
Hari hari telah Dini lewati dengan penuh kesedihan. Tak mudah baginya untuk merelakan calon buah hati yang sudah lama dinantikan kehadirannya.
Segala macam cara telah Dimas lakukan untuk bisa mengembalikan kebahagiaan Dini, hingga akhirnya sebuah senyum kembali terlihat dari wajah yang telah lama sendu itu.
Semakin bertambahnya usia pernikahan Dimas dan Dini, Dimas semakin menunjukkan cintanya pada Dini.
Ia akan memberikan apapun yang bisa ia lakukan untuk membuat Dini bahagia.
Malam itu, Dimas dan Dini sedang berada di hotel yang ada di dekat pantai. Dini berdiri memandang hamparan gelap dari balkon kamar hotelnya.
Tak lama kemudian Dimas datang dan memeluk Dini dari belakang.
"Ayo masuk sayang, udaranya makin dingin," ucap Dimas pada Dini.
"Aku masih pingin disini," jawab Dini menolak.
"Kamu bisa masuk angin kalau terlalu lama di sini sayang," ucap Dimas dengan memeluk Dini semakin erat.
Dini hanya diam menatap kerlip bintang di langit malam. Ada rasa rindu yang perlahan memenuhi ruang hatinya. Rindu pada seseorang yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya.
Ya, ia merindukan janin yang sempat tinggal dalam rahimnya. Janin yang bahkan belum sempat ia ketahui jenis kelaminnya.
Saat kebahagiaan hampir sempurna, dengan sekejap saja takdir membalikkan keadaannya. Meski berat baginya, ia hanya bisa berusaha menerimanya.
Ia tau apa yang terjadi pada dirinya sudah digariskan dalam buku takdirnya, hanya saja tidak mudah baginya untuk menerima takdir yang begitu menyakitkannya.
Namun dibalik itu, ia beruntung karena memiliki Dimas yang selalu ada untuknya, yang selalu memberinya cinta dan kasih sayang sepanjang hidupnya.
"Dimas."
"Iya sayang, kamu kedinginan?"
Dini hanya menganggukkan kepalanya lalu berbalik dan memeluk Dimas dengan erat. Dimas lalu menggendong Dini, membawanya masuk ke dalam kamar dan menjatuhkannya di atas ranjang dengan pelan.
Dimas menarik selimut lalu menenggelamkan Dini dan dirinya ke dalam satu selimut. Dimas memberikan kecupan singkatnya pada Dini sebelum ia memejamkan matanya.
Malam itu, mereka kembali tertidur dengan rasa rindu yang selalu memenuhi ruang hati mereka.
**
Hari berganti, bulan bulan telah berlalu. Anita sudah tidak pernah lagi keluar dari rumahnya sejak perutnya semakin besar.
Usia kandungannya yang sudah menginjak 9 bulan membuatnya lebih banyak berdiam diri di dalam kamar.
Tak jarang bibi harus sedikit memaksa Anita agar Anita mau keluar dari kamar untuk sekedar berjalan jalan di halaman rumah.
Tentang Andi, ia masih menyembunyikan hubungannya dengan Anita dari semua orang. Ia sendiri tidak mengerti hubungan seperti apa yang sebenarnya terjalin diantara dirinya dan Anita.
Ia selalu menyempatkan waktunya untuk menemui Anita di sela sela kesibukannya. Beruntung, Anita tidak menuntut banyak padanya.
Anita bisa mengerti kesibukannya sebagai mahasiswa dan juga pemilik clothing arts. Tak jarang Andi harus pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya, yang membuatnya tidak bisa menemui Anita untuk beberapa hari.
Namun Anita tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Ia membiarkan Andi menjalani kehidupannya dengan normal seperti biasanya.
Malam itu, Andi pergi ke rumah Anita setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Ia membawa beberapa buku tentang persalinan untuk ia berikan pada Anita.
Sesampainya di rumah Anita, Andi segera masuk dan menemui Anita di kamarnya.
"Aku pikir kamu nggak akan kesini," ucap Anita yang saat itu tengah membaca komik.
Sejak Anita berdiam diri di rumah, hampir setiap Minggu Andi membeli beberapa komik untuk Anita.
Ia tidak ingin Anita merasa bosan dan akhirnya stres karena harus berdiam diri di rumah untuk menyembunyikan kehamilannya dari semua orang.
"Banyak banget yang harus aku kerjain Nit," ucap Andi dengan memberikan buku yang baru saja ia beli pada Anita.
"Buku tentang persalinan? buat apa?" tanya Anita setelah ia menerima buku pemberian Andi.
"Kamu harus pelajari itu Nit," jawab Andi.
"Nggak perlu, aku udah sering baca baca di internet kok," ucap Anita yang membuat Andi sedikit terkejut.
Sepengetahuan Andi, Anita sama sekali tidak peduli dengan kehamilannya, tapi mendengar Anita membaca artikel tentang persalinan membuat Andi sedikit terkejut.
"Aku juga takut sama kemungkinan buruk yang terjadi Ndi, makanya aku cari tau apa yang harus aku lakuin waktu melahirkan nanti!" ucap Anita.
"Aku akan siapin semuanya dengan baik Nit, rumah sakit terbaik, Dokter terbaik, aku akan usahain semua yang terbaik buat kalian," ucap Andi.
"Aku pikir kamu cuma peduli sama bayi ini!" ucap Anita dengan tersenyum tipis.
"Aku juga peduli sama kamu Anita, aku akan pastiin semuanya berjalan dengan baik," balas Andi.
"Kenapa kamu ngelakuin semua ini Ndi? harusnya kamu pergi dan lupain semua ini tanpa harus merasa bertanggung jawab!"
"Aku mungkin bisa pergi dan lupain apa yang sudah aku lakuin sama kamu, tapi karena kamu mengandung anak aku, aku nggak mungkin pergi gitu aja, dia adalah bagian dari aku dan kamu Nit, dia anak kita," ucap Andi.
__ADS_1
"Kita? enggak, dia anak kamu!"
Andi menghela napasnya lalu mendekat dan memeluk Anita.
"Apapun yang terjadi dia adalah anak kamu Nit, suka atau enggak, dia adalah bagian dari kamu," ucap Andi.
"Aku nggak mau anggap dia anak aku Ndi, setelah aku melahirkan, aku nggak mau berurusan lagi sama anak ini!"
Andi menganggukan kepalanya dengan masih memeluk Anita. Ia tidak akan memaksa Anita untuk bisa menerima anaknya, ia tidak ingin Anita semakin emosi saat ia semakin memaksa Anita.
"Aku akan jaga dia dengan baik, kapanpun kamu berubah pikiran, kamu bisa temui aku!"
"Jangan terlalu berharap," ucap Anita lalu melepaskan dirinya dari pelukan Andi.
Anita lalu naik ke ranjangnya dan membaringkan dirinya begitu saja.
Andi lalu menarik selimut dan menutup tubuh Anita dengan selimut tebal.
"Kamu tau Ndi, gara gara anak ini aku jadi nggak pernah tidur nyenyak sekarang!" ucap Anita kesal.
"Apa yang bisa aku lakuin biar kamu tidur nyenyak?" tanya Andi.
"Pindahin dia ke perut kamu!" jawab Anita yang membuat Andi terkekeh.
"Kalau aku bisa aku pasti udah pindahin dari kemarin kemarin Nit, aku juga nggak mau kamu merasa nggak nyaman dengan keadaan kamu sekarang," ucap Andi.
"Tapi nggak papa, nggak lama lagi aku akan bebas dari perut besar ini," ucap Anita dengan mengusap perutnya.
Andi hanya tersenyum melihat Anita mengusap perut besarnya. Dalam hatinya ia selalu ingin mengusapnya, merasakan gerakan yang biasa Anita ceritakan padanya.
Namun setiap Andi ingin melakukannya, Anita selalu melarangnya.
"Geli!"
Satu kata yang selalu Anita ucapkan saat Andi ingin menyentuh dan merasakan gerakan di perut Anita.
Andi hanya bisa menahan keinginannya itu, ia tidak akan memaksa melakukan hal yang tidak dibolehkan oleh Anita.
**
Hari berganti. Pagi itu, Andi sudah berada di kampusnya. Ia kembali sibuk dengan kegiatan kampusnya.
Setelah menyelesaikan kelasnya, Andi menghubungi Anita. Menurut hasil pemeriksaan Dokter, persalinan Anita tinggal menunggu beberapa hari lagi.
Ia tidak ingin membuat Anita merasa tidak nyaman jika ia terlalu sering menghubungi Anita, itu kenapa ia lebih sering menghubungi bibi.
"Halo Nit, udah bangun?" tanya Andi saat Anita sudah menerima panggilannya.
"Udah, perutku rasanya nggak enak banget," jawab Anita.
"Kenapa? udah kontraksi?"
"Enggak, cuma begah aja," jawab Anita.
"Begah? kamu abis makan apa?" tanya Andi.
"Cuma makan bubur kayak biasanya," jawab Anita.
"Udah minum susunya?"
"Udah juga, kamu dimana sekarang?"
"Aku masih di kampus, aku ke rumah kamu setelah kelas terakhirku selesai," jawab Andi.
"Oke, aku tunggu," balas Anita.
Panggilan berakhir, Andi lalu masuk ke kelasnya.
Setelah selesai, Andi kembali menghubungi Anita untuk menanyakan keadaannya.
"Masih sama kayak tadi pagi, nggak enak banget rasanya," jawab Anita
"Tapi belum kontraksi?" tanya Andi khawatir.
"Belum," jawab Anita singkat.
"Kamu istirahat aja, jangan lupa makan buah, 2 jam lagi aku kesana," ucap Andi.
"Oke," balas Anita.
Di sisi lain, Anita yang merasa tidak nyaman dengan perutnya hanya bisa duduk dan berdiri tanpa melakukan apapun.
Tiba tiba ia merasa perut bagian bawahnya terasa nyeri, semakin lama rasa nyerinya terasa di bagian punggung, perut lalu menjalar ke paha dan kakinya.
Hal itu terjadi hanya beberapa detik saja dan perlahan semua rasa menyakitkan itu menghilang.
__ADS_1
Saat Anita kembali merasakan rasa sakit itu, ia berteriak memanggil bibi. Bibipun segera berlari ke kamar Anita.
"Bibi hubungi den Andi dulu ya non!" ucap bibi namun segera dicegah oleh Anita.
"Jangan bi, Andi masih di kampus sekarang," ucap Anita.
"Tapi non....."
"Nggak papa bi, Anita tau kok kapan Anita akan melahirkan, Anita udah banyak baca tentang persalinan," ucap Anita pada bibi.
"Tapi bibi khawatir non, apa yang harus bibi lakuin sekarang?"
"Bibi temenin Anita aja, Anita akan hitung berlama lama jarak kontraksinya, kalau jaraknya makin deket bibi hubungi Andi!" jawab Anita menjelaskan.
"Baik non," balas bibi.
Waktu berlalu. Anita masih merasakan nyeri itu setiap 20 menit sekali.
"kalau bukan karena permintaan kamu, aku nggak akan bertahan dengan rasa sakit ini Ndi," ucap Anita dalam hati.
Tak lama kemudian suara mobil terdengar memasuki halaman rumah Anita. Andi segera berlari masuk ke kamar Anita.
Tepat saat Andi masuk, Anita sedang mengalami kontraksinya. Andi segera mendekat dan menggenggam tangan Anita.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya, tolong siapkan barang barang Anita bi!" ucap Andi yang tampak begitu khawatir dan panik.
Anita hanya merintih dengan mencengkeram kuat tangan Andi saat rasa nyeri ia rasakan pada seluruh tubuhnya.
"Jangan panik Ndi, aku udah hitung jarak kontraksinya kok, masih banyak waktu buat kita ke rumah sakit," ucap Anita berusaha menenangkan Andi setelah kontraksinya mereda.
Andi hanya menganggukkan kepalanya lalu segera membopong Anita masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan, Andi terlihat begitu panik dan gugup, sedangkan Anita lebih santai karena ia sudah bisa memperkirakan waktu melahirkannya.
Sesampainya di rumah sakit, Anita segera dibawa ke ruang bersalin. Sama seperti yang Anita ucapan, Dokter menjelaskan jika Anita akan siap untuk melahirkan jika jarak kontraksinya semakin dekat.
Dokterpun keluar dari ruangan Anita, meninggalkan Anita dan Andi di sana. Andi menggenggam tangan Anita dan membelai wajah Anita yang entah kenapa terlihat semakin cantik dimatanya.
"Apa yang akan kamu lakuin setelah ini Ndi?" tanya Anita pada Andi
"Aku akan jaga dia dengan baik Nit, aku akan berusaha jadi papa yang baik buat dia," jawab Andi.
"Gimana sama keluarga kamu? apa kamu akan sembunyiin dia selamanya?"
"Enggak, aku akan bawa dia pulang, aku nggak tau gimana reaksi mama nanti waktu tau aku pulang bawa bayi mungil ini," jawab Andi sambil mengusap perut Anita.
"Maaf Ndi, aku nggak bisa bantu apa apa, kita udah sepakat tentang hal ini!" ucap Anita.
"Iya, aku ngerti, aku akan berusaha jelasin sama mama apa yang udah aku sembunyiin selama ini," ucap Andi.
"Dan mama kamu pasti nggak akan biarin aku gitu aja!"
"Aku akan usahain apapun supaya mama atau siapapun nggak ganggu kehidupan kamu Nit, kamu tenang aja!" ucap Andi dengan menggenggam tangan Anita.
"Setelah ini jangan cari aku lagi Ndi, aku akan pergi sejauh mungkin dan jangan berharap apapun lagi sama aku, karena sampai kapanpun keputusan aku nggak akan pernah berubah!"
Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
Tiba tiba Anita mencengkeram tangan Andi dengan kuat, ia kembali merintih merasakan nyeri yang semakin kuat di perut bagian bawahnya.
Rasa nyeri itu semakin menjalar ke bagian tubuhnya yang lain, membuatnya semakin merintih menahan rasa sakit yang ia rasakan saat itu.
"Aaarrghh..... sakiiiitt Ndii!!" ucap Anita dengan raut wajah yang tampak kesakitan.
Andi lalu mengusap perut Anita, ia tidak tau apa yang bisa ia lakukan untuk mengurangi rasa sakit yang Anita rasakan saat itu.
Saat jarak kontraksinya semakin dekat, Anita meminta Andi untuk memanggil Dokter. Dokterpun datang dan memeriksa keadaan Anita.
Dokter menyarankan Anita untuk duduk dengan memeluk Andi lalu meminta Andi untuk memeluk dan mengusap punggung Anita.
Sesekali Anita turun dari ranjangnya, berdiri dengan memeluk Andi. Mereka berdansa pelan dengan saling berpelukan sembari tangan Andi yang terus mengusap punggung Anita dengan lembut.
Hingga saatnya tiba, sesuatu mengalir membasahi kaki Anita. Andi segera membawa Anita berbaring di ranjang.
Dokterpun bersiap untuk membantu Anita melahirkan anaknya. Dengan mata berkaca kaca Andi menggenggam erat tangan Anita, berusaha mentransfer kekuatannya pada Anita yang tengah berjuang untuk melahirkan anaknya.
Sedangkan Anita mencengkeram dengan kuat tangan Andi, meski ia sudah membaca banyak artikel tentang persalinan, ia baru merasakan seperti apa sakit yang ia rasakan saat bayi dalam kandungannya bergerak menuju jalan keluarnya.
Detik berlalu seperti sangat lambat bagi Andi, ia seolah bisa merasakan seperti apa sakit yang Anita rasakan saat itu.
Dalam hatinya ia terus berdo'a untuk Anita dan juga bayinya.
"Satu kali lagi ya, dorong yang kuat!" ucap Dokter pada Anita.
Untuk yang terakhir kalinya, Anita mengerang dengan kuat bersama dorongan terkahir yang ia berikan pada bayinya.
__ADS_1