Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Hari Pertama


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Dini dan Andi sudah berada di halte pagi itu.


"Dimas udah berangkat ya?" tanya Andi pada Dini.


"Udah, aku baru bangun tidur dia udah berangkat," jawab Dini.


Andi lalu mengambil sebuah coklat dari kantong jaketnya dan memberikannya pada Dini.


"Biar nggak gugup," ucap Andi sambil memberikan coklat pada Dini.


"Makasih," balas Dini dengan senyum manisnya.


"Kalau mau pulang kabarin ya!"


Dini menganggukkan kepalanya. Mereka lalu menaiki bus yang berhenti di depan mereka


30 menit berlalu, Dini dan Andi turun dari bus. Di sebrang jalan terlihat gedung tinggi yang akan menjadi tempat kerja Dini.


"Aku duluan ya!" ucap Dini ketika ia akan menyebrang.


"Hati hati Din!"


"Kamu juga," balas Dini sambil melambaikan tangannya pada Andi.


Dini lalu berjalan ke arah gedung di hadapannya. Karena terlalu fokus memperhatikan gedung itu, Dini tidak fokus pada jalan di hadapannya membuatnya tersandung dan hampir saja terjatuh jika seseorang tidak segera menangkapnya.


Namun, seseorang itu justru membuat Dini meradang, pasalnya seseorang itu memegang tepat dibagian dada Dini.


Dengan cepat Dini berdiri tegak dan menampar seseorang yang telah memegang dadanya.


"Apa apaan kamu ini?" teriak laki laki yang menolong Dini namun tanpa sengaja malah memegang dadanya.


"Laki laki mesum!" ucap Dini dengan kembali melayangkan tangannya, namun di tahan oleh laki laki itu.


"Jauhkan tangan kotor kamu itu!" ucap si laki laki lalu menghempaskan tangan Dini dengan kasar, membuat Dini terjatuh.


Andi yang melihat hal itu dari jauh segera menghampiri Dini.


"Ada apa Din? kamu nggak papa?" tanya Andi dengan membantu Dini berdiri.


"Nggak papa," jawab Dini.


Laki laki itu pun segera berjalan menjauh dari Dini dan Andi.


Andi yang hendak mengejarnyapun ditahan oleh Dini.


"Jangan Ndi, aku nggak mau bikin keributan," ucap Dini menahan Andi.


"Tapi dia udah kasar sama kamu Din, cowok macam apa yang berani kasar sama cewek!"


"Udah nggak papa, kamu pulang aja, aku mau masuk!"


"Kamu beneran nggak papa?"


"Aku nggak papa Ndi, aku......"


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dini berdering, panggilan dari Ana.


"Halo Din, kamu dimana?"


"Saya udah di depan mbak, ini mau masuk," jawab Dini.


"Oke, buruan ya!"


"Baik mbak."


Dini lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas dan meminta Andi untuk segera pergi.


"Aku udah ditungguin mbak Ana Ndi, kamu pulang ya!"


"Oke, kalau ada apa apa hubungin aku ya!"


"Pasti, hati hati di jalan Ndi!"


Andi menganggukkan kepalanya lalu kembali berjalan ke arah halte.


Dinipun segera masuk dan mencari ruangan yang sudah Ana beritahukan padanya.


"Selamat datang Din, saya ajak ke ruangan kamu dulu!" ucap Ana pada Dini.


Dini mengikuti langkah Ana di depannya sambil matanya berkeliling mengamati keadaan kantor tempat ia bekerja.


"Ini ruangan kamu, sebelum saya resign barang barang saya masih ada di sini nggak papa kan?"


"Ini ruangan saya mbak?"


"Iya, yang di sebelah itu ruangan CEO kita, Pak Adit."


"CEO? kenapa saya ada di ruangan ini mbak? kenapa....."


"Oh iya, saya belum jelasin sama kamu ya, saya disini sebagai asistennya Pak Adit, jadi setelah saya resign kamu yang jadi asistennya Pak Adit," ucap Ana menjelaskan.


"Haahh!!! asisten?"


"Iya, kamu keberatan?"


Dini terduduk lemas di kursinya, tak pernah terpikirkan sama sekali jika ia akan menjadi asisten CEO di sana. Mengingat apa yang diucapkan papa Dimas tentang CEO di sana membuat Dini semakin lemas.


"Dini, kamu nggak papa Din?"


"Maaf mbak, tapi saya....."


"Itu Pak Adit udah dateng, ayo kesana dulu, nanti saya akan jelasin tugas tugas kamu disini!" ucap Ana memotong ucapan Dini karena ia melihat Adit memasuki ruangannya.

__ADS_1


Ruangan Dini dan Adit hanya dipisahkan oleh pembatas kaca, jadi segala aktivitas yang dilakukan Dini akan terpantau secara langsung dari ruangan Adit.


Dinipun mengikuti Ana untuk masuk ke ruangan Adit. Belum selesai keterkejutan Dini karena posisinya di sana, ternyata sang CEO yang dijelaskan oleh papa Dimas adalah laki laki yang tadi memegang dadanya di depan kantor. Ya, dia adalah laki laki yang sudah di tamparnya beberapa waktu yang lalu.


"Pagi pak, ini Dini, asisten baru Pak Adit," ucap Ana memperkenalkan Dini.


"Pa... pagi... Pak," ucap Dini gugup.


"Duduk!" balas Adit.


Ana memberikan isyarat mata pada Dini agar ia duduk. Dinipun duduk dengan ragu.


"Kenapa kamu ketakutan? apa kamu melakukan kesalahan?" tanya Adit pada Dini.


"Saya... saya..."


"Saya nggak suka kerja sama orang gagap!" ucap Adit menyela membuat Dini semakin down.


"Ayo lah Dit, jangan galak galak, udah berapa orang yang gue bawa kesini nggak ada satupun yang cocok sama lo, kalau gini terus gue nggak nikah nikah Dit!" ucap Ana pada Adit, membuat Dini begitu terkejut dengan apa yang didengarnya.


"Bukannya mereka sendiri yang nggak mau kerja disini?" balas Adit.


"Itu karena lo terlalu galak, makanya mereka kabur!"


"Oke oke, tapi kalau dia nggak bisa kerja yang bener jangan salahin gue kalau gue pecat dia!"


"Baik Pak Adit yang terhormat, kita permisi dulu!" ucap Ana sambil menarik tangan Dini.


Dini yang masih tidak mengerti dengan situasi yang sebenarnya terjadi hanya bisa mengikuti Ana.


Anapun mengajak Dini kembali ke ruangannya. Ana menjelaskan tugas tugas Dini selama dia bekerja di sana, termasuk kebiasaan dan hal hal yang tidak disukai Adit, Dini harus benar benar memahaminya.


"Buat sementara saya akan dampingi kamu, tapi saya mohon jangan mudah menyerah ya Din, Pak Adit emang tegas banget orangnya, tapi dia baik kok," ucap Ana.


Dini hanya diam. Kesan pertamanya di perusahaan itu membuatnya ragu untuk bertahan di sana.


Ana menjelaskan jika Adit adalah adik kelasnya sejak SMA sampai kuliah, namun karena kecerdasannya ia bisa menyelesaikan S1 nya dengan cepat dan melanjutkan S2 nya di Amerika.


Mereka cukup dekat sebagai teman, itu kenapa jika Ana sudah kesal pada Adit mode "teman" nya akan aktif meskipun mereka sedang berada di kantor.


Meski begitu ia sangat menghormati Adit sebagai atasannya. Ia tidak akan meninggalkan perusahaan sebelum ia mendapatkan pengganti posisinya yang sesuai untuk Adit di perusahaan.


Sudah hampir 2 bulan sejak pengajuan resign nya, Ana belum menemukan seseorang yang cocok untuk itu. Sudah beberapa kandidat ia pertemukan dengan Adit namun tak ada satupun yang Adit terima atau bertahan dengan sikap Adit.


Sekarang, tinggal 1 minggu lagi waktunya sebelum ia menikah. Ia harus memastikan jika Adit bisa menerima Dini dan Dini bisa bertahan dengan semua sikap Adit yang terkadang membuatnya harus menahan emosi.


**


Jam makan siang tiba, Dini dan Ana pergi ke kantin bersama. Setelah kejadian tadi pagi, semuanya masih tampak normal bagi Dini.


"Kamu harapan saya Din, jadi saya harap kamu bisa bertahan di sini, saya kenal banget sama Pak Adit, dibalik sikapnya yang keras dia baik kok," ucap Ana pada Dini.


"Iya mbak, makasih karena udah percayain posisi mbak buat saya," balas Dini.


"Kalau ada apa apa kamu bisa hubungin saya Din!"


"Baik mbak."


"Cepat ke ruangan saya!" ucap Adit singkat lalu menutup teleponnya.


Ana pun mengajak Dini untuk ke ruangan Adit.


"Jadwal saya apa aja hari ini?" tanya Adit.


Anapun menyenggol lengan Dini, meminta Dini untuk menjawabnya. Namun Dini malah menggelengkan kepalanya pelan, ia belum menghafal jadwal Adit.


"Jam 3 nanti meeting dengan klien di....."


"Saya tanya sama Dini An, kamu keluar aja!" ucap Adit menghentikan ucapan Ana.


"Di restoran X," ucap Ana pelan lalu keluar dari ruangan Ardi.


"Di restoran X pak," ucap Dini pada Ardi.


"Siapa klien saya?" tanya Ardi.


Dini hanya diam, ia benar benar menyesal karena tidak menghafal jadwal yang sudah diberikan Ana padanya.


"Kamu tuli apa bisu? siapa klien saya?"


"Maaf pak, saya.... saya belum menghafalkan jadwal Pak Adit," jawab Dini.


BRAAKKKKK


Suara hentakan buku tebal di atas meja memenuhi ruangan Adit. Ia berdiri dan memperhatikan gadis di hadapannya yang tengah tertunduk.


"Angkat kepala kamu, saya tidak suka bekerja dengan orang yang tidak percaya diri!" ucap Adit tegas.


Namun karena rasa takutnya, Dini masih tetap menunduk dengan memainkan jari jari tangannya.


"Maaf pak," ucap Dini.


"Saya tidak butuh permintaan maaf kamu Dini, kalau kamu tidak bisa menghafal jadwal saya, bagaimana kamu bisa bekerja sama saya di sini?"


"Ma...."


"Cukup, keluar dari ruangan saya dan panggilan Ana kesini!"


"Baik pak, saya permisi," balas Dini lalu keluar dari ruangan Adit.


Dini segera kembali ke ruangannya dan meminta Ana untuk datang ke ruangan Adit. Tanpa banyak bicara Ana segera mendatangi ruangan Adit.


Sedangkan Dini menyambar minuman di mejanya dan meneguknya hingga habis tak bersisa. Ia memegangi dadanya, ia kembali ragu untuk tetap bertahan di tempat itu.


Dari tempat duduknya, diam diam Dini memperhatikan Ana dan Adit di ruangan sebelahnya. Meski tak bisa mendengar percakapan mereka, namun dari gerak geriknya mereka tampak sedang bersitegang.

__ADS_1


Ana kemudian meninggalkan tempat Adit dan kembali ke ruangannya.


"Mbak Ana dimarahin ya?" tanya Dini.


"Enggak kok, kamu udah hafal jadwalnya Pak Adit?"


"Belum mbak, saya dari tadi ngerjain laporan yang mbak minta," jawab Dini.


"Kalau kamu nggak bisa hafalin, kamu harus selalu bawa catatan ini, walaupun catatan ini udah dicopy buat Pak Adit, beliau akan tetep nanya nanti."


"Baik mbak."


"Sama satu lagi, jangan pernah tundukin kepala kamu di depan Pak Adit, kamu harus percaya diri Din!"


"Apa saya beneran pantas ada disini mbak?"


"Saya percaya sama kamu Din, saya juga udah cari tau tentang kamu lewat Pak Andre, manajer divisi di tempat kamu kerja dulu, kamu pantas ada disini dan kamu pantas ada di posisi ini, jadi saya mohon sama kamu, kamu harus percaya sama kemampuan kamu, oke?"


"Tapi Pak Adit kayaknya nggak suka sama saya mbak."


"Pak Adit punya klasifikasi nya sendiri buat jadiin seseorang asistennya, selain dilihat dari hasil kerjanya juga dari personality nya, wajar kok kalau kamu bikin salah, kan baru hari pertama, saya yakin lama lama kamu pasti bisa memahami Pak Adit."


"Saya ragu mbak," ucap Dini dengan tertunduk lesu.


"Saya nggak bisa maksa kamu Din, cuma ini yang bisa saya lakuin buat balas kebaikan kamu, saya cuma berharap kamu bisa menerima pekerjaan ini," balas Ana sambil memegang bahu Dini.


"Andi, aku harus gimana Ndi?" batin Dini dalam hati.


"Sekarang kamu siap siap, dokumen yang udah kamu siapin tadi jangan lupa kamu bawa, satu jam lagi kamu harus ikut Pak Adit ketemu klien di restoran X, oke?"


"Sama mbak Ana juga kan?"


"Saya harus pulang hehe.... semangat Dini, kamu pasti bisa!" ucap Ana lalu mengambil tas dan keluar dari ruangan.


"Looh mbaakkk........."


Krriiiiing Krriiiiing


Telepon di hadapan Dini berdering, ia segera mengangkatnya.


"Siapkan dokumen yang harus saya bawa, satu jam lagi kita ketemu klien di restoran X!" ucap Adit.


"Baik pak!"


"Jangan ada yang lupa!"


"Baik pak!"


Satu jam berlalu, setelah memastikan semua tugasnya selesai, Dini segera masuk ke ruangan Adit.


"Permisi pak, ini dokumen yang Pak Adit butuhkan buat meeting nanti," ucap Dini sambil menyerahkan dokumen yang baru saja ia selesaikan.


Adit menerima dokumen itu, membolak balikkan halaman demi halaman lalu tersenyum tipis.


"Pak Adit senyum? nggak salah?" tanya Dini dalam hati.


"Bagus, ayo berangkat!"


Dini mengangguk lalu mengikuti Adit keluar. Sesampainya di lobby, Adit baru menyadari jika Dini tidak membawa apapun di tangannya.


"Dokumennya tadi mana?" tanya Adit.


"Bukannya Pak Adit yang bawa?"


"Kamu pikir saya siapa? kamu nggak tau posisi kamu disini?" tanya Adit dengan suara tinggi, membuat beberapa karyawan di sana memperhatikan Adit dan Dini.


"Saya ambil dulu Pak," ucap Dini lalu kembali ruangan Adit untuk mengambil dokumen yang Adit butuhkan.


Setelah Dini kembali ke lobby, Adit sudah tidak berada di sana.


"Pak Aditnya udah berangkat duluan, kamu disuruh berangkat pake taxi," ucap seorang resepsionis pada Dini.


"Makasih mbak," balas Dini lalu segera berlari keluar mencari taksi.


Dini lalu berangkat ke restoran X dengan menggunakan taksi. Sesampainya di sana, ia bertanya pada waiters tentang tempat meeting atasannya.


Dinipun menuju ke tempat itu, beruntung ia tiba tepat sebelum meeting dimulai dan memberikan dokumen yang ia bawa pada Adit.


Tiba saat bagi Dini untuk mempresentasikan isi dokumen yang sudah ia kerjakan dari pagi. Berkat bantuan Ana, Dini bisa menguasai materi dengan cepat. Hal itu membuat Adit merasa puas dengan hasil kerja Dini.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, setelah meeting selesai, mereka segera kembali ke kantor.


Dini merebahkan badannya di kursi dan mengambil ponsel di sakunya. Ada belasan panggilan tak terjawab dari Andi. Ia pun menghubungi Andi.


"Halo Din, kamu dimana? kenapa nggak diangkat dari tadi?" tanya Andi.


"Maaf Ndi, aku baru selesai meeting, kamu dimana sekarang?"


"Aku di halte depan kantor kamu dari tadi, kamu pulang jam berapa?"


Toookk Toookk Toookk


Suara ketukan pintu membuat Dini segera mematikan sambungan ponselnya dan kembali memasukkannya ke dalam saku.


Adit berjalan memasuki ruangan Dini.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Dini setelah ia berdiri.


Adit tak menjawab, ia mengulurkan tangannya pada Dini, membuat Dini sedikit bingung namun ia tetap menerima uluran tangan Adit.


"Kerja bagus, pertahankan!" ucap Adit lalu melepaskan jabatan tangannya dan keluar dari ruangan Dini.


"Waktunya kamu pulang!" ucap Adit tanpa menoleh sebelum ia keluar dari ruangan Dini.


"Baik pak," balas Dini lalu segera mengemasi barang barangnya dan keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Kerja bagus? apa Pak Adit suka sama hasil kerjaku? aaahhh senengnya," batin Dini kegirangan.


Ia lalu segera berjalan ke arah jalan raya dan melambaikan tangannya pada Andi yang sudah menunggunya di halte.


__ADS_2