Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Efek dari Obat


__ADS_3

Bulan masih setia menerangi malam, bahkan untuk mereka yang hatinya telah gelap oleh ambisi yang salah.


Tak butuh waktu lama bagi Anita untuk melancarkan aksinya malam itu. Ia sengaja membohongi Dini dan Andi agar mereka meninggalkan ruangan tempat Dimas berada.


Setelah memastikan Dimas meminum minuman yang sudah ia beri obat perangsang, ia akan menutup pintu dan membuat Dimas seolah olah memaksanya melakukan hal yang diluar batas.


Karena pintu tidak bisa dibuka dari dalam, membuat rencana Anita akan tampak semakin sempurna nantinya.


Setelah Dimas melakukannya, Anita akan meminta pertanggungjawaban Dimas. Anita tidak peduli jika ia harus menjadi yang kedua, setidaknya ia bisa memiliki Dimas meski harus berbagi dengan Dini.


Dengan begitu Anita bisa mendapatkan Dimas tanpa harus terlihat jahat di hadapan semua orang, itulah yang Anita pikirkan malam itu.


Saat Dimas akan meminum minuman itu, tiba tiba Andi datang.


"Huuufftt, gila berat banget!" ucap Andi yang langsung duduk di dekat Dimas.


"Abis ngapain?" tanya Dimas.


"Bantuin Rama angkat meja," jawab Andi.


"Nih!" ucap Dimas sambil memberikan minuman di tangannya pada Andi.


Tanpa ragu Andipun menerimanya dan meneguknya. Anita yang melihat hal itu segera memberi Andi minuman yang lain sebelum Andi menghabiskan minuman yang seharusnya diminum Dimas.


"Ini punya kamu Ndi, itu punya Dimas!" ucap Anita dengan memberikan minuman yang lain.


"Nggak papa, sama aja kan?" sahut Dimas.


Anita hanya terdiam pasrah saat Andi sudah menghabiskan minuman di tangannya. Minuman yang sudah Anita campur dengan obat perangsang itu akhirnya Andi minum sampai habis tak bersisa.


Anita benar benar kesal karena tidak menyangka jika Andi akan kembali secepat itu dan malah meminum minuman milik Dimas.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Dimas berdering, sebuah panggilan dari sang papa.


"Gue keluar dulu ya, sekalian cari Andini!" ucap Dimas lalu keluar dari ruangan itu sambil menerima panggilan dari sang papa.


"Aku.... aku harus pulang sekarang," ucap Anita sebelum hal yang tidak dia inginkan terjadi.


"Tunggu bentar!" ucap Andi dengan menahan tangan Anita.


"Kenapa? aku... aku harus pulang Ndi!" ucap Anita gugup.


Anita tidak ingin apa yang seharusnya ia lakukan dengan Dimas malah ia lakukan dengan Andi malam itu.


Ia harus segera pergi menjauh dari Andi jika tidak ingin hal buruk itu terjadi padanya.


Andi lalu melepaskan tangan Anita, namun karena terlalu gugup Anita tanpa sengaja mendorong pintu ruangan itu dan membuat pintu tertutup tanpa bisa dibuka dari dalam.


"Kamu tutup pintunya?" tanya Andi terkejut.


"Aku nggak sengaja, apa nggak ada cara lain buat keluar dari sini?" tanya Anita yang semakin panik.


Andi lalu merogoh semua saku di pakaiannya namun tidak menemukan ponselnya. Ia baru ingat jika ponselnya tertinggal di meja saat bersama Rama.


"Sial, hp ku ketinggalan di depan, pinjem hp kamu Nit!" ucap Andi.


Anita lalu mengambil ponselnya dari dalam tas dan memberikannya pada Andi.


"Kok nggak bisa?" tanya Andi.


"aku sengaja bikin hp ku lowbatt biar nggak bisa minta bantuan waktu kekunci di sini sama Dimas, tapi aku malah di sini sama kamu!" jawab Anita dalam hati.


"Pasti lowbatt dari tadi, gimana dong sekarang?"


Andi lalu mengembalikan ponsel Anita dan menggedor gedor pintu berusaha meminta pertolongan.


"Siapapun yang diluar tolong buka pintunya!" ucap Andi dengan berteriak.


Namun percuma, karena ruangan itu sengaja Andi buat kedap suara, jadi tidak ada yang bisa mendengar suaranya dari luar.


"Tolong buka pintunya!!!" ucap Anita dengan menggedor gedor pintu ruangan itu.


"TOOOLLOOONG!!!" teriak Anita semakin kencang.


"Percuma Nit!" ucap Andi.


"Maksud kamu?"


"Ruangan ini kedap suara, nggak akan ada yang denger suara kita di luar," jawab Andi.

__ADS_1


"Apa? kedap suara?" tanya Anita tak percaya.


Andi hanya menganggukkan kepalanya membuat Anita jatuh terduduk di lantai.


Rencana yang sudah ia siapkan dengan matang dan hampir saja sukses harus gagal dengan tiba tiba.


Tidak hanya gagal, rencananya bahkan bisa jadi merusak seluruh hidupnya. Bagaimana tidak, ia berada di ruangan tertutup itu bersama laki laki yang baru saja mengkonsumsi obat perangsang.


Tinggal menunggu waktu maka obat itu akan bereaksi dan sudah pasti Andi akan memaksanya untuk melampiaskan apa yang dirasakannya.


Sebaik apapun Andi, jika obat itu sudah bereaksi, maka akal sehatnya pun tidak akan bisa mengendalikan dirinya. Sekarang semuanya tergantung pada Anita, bagiamana caranya agar ia bisa menjaga dirinya dari Andi.


"Nit, kamu baik baik aja?" tanya Andi yang melihat Anita tampak pucat.


Anita hanya menganggukkan kepalanya tanpa berani mengucapkan apapun, ia bahkan menjaga jarak dengan Andi.


"Nggak ada yang bisa kita lakuin sekarang, kita cuma bisa nunggu sampai ada yang buka pintunya, mereka pasti cari kamu ke sini kalau liat mobil kamu di bawah tapi mereka nggak liat kamu!" ucap Andi.


"Aku nggak bawa mobil," ucap Anita pelan.


"Apa? serius?" tanya Andi tak percaya.


Anita hanya menganggukkan kepalanya pasrah.


"Oke, jadi malam ini nggak akan ada yang tau kalau kita masih di sini karena aku juga nggak bawa mobil," ucap Andi lalu duduk di atas meja sambil menatap cahaya bulan di atap ruangannya.


Untuk beberapa saat Andi dan Anita hanya diam dengan pikiran mereka masing masing.


"Kamu tidur aja Nit, besok orang yang benerin pintu akan dateng pagi pagi dan aku akan anter kamu pulang," ucap Andi.


Anita hanya menganggukkan kepalanya dan duduk di kursi yang cukup jauh dengan Andi.


Tanpa Andi tau, Anita benar benar takut jika Andi akan melakukan hal buruk padanya akibat dari minuman yang sudah Andi minum.


Ia hanya bisa berharap jika seseorang akan datang membuka pintu dan ia akan segera pergi menjauh dari Andi. Tapi ia tau, itu tidak mungkin terjadi.


Di sisi lain, Andi tiba tiba merasa jantungnya berdegup kencang. Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya yang tidak bisa ia kendalikan.


Andi lalu mengambil minuman yang ada di dekatnya dan meminumnya. Ia berusaha untuk tetap berpikir positif disaat tubuhnya memaksanya untuk memikirkan hal lain.


Keringat mulai membasahi kening Andi, membuatnya merasa gerah meski AC di ruangan itu masih menyala.


Andi lalu melepas kemejanya, membuat Anita semakin gugup.


"Gerah banget," jawab Andi lalu berdiri dari duduknya.


Ia berjalan kesana kemari berusaha untuk tetap bisa menguasai dirinya. Andi lalu kembali duduk, membaringkan kepalanya di meja dan memejamkan matanya.


Ia tau sesuatu dalam dirinya sedang bergejolak dengan tiba tiba. Peluh semakin membasahi dirinya, jantungnya berdetak semakin kencang dan matanya memerah menahan sesuatu yang ingin segera dituntaskan namun ia tahan dengan kuat.


"Aaarrgghhh!!!" geram Andi kesal dengan mengacak acak rambutnya kasar.


Setengah dari kesadaran logikanya masih mampu menahan hasrat dalam dirinya. Ia masih tidak mengerti apa yang membuatnya merasa seperti itu tiba tiba.


Pikirannya kacau dan ia merasa ruangan itu semakin gerah. Andi lalu memukul kepalanya dengan tangannya sendiri, berusaha untuk tetap menjaga kesadaran akalnya.


Anita yang melihat hal itu segera mendekati Andi, bagaimanapun juga Andi tidak bersalah. Ia tidak mungkin membiarkan Andi menyakiti dirinya sendiri terlalu jauh.


"Stop Ndi, jangan lakuin ini!" ucap Anita dengan menahan tangan Andi agar berhenti memukul kepalanya sendiri.


Andi menggelengkan kepalanya dengan mendorong Anita agar menjauh darinya. Ia tidak ingin apa yang ia rasakan saat itu membuatnya melakukan hal di luar batas pada Anita.


Andi lalu menjatuhkan dirinya di lantai dan menutup matanya rapat rapat. Dadanya bergemuruh, jantungnya semakin berdetak kencang, efek obat itu sudah benar benar bekerja maksimal.


Andi sudah berada di puncaknya, ia sudah tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Terlebih sentuhan Anita padanya memberikan sensasi yang semakin membuatnya kehilangan akal sehatnya.


Melihat Andi yang semakin tampak kacau, Anita lalu mengambil minuman lain dan memberikannya pada Andi.


"Kamu minum dulu, ini......"


Andi menerima gelas dari tangan Anita dan melemparnya ke lantai begitu saja, membuat Anita benar benar terkejut.


Andi menggenggam kedua tangan Anita erat, menatap Anita dengan pandangan yang belum pernah Anita lihat sebelumnya.


"Aku nggak bisa lagi Nit," ucap Andi dengan suara serak.


"Enggak Ndi, lepasin aku!!" ucap Anita dengan berusaha menarik tangannya, namun Andi mencengkeramnya dengan kuat.


Dengan sekali dorongan, Anita sudah terjatuh di lantai dan tak butuh waktu lama bagi Andi untuk bisa melepas paksa pakaian Anita satu per satu.


Meski Anita berusaha untuk melawan, tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan Andi.

__ADS_1


Hingga akhirnya Anita hanya bisa pasrah saat ia merasakan perih di bagian bawahnya. Air matanya menetes bersamaan dengan peluh yang semakin membasahi badan Andi.


Saat itu Andi tidak bisa memikirkan apapun selain hasrat dalam dirinya sendiri akibat dari minuman yang ia minum.


Ia bahkan mengabaikan rintihan Anita yang semakin terdengar pilu.


"Kamu jahat Ndi, kamu jahat," ucap Anita di tengah rintihan tangisnya.


Andi tidak peduli, ia hanya ingin segera menuntaskan semuanya saat itu juga.


Di bawah kerlip bintang dan cahaya bulan di langit malam, Andi menjatuhkan dirinya di atas Anita setelah mencapai puncaknya.


Sedangkan Anita hanya pasrah menerima apapun yang Andi lakukan padanya karena rasa sakit dan perih yang ia rasakan.


Andi lalu memejamkan matanya, membiarkan degup jantungnya mereda dengan perlahan bersama dengan kesadaran dirinya atas apa yang sudah ia lakukan.


Andi lalu beranjak, menatap gadis di hadapannya yang hanya diam dengan berlinang air mata.


"Aku minta maaf Nit," ucap Andi dengan menghapus air mata Anita.


Anita hanya diam dengan tangis yang seolah tak bisa berhenti meneteskan air matanya, membuat Andi semakin merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan pada Anita.


Saat Andi mengambil pakaian Anita yang berserakan di lantai, ia melihat bercak darah di lantai.


Andi lalu membantu Anita duduk dan memakaikan pakaian milik Anita.


Setelah mereka berdua sudah mengenakan pakaian masing masing, Andi membawa Anita ke dalam dekapannya.


Ia benar benar kecewa pada dirinya sendiri, bukan hanya karena tidak bisa menjaga cintanya untuk Dini, namun karena ia telah merenggut hal paling berharga dari teman baiknya.


"Aku minta maaf," ucap Andi.


Anita masih terisak tanpa mengucapkan sepatah katapun sampai akhirnya ia tertidur di pelukan Andi.


Andi lalu membaringkan Anita di sofa yang ada di ruangan itu, kemudian membersihkan darah yang ada di lantai dengan kemeja miliknya.


Entah apa yang akan terjadi besok, ia tidak bisa memikirkan apapun saat itu.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi saat Anita terbangun dari tidurnya.


"Kamu udah bangun? minum dulu!" ucap Andi dengan memberikan minuman pada Anita.


Anita hanya menggelengkan kepalanya dengan mengalihkan pandangannya dari Andi. Ia kembali menangis saat mengingat apa yang terjadi semalam.


Karena rencana konyolnya gagal, ia sudah kehilangan bagian paling berharga dalam hidupnya.


Ia tidak pernah berpikir jika Andi yang akan melakukan hal itu padanya.


"Aku tau permintaan maaf aku nggak akan merubah semuanya, tapi aku bener bener menyesal Nit, aku nggak tau kenapa ini bisa terjadi, aku minta maaf, aku minta maaf," ucap Andi penuh rasa bersalah.


Anita hanya diam dengan air mata yang tak berhenti menetes dari kedua sudut matanya.


Setelah beberapa lama menunggu, pintu akhirnya terbuka. Rama datang bersama orang yang akan memperbaiki pintu.


Rama begitu terkejut dan berkali kali meminta maaf karena tidak mengetahui keberadaan Andi di sana.


"Nggak papa, tolong cariin taksi sekarang!" ucap Andi pada Rama.


Rama menganggukan kepalanya lalu kembali turun untuk memesan taksi.


Saat Anita hendak beranjak dari sofa, ia merintih, merasakan perih di bagian bawah tubuhnya. Tanpa banyak bicara Andi membopong Anita keluar dari ruangan itu dan membawanya masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu mereka di depan home store.


Sesampainya di rumah Anita, Andi kembali membopong Anita masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di ranjang kamarnya.


Tentu saja asisten rumah tangga Anita begitu terkejut melihat Anita yang tampak pucat saat baru saja datang.


Andi hanya menjelaskan jika mereka semalam terkunci di dalam ruangan dan ia meminta asisten rumah tangga Anita untuk segera menghubunginya jika terjadi sesuatu pada Anita.


Karena Anita yang belum bisa diajak berbicara, Andipun berpamitan pulang dan akan kembali lagi setelah mereka sama sama menenangkan diri mereka masing masing.


Andi akan menerima apapun yang akan terjadi padanya, termasuk kemungkinan terburuk sekalipun.


Sesampainya Andi di rumah, ia segera berjalan ke arah kamarnya.


"Baru pulang sayang?" tanya mama Siska yang baru saja keluar dari dapur.


"Andi capek banget ma, Andi istirahat dulu ya ma!" jawab Andi lalu berlari masuk ke kamarnya.


"Tapi kamu nanti ke home store kan?" tanya mama Siska setengah berteriak namun tak ada jawaban dari Andi.


Andi membuka pintu kamarnya lalu masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan shower dan menghujani dirinya di bawah shower.

__ADS_1


Ia melepaskan kemejanya dan berusaha menghilangkan noda darah yang ada di kemejanya.


"maafin Andi ma, maaf karena selalu mengecewakan mama, maaf karena nggak bisa seperti kak Adit yang selalu membanggakan mama, maafin Andi," ucap Andi dalam hati dengan rasa bersalah yang menyiksa dirinya.


__ADS_2