Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Bulan Madu


__ADS_3

Waktu berlalu dan hari berganti tanpa henti. Dini sedang menyiapkan barang barang miliknya dan memasukkannya ke dalam koper.


Ia juga menyiapkan barang milik Dimas di koper yang berbeda. Hari itu adalah hari dimana Dini dan Dimas menikmati bulan madu mereka selama satu Minggu penuh tanpa memikirkan pekerjaan mereka.


Mereka akan bersenang senang dan menghabiskan banyak waktu berdua di pulau yang terkenal dengan banyak pantainya yang indah.


"Kamu yakin mau kesana sayang? kita bisa ke Korea, Jepang, Eropa atau...."


"Aku yakin Dimas, aku udah lama pingin kesana, lagian semakin dekat perjalanan kita ke sana, semakin kita punya banyak waktu di sana," ucap Dini memotong ucapan Dimas.


"Iya sih, tapi bukannya kamu juga pingin ke Namsan Tower?"


"Aku pingin ke sana waktu musim salju dan sekarang belum waktunya musim salju, jadi kita tunda dulu, oke?"


"Musim salju kan masih lama Andini!"


Dini lalu menutup koper miliknya dan menghampiri Dimas yang duduk di tepi ranjang.


"Kamu nggak setuju sama tempat yang aku pilih?" tanya Dini yang sudah duduk di samping Dimas.


"Bukan gitu sayang, aku akan ikutin kemanapun yang kamu mau, aku cuma pingin kasih kamu kebahagiaan yang selama ini kamu impikan dan aku pikir salah satunya ke Korea," jawab Dimas.


"Kamu udah kasih aku banyak kebahagiaan Dimas, bahkan lebih dari yang aku impikan dan pergi ke Bali sama kamu adalah salah satu kebahagiaan buat aku saat ini," ucap Dini.


Dimas lalu merengkuh Dini ke dalam dekapannya dan mendaratkan kecupan singkatnya di kening Dini.


"Kamu emang gadis sederhana yang aku kenal dari dulu," ucap Dimas.


"Tapi sekarang aku bukan gadis lagi," balas Dini dengan mendongakkan kepalanya menatap Dimas.


"Karena aku yang udah renggut kegadisan kamu," balas Dimas lalu memberikan kecupan singkatnya di bibir Dini.


Sebelum Dimas semakin jauh, Dini melepaskan dirinya dari dekapan Dimas.


"Kenapa?"


"Aku harus packing Dimas, besok kita kan berangkat pagi pagi banget!"


Dimas menghela napasnya lalu membantu Dini menyiapkan barang barangnya.


Malam semakin larut, setelah selesai menyiapkan semua yang mereka butuhkan selama bulan madu, Dini dan Dimas tertidur dengan saling memeluk.


**


Pagi telah datang, namun mentari belum menampakan sinarnya. Dini sengaja bangun lebih pagi untuk memastikan barang bawaannya tidak ada yang tertinggal.


Ia lalu memasak nasi goreng untuk ia sarapan bersama Dimas. Ia sudah lebih pandai memasak setelah berkali kali mengalami kegagalan.


Meski hanya beberapa menu sederhana yang bisa ia buat, tapi dia bangga pada dirinya sendiri yang tidak menyerah untuk terus belajar supaya bisa membuat masakan yang layak untuk suaminya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Dini membangunkan Dimas untuk segera mandi dan sarapan.


"Nasi goreng kesukaan ku!" ucap Dimas senang.


"Telur mata sapinya sempurna kan?"


"Mmmm.... nggak lebih sempurna dari kamu," jawab Dimas lalu mendaratkan kecupan nya di kening Dini.


"Makasih sayang!" ucap Dimas mengapresiasi usaha sang istri.


Dini tersenyum senang karena bisa memberikan hasil terbaik dari masakannya untuk Dimas.


Meski begitu, ia sudah menghabiskan hampir setengah kg telur untuk bisa mendapatkan telur mata sapi yang sempurna untuk Dimas.


Setelah dirasa semuanya sudah beres, Dini dan Dimas segera pergi ke bandara.


Raut wajah bahagia mengantarkan Dini dan Dimas untuk sampai di tempat tujuan mereka.


Setelah beberapa lama berada di atas pesawat, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan mereka.


Dimas dan Dini segera keluar dari bandara dan menemui seseorang yang sudah menyiapkan mobil untuk mereka selama mereka di sana.


Setelah mendapatkan mobil, Dimas dan Dini menuju ke hotel untuk beristirahat.


Hotel bintang 5 yang sudah Dimas siapkan untuk Dini membuat Dini begitu takjub dengan pemandangan yang ada.


Di balkon kamarnya, Dini bisa melihat dengan jelas pantai yang berada tak jauh darinya.


Dimas lalu memeluk Dini dari belakang saat Dini masih menikmati pemandangan indah di hadapannya.


"Selama satu Minggu ke depan, aku akan selalu liat pemandangan ini setiap hari," ucap Dini.


"Kamu suka?"


Dini menganggukkan kepalanya penuh semangat.


"Suka banget Dimas, makasih," ucap Dini lalu berbalik dan memeluk Dimas.

__ADS_1


Seketika Dimas segera membopong Dini dan menjatuhkannya di ranjang. Namun Dini segera bangkit dan berbalik menjatuhkan Dimas di atas ranjang.


Dini tersenyum nakal lalu melepas satu per satu kancing kemeja yang Dimas kenakan. Dimas hanya pasrah membiarkan Dini melakukan apapun terhadapnya.


Di dalam kamar dengan pemandangan indah itu mereka melepaskan hasrat dalam diri mereka, mendaki bersama sampai ke puncak keindahan yang menyatukan mereka.


Dini lalu merebahkan badannya di samping Dimas, menarik selimut dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Namun Dimas menarik selimut Dini dengan tersenyum nakal.


"Dimas!"


"Capek?" tanya Dimas.


"Enggak," jawab Dini dengan menggelengkan kepalanya dan tersenyum malu.


Tanpa basa basi Dimas kembali memulai permainan sampai mereka berdua benar benar lelah dan terjatuh dalam puncak keindahan surga dunia.


Waktu berlalu, Dimas dan Dini keluar dari hotel saat matahari hendak kembali ke peraduannya.


Dini berjalan di atas halusnya pasir putih bersama Dimas. Sesekali Dini menyibakkan rambutnya yang dibelai dengan lembut oleh angin pantai.


Dini menarik tangan Dimas, membawa Dimas mendekat ke arah bibir pantai. Saat ombak datang dan menyapu bibir pantai, Dini menarik tangan Dimas untuk berlari menghindar dari sapuan ombak yang mengejar mereka.


Begitu seterusnya sampai langit senja mulai melukiskan jingganya di ujung barat.


Dini dan Dimas duduk sedikit menjauh dari bibir pantai, mereka tidak ingin pakaian mereka basah karena mereka akan menghabiskan malam di banyak tempat yang ada di sana.


"Bener bener indah," ucap Dini dengan menatap senja di langit barat.


"Kamu yang membuat senja menjadi lebih indah sayang," balas Dimas sambil menyibakkan rambut Dini yang menghalangi wajah Dini.


"Kebahagiaan yang kamu kasih buat aku yang bikin semua ini jadi jauh lebih indah Dimas," ucap Dini dengan menatap mata laki laki yang sudah menjadi suaminya itu.


Bersama senja yang semakin padam, bayangan Dini dan Dimas semakin mendekat, mereka hanyut dalam keindahan ciptaan Tuhan di hadapan mereka.


Bersama dengan datangnya kerlip bintang dan sinar sang bulan, mereka saling bertaut menikmati keindahan dan kebahagiaan yang ada dalam hati mereka.


Dimas dan Dini lalu berdiri dari duduknya, Dimas menggandeng tangan Dini untuk membawanya keluar dari area pantai.


Mereka pergi ke kafe yang tak jauh dari pantai itu. Di sana mereka menikmati makan malam bersama pemandangan laut dalam kegelapan malam yang ditemani hamparan kerlip bintang yang tampak nyata diantara gelapnya malam.


**


Di tempat lain, Andi sedang berdiri di depan sebuah kamar, menunggu seseorang yang sedang berdandan di dalamnya.


"Jadi kemana kita sekarang?" tanya Aletta saat ia berjalan ke arah lift bersama Andi.


"Ke kafe yang nggak terlalu jauh dari sini," jawab Andi.


Andi lalu mengendarai mobil sewaannya dan membawa Aletta ke arah kafe yang terkenal dengan pemandangannya yang indah.


Sesampainya di sana, mereka segera masuk ke dalam kafe yang terlihat begitu ramai itu.


Andi dan Aletta duduk di samping kaca besar yang menunjukkan pemandangan jalan raya di depan kafe.


"Kita telat Ta!" ucap Andi.


"Kenapa telat?" tanya Aletta tak mengerti.


"Kalau kita beruntung, kita bisa dapat bangku yang pemandangannya laut, tapi karena kafe ini terkenal banget jadi mereka pasti pilih spot dengan pemandangan bagus!"


"Di sini juga bagus kok!" ucap Aletta.


"Pasti karena ada aku di sini jadi bagus, iya kan?" balas Andi penuh percaya diri.


"Hahaha.... terserah kamu aja!"


Setelah menyelesaikan makan malamnya bersama Aletta, Andi mengendarai mobilnya ke arah Art Center.


Di sana terdapat banyak kegiatan seni yang dikemas secara menarik, seperti tarian adat Bali, Bali Art Festival dan lain sebagainya.


"Kamu emang anak seni banget ya!" ucap Aletta saat mereka sampai di sana.


"Kamu pasti suka Ta, aku udah lama liat ini di sosial media dan dari dulu pingin banget bisa liat langsung!" balas Andi.


"Oke, karena kamu yang rencanain liburan kali ini jadi aku ikutin aja rundown yang udah kamu buat," ucap Aletta.


"Good," balas Andi sambil mengacak acak rambut Aletta.


Andi dan Aletta menghabiskan malam mereka di sana menikmati suguhan kesenian yang ada di hadapan mereka.


**


Di sisi lain, Dini dan Dimas terdiam memperhatikan gerakan para penari Kecak yang ada di hadapan mereka.


Ya, setelah menyelesaikan makan malam mereka di kafe, Dimas mengajak Dini melanjutkan perjalanan mereka dan berakhir di tempat yang menunjukkan berbagai macam kesenian yang ada di Bali, termasuk salah satunya tari Kecak yang saat itu ada di hadapan mereka.

__ADS_1


Setelah acara selesai, Dimas dan Dini berjalan ke arah tempat parkir untuk segera meninggalkan tempat itu.


Dimas mengajak Dini menyusuri jalanan kota sebelum akhirnya mereka kembali ke hotel.


Sesampainya di kamar hotel, Dini segera membawa langkahnya ke arah balkon.


Tak bosan ia melihat pemandangan di hadapannya. Dengan belaian lembut angin malam, Dini berdiri menatap jauh ke dalam hamparan gelap dengan lampu lampu kecil yang menerangi dan kerlip bintang yang memecah langit malam.


Dini menyunggingkan senyumnya saat ia melihat senyum bulan diantara kerlip bintang di langit malam.


Tak lama kemudian Dimas menghampiri Dini, memeluk Dini dari belakang dan meninggalkan kecupannya di leher jenjang Dini.


"Masuk sayang, anginnya makin kenceng," ucap Dimas.


"Bentar lagi Dimas, pelukan kamu rasanya semakin hangat sekarang," balas Dini.


"Kalau kamu mau yang lebih hangat kita masuk sekarang," ucap Dimas menggoda.


Dini hanya tersenyum tipis dan mencubit tangan Dimas yang melingkar di pinggangnya.


Dini lalu membalikkan badannya, menatap jauh ke dalam mata laki laki yang sudah menjadi suaminya.


"Ini jauh lebih indah dari yang aku harapkan Dimas," ucap Dini.


Dimas hanya tersenyum lalu mendaratkan kecupannya di bibir Dini, kecupan yang semakin lama semakin dalam dan menyeret mereka kembali terjatuh dalam keindahan surga dunia.


**


Di sisi lain, Andi dan Aletta baru saja sampai di hotel tempat mereka menginap.


Andi mengantarkan Aletta sampai di kamar Aletta yang bersebalahan dengan kamarnya. Mereka sempat canggung untuk beberapa saat sebelum Aletta masuk ke dalam kamarnya.


Mereka memang berlibur berdua, tapi mereka menginap di kamar yang berbeda.


"Mmmmm.... kamu udah mau tidur?" tanya Andi.


"Belum sih, aku belum ngantuk," jawab Aletta.


Andi kembali diam, begitu juga dengan Aletta yang membuat suasana kembali canggung.


"Aku.... aku masuk dulu!" ucap Aletta sambil memegang gagang pintu kamarnya.


Andi hanya menganggukkan kepalanya ragu, namun ia segera menahan tangan Aletta sebelum Aletta benar benar masuk ke kamarnya.


"Aku..... aku boleh ke kamar kamu?" tanya Andi.


"Bb..... boleh," jawab Aletta.


Andipun membawa langkahnya masuk ke kamar Aletta.


Mereka kembali terdiam saat duduk di sofa yang ada di sana, suasana canggung itu membuat keduanya tidak nyaman satu sama lain.


"Kayaknya aku harus ke kamar," ucap Andi lalu beranjak dari duduknya.


"Kenapa?" tanya Aletta yang seolah tak ingin Andi pergi.


"Aku.... aku....."


Aletta lalu beranjak dari duduknya dan memeluk Andi.


Andi hanya terdiam dan begitu terkejut karena Aletta tiba tiba memeluknya. Andi bahkan tidak menggerakkan tangannya sama sekali saat Aletta memeluknya. Ia tidak tau harus bersikap seperti apa saat itu.


"Makasih udah pernah jadi bagian terindah dalam hidupku Ndi, makasih udah kasih aku kesempatan buat ngerasain keindahan itu lagi setelah sekian lama aku berusaha lupain keindahan yang kamu kasih buat aku," ucap Aletta yang masih memeluk Andi.


Andi masih terdiam tanpa tau harus melakukan apa.


"Aku tau apa yang kamu lalui selama ini nggak mudah, entah tentang keluarga kamu ataupun tentang Dini, aku tau kamu udah melewati banyak hal berat dalam hidup kamu, tapi kamu juga harus tau banyak yang sayang sama kamu Ndi, banyak yang mengkhawatirkan kamu," lanjut Aletta.


Aletta lalu melepaskan Andi dari pelukannya, ia tau Andi tidak membalas pelukannya saat itu, namun ia tidak kecewa karena hal itu, karena ia pun tidak mengharapkan apapun dari Andi.


Bagi Aletta, Andi adalah hal terindah dalam hidupnya, bahkan terlalu indah sampai ia tidak mampu untuk melupakannya walaupun ia tau itu akan menyakiti perasaannya sendiri jika ia kembali mengharapakan Andi.


"Kamu udah ngelakuin yang terbaik yang bisa kamu lakukan Ndi, jangan kecewa dan menyesal atas apa yang udah terjadi karena keputusan kamu, kamu harus tetap melanjutkan hidup kamu, kamu harus bisa bangkit dan temukan kebahagiaan sejati kamu!" ucap Aletta dengan menatap ke dalam mata Andi.


Andi, laki laki yang pernah menarik Aletta dari jurang keputusasaan. Kini Aletta yang akan memerankan peran itu dengan baik, berusaha menarik Andi untuk keluar dari jurang keputusasaan yang semakin melemahkan Andi.


Ia akan memberikan jalan pada Andi untuk menemukan puncak kebahagiaan yang layak untuk Andi dapatkan.


"Ta, aku....."


CUUUUPPPP


Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Andi, membuat Andi terdiam dan terpaku di tempatnya berdiri.


Sedangkan Aletta hanya tersenyum menyembunyikan degup jantungnya yang semakin tak terkendali.


"Aku..... akan temukan kebahagiaan kamu Ndi," ucap Aletta dengan kembali memeluk Andi.

__ADS_1


__ADS_2