Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Pertemuan Formal


__ADS_3

Jam makan siang tinggal 15 menit lagi. Dini dan teman temannya masih berada di kantin. Banyak hal yang mereka bicarakan sembari makan siang.


Namun satu ucapan dari Aca membuat Dini sedikit malas membahasnya.


"Itu sih dia suka sama kamu," ucap Aca.


"Iya bener," balas Ica.


Dini hanya diam dengan membawa pandangannya pada Ica dan Aca bergantian.


"Iya kan? bener kan?" lanjut Ica.


"Kalian apaan sih, dia itu sahabat aku dari kecil, udah ah aku balik dulu!" ucap Dini lalu beranjak dari duduknya.


"Yeeee, ngambek!" ucap Ica lalu mengejar Dini yang diikuti dengan Aca.


Mereka kembali ke tempat kerja mereka masing masing. Saat Dini baru saja masuk ke ruangannya, Adit ikut masuk dan memberikannya sebuah map.


"Kenapa mukanya ditekuk gitu?" tanya Adit yang melihat Dini tampak kesal.


"Nggak papa," jawab Dini singkat.


"Kalau ditanya kenapa itu dijawab, jangan cuma bilang nggak papa!"


"Kak Adit jangan bikin makin kesel deh!" ucap Dini yang semakin kesal.


"Hahaha.... kerjain ini dan selesaiin sebelum jam pulang, setelah itu ikut kakak!" ucap Adit sambil menunjuk map yang baru saja dibawanya.


"Kemana?"


"Pertemuan biasa, di restoran X, kamu dandan yang cantik, oke?"


"Percuma dandan, Dini nggak bisa cantik," balas Dini tak bersemangat karena sebenarnya ia ingin segera pulang setelah jam kerjanya selesai.


"Kamu emang jelek kalau lagi manyun, jelek kayak bebek hahaha......"


"Iiiiihhhh, kak Adiiittt!"


"Hahahaha....."


Adit lalu keluar dari ruangan Dini dan masuk ke ruangannya.


Sedangkan Dini kembali melihat ponselnya dan masih belum ada kabar apapun dari Dimas.


Dini lalu mulai mengerjakan pekerjaannya meski jam makan siangnya masih tersisa beberapa menit lagi.


Waktu berlalu. Tepat jam 4 Dini sudah menyelesaikan pekerjaannya dan memberikan hasilnya pada Adit.


Dini lalu pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya dan mengoles kembali make up flawless nya.


Meski pada dasarnya ia tidak suka dandan, ia tetap harus berpenampilan menarik agar tidak mempermalukan Adit.


Setelah selesai bersiap, Adit dan Dini pergi ke restoran X dengan diantar oleh Rudi.


Sesampainya di sana, mereka segera masuk ke tempat yang sudah direservasi sebelumnya. Mereka masuk ke ruangan VIP yang di tengahnya terdapat meja bulat yang berputar.


Dini duduk di samping Adit bersama beberapa petinggi perusahaan lainnya. Tak lama kemudian pintu kembali terbuka, saat Dini membawa pandangannya ke arah pintu ia begitu terkejut melihat siapa yang baru saja masuk.


"Dimas!" ucap Dini yang membuat mata semua orang tertuju padanya.


Seketika Dini membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.


Dimas hanya tersenyum melihat keterkejutan Dini. Ia sengaja tidak memberi tahu Dini tentang acara sore itu, ia juga meminta Adit untuk tidak memberi tahu Dini.


Dimas datang ke tempat itu bersama sang papa. Pertemuan itu sengaja papa Dimas rencanakan untuk mengenalkan Dimas kepada para petinggi perusahaan lain.


Satu per satu dari semua orang yang berada di ruangan itu bersalaman dengan Dimas dan memberikannya selamat, termasuk Dini yang saat itu terlihat canggung karena bertemu dengan Dimas dalam keadaan formal untuk pertama kalinya.


Dimas lalu duduk di samping Dini. Mereka semua menikmati hidangan yang sudah disediakan.


Saat sedang serius berbicara, tiba tiba Dimas menggenggam tangan Dini di bawah meja. Dini yang terkejut segera membawa pandangannya pada Dimas.


Dilihatnya Dimas masih fokus berbincang dengan beberapa orang yang ada di sana. Dimas terlihat santai dengan apa yang dilakukannya dibawah meja, sedangkan Dini semakin gugup karena takut jika ada yang melihat apa yang Dimas lakukan padanya.


"Karena CEO baru kita ini sangat tampan, kamu nggak berniat buat berpaling dari perusahaan saya kan Din?" tanya Adit yang sengaja menggoda Dini.


"Aaaa... eeee... saya....."


"Waaahhhh.... sepertinya personal assistan nya pak Adit sudah grogi ya duduk di samping Dimas," ucap yang lain, membuat semua yang ada di sana tertawa, termasuk Dimas.


Sedangkan Dini hanya tersenyum malu dan canggung dengan situasi saat itu.


"kak Adit jahil banget sih, awas aja nanti kalau pulang!" batin Dini kesal dalam hati.


Setelah acara pertemuan itu selesai, semua orang meninggalkan ruangan itu kecuali Dimas dan sang papa, Adit dan Dini.


"Sekali lagi selamat Dim, semoga kita bisa jadi partner bisnis yang baik," ucap Adit sambil mengulurkan tangannya pada Dimas.


"Terima kasih," balas Dimas dengan menjabat tangan Adit.


"Din, kamu nggak kasih selamat juga?" tanya Adit yang kembali menggoda Dini.


Dengan ragu Dini mengulurkan tangannya mengikuti perintah Adit.


"Selamat atas...."

__ADS_1


Dini menghentikan ucapannya saat Dimas menarik tangannya dan memeluknya di depan Adit dan papa Dimas.


"Aku kangen banget sama kamu," ucap Dimas berbisik.


Dini lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dimas dan mendorong Dimas menjauh. Ia malu karena masih ada Adit dan papa Dimas yang melihat mereka.


Adit dan papa Dimas hanya tertawa melihat tingkah Dimas dan Dini.


"Kamu harus bisa tahan diri kamu Dimas, kamu harus profesional dalam pekerjaan kamu!" ucap papa Dimas mengingatkan.


"Iya pa, Dimas mengerti," balas Dimas dengan mengedipkan satu matanya pada Dini.


Dini hanya diam melihat sikap Dimas yang membuatnya malu di hadapan Adit dan papa Dimas.


"Sayang, kamu pulang sama aku ya?" ucap Dimas saat mereka sudah berjalan keluar dari restoran.


Dini lalu membawa pandangannya pada Adit seolah meminta jawaban.


"Nggak papa, kamu sama Dimas aja, kakak juga mau langsung pulang," ucap Adit pada Dini.


Akhirnya Aditpun pulang hanya bersama Rudi karena Dini pulang bersama Dimas, sedangkan papa Dimas mengendarai mobilnya bersama supir.


"Dimas, apa lain kali kita akan ketemu lagi di jam kerja?" tanya Dini pada Dimas saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Iya, karena perusahaan papa dan perusahaan Adit kan partner dari lama, kamu juga sering ketemu papa kan?"


"Iya sih, tapi rasanya canggung kalau ketemu kamu kayak tadi."


"Bawa santai aja sayang, kita nggak perlu sembunyiin hubungan kita, tapi kita juga tetap jaga profesionalisme kita, biar mereka tau sendiri aja," ucap Dimas.


"Justru kamu yang nggak profesional!" ucap Dini kesal.


"Aku? aku kenapa?" tanya Dimas yang tidak menyadari kesalahannya.


"Kamu pegang tanganku tadi!"


"Hahaha.... aku nggak bisa kalau nggak nempel sama kamu kalau lagi deketan," ucap Dimas tanpa rasa bersalah.


"Bisa bisanya kamu ngelakuin itu dengan tenang, sedangkan aku gugup setengah mati karena takut ada yang lihat!"


"Iya, aku nggak akan ngelakuin itu lagi," ucap Dimas.


"Kamu juga peluk aku tadi!"


"Kan cuma ada papa dan Adit, mereka kan tau hubungan kita!"


"Tetep aja Dimas, jangan lakuin itu!"


"Iya iya, oke, aku minta maaf aku nggak akan ngelakuin itu lagi!"


"Dunia kerja memang sekejam ibu tiri sayang," balas Dimas dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku serius Dimas!"


"Hehehe.... iya sayang, aku mengerti kekhawatiran kamu," balas Dimas lalu menarik tangan Dini dan menciumnya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, mereka pun sampai di rumah Dini. Mereka turun dari mobil dan saling berpelukan sebelum berpisah.


"Aku masih pingin sama kamu sayang," ucap Dimas yang enggan melepaskan Dini dari pelukannya.


"Kamu harus pulang Dimas, istirahat dan jaga kesehatan kamu," ucap Dini yang melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.


"Kamu juga harus istirahat dan jaga kesehatan ya!" ucap Dimas yang dibalas anggukan dan senyum Dini.


Setelah kecupan singkat di kening Dini, Dimaspun pergi dari rumah Dini dan pulang ke rumahnya.


**


Hari berganti, Dini sudah bersiap untuk pergi ke tempat kerjanya pagi itu.


Saat ia baru saja melangkah keluar dari rumah, ia begitu terkejut melihat Andi yang duduk di depan rumahnya.


"Kamu dari kapan disini? kenapa nggak masuk?" tanya Dini.


"Baru aja kok, aku tau bentar lagi kamu keluar jadi aku tunggu di sini," jawab Andi.


"Ooh, kamu abis ketemu ibu kamu?"


"Iya, sekalian mau anter kamu ke kantor," jawab Andi.


"Beneran? ayo ayo!"


Andi tersenyum melihat Dini yang penuh semangat. Andipun kembali ke rumah sang ibu untuk berpamitan sekaligus mengambil mobilnya.


"Nanti malem kamu ada acara kan sama Dimas dan keluarganya?" tanya Andi.


"Kok kamu tau? Dimas ajak kamu juga?"


"Iya, dia semalem hubungin aku buat ngajak ikut makan malem, tapi aku nggak bisa."


"Nggak bisa? kenapa?"


"Aku nggak mau ganggu kebahagiaan kalian," jawab Andi dalam hati.


"Aku lagi banyak kerjaan Din," jawab Andi berbohong.

__ADS_1


"Nggak bisa ditinggal ya?" tanya Dini yang tampak kecewa.


"Nggak bisa, deadline nya udah mepet soalnya," jawab Andi beralasan.


Bagaimanapun juga Andi tau tidak seharusnya ia berada di sana. Kehadirannya hanya akan membuat suasana canggung karena ia tau mama Dimas tidak pernah menyukainya.


Meski Dimas sudah membujuknya, ia tetap pada pendiriannya untuk tidak menghadiri ajakan makan malam itu.


Ia juga harus menjaga hatinya agar tidak semakin terluka. Sedikit banyak Dimas dan keluarganya pasti akan membahas rencana pernikahan Dimas dengan Dini dan ia masih belum sanggup membayangkan pernikahan itu terjadi.


"Apa karena mama Angel?" tanya Dini tiba tiba.


"Ada apa sama tante Angel?" balas Andi bertanya.


"Kamu pasti nggak mau dateng karena ada mama Angel kan?" terka Dini.


"Enggak Din, aku emang lagi banyak kerjaan, banyak desain yang....."


"Jangan bohong Ndi, aku minta maaf kalau sikap mama Angel bikin kamu nggak nyaman, aku nggak tau kenapa, aku nggak tau alasannya apa, tapi aku tau kalau hubungan kamu sama mama Angel nggak baik, iya kan?"


"Jangan berpikir terlalu jauh, aku emang lagi sibuk, kamu bisa tanya Rama kalau kamu nggak percaya sama aku!" ucap Andi meyakinkan Dini.


"Aku akan coba ngomong sama mama Angel kalau kamu....."


"Jangan Din, pernikahan kamu tinggal sebentar lagi, aku nggak mau tante Angel makin salah paham," ucap Andi memotong ucapan Dini.


"Salah paham? salah paham karena apa?" tanya Dini tak mengerti.


"Kita obrolin di tempat kerja kamu aja, aku juga mau ketemu kak Adit karena semalem dia nggak pulang," ucap Andi.


Sesampainya di tempat kerja Dini, Dini dan Andi duduk di kursi yang ada di lobby sembari menunggu Adit.


"Jelasin sama aku sekarang, mama Angel salah paham tentang apa sama kamu?" tanya Dini yang masih penasaran.


"Tante Angel nggak suka aku deket sama kamu, aku nggak bisa salahin tante Angel karena aku tau tante Angel cuma nggak mau ada masalah antara aku, kamu dan Dimas, apa lagi pernikahan kamu sama Dimas tinggal sebentar lagi," jawab Andi menjelaskan.


"Tapi kamu kan sahabat Dimas juga, mama Angel juga tau kok kalau aku sama kamu bersahabat dari kecil," ucap Dini.


"Yang penting sekarang kamu jangan bicarain hal ini sama tante Angel, aku nggak mau hubungan kamu sama tante Angel renggang karena hal ini," ucap Andi.


"Tapi aku nggak mau mama Angel berpikiran buruk tentang kamu Ndi, aku....."


"Din, jangan pikirin aku, aku baik baik aja, beneran!" ucap Andi dengan menggenggam tangan Dini.


"gimana aku bisa nggak mikirin kamu Ndi, saat aku seneng ataupun sedih cuma kamu yang selalu ada buat aku," batin Dini dalam hati.


"Udah dong jangan manyun terus," ucap Andi dengan mencubit pipi Dini.


Dini lalu menarik tangan Andi, menggenggamnya dan menatap ke dalam mata Andi.


"Andi, apapun yang terjadi kamu adalah sahabat terbaik aku, aku nggak peduli orang lain bicara apa tentang kamu, buat aku kamu lebih dari segalanya dan kamu udah janji buat nggak akan ninggalin aku, jadi kamu harus tepati janji kamu itu ya!"


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum dan mengusap kepala Dini.


"Udah hampir jam 7, kamu masuk aja dulu, aku nunggu kak Adit di sini," ucap Andi pada Dini.


"Jemput aku ya nanti sore!"


"Oke," balas Andi.


Dinipun beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Andi.


Di sisi lain diam-diam Acha dan Icha memperhatikan interaksi Dini dan Andi di lobby.


"Aku sih yakin mereka nggak cuma bersahabat," ucap Ica.


"Tapi Dini bilang mereka emang bersahabat dari kecil, makanya deket banget!" ucap Aca.


"Fix sih mereka jodoh, sahabat dari kecil sampai sekarang nggak pernah pisah," ucap Ica.


"Jangan ngawur, Dini kan udah punya pacar, kerja di perusahaan besar lagi!"


"Tapi Andi juga adiknya pemilik perusahaan besar, dia juga punya bisnis sendiri, jadi mandiri, nggak ngandelin warisan orang tua, perfect combination sih menurutku dan yang paling penting cakep hehe....." ucap Ica.


"Enggak enggak, Dini harus tetep sama pacarnya, titik."


"Kenapa harus memilih orang lain kalau udah ada orang yang setia menemani dari dulu? orang yang udah nggak diragukan lagi kesetiaan dan kasih sayangnya!" ucap Ica.


"Tapi mereka cuma bersahabat Ca, mereka SA HA BAT!" ucap Aca menekankan kata "sahabat".


"Sahabat jadi cinta kan nggak masalah, Andi itu future material banget loh, bukan boyfriend material lagi, siapa coba yang nggak mau sama dia, jadi istri keduanya juga aku rela hahaha....."


"Huuuu.... stres!" ucap Aca dengan memukul kepala Ica menggunakan map di tangannya.


NB :


Maaf kalau alur ceritanya nggak sesuai sama keinginan kakak readers semuanya, author sudah berusaha semaksimal mungkin buat bisa update setiap harinya.


Author sudah mengetik lebih dari 200 episode yang siap update setiap pagi, jadi author harap kakak readers masih mau membaca alur yang sudah author siapkan.


Semua komentar dan kritik yang membangun akan jadi pacuan buat author lebih baik lagi dalam membuat jalan cerita ini.


Terima kasih sudah menjadi pembaca setia Dini, Andi dan Dimas 🥰


Like dan komennya akan membuat author bersemangat setiap harinya 😘🥰

__ADS_1


Terima kasih 🙏🙏😘


__ADS_2