
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, setelah selesai mengerjakan pekerjaannya, Dini bersiap menemui Adit karena Adit ada janji makan siang di luar kantor bersama teman lama Adit. Namun saat ia baru saja berdiri dari duduknya, ia melihat seseorang memasuki ruangan Adit dan duduk di depan meja Adit.
Meski ia tidak mendengar apa yang seseorang itu katakan, ia bisa melihat jika seseorang itu sedang marah pada Adit, begitu juga Adit yang tampak emosi saat itu.
"kak Adit sama Jenny kenapa sih, kemarin keliatan deket banget, sekarang udah marah marah lagi, aku harus gimana nih, kak Adit kan harus ketemu temannya sekarang," batin Dini bertanya tanya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Dini memutuskan untuk menghubungi Adit melalui telepon kantor.
"Halo pak, maaf pak Adit ada janji makan siang di luar sekarang," ucap Dini yang takut mendapat amukan Adit karena mengganggunya.
"Saya......"
Adit menghentikan ucapannya ketika Jenny menarik telepon itu dari tangan Adit dengan kasar. Tanpa mereka tau, telepon masih tersambung walaupun Jenny sudah menaruhnya di atas meja, membuat Dini bisa mendengar percakapan mereka.
"Oke kalau kamu mau semuanya selesai sekarang, kita selesaikan sekarang juga!" ucap Adit yang terdengar sangat emosi.
"Apa yang harus di selesaikan Dit, kamu lupa sama perjanjian kita?"
Adit lalu mengambil sebuah kertas dan merobeknya di depan Jenny. Ya, kertas itu adalah surat perjanjian yang kemarin ia tanda tangani dengan Jenny.
"Are you crazy?"
"Persetan sama isi perjanjian ini, mulai sekarang kamu nggak akan bisa ganggu aku lagi Jenny!"
"Oke, itu artinya kamu mau aku sebarin video kamu sama Dini? kamu tau kan akibatnya, Dini akan dicari wartawan dan saat mereka tau apa hubungan Dini dan Dimas, mereka akan membawa nama Aditama dalam masalah ini, berita akan semakin besar karena melibatkan dua pengusaha ternama di negara ini!"
Seketika Dini membelalakkan matanya tak percaya atas apa yang baru saya ia dengar. Ia tidak mengerti masalah apa yang bisa menyeret dirinya dan juga keluarga Dimas saat itu.
"Silakan, aku nggak peduli sama apa yang akan kamu lakukan, aku udah punya bukti buat bantah semua tuduhan itu!" balas Adit.
"Bukti? bukti apa?"
Adit lalu memberikan ponselnya pada Jenny. Adit memperlihatkan video pengakuan supir taksi yang waktu itu mengantarkan bunga mawar merah untuk Dini. Dengan bukti itu, Jenny tidak akan bisa memanfaatkan video singkat yang sempat memojokkan Adit saat itu.
Jenny lalu segera menghapus video itu dari ponsel Adit. Ia merasa sangat marah karena hal itu.
"Aku udah copy video itu Jen, jadi percuma kalau kamu hapus yang ada di HP ku!" ucap Adit dengan senyum penuh kemenangan.
"Jadi ini alasan kamu nggak angkat telfonku dari tadi? ini alasan kamu mengabaikanku? ini......"
"Iya, karena aku udah punya buktinya, jadi kamu nggak bisa lagi maksa aku buat jadi pacar kamu, sekarang kamu pergi sebelum aku panggil satpam untuk seret kamu keluar dari sini!"
"I have a question for you, kenapa kamu benci banget sama aku Dit? apa salah aku yang bikin kamu benci sama aku? apa karena masa lalu kita?"
"Masa lalu apa yang kamu maksud Jen? kamu sama sekali bukan siapa siapa buat aku, baik dulu ataupun sekarang."
"Apa sebegitu cintanya kamu sama aku sampe kamu nggak bisa lupain masa lalu kita? sampe kamu simpan dendam kamu sama aku?"
"Aku nggak pernah dendam sama kamu, hidupku jauh lebih baik setelah aku sadar kalau kamu bukan perempuan yang baik, kalau kamu bukan perempuan yang layak buat aku perjuangkan!"
"I'm so sorry Adit, aku minta maaf, aku akan berubah jadi lebih baik sekarang, aku janji aku akan....."
"Enough Jen, don't spend your time for this!"
"Aku menyesal Dit, aku mohon kasih aku satu kesempatan buat bisa sama kamu lagi," ucap Jenny memohon.
"Lagi? nggak seharusnya kamu bilang 'lagi', kita nggak pernah ada hubungan apa apa Jen, kamu tau itu!"
"Tapi kamu dulu ngejar ngejar aku kan? kamu dulu suka sama aku kan?"
"Maaf, aku lupa, buat aku sekarang masa lalu cuma jadi pembelajaran aja buat aku dan aku nggak akan jatuh lagi di lubang yang sama!"
"Tapi Dit, aku......"
"Get out Jen, aku udah nggak mau ketemu kamu lagi, terserah kamu mau sebar video itu atau enggak, itu sama sekali nggak masalah buat aku!"
"Aku....."
BRAAAKKK
Adit menggebrak mejanya dengan keras, lalu berdiri dari duduknya dan menarik Jenny agar berdiri dan pergi dari ruangannya.
"Kamu akan menyesal Dit, aku nggak akan menyerah gitu aja!" ucap Jenny sebelum ia benar benar dikeluarkan dengan paksa oleh Adit dari ruangannya.
Adit lalu kembali duduk dan tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang ada di meja kerjanya, membuat Adit semakin kesal hingga mengacak acak rambutnya sendiri.
Di tempat lain, setelah Dini mendengar semua percakapan Adit dan Jenny, Dini lalu menutup teleponnya dan menghampiri Adit.
Dini berjalan pelan ke arah Adit lalu memunguti pecahan gelas yang berserakan di lantai.
"Kamu ngapain Din, biarin aja!" ucap Adit dengan menarik tangan Dini yang sedang memunguti pecahan gelas.
"Dini nggak mau kak Adit terluka lagi," balas Dini.
Adit lalu menghela napas panjang dan membantu Dini memunguti pecahan gelas di ruangannya.
"Apa maksud kamu terluka lagi?" tanya Adit pada Dini.
"Apa kalau Dini jawab, kak Adit juga akan jawab pertanyaan Dini dengan tentang video yang dimaksud Jenny?" balas Dini bertanya.
Adit hanya diam lalu memegang kedua bahu Dini dan membawanya duduk di kursi.
"Kamu udah tau?" tanya Adit dengan menundukkan kepalanya ke arah Dini dan memegang sandaran kursi.
Dini mengangguk pelan dengan menatap kedua mata Adit.
Adit lalu duduk di atas mejanya dengan tersenyum tipis, senyum yang sulit di artikan.
"Dini udah dengar semuanya kak, kak Adit nggak tutup telfonnya tadi," ucap Dini.
__ADS_1
Adit hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dini.
"Dini tau hubungan kak Adit sama Jenny waktu SMA dulu," ucap Dini.
"Itu cuma cinta monyet anak SMA Din, kakak bahkan sudah lupa!"
"Kak Adit nggak akan sampe ke psikiater kalau itu cuma cinta monyet," ucap Dini yang membuat Adit dengan cepat membawa pandangannya pada Dini.
Dini lalu menggenggam kedua tangan Adit dan menatap matanya.
"Dini yakin kak Adit bisa lupain dia, kak Adit pasti bisa temuin seseorang yang tulus sama kak Adit, seseorang yang nggak cuma manfaatin kak Adit atau cuma mandang kak Adit sebagai pemilik perusahaan, tapi seseorang yang tulus memberikan hatinya buat kak Adit tanpa alasan apapun," ucap Dini dengan senyum manisnya.
"sekarang aku tau kenapa Dimas dan Andi bisa sebegitu cintanya sama kamu," batin Adit dalam hati.
Adit hanya tersenyum lalu mengacak acak rambut Dini.
"Kakak udah lupain hal itu Din, itu cuma masa lalu, untuk saat ini kakak cuma mau fokus sama perusahaan," ucap Adit.
Dini menganggukkan kepalanya sambil merapikan rambutnya lagi.
"Jadwal makan siangnya gimana? kamu batalin?" tanya Adit.
"Iya, Dini nggak tau Jenny di sini sampe kapan, jadi Dini batalin, nggak papa kan?"
"Nggak papa, kamu ada janji makan siang sama Dimas?"
Dini menggeleng.
"Ayo makan di luar, masih ada waktu 30 menit lagi!" ajak Adit.
"Tapi kak Adit janji ya jelasin semuanya tentang video yang dimaksud Jenny tadi, karena Dini tau video itu berhubungan sama Dini dan keluarga Dimas!"
"Iya, kakak akan jelasin semuanya!" balas Adit lalu keluar dari ruangannya diikuti Dini.
Adit dan Dini memutuskan untuk makan siang di tempat yang tak jauh dari kantor.
Tanpa Adit dan Dini tau, seseorang sedang memperhatikan mereka saat itu. Ia mengepalkan tangannya dengan penuh emosi karena melihat kedekatan Adit dan Dini.
"kamu yang memantik perang ini Adit, jadi jangan salahkan aku kalau berbuat nekat," batin Jenny dalam hati.
Jenny lalu mengambil ponselnya dari dalam tas dan menghubungi seseorang.
Setelah selesai makan siang, Adit dan Dini segera kembali ke kantor.
**
Di tempat lain, Andi sedang menemui klien di tempat yang tak jauh dari rumah Anita. Ia pun memutuskan untuk mampir ke rumah Anita sebelum ia kembali ke home store.
Setelah memencet bel rumah Anita beberapa kali, akhirnya pintu terbuka. Namun bukan Anita yang membukanya, melainkan seseorang yang sangat ia hormati.
"Selamat siang pak, Anita ada?"
Andi mengangguk lalu masuk dan duduk di ruang tamu bersama papa Anita, Pak Sony.
"Kamu apa kabar Ndi, lama kita nggak ketemu!" tanya Pak Sony pada Andi.
"Saya baik pak, pak Sony apa kabar?"
"Baik, jauh lebih baik," jawab Pak Sony.
"Saya dengar dari Anita kamu buka usaha bareng sama Dimas, iya?" lanjut pak Sony bertanya.
"Iya pak, kita buka usaha clothing arts di daerah X," jawab Andi.
"Anita banyak cerita tentang kamu Ndi, berkat kamu juga saya sama Anita bisa lebih deket, walaupun masih ada salah paham sedikit, tapi hubungan saya dengan Anita semakin baik, ini berkat kamu Ndi!"
"Saya cuma melakukan apa yang menurut saya harus saya lakukan pak," balas Andi.
"Saya mau tanya sesuatu sama kamu, tapi saya harap kamu nggak bilang Anita tentang hal ini ya!"
"Tentang apa pak?"
"Tentang Dimas, apa kamu tau sejauh apa hubungan mereka?"
"hubungan? hubungan apa yang dimaksud pak sony?" batin Andi bertanya tanya.
"Saya...."
"Andi, kamu di sini? dari tadi?" tanya Anita yang tiba tiba datang, membuat Andi menghentikan ucapannya.
Anita lalu duduk di sebelah Andi.
"Barusan, kamu dari mana?"
"Dari mini market, papa nggak tanya aneh aneh kan sama kamu?" tanya Anita dengan membawa pandangannya pada sang papa.
"Enggak kok," jawab Andi.
"Ya udah papa masuk aja, kalian ngobrol aja dulu, papa nggak mau ganggu," ucap pak sony lalu pergi meninggalkan Andi dan Anita di ruang tamu.
"Kamu tumben ke sini, ada apa?" tanya Anita.
"Kebetulan lewat aja, sekalian mampir," jawab Andi.
"Papa pasti senang tuh kamu datang!"
"Kenapa?"
"Nggak tau sejak kapan, tapi yang pasti papa itu suka banget sama kamu, papa selalu banding bandingin kamu sama Dimas, malah papa bilang 'kenapa kamu nggak pacaran aja sama Andi', gitu!"
__ADS_1
Andi hanya tersenyum kecil mendengar penjelasan Anita. Ia ingat beberapa tahun yang lalu saat ia masih kuliah dan tak sengaja bertemu papa Anita.
Saat itu mereka bertemu di depan kampus dan ia sangat ingat apa yang pak Sony katakan waktu itu.
"saya lebih suka Anita sama kamu daripada sama Dimas,"
"Aku balik dulu ya Nit, lain kali aku mampir lagi!" ucap Andi berpamitan.
"Oke, hati hati di jalan ya!"
Andi mengangguk lalu segera meninggalkan rumah Anita.
Sesampainya di home store, Andi melihat mobil yang terparkir di depan home store.
"Ndi, gue ada perlu sama Yoga soal persiapan gue masuk perusahaan, kayaknya bakalan lama, lo tutup sendiri ya!"
"Oke," balas Andi.
Dimas dan Yoga pun meninggalkan home store. Dimas lalu melajukan mobil Yoga ke arah tempat kerja Dini.
Sesampainya di sana, Dimas segera menghubungi Dini.
"Kamu dimana sayang?"
"Di kantor, ada apa?" balas Dini yang baru saja sampai di kantor setelah makan siang bersama Adit.
"Aku tunggu kamu di depan, belum jam kerja kan?"
"Oke, tunggu bentar ya!"
"Oke."
Dinipun kembali keluar dan mendapati Dimas yang menunggunya di depan mobil.
Dini berlari lalu memeluk Dimas.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Dini yang masih memeluk Dimas.
"Aku nanti nggak bisa jemput kamu nggak papa? aku harus ke luar kota sama Yoga, nggak akan lama kok, mungkin besok pagi udah balik!"
"Kalau cuma mau bilang itu kenapa nggak telfon aja?"
"Aku nggak cuma mau bilang itu, tapi juga mau cium kamu sebelum pergi," ucap Dimas lalu mendaratkan kecupannya di kening Dini.
"Woooyy, ada orang nih di sini," ucap Yoga dengan mengeluarkan kepalanya melalui jendela mobil.
Dengan cepat Dinipun mendorong tubuh Dimas dan menjauh, membuat Yoga terkekeh melihat Dini yang tampak salah tingkah.
"Kok kamu nggak bilang sih kalau ada kak Yoga," ucap Dini berbisik pada Dimas.
"Iya lupa, hehe....."
"Aku masuk dulu ya, aku nggak boleh telat masuk!" ucap Dini setelah ia melihat jam di ponselnya.
"Iya, jangan sampe bos kamu yang galak itu jadi darah tinggi karena keseringan marah!"
"Husstt, jangan gitu, tapi kamu bener sih Hehe...."
Mereka berdua tertawa lalu saling peluk, tak lupa kecupan selamat tinggal selalu Dini dapatkan sebelum Dimas pergi.
Dinipun segera masuk dan mengerjakan pekerjaannya sampai jam pulang tiba.
Saat ia hendak menemui Adit, seseorang memanggilnya.
"Dini!" panggil Sela.
"Ada apa?"
"Ikut aku bentar," ucap Sela dengan menarik tangan Dini.
"Ajarin aku ngerjain ini dong!" ucap Sela sambil menunjukkan sebuah file pada Dini.
"Harus sekarang?"
"Iya, harus sekarang, aku akan dengerin baik baik kok penjelasan kamu, kamu jelasin aja biar aku yang ngerjain sendiri, bisa kan?"
"Oke," balas Dini.
Dinipun mulai membantu Sela mengerjakan laporan yang tidak Sela mengerti. Sampai jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, mereka belum juga meninggalkan kantor.
"Aku ke kamar mandi bentar ya Din," ucap Sela.
Saat hendak ke kamar mandi, Sela melihat ke arah ruangan Adit dan tampak kosong.
Sela lalu segera kembali dan mengajak Dini pulang. Di lobby, Sela mengirimkan pesan pada seseorang sebelum ia dan Dini benar benar keluar meninggalkan kantor.
"Aku pulang duluan ya Din, udah ada yang jemput," ucap sela.
"Oh, oke hati hati," balas Dini.
Dini lalu berjalan ke arah halte.
"dari sekian banyak orang, kenapa dia minta tolong sama aku, bukannya dia benci banget sama aku!" batin Dini dalam hati.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, 3 orang laki laki berjaket hitam keluar dari dalam mobil, membuat Dini melangkah mundur beberapa langkah karena takut.
"Permisi mbak, alamat ini dimana ya?" tanya salah satu laki laki pada Dini.
Belum sempat Dini menjawab, tiba tiba mulutnya di tutup oleh kain yang sudah diberi obat bius sebelumnya, membuat Dini segera tumbang dan di bawa masuk ke dalam mobil oleh tiga orang itu.
__ADS_1