
Malam itu, untuk sejenak Dini melupakan kesedihannya. Ia membiarkan dirinya kembali menjadi egois, yang tanpa sadar ia sudah mengabaikan Andi, sahabatnya.
Berkali kali Andi menghubungi Dini, namun tak pernah ada jawaban. Bahkan dari beberapa hari yang lalu Dini belum membaca pesannya.
Andipun memutuskan untuk menanyakannya pada satpam yang berjaga.
"Mbak Dini baru aja pulang sama Pak Adit mas," ucap si satpam.
"Oh, baik pak, terima kasih," balas Andi lalu segera kembali ke halte, menunggu bus yang akan membawanya kembali pulang.
"udah pulang sama Pak Adit? mereka pulang bareng?" tanya Andi dalam hati.
**
Di tempat lain, Dini sudah berada di rumah sakit bersama Adit. Mereka lalu memasuki ruangan VIP sang mama.
Mama Adit begitu bahagia karena melihat kedatangan Dini, lebih bahagia daripada melihat kedatangan Adit.
"Kamu apa kabar cantik? kenapa wajah kamu pucat sekali?" tanya mama Adit.
"Dini baik baik aja tante, tante apa kabar?"
"Kok tante sih, panggil mama dong, mama Siska."
Dini diam beberapa saat. Ia membawa pandangannya ke arah Adit yang berdiri di sampingnya.
"Panggil mama ya, jangan tante!" ucap mama Adit mengulangi ucapannya.
"Iya ma," balas Dini.
"Ayo pulang Dit, mama mau pulang sekarang!"
Setelah menyelesaikan administrasi, Adit membawa sang mama pulang bersama Dini. Sepanjang perjalanan pulang Dini tak bisa berhenti tertawa karena mama Adit menceritakan masa kecil Adit yang sangat jauh berbeda dengan Adit yang ia kenal saat itu.
"Jadi Pak Adit masih suka ngompol di celana sampe SD ma?"
"Iya, mama sampe malu sama temen temen mama, eh tunggu, kok kamu panggil 'Pak Adit'?"
Dini dan Adit lalu saling pandang melalui kaca spion, Dini berharap Adit akan membantunya menjawab pertanyaan sang mama.
"Kebiasaan di kantor ma," jawab Adit.
"Tapi kalian kan udah pacaran, masak panggil 'Pak Adit'?"
"Biasanya nggak gitu kok ma, emang suka lupa aja dia, iya kan?"
"Ii... iya.... kak Adit," jawab Dini.
"Hmmmm.... kalian ini nggak romantis banget," sahut mama Adit mencibir.
Sesampainya mereka di rumah mama Adit, Dini membantu mama Adit turun dari mobil, sedangkan Adit membawa barang barang mama Adit.
2 orang perempuan segera keluar dari dalam rumah, mereka menggantikan posisi Adit dan Dini. 2 orang itu adalah asisten rumah tangga yang sudah bekerja lama di keluarga Adit, mereka sudah seperti saudara di rumah besar itu.
Mama Adit lalu meminta Dini untuk menemaninya ke kamar.
"Mama akan tunjukin foto masa kecil Adit," ucap mama Adit pada Dini.
Dinipun mengikuti mama Adit untuk masuk ke kamar. Di sana ia disuguhi beberapa album besar yang berisi foto masa kecil Adit bersama kedua orangtuanya.
Dini berusaha menahan tawanya melihat sosok anak kecil di dalam album foto itu. Ia tidak menyangka akan melihat secara langsung dalam hidupnya alur cerita yang mirip seperti film film yang sering ia tonton.
Seorang anak kecil yang culun dengan kaca mata tebal dan botol minum yang dikalungkan dilehernya kini menjelma sebagai sosok laki laki tampan, galak namun berhati baik.
Tak lama kemudian Adit masuk ke kamar sang mama dan segera merebut album foto yang dipegang Dini.
"Harusnya Adit bakar dari dulu barang barang ini!" ucap Adit sambil memasukkan ablum foto itu ke dalam lemari sang mama.
"Itu kan kenang kenangan masa kecil kamu Dit, mana mungkin mama biarin kamu bakar album foto itu!"
"Sekarang udah malem, mama harus istirahat, Adit juga harus anter Dini pulang," ucap Adit mengalihkan pembicaraan.
"Hmmmm, ya udah deh, kalau ada waktu main kesini lagi ya," ucap mama Adit sambil menggenggam tangan Dini.
"Iya ma, Dini pamit pulang dulu," balas Dini.
Adit dan Dini lalu keluar dari kamar mama Adit.
"Maafkan sikap mama saya ya Din!" ucap Adit pada Dini.
"Pak Adit nggak perlu minta maaf, saya seneng bisa kenal mama Pak Adit," balas Dini.
"Saya antar kamu pulang ya!"
"Terima kasih pak."
Tanpa mereka tau, diam diam mama Adit mendengarkan percakapan mereka.
"Pak Adit? saya? mereka nggak kayak orang pacaran, apa Adit bohong lagi? atau mereka baru pacaran jadi masih kaku? hmmmm... entahlah!" batin mama Adit bertanya tanya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Adit dan Dini sudah sampai di depan rumah Dini.
Saat mereka baru saja tiba, ibu Dini segera keluar dari dalam rumah begitu mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.
Dilihatnya anak gadisnya pulang bersama seorang laki laki tampan.
__ADS_1
"Bu, ini Pak Adit, atasan Dini di kantor," ucap Dini memperkenalkan Adit.
"Selamat malam tante," sapa Adit.
"Malam, ayo mampir dulu!" balas ibu Dini.
"Terima kasih tante, sudah malam, saya harus pulang, permisi," jawab Adit lalu kembali ke mobilnya dan segera meninggalkan rumah Dini.
Dini dan ibunya lalu masuk ke dalam rumah.
"Apa kalian ada hubungan di luar pekerjaan?" tanya ibu Dini yang hanya dibalas gelengan kepala Dini.
"Kamu masih marah sama ibu?" tanya ibu Dini lagi.
"Dini capek bu, Dini mau istirahat dulu," jawab Dini lalu segera masuk ke dalam kamarnya dan membuka jendela kamarnya seperti biasa.
Tanpa mengganti pakaiannya, Dini duduk di jendela dengan menatap langit yang gelap.
"apa kamu juga ngerasain yang aku rasain Dimas? aku takut sendirian, aku takut akan jadi gila karena semua ini,"
**
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi namun Dini belum keluar dari dalam kamarnya. Beberapa kali sang ibu mengetuk pintu dan memanggil Dini namun tak pernah ada jawaban.
Tak lama kemudian Andi datang.
"Dini belum berangkat bu?" tanya Andi.
"Dia masih di kamar Ndi, dari semalem dia belum keluar kamar sama sekali, ibu khawatir Ndi, beberapa hari ini dia selalu berangkat pagi pulang malem, ibu juga nggak pernah liat dia makan di rumah," jawab ibu Andi.
Andi lalu keluar dari rumah Dini dan berlari ke halaman untuk memastikan dugaannya. Benar saja, Dini masih membiarkan jendela kamarnya terbuka setiap malam.
Andipun segera masuk ke kamar Dini melalui jendela kamar dan mendapati Dini yang sedang terbaring di ranjangnya dengan keringat dingin dan badan yang demam.
"Diimasss," panggil Dini dengan mata terpejam.
Andi mengusap keringat dingin yang membasahi wajah Dini. Ia merasa sedih melihat keadaan sahabat yang dicintainya itu.
"Aku yakin Dimas akan kembali Din," ucap Andi pelan.
"Kamu di dalem Ndi? tolong buka pintunya Ndi!" ucap ibu Dini dari luar kamar Dini.
Andipun segera membuka pintu kamar Dini dan membiarkan ibu Dini masuk.
"Kamu kenapa Din? kenapa bisa begini?" tanya ibu Dini panik.
"Aaaaahhh, sakiiiittt," pekik Dini dengan memegangi perutnya.
"Kita bawa Dini ke rumah sakit ya bu!" ucap Andi pada ibu Dini.
"Enggak, aku nggak mau ke rumah sakit," ucap Dini dengan menahan tangan Andi dan mencengkeramnya begitu erat.
"Enggak Ndi, aku.... aaahhhhh!!"
"Apa yang sakit Din? perut kamu sakit?" tanya sang ibu khawatir.
"Iya bu, sakit banget," jawab Dini dengan masih mencengkeram tangan Andi.
"Ibu belikan obat sebentar, tolong kamu jaga Dini ya Ndi!"
"Tapi bu....."
Ibu Dini segera keluar dari rumah menuju ke apotek terdekat. Sedangkan Andi masih menemani Dini di kamarnya.
Andi mengambil sebuah handuk kecil dan air untuk mengompres badan Dini yang semakin panas.
"Kamu yakin nggak mau ke rumah sakit?" tanya Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Tak lama kemudian ibu Dini datang dengan membawa bubur ayam dan beberapa obat untuk Dini.
"Ibu suapin ya!"
Dini menganggukkan kepalanya pelan. Setelah beberapa sendok bubur ayam masuk ke perutnya, ia merasa sudah kenyang.
Ia pun meminum obat yang baru saja dibelikan ibunya.
"Kalau masih sakit kita ke rumah sakit ya Din!" ucap ibu Dini.
"Dini cuma perlu istirahat aja kok bu," balas Dini.
"Kalau ada apa apa panggil ibu ya, ibu ada di depan," ucap ibu Dini yang dibalas anggukan kepala Dini.
Ibu Dini lalu keluar, meninggalkan Dini dan Andi berdua di dalam kamar.
Dini lalu kembali berbaring dan memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Ia menarik tangan Andi dan menggenggamnya kuat kuat.
"Apa aku harus kasih tau Dimas?"
"Jangan, aku nggak mau dia khawatir," jawab Dini dengan merintih.
Dua jam berlalu, Dini kini terlelap dengan masih menggenggam satu tangan Andi.
Biiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Dini berdering hingga beberapa kali. Dengan pelan Andi menggeser posisi duduknya dan mengambil ponsel Dini.
Pak Adit
__ADS_1
Andi lalu menggeser tanda panah hijau dan menerima panggilan Adit.
"Halo Din, kamu tau ini jam berapa? kamu....."
"Maaf pak, saya Andi temennya Dini, maaf karena belum sempat izin kalau Dini sekarang lagi sakit," ucap Andi sebelum Adit semakin marah.
"Dini sakit? sakit apa? dia di rumah sakit mana?"
"Dia di rumah pak, badannya demam dan perutnya sakit," jawab Andi.
"demam? perutnya sakit? apa karena dia dari kemarin pulang malem dan nggak pernah makan siang?" batin Adit bertanya tanya.
"Mungkin besok atau lusa Dini baru bisa masuk kerja pak, mohon pengertiannya," ucap Andi.
"Oke baiklah, semoga Dini lekas sembuh," balas Adit.
Klik. Sambungan berakhir.
"Adit? kenapa rasanya dia nggak asing ya, aku yakin baru ketemu dia, tapi kenapa......"
"Andi," panggil Dini membuyarkan lamunan Andi.
"Iya Din, gimana perutnya? masih sakit?"
Dini menggeleng pelan lalu meraba raba ponselnya.
"Aku belum ngabarin Pak Adit Ndi, Pak Adit pasti marah banget!"
"Aku udah kasih tau Pak Adit kok, barusan Pak Adit telfon kamu, aku yang angkat."
"Apa Pak Adit marah?"
"Enggak, kamu tenang aja, nggak usah mikirin apa apa dulu."
Dini menganggukkan kepalanya lalu duduk dengan bersandar pada sandaran ranjangnya.
"Maaf Ndi," ucap Dini.
"Nggak ada yang harus dimaafin Din, Dimas udah cerita semuanya."
"Aku nggak tau apa ini jalan yang bener, aku nggak tau apa semua ini akan berakhir baik, aku....."
Dini menghentikan ucapannya. Air matanya kembali membasahi pipinya yang masih terasa demam.
Andi mendekat dan membawa Dini ke dalam pelukannya.
"Aku tau ini berat buat kalian, tapi aku yakin semuanya akan baik baik aja, kamu juga harus yakin Din, Dimas akan kembali, Dimas akan selalu bahagiain kamu lebih dari yang kamu inginkan."
"Aku kangen sama Dimas Ndi, aku nggak tau sampe kapan aku bisa bertahan dengan situasi rumit ini, aku pingin ketemu dia, aku pingin peluk dia, aku pingin sama sama dia Ndi."
Andi hanya diam mendengarkan ucapan Dini yang terasa seperti sayatan tajam dalam hatinya. Melihat Dini sedih dan sakit sudah cukup melukai hatinya. Namun tak hanya itu, rintihan Dini tentang Dimas membuatnya semakin dalam mengubur rasa yang terus tumbuh dalam hatinya.
Untuk beberapa waktu Dini menumpahkan semua tangisnya dalam pelukan Andi. Kesedihan yang ia rasakan beberapa hari ini meluap dalam dekapan Andi.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang. Dini sudah kembali tertidur di ranjangnya.
Andipun berpamitan pada ibu Dini untuk berangkat ke home store.
Dalam perjalanannya ke home store, ia hanya memikirkan Dini. Ada sebuah perasaan yang dianggapnya egois setiap ia melihat Dini bersedih, sebuah rasa yang egois karena menginginkan Dini untuk menjadi miliknya.
"aku bukan siapa siapa, bahkan cinta yang aku simpan pun nggak akan ada gunanya buat Dini, Dimas yang terbaik buat Dini, dia punya semuanya, nggak cuma cinta tapi juga masa depan yang akan bikin Dini bahagia, sadar diri Ndi, lo nggak ada apa apanya dibanding Dimas!" ucap Andi dalam hati.
"Dari mana aja lo?" tanya Dimas ketika Andi baru tiba di home store.
"Sorry telat, Dini sakit, gue......"
"Andini sakit? dia dimana? sakit apa? gimana......"
"Sssttttt..... dia demam, perutnya juga sakit, dia udah baikan sekarang, tapi dia nggak mau ke rumah sakit. "
"Kenapa lo nggak bawa dia ke rumah sakit sih Ndi, lo bisa pake mobil gue!"
"Dia yang nggak mau Dim, kayaknya dia kacau banget akhir akhir ini, dia berangkat kerja pagi pagi banget, pulangnya juga malem banget, tiap malem jendela kamarnya dibuka, ibunya juga nggak pernah liat dia makan di rumah."
Dimas lalu menjatuhkan dirinya di kursi. Ucapan Andi seperti tampan keras bagi dirinya yang belum bisa membahagiakan gadis yang dicintainya.
"Lo ngapain masih di sini?" tanya Dimas tanpa melihat ke arah Andi.
"Gue tau gue telat banget hari ini, tapi gue....."
"Dia butuh lo Ndi!"
"Maksud lo?"
Dimas lalu bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan Andi.
"Andini butuh lo, jangan biarin dia sendirian, buat saat ini cuma lo yang bisa bikin dia baik baik aja."
Andi menggeleng.
"Cuma lo yang dia butuhin Dim."
"Keadaan yang maksa gue jauh sama dia Ndi, ini nggak akan lama, gue janji, jadi gue mohon jaga dia baik baik selama gue nggak ada di sampingnya, jangan biarin dia sakit, jangan biarin dia sendirian, jangan biarin dia sedih!"
"Tapi Dim....."
"Pergi Ndi, dia butuh lo sekarang!" ucap Dimas lalu masuk ke ruang kerjanya dan mengunci pintunya.
__ADS_1
Andi menghela napasnya panjang lalu meninggalkan home store dan kembali ke rumah Dini.