Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Hari Libur (2)


__ADS_3

Dini masih bersama Dimas di sebuah pusat perbelanjaan. Setelah membeli beberapa barang, Dimas mengajak Dini ke sebuah kafe yang sedang ramai diperbincangkan di kota itu.


Setelah memarkirkan mobilnya, Dini dan Dimaspun masuk ke dalam kafe. Mereka memilih untuk mencari tempat duduk di lantai dua, di samping kaca besar yang bisa memperlihatkan keadaan di luar kafe dari atas.


"Kamu tau kenapa kafe ini rame banget?" tanya Dimas.


"Kenapa?"


"Kamu lihat di dinding tadi ada banyak foto kan?"


"Iya, itu foto customer?"


"Betul, CCTV yang mereka pakai bukan CCTV biasa, tapi udah level atas, jadi mereka cetak candid nya customer mereka yang berpasangan terus mereka tempel di dinding, tentunya atas izin customernya," jelas Dimas.


"Hampir mirip sama konsep kafe kamu dulu ya!"


"Iya, tapi ini dibikin lebih natural, itu kenapa mereka ambil gambarnya dari CCTV biar ala ala candid gitu!"


"Berarti di ruangan CCTV selalu ada yang ngawasi?"


"Selalu!"


"Jadi nanti ada foto kita di dinding itu?" tanya Dini yang dibalas anggukan kepala Dimas.


Mereka lalu menikmati makan siang mereka, mengobrol tentang banyak hal, lalu memutuskan untuk kembali ke apartemen.


Saat Dimas meminta bill pada waiters, si waiters menawarkan Dimas untuk mencetak foto mereka dan dipajang di dinding kafe. Tanpa banyak berpikir Dimaspun mengiyakan penawaran si waiters.


"Baik kak, mohon ditunggu sebentar ya, nanti kakak bisa pilih tempat untuk menempelkannya!" ucap si waiters yang diikuti anggukan kepala Dimas.


Tak lama kemudian waiters itu datang dan memberikan hasil foto candid Dini dan Dimas. Dini dan Dimas lalu menempelkan foto mereka di dinding yang berada di sebelah tangga.


Kini foto Dimas yang sedang menggenggam tangan Dini dan saling menatap mata satu sama lain itu bisa dilihat oleh banyak orang yang mengunjungi kafe itu.


Saat Dimas dan Dini baru saja keluar dari pintu kafe, seseorang memanggil Dimas, membuat Dimas dan Dini dengan kompak menoleh ke arah sumber suara.


"Temen kamu?" tanya Dini berbisik yang hanya dibalas anggukan kepala Dimas.


"Mau kemana nih? ikut dong!"


"Lo sama siapa?" tanya Dimas.


"Sama cewek gue, tuh!" jawab Feri sambil menunjuk seorang perempuan yang sedang berdiri di depan pintu kafe.


"Waaahh, siapa nih? kenalin dong!" lanjut Feri sambil mencolek lengan tangan Dini.


"Jaga tuh tangan," ucap Dimas sambil menarik Dini menjauh dari Feri.


"Santai Dim, cewek lo?"


"Iya, tunangan gue, lo nggak masuk? ditungguin cewek lo tuh!"


"Oh, jadi dia yang bikin lo nolak cewek cewek itu? kalau gue liat liat sih cantik, tapi nggak secantik Chelsea hehe...."


"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?" balas Dimas yang mulai geram.


"Udah biarin, kita balik aja," ucap Dini pada Dimas.


"Bercanda Dim, lagian dia pasti udah kasih semuanya kan sama lo, makanya lo nggak tertarik lagi sama cewek lain!" sahut Feri.


"Boleh kali bagi bagi dikit, one night stand doang!" lanjut Feri yang membuat kesabaran Dimas sudah habis.


Jika saja Dini tidak memegangi tangannya dengan kuat, Dimas pasti sudah menghajar laki laki di hadapannya itu.


Dini lalu tersenyum dan melangkah mendekati Feri, tanpa rasa ragu sedikitpun ia melayangkan tamparannya pada Feri dengan sangat keras.


Feri hanya mengaduh sambil memegangi pipinya, sedangkan Dini segera menarik tangan Dimas untuk pergi meninggalkan tempat itu.


"Maafin aku sayang, harusnya aku nggak ngajak kamu. ke sini," ucap Dimas yang merasa bersalah.


"Bukan salah kamu," balas Dini dengan mata berkaca kaca.


Ia tidak marah, ia hanya merasa harga dirinya sudah direndahkan oleh orang yang bahkan tidak mengenalnya.


"Maafin aku sayang," ucap Dimas sambil menggenggam tangan Dini.


"Kenapa kamu bisa berteman sama cowok kayak gitu?"


"Aku berteman sama siapa aja sayang, tapi nggak ada yang deket, sekedar temen kerja aja," jawab Dimas.


Dini hanya diam mendengarkan ucapan Dimas. Ia berusaha menjaga suasana hatinya. Ia ingin melepas rindunya dengan Dimas. Ia tidak ingin masalah itu membuat suasana hatinya menjadi buruk.


"Dia salah satu partner kerja yang baik buat aku, dia emang kurang bisa jaga ucapannya, tapi hasil kerjanya cukup bagus, tapi kalau dia udah kurang ajar sama kamu, aku lebih baik nggak punya partner kerja!"


"Jangan, ini masalah pribadi, jangan kamu bawa ke kantor, dia partner kerja yang baik, tapi bukan teman yang baik, kamu ngerti maksud aku kan?"


"Aku ngerti sayang, tapi aku nggak bisa biarin dia...."


"Lupain aja, anggap masalah tadi nggak pernah terjadi, aku mau lupain itu Dimas, kamu juga, ya!"


Dimas mengangguk lalu mencium tangan Dini.


Merekapun meninggalkan kafe itu dan pergi ke sebuah taman bermain. Dimas sengaja mengajak Dini ke tempat itu untuk sekedar memperbaiki suasana hatinya yang buruk karena Feri.


Meski masih sore, tempat itu sudah cukup ramai oleh pengunjung. Dimas dan Dini pun sudah mengenakan gelang yang bisa membuat mereka menaiki semua wahana yang ada di sana tanpa harus membayar lagi.


Setelah puas bermain, Dimas dan Dini duduk di salah satu bangku dengan ice cream di tangan mereka.


"Di sini nggak banyak bintang ya!" ucap Dini yang melihat langit malam tanpa bintang.


"Polusi cahaya sayang," balas Dimas.


"Besok kamu anterin aku jam berapa?" tanya Dini.


"Mungkin agak siang, biar kamu cukup istirahat di rumah," jawab Dimas.


Dini mengangguk lalu kembali menjilat ice cream di tangannya.


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dimas berdering, sebuah pesan masuk dari Andi.


Dini lagi sama lo?

__ADS_1


Sebuah pesan singkat yang cukup membuktikan bagaimana Andi begitu mengkhawatirkan Dini.


"Kamu bawa sayang, aku harus hubungi seseorang dulu," ucap Dimas sambil memberikan ice creamnya pada Dini.


"Jangan lama lama, nanti meleleh!"


"Buat kamu aja," ucap Dimas sambil menjilat lelehan ice cream di tangan Dini lalu berjalan menjauh dari Dini.


Dimas lalu menghubungi Andi.


"Halo Dim, lo sama Dini sekarang?" tanya Andi tanpa basa basi.


"Iya, dia sama gue dari semalem, lo nggak usah khawatir!"


"Jadi dia nggak pulang karena nyamperin lo di apartemen?"


"Iya, dia juga nggak bilang sama gue, dia naik bus dari sana!"


"Kapan lo anter dia pulang?"


"Mungkin besok siang, dia nggak tau gue hubungin lo, jadi jangan bilang apa apa sama dia!"


"Oke, jaga dia baik baik Dim!"


"Lo bisa percaya sama gue!"


Klik. Sambungan berakhir. Dimas lalu kembali menghampiri Dini dengan membawa arum manis berwarna merah muda kesukaan Dini.


"Dimas, aku terlalu banyak makan yang manis hari ini, aku bisa gendut nanti!" ucap Dini mengeluh tapi tanpa ragu melahap arum manis yang baru saja Dimas berikan.


Dimas hanya terkekeh sambil mencubit hidung gadis yang dicintainya itu.


Malam semakin larut, Dimas lalu mengajak Dini meninggalkan taman bermain itu.


"Kita mau kemana?"


"Kita makan malam di restoran temen papa sayang!" jawab Dimas.


"Tapi kita belum mandi Dimas!"


"It's not a big deal," balas Dimas lalu menepikan mobilnya di sebuah butik milik teman mamanya.


"Kenapa kita ke sini?"


"Ganti baju," jawab Dimas santai lalu menggandeng tangan Dini untuk masuk.


"Ganti baju? tapi...."


"Ssstttt, jangan banyak tanya!"


"Selamat datang kak, ada yang bisa saya bantu?" sapa pegawai butik yang sudah mengenal Dimas.


"Carikan tunangan saya baju yang cocok ya mbak!"


"Baik kak, silakan ke sebelah sini!"


Dini pun mengikuti pegawai butik itu, sedangkan Dimas berjalan ke arah lain untuk mencari pakaian yang akan ia kenakan.


Saat Dini sedang mencoba beberapa pakaian yang dipilih oleh pegawai butik itu, diam diam Dini melihat harga yang tertera di sana.


"Maaf mbak, saya pilih yang lain dulu ya!" ucap Dini pada si pegawai.


"Silakan kak, pakaian apa saja pasti cocok buat kakak yang cantik," balas si pegawai ramah.


"Gimana sayang? udah?" tanya Dimas yang menghampiri Dini dengan pakaian yang baru saja dibelinya.


"Belum, aku....."


Dimas lalu mengambil sebuah pakaian yang berwarna senada dengannya, lalu memberikannya pada Dini.


"Kamu coba ini!" ucap Dimas.


Dini mengangguk lalu mencoba pakaian yang Dimas berikan.


"ini serius harganya segini? nol nya kenapa banyak banget?" batin Dini yang lagi lagi ternganga dengan harga yang tertera di pakaian yang ia kenakan.


"Sayang, udah belum?" tanya Dimas dari luar.


Dinipun keluar dan disambut tepuk tangan kecil sang pegawai.


"Cantik kak, kak Dimas emang nggak salah pilih bajunya!" puji sang pegawai.


"Bagus sayang, kamu suka?"


"Suka, tapi...."


"Oke mbak, saya ambil ini," ucap Dimas pada si pegawai.


"Baik kak, silakan ke tempat pembayaran, di sebelah sana!"


Setelah melakukan pembayaran, Dimas dan Dinipun meninggalkan butik itu dan segera pergi ke restoran tempat mereka akan makan malam.


Setelah selesai makan malam, merekapun kembali ke apartemen.


Sesampainya di apartemen, mereka segera mandi dan berganti pakaian. Malam itu Dini mengenakan baju tidur yang baru dibelinya mall, tidak memakai kemeja milik Dimas lagi.


"Padahal aku lebih suka liat kamu pake kemeja ku kemarin," ucap Dimas dengan membaringkan kepalanya di paha Dini.


"Kenapa?"


"Nggak papa, suka aja!"


"Makasih buat hari ini Dimas," ucap Dini sambil membelai rambut Dimas.


"Kamu bahagia sayang?"


"Banget," balas Dini lalu menundukkan kepalanya, mencium pipi Dimas.


**


Hari berganti, Minggu pagi telah hadir.


Pagi pagi sekali Andi sudah berada di home store. Hari itu ia akan melakukan interview pada beberapa calon pegawainya.

__ADS_1


Tak lama setelah Andi datang, Anita datang.


"Anita, kamu ngapain ke sini?" tanya Andi.


"Bantuin kamu, kamu bilang hari ini mau interview pelamar kerja kan?"


"Iya, hari Minggu gini kamu nggak jalan?"


"Mau jalan sama siapa, pacar aja nggak punya!"


"Makanya cari pacar Nit, biar nggak sendirian mulu!"


"Emang kamu mau jadi pacarku?" tanya Anita santai, namun cukup membuat Andi salah tingkah.


"Ada ada aja kamu Nit hehe...." balas Andi dengan tertawa canggung.


"Dini nggak ikut?" tanya Anita.


"Enggak, dia lagi sama Dimas," jawab Andi.


"Sama Dimas? Dimas yang ke sini apa Dini yang nyamperin Dimas?"


"Dini yang nyamperin Dimas," jawab Andi.


"Dari kapan?"


"Mmmm..... dari hari Jum'at sore kayaknya!"


"Mereka...... tidur bareng?"


Andi lalu menghentikan aktivitasnya dan menatap Anita.


"Emang kenapa? kamu juga mau tidur bareng?" tanya Andi yang kini membuat Anita salah tingkah.


"Apaan sih Ndi!"


"Hahaha..... bercanda Nit, aku sih nggak mikirin itu, yang penting Dini baik baik aja!"


"Tapi mereka kan belum nikah!"


"Itu masalah mereka sendiri, kita nggak berhak ikut campur, lagian aku yakin kalau Dini bisa jaga dirinya sendiri dan Dimas juga nggak akan ngelakuin sesuatu di luar batasannya!"


"Kenapa kamu seyakin itu?"


"Aku kenal mereka dengan baik Nit," jawab Andi.


Anita hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Andi. Ia tidak mengerti kenapa Andi bisa seyakin itu dengan pemikiran positifnya. Sedangkan menurut Anita, laki laki dan perempuan yang tinggal bahkan tidur dalam satu ruangan bukan tidak mungkin jika mereka akan melakukan hal hal di luar batas.


**


Di tempat lain, Adit masih tertidur di kamar saat seseorang datang dengan membawa air minum hangat untuk Adit.


"Adit, bangun," ucap Ana membangunkan Adit.


"Adit, udah siang, bangun Dit!" ucap Ana dengan mencubit kecil pipi Adit.


Adit lalu menggeliat dan menarik tangan Ana ke dalam. pelukannya.


"Adit, kalau kamu nggak bangun, aku siram kamu pake air hangat ini!"


Adit lalu tersenyum dan membuka matanya.


"Kamu jahat banget," ucap Adit dengan muka bantalnya.


"Kamu kenapa bisa tidur di sini? bukannya kamu tidur di kamar tamu?"


"Emang aku di sini tamu?" tanya Adit sambil menyeruput minumannya.


"Bukan sih, kamu yang punya rumah ini," jawab Ana dengan menundukkan kepalanya.


"Salah, aku emang tamu di sini, kamu yang punya rumah ini," ucap Adit lalu beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar.


"Sarapan sudah siap pak," ucap Bu Desi pada Adit yang baru saja keluar kamar.


"Makasih Bu Desi!"


Ana dan Aditpun menikmati sarapan mereka bersama. Mereka sudah seperti pasangan suami istri saat itu.


**


Di apartemen Dimas.


Dini baru saja selesai mandi dan berganti pakaian saat Dimas baru saja memesan sarapan untuk mereka.


"Aku mandi dulu sayang!" ucap Dimas.


"Oke!"


Saat Dimas baru saja masuk ke kamar mandi, ponsel Dimas berdering, sebuah pesan masuk.


Dini yang hendak memberikan ponsel itu pada Dimas tanpa sengaja menyentuh pesan masuk itu dan terbuka.


Tampak sebuah foto Dimas sedang berpelukan dengan seorang perempuan yang memakai pakaian sangat terbuka.


Thanks for your coming, babe 😘


Jika diperhatikan lebih jauh, tampak beberapa orang sedang membawa botol minuman keras di sana.


Dini lalu menaruh ponsel Dimas di meja sampai Dimas selesai mandi.


"Makanannya belum dateng sayang?" tanya Dimas yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Dini.


"Aku hubungin lagi deh!" ucap Dimas lalu mengambil. ponselnya, namun Dini mencegahnya.


"Aku tanya sekali lagi sama kamu Dimas, kamu dateng ke acara ulang tahun kemarin?" tanya Dini dengan mata berkaca kaca.


"Enggak, aku kan udah bilang sama kamu!"


"Oke, aku terima jawaban kamu," ucap Dini lalu berdiri, mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Dimas dengan menahan tangan Dini.


Dini hanya diam dengan berusaha menahan air matanya.

__ADS_1


"Ada apa sayang? kenapa kamu tiba tiba kayak gini?" tanya Dimas tak mengerti.


Dini hanya diam sampai ia tak mampu menahan air matanya. Untuk sesaat, kebahagiaannya tiba tiba runtuh begitu saja, meninggalkan sesak dan perih yang menusuk hatinya.


__ADS_2