Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Ragu? (2)


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul 9 pagi. Dimas dan Dini masih tertidur di atas ranjang yang sama.


Dini tidur dengan berbantalkan lengan tangan Dimas. Mereka saling memeluk selama mereka tertidur.


Biiiippp Biiiiippp Biiiiiipppp


Ponsel Dimas berdering, Dimas mengerjapkan matanya dan melihat Dini yang masih tampak nyenyak dalam pelukannya.


Dengan perlahan, Dimas meraih ponselnya di meja. Ia tidak ingin membangunkan Dini. Namun baru saja ia bergerak, Dini sudah menggeliat dan melepaskan tangannya dari pelukan Dimas.


Ponsel Dimas masih terus berdering, namun tidak membuat Dini terbangun.


"Mama, tumben pagi pagi," ucap Dimas lalu menerima panggilan sang mama.


"Halo ma, tumben mama....."


"Dimas, kamu dimana sekarang? mama udah di rumah sakit sekarang, kenapa kamu nggak ada di rumah sakit? kamu di apartemen atau pindah rumah sakit?"


Dimas segera bangun dengan kesadaran penuh saat mendapat cecaran pertanyaan dari sang mama.


"Mama dimana sekarang?" balas Dimas bertanya.


"Mama di rumah sakit di deket apartemen kamu, kamu dimana?"


"Dimas..... Dimas di apartemen ma," jawab Dimas ragu.


"Ya udah mama ke sana sekarang."


"Tapi ma....."


Tuuuuttt tuuuuttt tuuuuttt


Sambungan berakhir. Dimas lalu kembali menghubungi sang mama, namun tidak ada jawaban.


Dimaspun segera membasuh wajahnya dan merapikan pakaiannya sebelum sang mama datang.


Tak lama kemudian bel berbunyi, Dimas segera membuka pintu untuk sang mama.


"Dimas, kamu sakit apa sayang? kenapa nggak ngabarin mama?" tanya sang mama dengan memeluk anak semata wayangnya itu.


"Dimas nggak sakit kok ma, kenapa mama tiba tiba ke sini?"


"Mama ada pertemuan di tempat kerja kamu, mama cari kamu tapi mereka bilang kamu libur karena sakit, makanya mama langsung cari kamu," jelas mama.


"Mama duduk dulu biar Dimas jelasin pelan pelan," ucap Dimas dengan membawa sang mama duduk di sofa.


Dimas lalu memberikan minum pada sang mama.


"Kamu nggak demam, pusing?" tanya mama sambil menempelkan telapak tangannya di kening Dimas.


"Dikit, cuma karena kurang tidur aja kok ma," jawab Dimas.


"Jangan bekerja terlalu keras sayang, jaga kesehatan kamu, jangan terlalu memaksakan diri kamu."


"Sebenarnya bukan Dimas yang sakit ma," ucap Dimas.


"Maksud kamu?"


"Dimas pusing karena Dimas semalem nggak tidur sama sekali, Dimas jagain Andini di rumah sakit," ucap Dimas.


"Jagain Dini? maksudnya gimana? mama nggak ngerti!"


"Andini semalem ke sini ma, kita ada salah paham sedikit, dia maksa ke sini padahal kesehatannya lagi nggak baik, jadi dia pingsan waktu baru nyampe', badannya juga demam jadi Dimas bawa dia ke rumah sakit," jawab Dimas menjelaskan.


"Jadi Dini ada di sini? atau di rumah sakit?"


"Andini ada di sini, dia istirahat di kamar Dimas," jawab Dimas.


"Gimana keadaanya sekarang?"


"Sudah membaik ma, tapi harus banyak istirahat."


"Syukurlah kalau dia sudah membaik, tapi apa mama boleh tau kesalahpahaman apa yang terjadi diantara kalian?"


"Masalah kecil ma, Dimas sama Dini udah selesaiin baik baik kok."


"Sayang, mama tau bagaimana perasaan kamu sama Dini, mama yakin Dini juga punya perasaan yang sama seperti kamu, jadi apapun masalah yang sedang kalian hadapi, selesaikan baik baik, nggak ada seorang pun di dunia yang nggak pernah berbuat salah, jadi kalian harus punya hati yang lapang untuk saling memaafkan," ucap mama Dimas.


"Iya ma, Dimas sama Dini juga selalu belajar buat lebih dewasa lagi dalam menyikapi setiap masalah dalam hubungan kita," balas Dimas.


"Naik turun dalam suatu hubungan itu pasti ada sayang, tapi jangan jadikan hal itu sebagai alasan kalian berpisah, ingat jalan yang sudah kalian lalui selama ini, suka duka bahagia dan terluka, kalian sama sama sudah merasakannya, jadikan itu landasan bagi kalian untuk memperkuat hubungan kalian," ucap mama Dimas.


"Dimas sayang sama Andini jauh sebelum Andini mau nerima Dimas dalam hidupnya ma, Dimas nggak akan menyerah sebelum dapat apa yang udah Dimas perjuangkan selama ini," ucap Dimas.


PYAAARRRRR


Suara gelas pecah membuat Dimas dan mamanya cukup terkejut.


"Bentar ya ma!" ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala sang mama.

__ADS_1


Dimas lalu masuk ke kamarnya dan mendapati Dini yang sedang memungut pecahan gelas di lantai.


"Udah sayang, biar aku aja," ucap Dimas dengan menarik tangan Dini dan mendudukkannya di ranjang.


"Maaf, aku cuma mau minum, tapi tanganku rasanya gemetar," ucap Dini yang merasa bersalah.


"Nggak papa, tapi tangan kamu nggak papa kan? nggak terluka?"


Dini hanya menggelengkan kepalanya tanpa berkata.


Dimas lalu mengambilkan Dini minum dan membersihkan pecahan gelas di lantai.


Tak lama kemudian mama Dimas masuk ke dalam kamar, membuat Dini begitu terkejut melihatnya.


"Mama!"


"Hai sayang, gimana keadaan kamu?" tanya mama Dimas yang duduk di tepi ranjang, di sebelah Dini.


"Dini.... Dini baik ma," jawab Dini canggung.


"Badan kamu masih demam, udah minum obat?" tanya mama Dimas setelah menyentuh kening Dini dengan telapak tangannya.


"Sudah ma, maaf ma Dini di sini cuma...."


"Mama mengerti, Dimas udah cerita, yang penting masalah kalian udah selesai dan kamu harus cepat sembuh."


Dini hanya menganggukkan kepalanya, ia merasa keberadaannya di sana sangatlah tidak tepat.


"Din, kamu sudah mama anggap seperti anak mama sendiri, mama juga tau seperti apa Dimas mencintai kamu, jadi mama harap kalian selalu bisa menyelesaikan masalah kalian dengan baik tanpa ada perpisahan," ucap mama Dimas.


"Iya ma, apa yang Dimas rasain juga Dini rasain, jadi Dini akan selalu belajar buat lebih baik setiap harinya," balas Dini.


"Ma, Andini harus istirahat dulu!" ucap Dimas yang baru saja kembali masuk ke kamarnya.


"Ya udah, mama balik dulu ya, kalian jaga diri baik baik, hubungin mama kalau ada apa apa!" ucap mama Dimas.


"Cepet sembuh ya sayang," lanjut mama Dimas dengan membelai rambut Dini.


"Terima kasih ma," balas Dini.


Setelah berpelukan beberapa saat, mama Dimas pun meninggalkan apartemen Dimas.


Kini hanya ada Dini dan Dimas di sana. Setelah mengantar sang mama ke pintu, Dimas kembali masuk ke kamarnya.


Dimas duduk di samping Dini yang juga duduk di tepi ranjangnya. Dimas merapikan rambut Dini dengan tangannya lalu mencium kening Dini.


"Jangan lakuin ini lagi Andini," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini dan menatap kedua mata Dini.


"Membahayakan diri kamu sendiri akan bikin aku merasa jadi laki laki paling nggak berguna buat kamu," jawab Dimas.


"Membahayakan diri sendiri?"


"Iya, apa kamu tau gimana sakitnya hatiku saat lihat kamu tiba tiba datang dan pingsan di depanku? kamu bikin aku ngerasa kalau aku bukan laki laki yang baik buat kamu Andini."


"Apa maksud kamu Dimas, aku ke sini buat minta maaf sama kamu, aku....."


"Tapi jangan membahayakan diri kamu Andini, jangan bikin aku terlihat bodoh dalam cerita ini!"


"Kenapa kamu marah? kamu nggak suka aku datang? apa aku ganggu kamu? apa aku merepotkan kamu?"


"Enggak Andini, bukan itu maksud ku."


"Kamu pikir aku seneng tidur di rumah Andi? kamu pikir aku sengaja ngelakuin itu? dan apa kamu tau gimana perasaan aku waktu kamu nggak peduli sama aku? kamu bahkan nggak baca pesan ku Dimas, apa aku harus diem aja biarin masalah ini terus berlanjut? apa aku salah karena udah berusaha memperbaiki semuanya? jawab Dimas! jawab aku!"


Pertanyaan bertubi tubi terlontar dari wajah cantik yang masih tampak pucat itu. Genangan air mata tampak ditahan dengan sekuat tenaga olehnya agar ia tidak tampak lemah di hadapan Dimas.


"Aku akan pergi kalau kedatangan aku cuma ganggu kamu, aku nggak akan kembali ke sini kalau kamu merasa terganggu sama aku," ucap Dini lalu mengambil tasnya di meja dan melangkah keluar dari kamar Dimas.


"Aku takut Andini, setiap saat aku sembunyiin rasa takutku," ucap Dimas yang membuat Dini menghentikan langkahnya.


"Aku merasa aku cuma orang ketiga diantara kamu dan Andi, aku merasa sebagai tokoh antagonis yang memisahkan kamu dan Andi, aku takut suatu saat nanti kamu akan lebih memilih Andi daripada aku, aku takut kamu akan pergi dari aku Andini, aku takut," lanjut Dimas dengan suara bergetar.


Dini lalu membalikkan badannya dan melangkah pelan ke arah Dimas yang duduk menutup mata dengan kedua tangannya.


Dini mendekat dan membawa Dimas ke dalam dekapannya.


"Maafin aku Andini, maafin aku," ucap Dimas dengan menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Dini.


Dini hanya diam dengan memeluk Dimas semakin erat. Laki laki tangguh di hadapannya itu kini tampak layu. Dini merasa sesak di dadanya melihat laki laki yang dicintainya itu menangis, meringkuk dalam pelukannya.


"rasanya sedih saat aku tau kamu masih ragu sama aku, rasanya sedih karena aku tau kamu belum sepenuhnya bahagia sama aku, lalu apa sebenarnya arti dari hubungan kita selama ini? kapan kita bisa saling jujur dengan perasaan masing masing?" batin Dini dalam hati.


**


Di sisi lain, sebelum matahari terbit Adit sudah terbangun dari tidurnya. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar Ana.


Adit lalu duduk di samping Ana, menyibakkan sehelai rambut yang berada di mata Ana.


Tiba tiba Ana membuka matanya, membuat Adit sedikit terkejut.

__ADS_1


"Apa aku bangunin kamu?" tanya Adit yang dibalas gelengan kepala Ana.


Ana lalu menyibakkan selimutnya dan duduk di sebelah Adit.


"Adit, apa aku boleh punya perasaan ini?" tanya Ana dengan menundukkan kepalanya.


Adit lalu memegang dagu Ana dan membawa pandangan Ana padanya.


"Apa aku udah berhasil bikin kamu jatuh cinta sama aku?" tanya Adit yang lagi lagi dibalas anggukan kepala oleh Ana.


Adit lalu mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan di bibir Ana. Tautan lembut keduanya seolah menjadikan dunia milik mereka berdua.


Tiba tiba Ana menjauh dan mendorong Adit.


"Adit, aku....."


Adit kembali membungkam Ana dengan tautan mesranya yang pelan dan lembut, yang mampu membuat Ana kembali terbawa dalam suasana indah yang Adit ciptakan.


Adit lalu mengakhirinya dengan sebuah kecupan di kening Ana.


"Mulai sekarang kamu milikku, Anastasya," ucap Adit dengan senyumnya yang menawan.


Ana hanya tersenyum, tersipu malu atas apa yang baru saja terjadi.


"Tapi Dit, gimana sama yang lainnya? mama kamu? adik kamu? media dan perusahaan kamu? keadaan aku akan bikin masalah buat kamu!"


"Aku akan menikahi kamu An, tapi setelah bayi ini lahir, kamu tau kita nggak boleh menikah saat pengantin perempuan nya hamil kan?"


"Iya aku tau, tapi....."


"Aku minta sama kamu buat sabar sampai dia lahir An, setelah itu dunia akan mengenal kamu sebagai istriku dan dia adalah anak kandungku, nggak akan ada yang bisa pisahin kita, keluarga kecil kita akan jadi keluarga bahagia selamanya," ucap Adit dengan membelai wajah Ana.


"Aku takut mama dan adik kamu nggak bisa terima aku Dit," ucap Ana dengan menundukkan kepalanya.


"Nggak ada alasan buat mereka menolak kamu An, aku akan yakinin mereka kalau cuma kamu yang terbaik buat aku!"


"Makasih Dit, makasih," ucap Ana dengan memeluk Adit.


Adit lalu mengusap punggung Ana kemudian melepaskan dirinya dari pelukan Ana. Ia mengambil sesuatu dari saku celananya dan menunjukkannya pada Ana.


"Jadi, apa kamu mau pakai ini?" tanya Adit dengan menunjukkan kalung yang ditinggal oleh Ana di atas suratnya.


Ana menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Adit lalu memakaikan kalung itu di leher Ana.


"Kalau kamu nggak suka, aku bisa pesan yang lain lagi," ucap Adit.


"Aku suka, suka banget," balas Ana.


"Kalau gitu jangan dilepas!"


"Iya, kalung ini akan selalu ada di sini," balas Ana sambil memegang liontin kalung itu.


Adit lalu kembali mendekat berniat untuk mencium Ana, namun Ana mendorong tubuh Adit.


"Aku harus minta maaf sama semuanya Dit, sama Bu Desi, Lisa, pak Candra dan pak Agus," ucap Ana.


"Kenapa kamu harus minta maaf?"


"Karena aku udah bikin mereka khawatir, kamu pasti marahin mereka kan?"


Adit hanya menyunggingkan senyumnya.


"aku bahkan pecat mereka semua," batin Adit dalam hati.


"Aku harus ketemu mereka!" ucap Ana keluar dari kamarnya.


Namun saat Ana keluar, Bu Desi, Lisa, Candra dan Agus sudah berkumpul di ruang tamu dengan tas dan koper di hadapan mereka.


"Kalian mau kemana? kenapa banyak tas dan koper di sini?" tanya Ana tidak mengerti.


"Kami semua minta maaf mbak, jujur kami sangat menyayangi mbak Ana, kami menyesal karena telah lalai dalam menjalankan tugas dari mas Adit," ucap Bu Desi bersedih.


"Adit!!!" panggil Ana dengan berteriak.


Dengan langkah ragu Adit mendatangi Ana.


"Apa yang kamu lakuin?" tanya Ana dengan tatapan penuh intimidasi, namun Adit hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.


Ana sangat mengenal Adit. Siapapun yang telah lalai dalam menjalankan tugasnya, tidak akan mendapatkan kesempatan kedua dari Adit.


Selain karena profesionalisme yang dimiliki, Adit memang sangat tegas dan cenderung keras. Hal itu lah yang membuat namanya di segani oleh banyak pimpinan perusahaan.


"Nggak ada yang boleh pergi dari rumah ini, jadi masukkan tas dan koper kalian ke kamar lalu kembali ke tempat kerja masing masing," ucap Ana pada semua pekerjanya.


"Tapi mbak....."


"Apa kamu keberatan Dit?" tanya Ana pada Adit.


"Enggak, kalian semua ikuti kata Ana, dia ratu di sini," jawab Adit dengan cepat.

__ADS_1


"Terima kasih mbak Ana, mas Adit, kami permisi dulu," ucap Bu Desi yang diikuti Lisa, Candra dan Agus.


Akhirnya mereka semua tetap bekerja di rumah itu.


__ADS_2