
"Ada apa Dim?"
"Andini Ga, ada mobil yang bawa Andini pergi, cepet kejar Ga, cepetan!" jawab Dimas panik.
"Lampu merah Dim, gue....."
"Persetan sama lampu merah!"
Dimaspun merebut setir mobil Yoga dan hendak menginjak gas, namun Yoga menahannya dan mendorong Dimas dengan kuat.
"Lo jangan bego Dim, pikirin juga keselamatan orang lain!" ucap Yoga berteriak pada Dimas.
Setelah lampu menyala hijau, Yoga segera tancap gas ke arah halte yang berada di sebrang.
"Lo bisa nyetir gak sih Ga!" teriak Dimas emosi karena ia sudah tidak melihat mobil yang membawa Dini pergi.
Beruntung saat itu lampu merah kembali menyala. Dimas segera turun dari dalam mobil Yoga dan mencari mobil yang membawa Dini pergi.
Saat baru saja menemukannya, lampu menyala hijau, membuat mobil itu kembali menjauh. Dimaspun berlari berusaha mengejar mobil itu, namun tentu saja tidak terkejar.
Saat ia berhenti berlari, ia melihat mobil Adit mengejar mobil yang membawa Dini pergi.
Tak lama kemudian Yoga datang, Dimas segera masuk dan memaksa Yoga untuk berpindah posisi.
Yoga pun bergeser dan membiarkan Dimas membawa mobilnya.
"Kita udah kehilangan jejak Dim, buat apa lo ngebut kayak gini?"
"Belum Ga, kita ikuti mobil Adit, gue yakin Adit juga ikutin mobil yang bawa Andini!" ucap Dimas dengan pandangan mata yang tertuju pada mobil Adit.
Setelah hampir 1 jam mengejar, Adit menghentikan mobilnya di sebuah mini market karena melihat mobil itu memasuki sebuah rumah yang dekat dengan mini market itu.
__ADS_1
Aditpun keluar dari mobilnya. Saat hendak pergi ke rumah itu, Dimas datang.
"Dimas, lo ngapain di sini?" tanya Adit yang begitu terkejut melihat kedatangan Dimas.
"Andini dimana?" tanya Dimas tanpa menjawab pertanyaan Adit.
"Mobil yang bawa Dini masuk ke rumah itu, gue udah hubungan polisi buat ikutin gue, tapi......"
"Nggak bisa, gue nggak bisa nunggu polisi," ucap Dimas yang langsung berlari ke arah rumah yang ditunjuk oleh Yoga.
"Sabar Dim, lo nggak bisa masuk gitu aja, kita harus punya rencana!" ucap Yoga mencegah Dimas.
"Tapi Ga....."
"Yoga bener, kita nggak tau ada apa di dalam jadi kita harus punya rencana sebelum masuk!" sahut Adit.
"dia tau nama gue?" batin Yoga dalam hati.
Mereka lalu memutuskan untuk masuk ke area rumah itu melalui belakang. Mereka akan melompat ke area belakang rumah itu melalui pohon mangga yang berada di sana.
Akhirnya Dimas, Adit dan Yoga pun berhasil masuk melalui halaman belakang. Mereka berjalan pelan memasuki rumah itu.
Saat mereka sampai di ruang tamu, mereka melihat 3 orang laki laki yang berjaga di depan pintu.
Dengan perlahan, Dimas, Adit dan Yoga menyerang ketiga laki laki itu dari belakang dan mereka berhasil melumpuhkan ketiga penjaga itu.
Di dalam suatu ruangan di rumah itu, Dini baru saja tersadar dengan mulut yang dibungkam dengan tangan dan kaki yang diikat di kursi.
Perlahan ia memfokuskan penglihatannya dan melihat dengan jelas jika perempuan di hadapannya membawa pisau kecil di tangannya.
"Jenny, kenapa dia ngelakuin ini sama aku? apa karena masalahnya sama kak Adit? Dimas, tolong aku Dimas."
Jenny lalu berjalan ke arah Dini, pisau kecil itu ia tempelkan di pipi Dini.
"Kamu emang cantik dan baik, sangat baik, terlalu baik juga nggak baik loh anak kecil!" ucap Jenny.
Dini menutup matanya erat erat. Memori membawanya pada saat ia disekap oleh Dika. Ia takut, sangat takut bahkan untuk sekedar membuka matanya.
"Kamu tau kenapa Adit seperti itu? itu karena dia masih cinta sama aku, dia masih sakit hati karena penolakanku, jadi kamu jangan pernah berharap buat ambil Adit dariku!" ucap Jenny.
Semakin lama kesadaran Dini semakin menipis seiring dengan ketakutan yang menjalari seluruh dirinya.
PLAAAAKKK PLAAAAKKKK
Dua tamparan keras mendarat di pipi Dini, membuat Dini kembali tersadar sepenuhnya. Ia hanya bisa merintih menahan perih di pipinya.
"Harusnya kamu sadar, kamu itu bukan siapa siapa, kamu cuma perempuan miskin yang berharap dapat pangeran, iya kan? kamu tunangan sama anak pengusaha ternama di sini, tapi di luar sana kamu masih deketin Adit? murahan sekali kamu!"
Sedangkan di lantai satu, Adit dan Yoga membuka satu per satu pintu ruangan yang ada di sana. Namun Dimas segera naik ke lantai dua, ia yakin Dini berada di sana karena Dimas ingat ketika Dini di sekap di lantai atas oleh seorang psikopat.
Adit dan Yoga pun segera mengikuti Dimas dan
BRAAAKKKK
Dimas menendang dengan kuat pintu di salah satu ruangan itu. Seketika Jenny terkaget dan menjatuhkan pisau yang dipegangnya.
"Andini!"
Dimas segera masuk dan berlari ke arah Dini, ia tidak mempedulikan Jenny yang hanya berdiri di tempatnya tanpa tau apa yang harus di lakukannya saat itu.
Dini mulai menangis saat Dimas melepas kain yang menyumpal mulutnya dan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
Dimas lalu memeluk Dini dengan erat. Ia bersyukur karena ia datang di saat yang tepat.
Mereka hanya saling memeluk tanpa mengucapkan apapun. Sedangkan Adit dan Yoga yang baru saja datang sangat terkejut melihat Jenny di sana.
"Jenny!"
"Jenny!"
"Adit, aku nggak ngelakuin apapun Dit, aku nggak berbuat apapun sama dia, kamu percaya sama aku kan?" ucap Jenny dengan bersimpuh di depan Adit.
"Aku nggak nyangka kamu bertindak sejauh ini Jenny, kamu udah melewati batas, kamu seorang kriminal sekarang!"
"Enggak Adit, aku mohon jangan laporin aku, aku ngelakuin ini karena aku sayang sama kamu, aku mohon jangan Adit," ucap Jenny dengan memeluk kaki Adit.
Adit lalu mengangkat bahu Jenny agar berdiri.
"Kamu beruntung karena kamu perempuan Jen," ucap Adit dengan mengepalkan kedua tangannya menahan emosi dalam dirinya.
"Adit, aku....."
"Aku udah hubungan polisi, bentar lagi polisi akan datang, aku nggak akan cegah kamu untuk pergi sebelum polisi datang, tapi mereka yang berhak cegah kamu," ucap Adit sambil menunjuk Dini dan Dimas.
"Lo urus dia Ga!" ucap Dimas lalu membopong Dini keluar dari ruangan itu.
"Kak Yoga, Jenny mohon jangan laporin Jenny kak, Jenny minta maaf, Jenny...."
"Apa kamu nggak pernah berpikir tentang risiko kamu ngelakuin hal ini? apa yang akan orang tua kamu lakukan kalau mereka tau tentang hal ini? dan apa yang akan terjadi sama bisnis papa kamu kalau sampe hal ini diketahui media?"
__ADS_1
"Enggak kak, jangan sampe papa tau, jangan sampe media tau, Jenny menyesal kak, Jenny minta maaf," ucap Jenny yang saat itu bersimpuh di depan Yoga.
Yoga dan Adit hanya saling pandang. Tak lama kemudian polisi datang dan membawa Jenny pergi bersama mereka, juga Adit dan Yoga ikut ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Sedangkan Dimas membawa Dini ke rumah sakit terdekat. Sampai beberapa jam lamanya Dini masih bungkam, rasa takut masih menghantuinya saat itu.
Dimaspun tidak menanyakan apapun karena ia tau trauma yang dialami gadisnya itu tidak akan mudah hilang begitu saja.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Dini sudah tertidur karena obat penenang yang diberikan Dokter padanya.
"Gimana Ga?" tanya Dimas pada Yoga.
Saat itu, Dimas, Adit dan Yoga sedang duduk di depan ruangan Dini.
"Polisi udah bawa dia Dim, tapi polisi tetep minta keterangan langsung dari lo sama Dini!"
"Nggak bisa, Andini masih syok sama kejadian ini, dia masih nggak mau ngomong apa apa dari tadi," balas Dimas.
"Polisi nggak bisa proses masalah ini kalau korban sendiri nggak melapor Dim!" ucap Yoga.
"Ketiga penjaga itu gimana?" tanya Dimas.
"Mereka udah dibayar mahal dan dijanjikan banyak hal supaya tutup mulut," jawab Adit.
"Dia bukan dari keluarga sembarangan Dim, masalah akan semakin besar kalau lo lanjutin kasus ini!" ucap Yoga.
"Gue nggak bisa biarin orang yang bahayain Andini masih berkeliaran bebas Ga!"
"Gue tau Dim, tapi lo juga harus mikirin dampak yang lain!"
Dimas menghembuskan napasnya kasar dan mengacak acak rambutnya kesal.
"Gue akan bantu lo, lo cuma harus buat Dini bersaksi di kepolisian, sisanya serahin sama gue!" ucap Adit pada Dimas.
"Apa yang mau lo lakuin?"
"Mengungkap kebenaran, seperti yang lo mau, orang yang bahayain Dini nggak akan bisa berkeliaran lagi di sini!"
"Lo yakin?" tanya Dimas.
Adit mengangguk pasti.
Biiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Dimas berdering, panggilan dari Andi.
"Halo Dim, lo dimana? lo lagi sama Dini? dia baik baik aja kan? kenapa kalian belum pulang? kenapa....."
Dimas menjauhkan ponselnya dari telinga begitu mendengar pertanyaan pertanyaan Andi yang mengkhawatirkan Dini.
"Dimas, halo Dim!"
"Iya Andini sama gue, dia baik baik aja," jawab Dimas berbohong.
"Lo nggak bohong kan?"
"Lo nggak percaya sama gue? dia sama gue, lo nggak perlu khawatir!"
"Dia nggak hubungin ibunya sama sekali Dim, ibunya yakin dia sama lo, jadi gue hubungin lo buat mastiin aja!" balas Andi berkilah.
Sejujurnya, sejak beberapa jam yang lalu ia begitu mengkhawatirkan Dini. Pikirannya tiba tiba tertuju pada Dini dan ia menjadi gelisah tanpa sebab.
"Lo mau anter dia pulang jam berapa? ini udah malam!"
"Mungkin besok gue anter dia pulang!"
"Besok? kenapa besok? gue...."
"Ndi, Andini sama gue, lo tenang aja, dia baik baik aja!" ucap Dimas setengah berteriak.
"Oke, gue mau ngomong sama dia bentar bisa? HP nya nggak aktif."
"Nggak bisa!"
Klik. Dimas mengakhiri panggilan Andi begitu saja. Ia juga menonaktifkan ponselnya agar tidak ada yang menghubunginya lagi.
"Kalian pulang aja, biar gue yang jagain Andini di sini!" ucap Dimas pada Adit dan Yoga.
"Emosi lo lagi nggak stabil, gue nggak mungkin biarin lo sendirian," ucap Yoga.
"Kalau gitu gue balik dulu, hubungin gue kalau Dini udah kasih keterangan sama pihak kepolisian!" ucap Adit.
"Thanks Dit," balas Dimas.
Adit mengangguk lalu pergi meninggalkan Dimas dan Yoga.
"Gue nggak yakin Dini mau kasih keterangan ke kepolisian Ga!" ucap Dimas.
"Jangan paksa dia Dim, lo tau kesehatan mentalnya lagi nggak baik baik aja!"
__ADS_1
Dimas mengangguk. Jika Dini menolak untuk memberikan keterangan pada pihak kepolisian, Dimas akan memikirkan cara lain agar tidak ada seorangpun yang dapat mengganggu Dini.