Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Keputusan Besar (2)


__ADS_3

Sebelum kepulangan mama Siska.


Malam itu Andi menunggu kepulangan Adit di rumahnya. Karena Adit lembur, jam 7 malam Adit baru tiba di rumahnya.


"Lo udah balik? gue pikir masih di rumah ibu lo?" tanya Adit saat ia melihat Andi duduk di teras rumahnya.


"Gue mau minta tolong sama lo," ucap Andi tanpa menjawab pertanyaan Adit.


"Minta tolong apa?" tanya Adit sambil melonggarkan dasinya dan duduk di hadapan Andi.


Andi diam beberapa saat sebelum mengatakan niatnya. Ia berusaha untuk memantapkan hatinya tentang keputusan besar yang sudah ia ambil itu.


"Gue udah mutusin buat lanjutin S2 ke Amerika," ucap Andi yang membuat Adit begitu terkejut.


"Lo yakin?"


"Gue udah pikirin ini baik baik," jawab Andi dengan menundukkan kepalanya.


"Tapi gue tau lo ragu," ucap Adit.


"Enggak, gue yakin sama keputusan gue," ucap Andi berusaha meyakinkan Adit.


"Gimana sama Dini? lo udah bicara sama dia?"


Andi menggelengkan kepalanya pelan.


"Ini keputusan gue kak, ini yang terbaik buat semuanya, Dini udah punya Dimas yang akan jaga dia dengan baik, dia nggak butuh gue lagi dan gue juga nggak mau terus terusan terbelenggu sama perasaan gue ini," ucap Andi.


Adit diam beberapa saat. Ia tau apa yang Andi ucapkan memang benar, tapi ia juga tau jauh dalam relung hatinya Andi berat untuk meninggalkan Dini.


"Apa yang bisa gue bantu?" tanya Adit.


Andi tersenyum senang karena akhirnya sang kakak menerima keputusannya.


"Gue minta tolong cariin orang yang bisa lo percaya buat handle clothing arts gue di sini dan gue akan tetap menghandle nya dari jauh," jawab Andi.


"Oke, serahin semuanya sama gue," balas Adit


"Thanks kak," ucap Andi dengan senyum di wajahnya.


Adit hanya menganggukkan kepalanya, sebagai seorang kakak ia hanya bisa berusaha membantu Andi dan memberikan semua yang terbaik untuk Andi.


Ia tidak bisa menentukan keputusan apa yang Andi harus ambil, ia harus bisa mempercayai keputusan Andi dan membiarkannya bersikap dewasa dengan semua masalah yang terjadi.


"Satu lagi, tolong jangan kasih tau siapapun tentang hal ini, gue akan kasih tau mama sendiri nanti," ucap Andi.


"Dini?"


Andi menggelengkan kepalanya pelan lalu menundukkan kepalanya. Mendung hitam tampak terlihat pada raut wajah Andi. Ia seperti seseorang yang sudah kehilangan harapan hidupnya.


"Gue mau siapin barang barang gue dulu," ucap Andi lalu beranjak dari duduknya dan membawa langkahnya ke dalam kamar.


Sedangkan Adit masih berada di teras. Ia menghembuskan napasnya kasar melihat sikap sang adik. Bukan karena keputusan Andi, tapi karena takdir yang menempatkan Andi pada situasi yang sulit.


Mereka memang lahir dari rahim yang sama, tapi bukan berarti mereka harus mempunyai takdir percintaan yang sama.


Adit pernah berada di posisi Andi saat itu dan ia juga memilih untuk melepaskan gadis yang dicintainya dengan laki laki lain. Namun ia tetap memilih berada di tempatnya meski ia tau hatinya akan semakin hancur saat pernikahan itu terjadi.


Sedangkan Andi memilih untuk pergi karena lelah dengan semua perih yang menyiksa batinnya selama ini.


Adit tidak bisa menyalahkan Andi karena ia tau keputusan itu adalah hal terberat yang pernah Andi pikirkan selama hidupnya.


Kehilangan sahabat dan orang yang dicintai bukanlah hal yang mudah, Adit hanya bisa berharap jika Andi benar benar yakin dengan keputusannya itu.


**


Pagi telah datang, Andi sedang menyiapkan barang barang yang akan ia bawa ke luar negri.


Saat Andi berada di ruang baca, matanya tertuju pada laci di sudut ruangan itu. Andi lalu membuka laci itu dan mengeluarkan sebuah buku, mengambil dua buah surat dari dalam buku itu.


"mungkin kita memang nggak ditakdirkan buat bertemu," batin Andi dalam hati.


Andi tersenyum tipis lalu memasukkan surat itu ke dalam laci dan membawa bukunya.


Setelah mengambil semua buku yang ia perlukan, Andipun keluar dari ruang baca dan kembali ke kamarnya.


"Berantakan banget," ucap Andi yang melihat kamarnya tampak berantakan.


"Kamu nggak perlu bawa banyak pakaian sayang, bawa yang menurut kamu penting yang nggak bisa kamu dapatkan di sana," ucap mama Siska yang sudah berada di belakang Andi.


Andi tersenyum lalu menarik tangan sang mama agar duduk bersamanya di ranjang.


"Maaf karena Andi masih merepotkan mama," ucap Andi pada mamanya.

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu, kamu anak mama, apapun akan mama berikan buat kamu," ucap mama Siska.


"Terima kasih banyak ma, Andi akan berusaha buat jadi anak yang membanggakan seperti kak Adit," ucap Andi.


"Adit memang anak yang membanggakan mama dan papa, tapi kamu jangan menjadi seperti Adit untuk membanggakan mama sayang, jadi diri kamu sendiri dan temukan jalan kamu sendiri," ucap mama Siska.


Andi menganggukkan kepalanya lalu memeluk sang mama.


Jangan berpikiran sempit Ndi, hidup lo nggak cuma tentang Dini, ada gue, mama, ibu dan ayah lo yang sayang sama lo


Ucapan Adit kembali terngiang di telinga Andi. Ia membenarkan ucapan Adit, meski sebenarnya kepergiannya memang untuk menghindar Dini dan Dimas.


"karena aku sayang sama kalian semua, aku nggak akan hidup dengan mendung gelap di sekitar ku, aku akan cari matahari ku sendiri dengan caraku sendiri," batin Andi dalam hati.


"Andi lanjut packing dulu ya ma," ucap Andi pada sang mama.


"Iya sayang, mama tunggu kamu di bawah, udah lama mama nggak melukis sama kamu!"


"Iya ma, setelah ini Andi akan turun," balas Andi.


Mama Siska lalu keluar dari kamar Andi, sedangkan Andi melanjutkan untuk menyiapkan barang barangnya.


Saat ia mengambil buku dari mejanya, sebuah foto terjatuh ke lantai. Andi lalu mengambilnya.


Andi menyunggingkan senyumnya saat melihat foto dirinya dengan Dini saat mereka masih SMA.


"Andai perasaan ini nggak ada di hati aku, mungkin hal ini nggak akan terjadi, tapi seberapa kuatpun aku berusaha mengelaknya pada kenyataannya perasaan ini terus tinggal dan tumbuh dalam hatiku," batin Andi dalam hati.


Andi lalu menaruh foto itu di laci, tidak ada foto dirinya dengan Dini yang ia bawa. Bahkan barang barang yang berhubungan Dinipun tidak ia bawa.


Ia benar benar ingin melepaskan Dini dari hidupnya. Ia ingin memulai kembali kehidupan barunya.


Ia akan kembali setelah ia yakin jika lukanya telah sembuh dan perasaan dalam hatinya memudar dengan sendirinya.


Setelah selesai berkemas, Andi membereskan kamarnya lalu keluar untuk menemui sang mama di dekat kolam renang.


Satu set alat lukisnya sudah berada di samping mama, Andipun duduk di samping sang mama dan siap untuk melukis bersama sang mama sebelum ia pergi dan jauh dari sang mama.


**


Hari telah berganti. Entah sudah berapa kali Dini melihat ponselnya hanya untuk menunggu notifikasi dari Andi.


Sudah beberapa hari ia tidak bisa menghubungi Andi, pesan terkahir yang ia kirim bahkan belum terbaca oleh Andi.


Karena Dini juga sibuk dengan persiapan pernikahannya, ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan kepergian Andi yang tiba tiba.


Namun sesekali ia merasa kesal karena Andi yang menghilang begitu saja.


Saat mendengar suara mobil berhenti di halaman rumahnya, Dini segera keluar dari kamarnya dan menyambut Dimas dengan pelukan hangat seperti yang setiap hari mereka lakukan.


"Udah siap?"


Dini menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu berpamitan pada sang ibu untuk berangkat ke kantor bersama Dimas.


"Andi udah hubungin kamu belum?" tanya Dini pada Andi.


"Belum sayang, kamu masih belum bisa hubungin dia?" jawab Dimas sekaligus bertanya.


Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang kesal.


"Kamu bilang dia lagi di luar kota kan? mungkin dia emang lagi sibuk banget!"


"Sesibuk sibuknya Andi dia nggak pernah kayak gini, ini udah beberapa hari dan dia belum bisa dihubungi juga," ucap Dini dengan kesal.


"Marahnya jangan sama aku dong, kan aku nggak tau apa apa," balas Dimas dengan raut wajah yang dibuat sedih.


Dini lalu tersenyum tipis melihat sikap Dimas yang menggemaskan itu.


"Hari ini kita kemana?" tanya Dini yang berhenti membahas masalah Andi.


"Ke butik teman mama, kamu udah liat desain yang mama kasih kemarin kan?"


"Udah," jawab Dini singkat.


"Kamu udah tentuin pilihan kamu?"


Dini menggeleng pelan dengan menunjukkan deretan giginya.


"Aku ikut apa kata mama aja, sampe sekarang aku nggak tau seperti apa gaun pengantin yang aku pingin," ucap Dini


"Kamu juga harus tentuin pilihan kamu sayang, jangan pakai gaun yang kamu nggak suka," ucap Dimas yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


Sesampainya di depan tempat kerja Dini, Dimas segera melajukan mobilnya ke arah kantornya setelah memeluk dan mencium kening Dini seperti biasa.

__ADS_1


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan Dimas masih berada di ruang kerjanya.


Biiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Dimas berdering, sebuah pesan dari Andi.


Lo dimana? gue mau ketemu


Dimaspun segera membalas pesan Andi.


Di kantor, lo kesini aja


Oke


Setelah beberapa lama menunggu, pintu ruangan Dimas diketuk dan Andi masuk ke ruangan Dimas dengan membawa sebuah kotak yang cukup besar.


"Gue ganggu?" tanya Andi.


"Enggak, duduk!" balas Dimas.


Andi lalu duduk di depan meja kerja Dimas dan memberikan kotak besar yang ia bawa pada Dimas.


"Anggap ini hadiah pernikahan dari gue," ucap Andi.


"Waahh, apa ini?" tanya Dimas sambil menerima kotak itu.


"Mudah mudahan gue belum terlambat buat kasih hadiahnya," ucap Andi tanpa menjawab pertanyaan Dimas.


"Terlambat gimana, acaranya aja masih beberapa hari lagi," balas Dimas lalu membuka kotak itu.


Meski tidak mengambil apa yang ada di dalam kotak itu, Dimas sudah bisa mengerti jika itu adalah sebuah gaun pengantin.


"Apa ini yang selama ini lo simpen?" tanya Dimas tak percaya.


"Iya, setelah gue pikir pikir buat apa gue simpen desain itu lama lama, cuma ini yang bisa gue kasih buat Dini di hari bahagianya" jawab Andi.


"Thanks Ndi, Andini pasti seneng banget karena sampe tadi pagi dia belum bisa dapetin gaun yang dia mau," ucap Dimas.


"Gue kesini juga mau minta maaf atas sikap gue selama ini dan gue juga berterima kasih karena masih menganggap gue sebagai sahabat setelah apa yang udah gue lakuin," ucap Andi.


Dimas hanya diam berusaha mencerna dengan baik ucapan Andi yang seperti sebuah salam perpisahan baginya.


"Gue balik dulu ya, thanks atas waktunya," ucap Andi lalu berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan Dimas.


Dimas lalu segera berdiri dan menahan Andi.


"Tunggu!" ucap Dimas yang membuat Andi menghentikan langkahnya.


Dimas lalu mendekat dan memeluk Andi.


"Thanks Ndi, gue akan jaga Andini dengan baik, gue akan membahagiakan dia lebih dari apa yang dia harapkan," ucap Dimas.


Andi hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dimas dan melangkah pergi.


Sedangkan Dimas kembali ke tempat duduknya dan membuka kotak pemberian Andi. Dimas lalu mengeluarkan gaun itu dari dalam kotak dan tiba tiba sebuah surat terjatuh bersamaan dengan keluarnya gaun itu.


Dimaspun mengambilnya dan membuka surat itu.


Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian sebagai pasangan suami istri dan orangtua bagi anak anak kalian.


Gue minta maaf karena sempat berpikiran pendek beberapa hari yang lalu dan gue sangat berterima kasih karena lo masih anggap gue sahabat setelah apa yang gue lakuin.


Hadiah ini nggak cuma sebagai hadiah pernikahan kalian, tapi juga sebagai hadiah perpisahan karena siang ini gue akan ke Amerika buat lanjutin S2 gue.


Gue sengaja nggak kasih tau Dini, karena gue yakin gue akan batalin kepergian gue saat gue liat dia nangis di depan gue.


Jadi lebih baik lo kasih tau dia setelah gue udah sampai di Amerika.


Ini bukan keputusan yang mudah buat gue karena lo tau sebesar apa cinta gue buat Dini. Bertahun tahun gue jaga cinta ini tanpa berharap apapun dari Dini.


Dan sekarang gue akan lepasin semua itu, walaupun gue sendiri nggak yakin apa gue bisa lupain Dini sebagai bagian terindah dalam hidup gue.


Tapi gue berharap dengan kepergian gue, kalian bisa lebih bahagia dan perlahan perasaan gue sama Dini akan memudar dengan sendirinya.


Selama ini gue pendam cinta gue buat Dini karena gue merasa gue nggak pantas buat dia dan setelah kedatangan lo, gue tau kalau lo emang masa depan yang baik buat dia jadi jaga dia dengan baik Dim, gue percaya lo adalah masa depan yang Tuhan berikan untuk Dini.


Andi.


Dimas terdiam tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca. Ia sangat tau bagaimana Andi mencintai Dini dan sekarang Andi pergi meninggalkan Dini yang sangat dicintainya.


Entah perasaan apa yang Dimas rasakan saat itu. Ia tidak tau apa ia harus senang atau sedih. Senang karena pada akhirnya Andi menyerah pada Dini atau sedih karena kehilangan sahabat sebaik Andi.

__ADS_1


Dimaspun mengerti jika Dini mengetahui hal itu, Dini akan sangat hancur dan ia tidak bisa membayangkan kesedihan seperti apa yang akan Dimas lihat dari wajah Dini nantinya.


__ADS_2