
Petang menjelang bersama semburat jingga yang menghiasi langit barat. Dini, Dimas, Andi dan Anita sedang berada di atas bukit untuk menikmati keindahan senja.
"Gimana kalau nanti malem kita barbeque lagi, kemarin kan gagal gara gara kakiku sakit!" ajak Anita.
"Boleh juga, kalian gimana?" balas Andi sekaligus bertanya pada Dini dan Dimas.
"Boleh boleh," balas Dini bersemangat.
"Oke, nanti aku minta suami bi Em buat siapin pembakarannya," ucap Dimas.
Setelah langit mulai petang, merekapun turun dari bukit. Dimas dan Dini berjalan lebih dulu, di belakangnya ada Anita dan Andi.
Saat sedang berada di turunan yang sedikit curam, Anita berjalan mendahului Dimas dan Dini, namun tiba tiba ia terpeleset.
Beruntung Dimas dengan sigap menarik tangan Anita yang saat itu berada di dekatnya. Anita menggenggam tangan Dimas dengan erat untuk menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak tergelincir.
"Hati hati Nit," ucap Dimas dengan menarik kedua tangan Anita agar bisa menyeimbangkan badannya.
"Makasih Dimas," ucap Anita lalu melepaskan tangan Dimas dari genggamannya.
Dini yang melihat hal itu hanya tersenyum datar dan mempercepat langkahnya.
"Kalian duluan aja, aku mau beli sesuatu," ucap Dini pada Andi dan Anita.
"Mau beli apa sayang?" tanya Dimas.
Dini hanya menoleh pada Dimas tanpa menjawab pertanyaan Dimas. Ia lalu masuk ke minimarket diikuti dengan Dimas yang berjalan di belakangnya.
Dini mengambil keranjang belanja dan memasukkan beberapa makanan ringan ke dalamnya.
"Aku aja yang bawa," ucap Dimas sambil menarik keranjang dari tangan Dini.
"Nggak usah," balas Dini menolak dengan raut wajah kesal.
Setelah memenuhi isi keranjangnya dengan makanan ringan, Dini kembali mengambil keranjang lain dan mengisinya dengan banyak makanan ringan dan juga minuman.
Dimas hanya tersenyum tipis melihat sikap Dini, ia lalu ikut mengambil keranjang dan mengisinya sampai penuh.
"Masih kurang?" tanya Dimas saat 3 keranjang sudah ada di depan kasir.
"Aku nggak mau ini, balikin!" jawab Dini dengan menunjuk keranjang milik Dimas.
"Ini semua kesukaan kamu sayang," ucap Dimas.
"Aku nggak mau Dimas, apa kamu beli ini buat Anita?"
"Kok jadi bawa bawa Anita? aku kan cuma...."
"Aku nggak mau, balikin kalau emang kamu nggak beli itu buat Anita!"
"Oke oke, aku balikin sekarang!" balas Dimas mengalah lalu mengembalikan makanan ringan dari keranjangnya ke rak yang sebelumnya.
Saat Dimas sedang sibuk mengembalikan satu per satu, Dini memilih satu makanan ringan untuk diberikannya pada kasir dan membayarnya.
"Sisanya biar dia yang bayar mas!" ucap Dini dengan menunjuk ke arah Dimas.
"Baik mbak, terima kasih, selamat berbelanja kembali," balas kasir minimarket.
Dini lalu keluar dari minimarket, meninggalkan Dimas begitu saja dan kembali ke vila.
Sesampainya di vila, Dini segera masuk ke kamarnya, menaruh makanan ringan yang baru saja ia beli di atas meja lalu merebahkan badannya.
Sedangkan Dimas yang baru selesai mengembalikan barang barangnya, segera kembali ke kasir dan tidak mendapati Dini di sana.
Matanya berkeliling mencari keberadaan Dini sebelum akhirnya si kasir memberi tahunya jika Dini sudah pergi dari tadi.
"Mbaknya sudah pergi dari tadi mas," ucap kasir pada Dimas.
"Haaahh, pergi? dari tadi?"
"Iya, katanya ini semua masnya yang bayar!"
"Oh oke oke, saya bayar ini semua," balas Dimas.
Dimaspun keluar dari minimarket dengan membawa 5 kantong besar yang berisi banyak makanan ringan dan juga minuman.
Sesampainya di vila, ia segera menaruh semua itu di hadapan Andi dan Anita.
"Lo mau jualan Dim?" tanya Andi yang begitu terkejut dengan semua belanjaan Dimas.
"Andini yang beli, dia udah pulang?"
"Udah dari tadi, lagi di kamar!" jawab Anita.
Dimas lalu masuk ke kamarnya dan melihat Dini yang terpejam di atas ranjang. Dimas mendekat dan memberikan kecupan singkatnya di bibir Dini, namun Dini segera mendorong dan menendang tubuh Dimas.
"Kamu ngerjain aku?" tanya Dimas.
"Ngapain kamu di sini? temenin aja tuh Anita!" balas Dini kesal.
"Kamu kenapa sih sayang? kamu marah gara gara kejadian tadi? aku kan cuma reflek aja narik tangannya!"
"Aku nggak marah!"
"Aku minta maaf kalau apa yang aku lakuin tadi bikin kamu cemburu," ucap Dimas.
Dini hanya diam, entah kenapa matanya terasa panas, membuat matanya tergenang oleh air mata.
"Aku tadi beneran cuma reflek aja Andini, aku nggak ada maksud apa apa!" ucap Dimas dengan membawa Dini ke dalam dekapannya.
__ADS_1
Namun Dini tiba tiba menangis dengan memeluk Dimas erat. Dimas tidak mengerti apa yang sebenarnya membuat Dini menangis.
Rasanya tidak mungkin jika hanya karena ia tidak sengaja memegang tangan Anita di hadapan Dini.
Jika sudah seperti itu, yang bisa dilakukan Dimas hanya minta maaf dan mengembalikan mood Dini.
"Aku udah beli semua yang ada di keranjang kamu tadi, mau aku bawain ke sini?"
Dini menggeleng dengan menunjuk apa yang ia beli di meja.
"Kamu makan itu?" tanya Dimas yang kembali dibalas gelengan kepala oleh Dimas.
"Terus kenapa kamu beli semua itu sayang? aku pikir kamu....."
"Kamu marah sama aku?" tanya Dini dengan kembali terisak, membuat Dimas semakin bingung dengan sikap Dini.
"Enggak sayang, aku nggak marah, kamu boleh beli apa aja yang kamu mau, kamu juga bisa beli minimarket itu sekalian!" balas Dimas dengan memeluk Dini erat dan mengusap punggungnya, berusaha menenangkan Dini.
"Aku mau tidur," ucap Dini tiba tiba.
"Sekarang?"
"Iya, aku capek!" jawab Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dimas dan berbaring di ranjang.
Dimas lalu menarik selimut dan menutup tubuh Dini dengan selimut.
"Kamu keluar!" ucap Dini.
"Aku mau nemenin kamu di sini," balas Dimas.
"Aku nggak bisa tidur kalau kamu di sini Dimas!" ucap Dini kesal.
"Ya udah aku keluar, aku bangunin kamu kalau barbeque nya udah siap ya!"
"Hmmmm!" balas Dini tanpa membuka mulutnya.
Dimas lalu keluar dari kamar dan duduk bersama Andi dan Anita.
"Kalian berantem?" tanya Anita pada Dimas.
"Enggak, cuma lagi mood swing aja kayaknya," jawab Dimas.
"Jangan bilang ini semua Dini yang beli!" sahut Andi.
"Iya, dia beli 2 keranjang, tapi nggak ada satupun yang dimakan," balas Dimas.
"Apa dia baik baik aja?" tanya Andi khawatir.
"Dia sensitif banget dari kemarin," jawab Dimas.
"Apa dia marah karena kamu tolongin aku tadi?" tanya Anita.
"Dini nggak mau makan karena dia bilang makanannya aneh, dia juga bilang bubur ayam kesukaannya aneh, ice cream yang dia suka juga aneh, justru kamu yang aneh Din," batin Andi dalam hati.
"Dim, apa jangan jangan Dini hamil?" tanya Andi pada Dimas.
"Gue nggak mau terlalu berharap dulu Ndi, sebelum semuanya jelas," balas Dimas.
"Tapi sikap Dini....."
"Jangan bicarain hal itu di depan Andini Ndi, lo tau dia paling sensitif tentang masalah itu!" ucap Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
"Ayo siapin barbeque nya!" ucap Dimas membuyarkan lamunan Andi.
Dimas, Andi dan Anitapun mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing. Memotong daging, sosis, sayur, menyiapkan minuman dan
menyiapkan alat pembakaran.
"Gue panggil Andini dulu!" ucap Dimas lalu ke kamarnya untuk memanggil Dini.
Akhirnya malam itu mereka benar benar melakukan rencana mereka untuk pesta barbeque di halaman vila.
"Din, apa kamu marah sama aku?" tanya Anita saat ia sedang berdua dengan Dini.
"Enggak," jawab Dini singkat.
"Aku minta maaf kalau aku bikin kamu cemburu, Dimas emang cuma bantuin aku kok Din, kamu kan tau dia emang baik banget," ucap Anita.
"Iya, aku tau, aku nggak marah kok sama kamu," balas Dini.
Dini lalu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Dimas lalu menyuapi Dimas dengan sosis bakar.
"Aku mau itu," ucap Dini dengan menunjuk daging yang masih ada di atas pembakaran.
Saat Dimas akan mengolesinya dengan bumbu barbeque, Dini melarangnya.
"Jangan, aku mau kayak gitu aja!" ucap Dini.
"Serius?"
Dini menganggukkan kepalanya penuh semangat. Malam itu Dini terlihat sangat menikmati daging panggang tanpa diberi bumbu apapun.
"Enak Din?" tanya Andi.
"Enak kok, cobain deh!"
"Enggak, nggak mau!" balas Andi.
"Makan yang banyak sayang, kamu dari tadi nggak mau makan apa apa," ucap Dimas sambil memberikan Dini banyak daging panggang.
__ADS_1
Waktu berlalu, hari semakin malam dan udara semakin dingin. Setelah membereskan semuanya, merekapun masuk ke dalam kamar masing masing.
**
Di tempat lain, Adit dan Ana sedang duduk di tepi jendela kamar. Sudah beberapa lama mereka hanya diam di sana tanpa berbicara apapun.
"Kenapa kamu masih di sini Dit?" tanya Ana yang akhirnya membuka suaranya.
"Aku akan selalu ada di samping kamu An, bagaimanapun keadaan kamu," jawab Adit.
"Kamu kasian sama aku?"
"Apa kamu masih ragu sama perasaan ku buat kamu?" balas Adit bertanya.
Ana menggeleng pelan, ia membawa pandangannya ke arah Adit, menatap ke dalam mata laki laki yang ia tau sangat mencintainya.
"Aku nggak bisa kasih kamu kepastian apapun Dit, aku masih takut buat hamil lagi, aku takut akan kehilangan lagi, jadi kamu bisa pergi cari seseorang yang bisa kasih semuanya buat kamu!" ucap Ana dengan mata berkaca-kaca.
"Aku nggak akan pergi An, apapun yang terjadi, apapun keputusan kamu, aku akan selalu ada di samping kamu, aku nggak peduli bagaimana pun kamu, buat aku kamu adalah satu satunya masa depanku," balas Adit dengan menggenggam tangan Ana.
"Kamu akan menyesal Dit!" ucap Ana.
"Justru aku akan menyesal kalau aku ninggalin kamu, aku akan tetap menikahi kamu An, kapanpun kamu siap," ucap Adit lalu membawa Ana ke dalam dekapannya.
Ana hanya terdiam dalam dekapan Adit sambil menghapus air mata di pipinya. Ia sangat bersyukur bisa memiliki Adit yang selalu ada untuknya, menerima semua kekurangannya tanpa menuntut apapun darinya.
"Kasih aku waktu Dit," ucap Ana.
"Iya An, aku akan selalu nunggu kamu," balas Adit lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Ana.
Dalam hatinya, Adit berharap jika Ana bisa kembali ceria seperti sebelumnya. Ia tidak akan meminta Ana untuk melupakan anak pertamanya yang telah tiada, ia hanya tidak ingin hal itu membuat Ana terkungkung dalam kesedihannya terlalu lama.
Malam telah berganti menjemput pagi. Adit mengerjapkan matanya dan melihat Ana yang sudah tidak ada di sampingnya.
Adit lalu beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Ana. Adit tersenyum senang saat melihat Ana yang sedang memasak di dapur bersama Bu Desi.
Adit lalu menghampiri Ana dan memeluknya dari belakang.
"Selamat pagi," ucap Adit lalu mencium pipi Ana.
"Selamat pagi," balas Ana lalu menoleh ke arah Adit dan mencium pipi Adit.
Bu Desi yang berada di sana segera keluar meninggalkan dapur, membiarkan Ana dan Adit menikmati waktu mereka berdua.
Benar benar pagi yang indah bagi Adit karena untuk pertama kalinya setelah Ana kehilangan bayinya, Ana tersenyum padanya dan memberikan kecupan singkat di pipinya.
**
Di tempat lain, pagi pagi sekali Dimas keluar dari vila. Ia sengaja tidak membangunkan Dini yang tampak tertidur dengan lelap.
Dimas pergi ke kota untuk mencari daging yang Dini makan saat mereka pesta barbeque semalam.
Dimas harus memastikan jika daging yang dibelinya sama dengan daging yang semalam Dini makan, karena hanya dengan daging itu Dini bisa makan dengan lahap.
Setelah kepergian Dimas, Andi juga meninggalkan vila untuk pergi ke apotek 24 jam yang ada di sana.
Dia membeli beberapa testpack untuk ia berikan pada Dini.
Sesampainya di vila, Andi segera mengetuk pintu kamar Dini beberapa kali sampai Dini terbangun.
Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Andi, ada apa?" tanya Dini dengan muka bantalnya.
Andi lalu memberikan apa yang baru saja dibelinya pada Dini.
"Testpack? buat apa?" tanya Dini terkejut.
"Kamu pasti tau alat itu buat apa kan?"
"Iya aku tau, tapi aku....."
"Coba aja, buruan!"
Dini tersenyum tipis lalu mengembalikannya pada Andi.
"Aku nggak mau kecewa lagi Ndi!" ucap Dini lalu hendak menutup pintunya, tapi Andi menahannya.
"Sekali ini aja Din, please!" ucap Andi memohon.
Dini lalu mengambil ponselnya dan melihat kalendernya.
"Udah hampir satu minggu, tapi dulu juga telat dan hasilnya negatif," batin Dini dalam hati.
Andi lalu menarik tangan Dini dan membawanya masuk ke kamar mandi lalu menaruh testpack nya di sana.
"Aku tunggu di luar!" ucap Andi lalu keluar dari kamar mandi.
Dini menghela napasnya. Ia pun mengikuti permintaan Andi. Ia berusaha menahan dirinya agar tidak terlalu berharap, meski jauh dalam hatinya ia sangat mengharapkan hasil yang positif.
Jantung Dini mulai berdetak kencang saat satu garis merah mulai terlihat, dan tak lama kemudian satu garis lainnyapun muncul.
"2 garis?" tanya Dini tak percaya.
Karena Andi memberinya beberapa testpack yang berbeda, Dinipun menggunakan semuanya dan semua hasilnya sama, 2 garis yang yang selama ini ia harapkan.
Dini lalu segera keluar dari kamar mandi dan memeluk Andi dengan erat. Matanya berkaca kaca bersama rasa bahagia dan syukur yang ia rasakan saat itu.
Di sisi lain, Dimas yang baru saja sampai di vila begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia tau Dini dan Andi bersahabat dekat, tapi berpelukan seperti itu bukanlah hal yang wajar dilakukan saat Dini sudah menjadi istrinya.
__ADS_1