Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Dunia yang Runtuh


__ADS_3

Waktu berjalan terasa begitu lambat. Dini dan Andi masih berada di depan UGD dengan harapan yang sama, yaitu Dimas akan bertahan melawan rasa sakitnya dan semuanya akan kembali berjalan indah seperti sebelumnya.


Dini duduk terdiam dengan pandangan kosong, air matanya memang sudah tidak keluar lagi, namun dalam hatinya ia merasa hancur.


Begitu juga dengan Andi, baginya Dimas adalah sahabat terbaiknya meski Dimas telah mengambil gadis yang dicintainya.


Ia tidak ingin kehilangan Dimas sama seperti Dini. Dimas adalah seseorang yang berharga dalam hidup Dini dan Andi meski tak jarang terjadi salah paham diantara mereka.


"Kamu harus yakin Dimas akan baik baik aja!" ucap Andi pada Dini.


Dini hanya diam menatap nanar dengan mata yang berkaca-kaca.


Andi sangat ingin memeluk Dini saat itu, ia ingin mengusap punggungnya dan menenangkannya. Namun ia tau itu bukanlah saat yang tepat, ia tidak mungkin melakukan hal itu saat Dimas tengah meregang nyawa di UGD.


"Aku hubungi papanya Dimas ya Din!" ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


Andi lalu mengambil ponselnya dan menghubungi papa Dimas untuk memberi tahu jika Dimas sedang berada di rumah sakit.


Setelah beberapa lama menunggu, mama dan papa Dimaspun datang. Mereka berjalan tergopoh-gopoh dengan panik dan air mata yang sudah membasahi kedua pipi mama Dimas.


"Ada apa Din? apa yang terjadi?" tanya mama Dimas pada Dini.


Namun Dini tidak menjawab pertanyaan mama Dimas, ia kembali menangis tak kuasa menjelaskan pada mama Dimas apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa kamu tau apa yang terjadi Ndi?" tanya papa Dimas pada Andi.


"Maaf om, Andi nggak bisa cerita sekarang," jawab Andi sambil membawa pandangannya pada Dini.


Ia tidak ingin Dini kembali histeris saat mendengar ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Din, tolong jelasin sama mama, apa yang terjadi sama Dimas?" ucap mama Dimas yang memaksa Dini, namun semakin membuat Dini menangis.


"Tolong tante jangan paksa Dini!" ucap Andi pada mama Dimas.


"Dimas anak saya, saya harus tau apa yang udah terjadi sama Dimas, saya......"


"Ma, udah ma, jangan bikin keributan!" ucap papa Dimas berusaha menenangkan istrinya.


Tak lama kemudian Dokter dan timnya keluar dari ruang UGD.


"Gimana keadaan anak saya Dok? Dia baik baik aja kan?" tanya mama Dimas pada Dokter.


"Kami mohon maaf, pendarahan yang terjadi tidak dapat dihentikan dikarenakan luka tembak yang dialami korban menyentuh organ vitalnya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi.... Tuhan berkehendak lain," ucap Dokter menjelaskan.


Seketika mama Dimas lunglai kehilangan tenaganya dan dengan sigap papa Dimas menahan sang istri.


Semua yang ada disana merasa seolah baru saja tersambar petir saat mendengar penjelasan Dokter. Lidah mereka terasa kelu, hingga tak ada kata yang bisa terucap lagi.


Sedangkan Dini menggelengkan kepalanya tak percaya pada semua penjelasan Dokter. Ia tau Dimas sangat mencintainya, ia yakin Dimas tidak akan meninggalkannya seperti itu.


"Dokter pasti salah, Dokter bisa periksa lagi, Dimas pasti bertahan Dok, tolong periksa dia lagi!" ucap Dini dengan menarik jubah yang Dokter pakai.


"Kami sekali lagi mohon maaf, tapi kematiannya sudah terkonfirmasi karena gagal organ dan pendarahan yang tidak bisa dihentikan," balas Dokter dengan melepaskan tangan Dini dari jubahnya, tapi Dini masih menggenggamnya erat.


"Enggak Dok, nggak mungkin, Dimas nggak mungkin menyerah, tolong periksa dia lagi Dok, saya mohon!" ucap Dini dengan berlinang air mata, memohon pada Dokter.


"Udah Din, udah," ucap Andi dengan melepaskan tangan Dini dari jubah sang Dokter.


"Kami mohon maaf, sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang jenazah," ucap Dokter lalu berjalan pergi.


Dini lalu segera membuka pintu ruang UGD dan masuk ke dalam. Ia tidak melihat Dimas disana, ia hanya melihat seseorang yang terbaring dengan kain putih yang sudah menutupi seluruh tubuhnya dari kaki sampai kepala.


Dini kemudian mendekat dan membuka kain putih itu di bagian kepalanya. Ia berteriak histeris saat melihat wajah laki laki yang dicintainya terpejam untuk selamanya.


"Bangun Dimas, kamu harus bangun, kasih tau semuanya kalau apa yang Dokter bilang salah, aku mohon sama kamu Dimas, aku mohon," ucap Dini dengan memeluk Dimas yang sudah tidak bernyawa.


"Kamu nggak boleh pergi, kamu udah janji buat nggak akan ninggalin aku, kamu harus tepati janji kamu Dimas, ayo bangun, kita pulang ke rumah kita," ucap Dini dengan isak tangis yang begitu memilukan.

__ADS_1


Tak hanya Dini, Andi dan mama papa Dimas juga merasa hancur karena sudah kehilangan Dimas untuk selamanya.


Tangis kesedihan memenuhi ruangan itu bersama air mata yang tak bisa berhenti menetes.


Sampai akhirnya mama Dimas pingsan dan dibawa ke ruangan lain oleh papa Dimas. Sedangkan Andi hanya berdiri di tempatnya, membiarkan Dini menumpahkan semua isi hatinya di hadapan Dimas untuk yang terakhir kalinya.


"Jangan tinggalin aku kayak gini Dimas, buka mata kamu, kita pulang sama sama, aku mohon Dimas, bangun....."


"Kamu minta aku buat selalu bahagia, tapi kamu malah ninggalin aku kayak gini, gimana aku bisa bahagia tanpa kamu Dimas, gimana aku bisa jalanin hidupku tanpa kamu, jangan pergi Dimas, aku mohon jangan pergi......"


Tak lama kemudian dua petugas rumah sakit datang untuk memindahkan Dimas ke ruang jenazah, namun Dini menahannya.


"Enggak, saya akan panggil Dokter lain buat periksa suami saya!" ucap Dini dengan masih memeluk Dimas.


"Din, Dimas harus dipindahin ke....."


"Enggak Ndi, kamu cepetan cari Dokter lain, kalau perlu kita ke rumah sakit lain, kamu tau Dimas nggak akan menyerah kan? kamu yakin dia akan bertahan kan? Dimas nggak mungkin ninggalin aku Ndi, kamu tau itu kan?"


"Aku tau kamu hancur Din, tapi semua ini udah terjadi, Dimas udah berusaha buat bertahan dan dengan perginya dia bukan berarti dia menyerah, ini yang terbaik buat dia biar dia nggak ngerasa sakit lagi Din!" ucap Andi berusaha menyadarkan Dini yang sudah kehilangan logikanya.


Dini lalu mendorong Andi dengan kuat, membuat Andi mundur beberapa langkah.


"Kamu emang bukan sahabat yang baik Ndi!" ucap Dini yang kecewa pada sikap Andi.


Dini lalu kembali memeluk Dimas, ia tidak akan membiarkan siapapun membawa Dimas pergi darinya.


"Aku nggak akan biarin kamu pergi Dimas, aku yakin kamu sedang berusaha bertahan sekarang," ucap Dini yang enggan untuk membiarkan petugas rumah sakit membawa Dimas pergi.


"Sadar Din, Dimas udah meninggal, dia udah bahagia di dunianya sendiri, dia akan sangat sedih kalau liat kamu kayak gini!" ucap Andi dengan berusaha menarik Dini yang masih memeluk Dimas.


"Enggak Ndi, Dimas nggak mungkin ninggalin aku," balas Dini yang masih berusaha meraih Dimas, namun Andi menahannya dengan erat sehingga petugas rumah sakit bisa membawa Dimas pergi.


"DIMAAAASSSS!!!!!" teriak Dini saat petugas rumah sakit membawa Dimas pergi.


Andi hanya diam dengan berusaha menahan Dini dalam dekapannya. Hatinya telah hancur berkeping keping melihat Dini seperti itu.


Sakit yang ia rasakan saat itu bukan hanya karena Dini, tapi juga karena ia harus kehilangan sahabat terbaiknya.


Dini yang berada dalam dekapan Andi tiba tiba melemah dan pingsan.


Dalam pejam matanya, Dini merasa sedang berada di sebuah bangunan besar yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Ia berjalan kesana dan kemarin mencari ujung dari bangunan itu namun tidak bisa menemukannya.


"Dimas, kamu dimana?" tanya Dini dengan membawa langkahnya ke sembarang arah.


"Dimaaass!!!!" panggil Dini, namun tak ada jawaban.


Tiba tiba ia mendengar suara pintu yang terbuka, Dinipun membawa pandangannya ke arah sumber suara dan melihat sebuah cahaya yang menyilaukan matanya.


Tak lama kemudian cahaya itu meredup bersama datangnya seseorang yang membuat Dini segera berlari menghampirinya.


Namun semakin lama Dini berlari, seseorang itu terasa semakin jauh. Entah kenapa Dini tidak bisa menjangkaunya meski ia sudah berlari dengan kencang.


"Aku akan selalu ada di sini sayang, aku akan selalu nunggu kamu di sini," terdengar suara yang samar namun Dini bisa mengenali siapa pemilik suara itu.


"Kita harus pulang Dimas, banyak hal yang harus kita lakukan," ucap Dini.


"Ini tempatku Andini, kamu yang harus pulang dan lanjutkan hidup kamu dengan baik," balas suara itu.


Dini tau itu adalah suara Dimas dan laki laki yang ada di hadapannya adalah Dimas meski ia berdiri cukup jauh darinya.


"Kenapa kamu biarin aku sendirian Dimas? kamu udah janji buat nggak akan ninggalin aku!"


"Aku nggak ninggalin kamu sayang, aku juga nggak biarin kamu sendirian, kamu harus selalu yakin dan percaya kalau aku selalu ada di hati kamu."


Dini lalu menjatuhkan dirinya dan menangis dengan menundukkan kepalanya, tiba tiba ia merasa seseorang memegang kedua bahunya dan membuatnya berdiri.

__ADS_1


Sebuah senyum kebahagiaan terlihat jelas di hadapan Dini, namun saat Dini akan menyentuhnya, senyum itu menghilang bersama menghilangnya seseorang di hadapannya.


Dini lalu membuka matanya dan melihat sang ibu yang ada di hadapannya. Dini kemudian segera bangun dan memeluk sang ibu.


"Bu, Dimas pergi Bu....... dia ninggalin Dini....." ucap Dini dengan berlinang air mata.


"Sabar Din, Dimas memang udah pergi, tapi cintanya buat kamu akan selalu ada di hati kamu," balas ibu Dini dengan memeluk erat sang anak.


"Dini nggak mau Dimas pergi Bu, Dini nggak mau......."


"Semuanya udah terjadi Din, ini yang terbaik yang sudah Tuhan rencanakan untuk kalian, kamu harus bersabar, kamu harus bisa tabah dan menerima semua ini."


Waktu berlalu dengan kesedihan yang tak kunjung usai. Acara pemakaman telah selesai dilakukan, semua peziarah sudah meninggalkan makam satu per satu, termasuk Ana, Adit dan sang mama.


Hanya ada Dini dan sang ibu, mama dan papa Dimas serta Andi yang masih berada disana.


Dini berjongkok di samping gundukan tanah dengan memegang nisan yang baru saja ditancapkan.


Takdir sudah membuat dunianya runtuh saat itu juga, meninggalkan segala rasa yang menyakitkan dalam hatinya, melemahkan dirinya dan mendorongnya jauh ke dalam jurang kesedihan.


"Ini juga nggak mudah buat mama dan papa sayang, tapi kamu harus merelakan Dimas biar Dimas bisa tenang disana," ucap mama Dimas pada Dini.


Dini hanya diam dengan air mata tanpa suara.


"Ibu yakin Dimas juga nggak mau liat kamu kayak gini, dia pasti mau kamu melanjutkan hidup kamu dengan bahagia," ucap ibu Dini.


"Gimana Dini bisa bahagia kalau nggak ada Dimas di samping Dini," balas Dini dengan suara bergetar.


"Dimas akan selalu ada di hati kamu Din, kamu tau itu," sahut Andi.


Setelah beberapa lama berada disana, ibu Dini, mama dan papa Dimaspun meninggalkan makam.


"Aku mau sendirian Ndi," ucap Dini pada Andi yang masih berada di sana.


Andi hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan pergi meninggalkan Dini sendirian. Namun Andi tidak benar benar pergi, ia berdiri tidak terlalu jauh dari tempat Dini berada.


Dini yang masih berada di samping makam Dimas kemudian membaringkan dirinya disana. Matanya menatap langit dengan tangannya yang mengusap gundukan tanah di sampingnya.


"Jangan minta aku buat bahagia Dimas, karena kepergian kamu sama dengan perginya bahagia dalam hidupku," ucap Dini dengan air mata yang keluar dari kedua sudut matanya.


"Kamu harus tau Dimas, kamu adalah kebahagiaan terbesar yang pernah aku miliki, kamu harus tau kalau aku mungkin nggak akan bisa hidup tanpa kamu."


"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? apa aku harus bahagia setelah kepergian kamu? enggak, itu nggak mungkin, aku akan ikut kamu," ucap Dini sambil menoleh ke arah gundukan di sampingnya dengan tersenyum.


"Aku akan terus disini nemenin kamu, sampai saatnya nanti aku akan ikut ke tempat kamu, jadi tunggu aku ya, aku nggak akan lama," ucap Dini dengan tersenyum namun air mata masih menetes dari kedua sudut matanya.


Dini lalu memejamkan matanya dengan masih menyentuh gundukan tanah di sampingnya. Ia berharap Tuhan akan segera membawanya pergi dari dunia yang sudah menyakitinya, ia ingin segera bertemu Dimas dan menghabiskan waktunya bersama Dimas.


Andi yang melihat hal itu dari jauh hanya bisa menahan sesak di dadanya. Rasanya begitu sakit saat melihat Dini hancur seperti itu.


"kenapa lo harus pergi Dim? kenapa lo nggak bisa bertahan buat Dini? apa yang harus gue lakuin sekarang? gue cuma bisa liat dia hancur tanpa bisa ngelakuin apa apa!" batin Andi dalam hati.


Setelah beberapa lama menunggu, Andi kemudian menghampiri Dini. Dilihatnya Dini yang sudah terpejam dengan penuh kesedihan.


"Din, kita pulang ya!" ucap Andi pelan, namun tak ada jawaban.


Andi lalu berjongkok, membopong Dini dan membawanya keluar dari area pemakaman.


Di luar area pemakaman, masih ada mobil papa Dimas yang menunggu Dini bersama mama Dimas dan ibu Dini.


Papa Dimas kemudian meminta Andi untuk mengantarkan Dini pulang ke rumah ibu Dini sesuai permintaan ibu Dini.


Andipun mengendarai mobilnya meninggalkan area pemakaman bersama ibu Dini dan Dini yang masih terpejam.


"Dini akan baik baik aja kan Ndi?" tanya ibu Dini pada Andi.


"Mungkin butuh waktu yang nggak sebentar buat Dini bisa nerima keadaan ini Bu," jawab Andi.

__ADS_1


__ADS_2