
Dimas duduk di tepi ranjangnya dengan menatap wajah istri yang dicintainya. Semerbak wangi terasa memenuhi kamarnya saat itu.
Dimas lalu mengangkat Dini dan membawanya agar berbaring di tengah ranjang. Ia kembali menatap wajah cantik di hadapannya, membelainya dengan lembut dan penuh cinta.
Dimas lalu mendaratkan kecupan singkatnya di bibir Dini, namun saat ia akan melepasnya, tangan Dini melingkar di pinggangnya.
Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Dini tersenyum dengan membelai wajah tampan di hadapannya.
Dimaspun kembali menyapu bibir Dini dengan lembut, mereka kembali bertaut dengan semakin dalam.
Malam itu adalah malam dimana mereka telah melepas sesuatu yang mereka jaga selama ini. Mereka menyatu dalam hangatnya sebuah hubungan yang suci.
Setitik air mata jatuh saat Dini benar benar melepaskan mahkotanya untuk laki laki yang dicintainya.
Bukan hanya karena perih yang ia rasakan, tapi juga karena bahagia yang pada akhirnya menyatukan hubungan mereka yang penuh perjuangan.
Dimas membelai wajah Dini dengan lembut dan menghapus air mata Dini. Ia akan melakukannya dengan baik tanpa membuat gadis yang dicintainya merasa sakit.
Dini memejamkan matanya, merasakan setiap keindahan yang Dimas berikan padanya.
Sampai pada akhirnya puncak musim semi seolah telah menggugurkan bunga bunganya, menjatuhkan setiap helai kelopak indah yang membawa semerbak wangi.
Dimas menjatuhkan dirinya di atas Dini, nafas mereka saling menderu dengan detak jantung yang kian memompa dengan cepat.
Dimas lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Dini dan berbaring di samping Dini sampai mereka berdua terlelap dalam keindahan surga dunia yang sudah mereka rengkuh bersama.
Waktu berlalu meninggalkan malam, pagi telah tiba dengan cahaya mentari yang sudah terasa hangat.
Dini mengerjapkan matanya, melihat ke arah jam dinding yang menyadarkannya jika ia terlambat bangun.
Dini lalu membawa pandangannya ke arah laki laki di sampingnya. Dada bidang sang suami yang tidak tertutup selimut cukup membuat Dini merah merona karena malu atas apa yang terjadi semalam.
Dini lalu membuka selimut yang menutup seluruh tubuhnya dan kembali menutup matanya karena malu saat mengingat apa yang ia lakukan bersama Dimas semalam.
Tiba tiba Dimas menggeliat dan tangannya menyentuh bagian tubuh Dini yang membuat Dini menahan nafasnya seketika.
Dimas lalu tersenyum membuat Dini segera memukul tangan Dimas.
"Kamu sengaja ya!"
Dimas hanya terkekeh dengan masih menutup matanya.
Dimas lalu membuka matanya, tersenyum pada perempuan yang sudah ia jadikan istrinya.
"Selamat pagi sayang," ucap Dimas sambil menarik tangan Dini dan menciumnya.
"Selamat pagi suamiku," balas Dini dengan mencium pipi Dimas.
Dimas menggeser posisinya agar lebih dekat dengan Dini, lalu mendekatkan kepalanya dan memberikan kecupan yang berakhir dengan tautan yang dalam.
"Dimas, ini udah siang," ucap Dini sambil menunjuk ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 tepat.
"Kamu mau mandi?" tanya Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Dimas lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Dini, namun Dini menahan selimut itu dengan erat.
"Aku udah liat semuanya sayang," ucap Dimas.
"Tetep aja, malu," balas Dini dengan masih memegang selimutnya erat.
Saat Dini akan duduk, ia merasa bagian dari tubuhnya sedikit perih.
"Kenapa sayang?" tanya Dimas yang melihat Dini sedikit merintih.
Dini menggeleng pelan dengan masih memegang selimutnya.
"Apa sakit banget?" tanya Dimas khawatir.
"Sedikit, tapi nggak papa," jawab Dini.
Dimas lalu memegang tangan Dini dan menarik selimut Dini. Tanpa basa basi Dimas membopong Dini dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Dengan hati hati ia menurunkan Dini di bathtub kamar mandi dan menyalakan air hangat untuk Dini berendam.
"Maafin aku sayang," ucap Dimas sambil mengusap tangan Dini dengan sabun.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Dini.
"Karena aku ninggalin kamu ke ruang baca dan aku udah bikin kamu nunggu lama di kamar," jawab Dimas yang masih merasa bersalah.
"Justru aku yang seharusnya minta maaf sama kamu, maaf karena aku masih belum siap saat itu," ucap Dini.
"Aku nggak akan maksa kamu dalam semua hal sayang, kamu selalu punya pilihan yang berhak untuk kamu tentukan tanpa paksaan," balas Dimas.
"Makasih Dimas, nggak cuma buat pengertian kamu, tapi juga buat malam indah yang nggak akan pernah aku lupain," ucap Dini.
Dimas hanya tersenyum lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Dini.
Setelah mereka selesai mandi, mereka mengenakan pakaian santai karena hanya ingin menghabiskan waktu berdua di rumah.
Saat Dini merapikan ranjang, terlihat bercak darah di sprei putih dan selimutnya. Dini lalu melepas semuanya berniat untuk mencucinya sendiri.
"Kenapa sayang?" tanya Dimas lalu melihat darah di selimut yang Dini pegang.
Dimas menghela napasnya lalu memeluk Dini.
__ADS_1
"Pasti sakit banget ya?" tanya Dimas yang merasa bersalah karena melihat darah akibat dari apa yang ia lakukan semalam.
"Enggak, kamu pasti tau ini akan terjadi kan?"
"Iya aku tau, itu adalah darah dari selaput dara yang....."
"Nggak perlu dijelasin," ucap Dini dengan menutup mulut Dimas dengan tangannya.
"Aku akan minta bibi buat ganti yang baru!" ucap Dimas.
"Aku aja yang ganti sendiri, aku juga mau cuci ini sendiri," ucap Dini.
"Tapi....."
"Dimas, bukannya kemarin kita udah sepakat?"
"Iya maaf, aku akan bantuin kamu pasang yang baru dan cuci yang ini!" balas Dimas.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang. Setelah membereskan kamar, Dini dan Dimaspun mencuci sprei dan selimut mereka sendiri.
"Aku ke kamar bentar ya sayang!" ucap Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Tak lama kemudian salah satu asisten rumah tangga datang menghampiri Dini.
"Saya bantu Bu?"
"Makasih Bi, saya sendiri aja," jawab Dini menolak.
"Walaupun saya dan pekerja lain tidak diperbolehkan masuk ke kamar atas, tapi kita semua siap membantu Bu Dini kalau perlu apa apa."
"Iya bi, terima kasih," balas Dini.
Beberapa lama kemudian Dini dengan dibantu asisten keluarga menjemur cuciannya.
Setelah selesai, Dini berjalan ke arah kolam renang dan tidak sengaja mendengar percakapan beberapa asisten rumah tangganya.
"Pak Dimas dan keluarganya emang baik banget, kalau bukan karena kerja di rumah ini mungkin aku nggak bisa kuliahin anakku!"
"Iya, aku juga bisa biayain perawatan anakku di rumah sakit karena kerja di sini, kamu tau sendiri anakku udah beberapa bulan nggak ninggalin rumah sakit karena penyakitnya."
"Beruntungnya kita bisa kerja di sini, karena kalau di tempat lain mereka nggak akan gaji kita sebesar gaji yang pak Dimas beri, iya kan?"
"Iya bener, temen ku juga bilang kalau kerja di keluarga pak Tama itu gajinya jauh lebih tinggi daripada yang lain, mereka juga keluarga yang baik."
"Semoga pak Dimas dan Bu Dini bisa jadi keluarga yang bahagia ya!"
"Iya, kebaikan pak Dimas pasti akan berbalas kebaikan juga!"
Percakapan singkat yang Dini dengar cukup menampar Dini dengan keras. Hanya karena rasa tidak nyamannya dengan keberadaan orang asing di tempat tinggalnya, ia hampir saja memutus rezeki orang orang itu.
"mereka bergantung dengan pekerjaan di rumah ini, aku nggak mungkin minta Dimas buat pecat mereka, sadar Dini kamu adalah istri Dimas, Dimas pasti kasih semua yang terbaik buat kamu dan seharusnya kamu bisa menerimanya dan beradaptasi dengan baik sebagai istrinya," batin Dini dalam hati.
"Enggak, kamu kenapa lama banget!"
"Tadi papa hubungin aku, udah selesai jemurnya?"
"Udah, dibantuin bibi," jawab Dini.
"Papa bilang apa?" tanya Dini.
"Cuma bicarain masalah kantor," jawab Dimas.
"Ada masalah?"
"Enggak, papa udah handle semuanya selama aku cuti, nggak ada yang perlu kamu khawatirkan!" jawab Dimas sambil mencubit hidung Dini.
Dimas lalu membawa Dini untuk duduk di kursi ayunan yang berada di dekat kolam renang. Merasakan semilir angin bersama kehangatan mentari.
"Dimas, aku mau mereka tetap di sini," ucap Dini dengan menyadarkan kepalanya di bahu Dimas.
"Mereka siapa?" tanya Dimas tak mengerti.
"Mereka yang kerja di rumah ini," jawab Dini.
"Kamu yakin?"
Dini menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.
"Rumah ini terlalu besar buat kita tinggali berdua, jadi aku akan butuh mereka buat bantuin aku di sini," ucap Dini.
Dimas hanya tersenyum dan membawa Dini ke dalam dekapannya.
**
Di tempat lain, Andi masih berada di rumahnya meski matahari sudah tampak tinggi. Ia hanya duduk menonton tv bersama banyak bungkus makanan ringan di hadapannya.
Mama Siska lalu menghampiri Andi dan duduk di sebelahnya.
"Bukannya mama hari ini balik ke rumah mbak Ana ya?" tanya Andi tanpa memalingkan wajahnya dari tv.
"Harusnya iya, tapi mama akan kepikiran kamu kalau mama pergi saat kamu kayak gini," jawab mama Siska.
"Kayak gini gimana maksud mama?" tanya Andi dengan membawa pandangannya pada sang mama.
Mama Siska hanya memberikan kode dengan matanya untuk menunjukkan bungkus makanan ringan milik Andi di meja.
__ADS_1
"Hehehe.... nanti Andi beresin kok ma," ucap Andi terkekeh.
"Nggak biasanya loh kamu kayak gini, udah dua hari kamu nggak ke home store, susah makan, sering di kamar dan kamu jadi berantakan gini, padahal mama tau kamu paling nggak suka sama yang berantakan kayak gini!"
"Andi cuma lagi pingin keluar dari rutinitas aja ma, Andi janji nggak akan males malesan lagi setelah Andi bosen hehe...."
"Bukannya mama melarang kamu buat santai di rumah, mama cuma khawatir aja kalau kamu tiba tiba berubah kayak gini."
"Andi baik baik aja kok ma," ucap Andi meyakinkan sang mama.
Mama Siska hanya menghela napasnya melihat sikap Andi. Ia tidak melarang Andi untuk bersantai, ia hanya khawatir jika Andi sengaja memendam masalahnya sendiri tanpa bercerita padanya.
"Kamu bisa cerita sama mama atau kakak kamu kalau ada masalah!" ucap mama Siska yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum Andi.
"Oh iya, rencananya bulan depan Andi mau liburan sama Aletta, nggak papa kan ma?"
"Berdua aja?" tanya mama Siska.
"Iya, tapi belum pasti juga karena Aletta juga belum tentu dapat izin cuti," jawab Andi.
"Iya nggak papa, kamu memang butuh waktu buat liburan," balas mama Siska.
"Makasih ma," ucap Andi lalu memeluk sang mama.
Waktu berlalu, siang telah berganti malam yang datang bersama bulan dan bintang.
Andi duduk di balkon kamarnya menatap nanar langit gelap dengan bulan yang tampak tersenyum ke arahnya.
Andi mengernyitkan keningnya melihat bulan yang seolah sedang mengejeknya.
"aku juga bahagia, sekarangpun aku bahagia," ucap Andi dalam hati.
Andi menghela nafasnya panjang lalu berbalik dan begitu terkejut melihat Adit yang sudah berdiri di belakangnya.
"Lo dari kapan di situ?"
"Dari tadi, gue panggil lo nggak nyaut, gue masuk aja!"
"Nggak sopan!" ucap Andi lalu duduk di tepi ranjangnya sambil membaca buku.
Adit hanya tersenyum tipis lalu membalik buku yang Andi pegang karena Andi membacanya dengan terbalik.
"Gue.... gue emang lagi baca kayak gini buat ngelatih fokus!" ucap Andi dengan kembali membalik bukunya.
Adit lalu merebahkan dirinya di ranjang sambil merebut buku di tangan Andi.
"Mama khawatir sama lo!" ucap Adit.
"Nggak ada yang perlu dikhawatirin, gue baik baik aja!"
"Apa yang lo ucapin berbanding terbalik sama apa yang terjadi sama lo!" ucap Adit.
"Gue udah berusaha," ucap Andi datar.
"Iya gue tau, gue ngerti gimana perasaan lo tapi lo juga nggak bisa terus terusan kayak gini, ini udah jadi pilihan yang lo ambil, kalau Dini tau perasaan lo ada kemungkinan pernikahan itu nggak akan terjadi!"
"Dan gue akan semakin hancurin masa depan Dini!" ucap Andi dengan menatap tajam pada Adit.
Adit lalu beranjak dan duduk di samping Andi.
"Gue nggak nyalahin lo atas apa yang udah terjadi, gue cuma mau lo bahagia sama pilihan lo!" ucap Adit lalu keluar dari kamar Andi.
"Oh ya, Aletta nungguin lo di luar," ucap Adit saat ia baru saja melewati pintu kamar Andi.
"Hah, Aletta? dari kapan? kenapa lo nggak bilang dari tadi?" tanya Andi yang segera berlari keluar dari kamarnya.
Adit hanya terkekeh lalu masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Andi segera turun untuk menghampiri Aletta.
"Dari tadi Ta?" tanya Andi saat ia sudah duduk di samping Aletta di ruang tamu.
"Barusan kok, emang kak Adit bilang butuh waktu lama buat bikin kamu keluar dari kamar," jawab Aletta.
"Enggak Ta, dia emang jail banget, dia dari tadi di kamarku tapi nggak kasih tau aku kalau kamu dateng!"
Aletta hanya terkekeh mendengar ucapan Andi.
"Aku udah izin cuti bulan depan!" ucap Aletta.
"Dikasih izin?"
Aletta menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
"Beneran?"
"Iya, tapi cuma boleh 3 hari," jawab Aletta.
"Oke, sekarang kita tentuin tujuan kita kemana!"
"Aku sih terserah kamu, asal waktu 3 hari itu cukup!"
"Oke, nanti aku pikirin dulu!" ucap Andi bersemangat.
"Tapi..... apa mama kamu nggak keberatan kalau kita liburan berdua?" tanya Aletta.
"Enggak, aku udah bilang sama mama," jawab Andi.
__ADS_1
Andi dan Aletta lalu membicarakan banyak hal termasuk rencana liburan mereka. Saat malam semakin larut, Andipun mengantarkan Aletta untuk kembali ke apartemennya.
Andi lalu pulang, masuk ke dalam kamarnya dan kembali merenung di atas ranjangnya.