Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Malam yang tampak sepi, entah kemana perginya bulan dan bintang yang biasa menghiasi langit gelap itu. Sejauh mata memandang hanya akan tampak gelap yang terhampar tanpa batas.


Dengan keyakinan yang sudah ia coba kumpulkan dalam hatinya, Adit akhirnya mengakui kebohongannya pada sang mama.


Meski Dini tidak menyetujuinya, ia tak peduli. Ia tidak mungkin membohongi sang mama terus menerus. Ia tidak mungkin hidup dalam bayang bayang kebohongan yang ia ciptakan sendiri.


Adit lalu bersimpuh di hadapan sang mama, ia menggenggam tangan mamanya tanpa berani menatap mata wanita yang dicintainya itu.


"Sebenernya, Adit sama Dini nggak pacaran ma, Adit minta maaf udah bohong sama mama," ucap Adit dengan suara bergetar.


Hening, tak ada respon apapun dari sang mama. Sedangkan Dini hanya bisa berdo'a dalam hatinya agar mama Siska memahami dan menerima semua keputusan Adit.


"Dini minta maaf ma," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya.


Ia merasa bersalah karena sudah membohongi wanita yang begitu baik padanya, wanita yang menyayanginya seperti anaknya sendiri.


"Bangun sayang, peluk mama," ucap mama Siska pada Adit.


Adit lalu duduk di sebalah mamanya dan memeluk sang mama dengan erat.


"Maafin Adit ma, ini semua salah Adit, mama boleh marah, mama boleh pukul Adit asalkan mama maafin Adit," ucap Adit.


Mama Siska lalu melepaskan Adit dari pelukannya dan mengusap pipi anak laki laki nya itu.


"Mama tau sayang, mama tau apa yang kalian sembunyikan dari mama," ucap mama Adit dengan membawa pandangannya pada Adit dan Dini bergantian.


"Mama tau?" tanya Adit memastikan.


"Mama udah lama tau, tapi mama pura pura nggak tau karena mama berharap kalau suatu saat nanti kalian bisa memiliki hubungan itu tanpa pura pura lagi," jawab mama Siska sambil menggenggam tangan Adit dan Dini.


"Dini minta maaf ma, Dini....."


"Jangan minta maaf sayang, justru mama berterima kasih sama kamu karena kamu udah bantuin Adit, mama memang sedih karena Adit berbohong, tapi semakin mama pikirkan, mama tau kalau kebohongan Adit semata mata untuk membahagiakan mama," ucap mama Siska.


"Maafin kita ma," ucap Adit dengan memeluk sang mama, begitu juga Dini.


**


Di tempat lain, Dimas sedang makan malam bersama mama dan papanya.


"Sayang, kapan kamu ajak Dini sama ibunya makan malam bareng di sini?" tanya sang mama pada Dimas.


"Secepatnya ma, masih ada masalah yang harus Dini selesaiin dulu," jawab Dimas.


"Masalah apa? kalian nggak berantem lagi kan?"


"Mama jangan suka ikut campur dong, biar Dimas sama Dini selesaiin sendiri masalah mereka," sahut sang papa.


"Dimas sama Dini nggak ada masalah apa apa kok ma," ucap Dimas.


"Kamu udah bilang Dini soal rencana kamu masuk perusahaan yang di luar kota?" tanya sang papa.


"Udah kok," jawab Dimas santai.


"Papa ini gimana sih, mereka ini baru baikan kenapa harus dipisah gini? godaannya LDR itu berat loh pa!" protes sang mama pada suaminya.


"Walaupun Dimas anak papa, dia harus mulai dari bawah ma dan tempat yang sesuai sama dia cuma ada di perusahaan cabang di luar kota," balas sang suami.


"Kalaupun dia nggak jadi CEO, paling enggak kasih jabatan yang sepadan sama Dini lah Pa, masak jabatannya lebih rendah dari Dini, mama yakin Dimas pasti bisa kok, dia kan cepet belajar!"


"Udah udah, Dimas nggak keberatan kok sama keputusan papa, Dini juga nggak mempermasalahkan itu," sahut Dimas menengahi.


"Tapi sayang......"


"Ma, ini keputusan papa, biarkan kali ini papa yang ambil keputusan buat Dimas!" ucap papa tegas.


Mama Dimas hanya menghembuskan napasnya kasar lalu meninggalkan meja makan.


"Ma, jangan ngambek dong," ucap papa Dimas setengah berteriak.


Papa Dimas lalu berlari ke arah kamar mengejar sang istri. Sedangkan Dimas yang ditinggal di meja makan hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap mama dan papanya.


Setelah selesai makan malam yang penuh drama itu, Dimas keluar dan duduk di teras rumah.


Tak lama kemudian sang papa datang dan duduk di samping Dimas.


"Kok papa di sini?"


"Emangnya kenapa?"


"Udah baikan sama mama?"


"Udah," jawab sang papa penuh percaya diri.


"Kok cepet?"


"Gampang, nanti kalau kamu udah nikah papa kasih tau caranya hahaha....."


Lagi lagi Dimas hanya bisa geleng geleng melihat sikap papanya.


"Papa sering ketemu Dini waktu meeting di luar kantor," ucap sang papa tiba tiba.


"Dia kan personal assistant, pasti sering ikut meeting kan!"

__ADS_1


"Dia nggak pernah cerita apa apa tentang atasannya itu?"


"Adit?"


"Iya, CEO muda, tampan, incaran banyak perempuan."


"kenapa papa tiba tiba bahas soal Adit?" tanya Dimas dalam hati.


"Setau Dimas dia galak, tapi baik, kenapa pa?"


"Nggak papa, mereka keliatan deket aja, setau papa Adit itu bukan tipe laki laki yang mudah dekat dengan perempuan, kecuali personal assistant nya yang lama."


"Papa jangan muter muter deh, apa yang mau papa bicarain sebenernya?" tanya Dimas yang sudah memahami maksud lain sang papa.


"Dim, kamu nggak mau bujuk Dini biar balik kerja sama papa? papa akan kasih tempat yang lebih baik dari sebelumnya."


"Kenapa Andini harus balik ke perusahaan papa?"


"Papa cuma takut aja, kamu tau Adit kan? dengan semua kelebihan yang dia punya, nggak mungkin ada perempuan yang nolak dia Dimas, papa cuma..... papa....."


"Papa tenang aja, Andini nggak kayak gitu kok, mereka emang deket karena Andini bisa ada di sana berkat bantuan personal assistant Adit yang lama."


"Papa nggak bermaksud berburuk sangka sama Dini Dim, papa tau kalian saling mencintai, tapi masalah bukan cuma timbul dari dalam, tapi juga dari luar, kamu mengerti maksud papa kan?"


Dimas mengangguk paham. Papanya benar, masalah yang sering timbul dalam hubungannya dengan Dini bukan berasal dari mereka berdua, melainkan dari hal lain di luar mereka berdua.


Saling mencintai saja tidak cukup, harus ada kepercayaan dan kesetiaan di dalamnya. Dan Dimas akan memupuk rasa itu bersam Dini agar apapun masalah yang datang, mereka bisa menyelesaikannya dengan baik.


"Dimas sama Andini udah banyak belajar Pa dan Dimas yakin, Dimas sama Dini pasti bisa jaga hati kita masing masing," ucap Dimas pada sang papa.


"Ingat Dim, kapanpun kamu butuh bantuan papa, papa akan selalu siap buat kamu!"


"Makasih Pa," balas Dimas.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Dimas keluar dari rumahnya dengan menggunakan mobil. Ia menghubungi Dini terlebih dahulu sebelum ia menentukan tujuannya.


"Halo sayang, kamu dimana?" tanya Dimas setelah Dini menerima panggilannya.


"Aku on the way ke kafe X sama kak Adit, kamu dimana?"


"Baru keluar rumah, aku ke sana sekarang ya!"


"Oke!"


**


Di kafe X, Dimas sudah lebih dulu sampai. Ia sudah memesan beberapa makanan ringan dan 3 gelas minuman.


Tak lama kemudian Dini datang bersama Adit. Dimas lalu berdiri dan menyambut gadisnya dengan kecupan mesra di kening Dini.


"Baru aja kok, aku udah pesen duluan nggak papa kan?" jawab Dimas sekaligus bertanya pada Dini dan Adit.


"Kak Adit nggak suka coklat, Dini pesenin jus jeruk aja ya kak!"


"Nggak papa, ini aja nggak papa," balas Adit dengan meminum coklat dingin di hadapannya.


Dimas hanya tersenyum kecil melihat hal itu, ia merasa cemburu dalam hatinya.


"Dim, gue ajak kalian ke sini karena gue mau minta maaf, terutama sama lo, gue nggak bermaksud buat hadir diantara hubungan kalian, sebelumnya gue nggak tau kalau Dini udah tunangan sama lo," ucap Adit pada Dimas.


"Nggak papa, lagian semuanya udah berakhir kan? kalian udah nggak pura pura pacaran lagi kan?"


"Dimas!" ucap Dini pelan, ia tau Dimas sedang kesal saat itu.


"Iya, tapi gue harap hubungan Dini sama mama nggak berubah karena mama masih tetap sayang sama Dini," ucap Adit pada Dimas.


"Lo juga sayang sama Andini?" tanya Dimas tanpa basa basi.


"Tolong lo jangan salah paham, kalau gue tau Dini udah punya tunangan, gue nggak akan ngelakuin itu sama dia."


"Lo nggak jawab pertanyaan gue!"


"Dini partner kerja yang baik buat gue, di luar itu dia udah gue anggap adik gue sendiri, apa lo keberatan?"


Dimas menggeleng pelan.


"Asal lo tau batasan aja!" ucap Dimas.


"Gue tau Dim, gue juga nggak ada niat buruk sama kalian, gue harap setelah ini hubungan kita tetep baik baik aja, lo, gue, Dini dan mama."


"Oke," balas Dimas singkat.


"Oke kalau gitu gue balik dulu, thanks atas waktunya, kakak balik dulu ya Din!"


"Hati hati kak!" balas Dini.


Adit lalu meninggalkan Dini dan Dimas di kafe itu.


"Kamu kenapa gitu sih sama kak Adit? kayak anak kecil tau nggak!" protes Dini yang kesal pada sikap Dimas.


"Aku udah coba buat nahan sayang, tapi nggak bisa, gimana bisa aku baik sama cowok yang udah ngajak tunangan ku pacaran!"


"Kamu kan tau ceritanya gimana Dimas, kamu itu lebih muda dari kak Adit loh, mana sopan santun kamu!"

__ADS_1


"Jadi kamu belain dia sekarang?"


"Iya, aku belain kak Adit, aku kesel sama kamu!" ucal Dini lalu berdiri dan pergi meninggalkan Dimas.


"Loh kok jadi gini sih, kan harusnya yang kesel aku, dasar cewek!"


Dimas lalu mengejar Dini dan menarik tangannya dari belakang lalu memeluknya.


"Dimas lepas, ini tempat umum!" ucap Dini dengan memberontak.


Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan berjalan mendahului Dini begitu saja.


"Diimaasss!!!"


Dini lalu mengejar Dimas dan memukul Dimas menggunakan tasnya. Dimas hanya tertawa sambil membiarkan tubuhnya menjadi sasaran kekesalan gadisnya.


Tak jauh dari tempat Dini dan Dimas, Adit yang melihat hal itu hanya tersenyum kecil lalu meninggalkan kafe itu.


"anak kecil," batin Adit dalam hati.


Adit lalu pulang ke rumah sang mama. Di sana, ia menemani mamanya yang sedang melukis di dalam kamar.


"Kamu udah antar Dini pulang?" tanya mama tanpa menoleh ke arah Adit.


"Udah ma, mama istirahat ya, udah malem."


"Bentar lagi sayang," balas sang mama sambil melanjutkan kegiatannya.


Tampak sebuah lukisan bunga warna warni yang indah di hadapan sang mama, namun di antara bunga itu ada satu bunga yang tampak layu, persis seperti bunga yang ia temukan di halaman tadi siang.


Setelah selesai, mama Adit mulai membereskan alat lukisnya.


"Biar mbak aja, mama minum obat dulu terus istirahat," ucap Adit sambil memberikan obat pada sang mama.


Tak lupa ia meminta salah satu penjaga mamanya untuk membereskan alat lukis sang mama sebelum ia pergi. Setelah memastikan mamanya tertidur pulas, Adit pergi, kembali ke apartemennya.


Tanpa Adit tau, sang mama sering menangis setiap malam. Ia merindukan anak laki laki yang bahkan tidak ia ketahui dimana keberadaannya saat itu.


**


Di tempat lain, setelah mengantar Dini pulang, Dimaspun meninggalkan rumah Dini karena hari sudah malam.


Ketika Dini akan masuk ke rumahnya, ia melihat Andi yang berjalan seorang diri.


"Andi!" panggil Dini.


Sampai beberapa kali Dini memanggil, Andi tak menoleh sama sekali. Andi masih berjalan seolah kesadarannya telah hilang.


Dinipun segera mengejar Andi.


"Kamu mau kemana?" tanya Dini ketika ia sudah berada di sebelah Andi.


"Kamu ngapain ke sini?" balas Andi balik bertanya.


"Aku dari tadi panggil kamu, tapi kamu nggak noleh, kamu mau kemana malem malem gini?"


"Aku denger kamu panggil aku, tapi aku pikir aku cuma halusinasi," balas Andi dengan masih melanjutkan langkahnya.


Merasa ada sesuatu yang terjadi pada Andi, Dini menarik tangan Andi, menahannya agar berhenti berjalan.


"Kita pulang ya!" ajak Dini.


"Kamu pulang duluan aja, aku lagi pingin sendirian Din!"


"Selama ada aku, aku nggak akan biarin kamu sendirian," ucap Dini dengan menarik tangan Andi.


Andi menurut. Ia mengikuti Dini untuk kembali pulang, bukan ke rumahnya, tapi ke rumah Dini.


Mereka duduk di balai balai depan rumah Dini.


"Ada apa Ndi?" tanya Dini dengan menggenggam tangan Andi.


Andi hanya menggeleng dengan senyum yang dipaksakan.


"Andi, aku tau kamu lagi nggak baik baik aja, kamu cerita sama aku, ada apa? kamu kenapa?"


"Kamu bahagia Din?" balas Andi balik bertanya.


"Tadinya iya, tapi sekarang enggak, kebahagiaan aku nggak ada artinya kalau aku liat kamu kayak gini, apa lagi kamu nggak mau cerita sama aku!"


Andi lalu mendekat dan memeluk Dini. Ia tidak tau harus menceritakan apa pada Dini karena ia sendiri tidak tau apa yang sebenarnya ia rasakan saat itu.


Sejak ia menjauh dari mama Adit, ia merasa tidak tenang, ia merasa hatinya bersedih atas apa yang telah dilakukannya pada mama Adit.


"Sama seperti kamu Ndi, aku pingin selalu ada buat kamu, aku masih sahabat kamu, aku masih tempat kamu buat berbagi," ucap Dini dengan semakin erat memeluk Andi.


Andi lalu melepaskan Dini dari pelukannya.


"Aku beruntung karena punya kamu di hidupku," ucap Andi pada Dini.


"Aku juga, sampe kapanpun aku nggak mau jauh dari kamu," balas Dini.


Andi mengangguk lalu kembali memeluk Dini. Ia membiarkan sahabat yang dicintainya itu terdiam dalam dekapannya untuk beberapa saat.

__ADS_1


Dengan seperti itu, kegelisahan dalam hatinya bisa sedikit terobati.


__ADS_2