
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Dini menyeruput minumannya sambil memperhatikan raut wajah Dimas yang tiba tiba berubah setelah membaca pesan di ponselnya.
"Ada apa?" tanya Dini.
Dimas tak menjawab, ia memanggil waiters dan membayar, lalu mengajak Dini pergi meninggalkan kafe.
"Loh kok pulang?" tanya Dini.
Dimas hanya diam, ia membawa Dini ke tempat parkir.
"Ini kita mau pulang sekarang?" tanya Dini yang masih berdiri di depan pintu mobil.
Dimas hanya diam, ia mulai menghidupkan mesin mobilnya tanpa menjawab pertanyaan Dini.
"Dimas, jawab dong!"
"Masuk!" ucap Dimas tanpa menoleh ke arah Dini.
Dini yang menyadari suasana hati Dimas sedang tidak baik baik saja segera menurut, ia masuk dan duduk di samping Dimas.
Dimas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia merasa Dini telah berbohong padanya, ada sesuatu yang tidak Dini ceritakan padanya, ada sesuatu yang Dini sembunyikan darinya, ada sesuatu yang buruk yang tidak ia ketahui.
Dimas kecewa pada Dini yang telah melanggar janji yang sudah mereka sepakati, janji untuk selalu terbuka dan mengkomunikasikan apapun yang menjadi masalah meskipun itu hanya hal kecil.
"Dimas, pelan pelan," ucap Dini dengan memegang tangan Dimas, namun Dimas segera menarik tangannya.
Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah tempat yang tidak asing lagi bagi Dini. Sebuah pantai yang dulu masih tutup, sekarang sudah terbuka untuk umum 24 jam.
Dini mengikuti Dimas keluar dari mobil. Mereka berjalan ke arah tepi pantai. Meski sudah malam, kedai makanan di sana masih buka, masih ada beberapa pengunjung di sana.
Dimas membawa Dini ke tepi pantai yang hanya diteringai bulan dan bintang. Deburan ombak yang menghantam karang meninggalkan kerlip yang begitu indah. Karena suasana hati yang sedang tidak baik baik saja, semua keindahan di sana menjadi tak tampak di mata mereka.
"Andini, aku tanya sekali lagi sama kamu, apa yang udah kamu sembunyiin dari aku?" tanya Dimas dengan memegang kedua bahu Dini yang berdiri di depannya.
Dini hanya diam menelan ludahnya. Sikap Dimas yang seperti itu membuatnya takut, ia yakin Dimas akan mengetahui kebohongannya.
"Andini jawab aku!" ucap Dimas yang terdengar lebih tegas.
"Jujur sama aku kalau emang kamu masih anggap hubungan kita ini penting!" lanjut Dimas.
"Dimas, aku.... aku minta maaf," ucap Dini terbata bata.
__ADS_1
"Aku nggak butuh permintaan maaf kamu Andini, aku butuh kejujuran kamu, jawab pertanyaan aku!"
"Aku..... aku....."
Dimas melepaskan tangannya dari bahu Dini, ia berjalan semakin dekat dengan bibir pantai.
Dini mengikuti Dimas dan memeluknya dari belakang.
"Maaf Dimas, maafin aku, aku nggak tau harus cerita dari mana, ini terlalu tiba tiba dan aku nggak tau harus gimana jelasinnya sama kamu," ucap Dini dengan masih memeluk Dimas.
"Kamu tau kita udah punya komitmen sama hubungan kita Andini, apa yang jadi masalah kamu akan jadi masalah aku juga, begitu juga sebaliknya!"
Dini lalu menarik tangan Dimas dan mengajaknya untuk menjauh dari bibir pantai dan duduk di atas hamparan pasir putih di bawah sinar bulan dan bintang.
"Ibu minta aku jauhin kamu," ucap Dini yang tentu saja membuat Dimas terkejut.
"Maksud kamu? kenapa......."
"Jangan tanya kenapa Dimas, aku juga nggak tau, ibu nggak bilang apa apa, ibu minta aku resign dari kantor dan jauhin kamu, aku bingung Dimas, aku nggak tau kenapa ibu tiba tiba minta aku ngelakuin itu," ucap Dini memotong ucapan Dimas.
Dimas lalu mendekat ke arah Dini dan mendekap gadis yang dicintainya itu.
"Aku akan bicarain ini sama ibu kamu," ucap Dimas dengan membelai rambut gadisnya.
"Buat sementara waktu jangan ketemu ibu, aku akan coba bicarain baik baik sama ibu, aku nggak mau sikap ibu bikin kamu nggak nyaman," lanjut Dini.
"Nggak papa sayang, aku mau denger sendiri apa mau ibu kamu sebenernya, aku harus tau alasan ibu kamu minta kamu ngelakuin itu!"
"Tapi Dimas....."
"Tenang sayang, kita hadapi semuanya berdua, kita bicarain baik baik sama ibu kamu dan aku nggak akan berhenti buat perjuangin masa depan kita walaupun harus ditentang ibu kamu," ucap Dimas dengan menatap mata gadisnya.
Dini hanya diam, air mata sudah menggenangi kedua sudut matanya.
"Semua yang udah kita lalu bersama nggak akan ada yang sia sia sayang, semakin berat jalan kita, semakin indah akhir dari perjalanan panjang kita," ucap Dimas dengan membawa Dini ke dalam pelukannya.
Ia mendekap gadis yang dicintainya dengan erat. Meski dalam hatinya penuh kekhawatiran, namun ia berusaha meyakinkan Dini jika semuanya akan baik baik saja.
"Hapus air mata kamu sayang, semuanya akan baik baik saja," ucap Dimas dengan menghapus air mata Dini yang membasahi pipinya.
"Aku takut Dimas, aku nggak mau durhaka sama ibu, tapi aku juga nggak mungkin......"
__ADS_1
Dini menghentikan ucapannya, hatinya terlalu sakit untuk mengucapkan kata perpisahan.
"Aku pernah bilang sama kamu, aku nggak peduli apa dan siapapun yang menentang hubungan kita, aku nggak akan pernah berhenti buat perjuangin kamu karena kamu masa depanku Andini, kamu satu satunya harapan masa depan yang aku impikan!"
"Kita hadapi semuanya sama sama, kamu harus yakin sama kekuatan cinta kita sayang!" lanjut Dimas.
Dini mengangguk, ia menghapus sisa air mata di pipinya dan menegakkan badannya. Ia harus percaya pada kekuatan cintanya, tak peduli seberapa besar angin menerpa pohon cinta mereka, ia dan Dimas akan menjaganya dengan kekuatan cinta yang mereka miliki.
Dini lalu tersenyum dan memeluk Dimas. Mereka saling berpelukan di bawah hamparan gelap yang berbintang.
**
Hari telah berganti, pagi datang membawa angin sejuk berteman sinar sang mentari. Dini sedang membantu sang ibu memasak di dapur. Meski sedang bersitegang, Dini dan ibunya masih melakukan hal yang biasa mereka lakukan setiap hari.
Setelah masakan siap, Dini dan ibunya segera menyantap menu sarapan sederhana mereka di meja makan.
"Kamu udah siapin surat pengunduran diri kamu Din?" tanya ibu Dini yang membuat Dini menghentikan kegiatan makannya.
"Dini berangkat dulu bu!" ucap Dini tanpa menjawab pertanyaan ibunya.
Dini mengambil tas kerja di sampingnya dan segera keluar dari rumah. Ia berjalan ke arah jalan raya untuk menunggu bus.
Biiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Dini berdering, panggilan dari Dimas.
"Dimana sayang?" tanya Dimas setelah Dini menerima panggilannya.
"Di halte," jawab Dini.
"Kamu tunggu di sana, aku jemput kamu!"
"Iya."
Tak lama kemudian mobil Dimas berhenti di depan halte, Dinipun segera masuk ke mobil Dimas.
"Andi udah berangkat?" tanya Dimas.
Dini menggeleng. Biasanya Dini selalu berangkat bersama Andi karena mereka menaiki bus yang sama namun berhenti di tempat yang berbeda.
Namun pagi itu Dini berangkat lebih pagi karena menghindari perdebatan bersama sang ibu.
__ADS_1
"Nanti malem aku akan ke rumah kamu buat ketemu ibu kamu, kamu siap sayang?" ucap Dimas sekaligus bertanya pada Dini.
"Iya, aku siap," jawab Dini penuh keyakinan.