
Di tempat lain, Dimas kembali membuka folder milik Andi. Ia menerka nerka apa yang ada di dalam folder itu sehingga Andi berusaha menyembunyikannya dari orang lain.
"Andini bener, Andi nggak mungkin nyimpen video aneh aneh, terus apa dong isinya? bikin penasaran aja!" ucap Dimas dalam hati.
Dimas lalu mencoba menulis password secara acak, mulai dari hari hari ulang tahun Andi, nama lengap Andi, nama panggilan Andi dan yang terkahir adalah tanggal lahir Dini.
Access Done!
Dimas tersenyum tipis ketika ia berhasil mengetahui password folder Andi. Ia lalu membuka isi folder itu dan menemukan beberapa gambar gaun pengantin yang begitu indah di sana.
"apa maksud lo Ndi? kenapa tanggal lahir Dini? kenapa isinya gaun pengantin?" batin Dimas bertanya tanya.
Dimas lalu mencabut flashdisk Andi dari laptopnya dan segera menghubungi Andi.
"Lo dimana?" tanya Dimas tanpa basa basi.
"Di rumah, kenapa?"
"Gue kesana sekarang!"
"Ada apa? lo......"
Tuuuuttt Tuuuuttt Tuuuuttt
Sambungan terputus, Dimas sengaja memutus panggilannya dan segera bersiap untuk ke rumah Andi.
Dimas menuruni tangga dengan terburu buru hingga membuat ponsel dalam genggamannya terjatuh.
"Buru buru banget, mau kemana?" tanya papa Dimas sambil memberikan ponsel Dimas yang baru saja terjatuh.
"Ke rumah Andi pa!" jawab Dimas.
"Jangan lupa besok ketemu klien yang papa kenalin tadi!"
"Iya pa, Dimas pergi dulu!"
Sesampainya di rumah Andi, Dimas segera turun dari mobilnya dan melihat Andi yang sedang duduk di depan rumahnya.
"Ikut gue, gue mau ngomong sama lo!" ucap Dimas.
"Nggak bisa disini aja?"
"Gue nggak mau ada yang denger," jawab Dimas.
"Nggak ada orang kok, ibu sama ayah lagi nganter baju!"
__ADS_1
Dimas lalu duduk di samping Andi. Ia ingin menanyakan banyak hal pada Andi tentang kenapa ia menyimpan gambar gaun pengantin di folder yang disimpan dengan tanggal lahir Dini sebagai password nya.
Namun jika ia menanyakannya secara langsung, Andi pasti tau jika dirinya sudah membuka folder rahasia Andi yang ada di flashdisk yang ia bawa.
"Mau sampe kapan lo diem aja, katanya mau ngomong!" ucap Andi membuyarkan lamunan Dimas.
"Ndi, lo tau kan gue cinta banget sama Andini, gue...."
"Gue tau Dim, gue tau banget gimana perasaan lo sama Dini, lo nggak perlu jelasin lagi, gue pun nggak akan jelasin lagi sama lo gimana perasaan gue sama Dini," ucap Andi memotong ucapan Dimas.
"Kenapa? kenapa lo nggak mau dengerin gue ngomong? lo cemburu?"
"Apa yang gue rasain sama kayak apa yang lo rasain Dim, gue udah berusaha nahan cemburu tapi ada kalanya gue lelah sama semua itu, gue capek Dim, jadi gue mohon jangan bahas itu lagi, gue tau lo cinta sama Dini dan Dini juga cinta sama lo, lo udah dapetin dia Dim, jadi jaga dia baik baik dan bahagiain dia, udah itu aja, jangan mikirin yang lain!"
Dimas hanya diam. Ia selalu bimbang pada dirinya sendiri. Ia mencintai Dini dan ia tau bahwa Andi juga mencintai Dini. Ia takut Dini akan meninggalkannya jika ia tau tentang perasaan Andi padanya.
Namun di sisi lain, ia tidak ingin Andi pergi dari Dini, karena ia hanya percaya pada Andi. Entah apa yang akan terjadi di depan nanti, ia hanya akan bisa tenang jika ia meninggalkan Dini bersama orang yang tepat dan tak ada siapapun yang tepat untuk Dini selain Andi jika dirinya telah pergi.
"Lo inget kan apa yang sering gue bilang, kebahagiaan Dini itu yang paling penting buat gue, selagi dia bahagia sama lo itu udah cukup buat gue!" ucap Andi.
"Sampai kapan lo sembunyiin perasaan lo? lo nggak mikirin masa depan lo?"
"Biarin gue simpen perasaan gue sendiri sampe perasaan itu hilang, lo nggak perlu khawatir, gue tau posisi gue, soal masa depan gue nggak terlalu mikirin, gue ikutin takdir aja," jawab Andi.
"Sorry kalau gue sering emosi sama lo!" ucap Dimas.
"gue tau gimana perasaan lo sama dia Ndi, gue tau sebesar apa perasaan lo sama dia dan itu yang bikin gue takut, tapi gue akan percaya sama lo, gue percaya sama persahabatan kalian, persahabatan kita," ucap Dimas dalam hati.
"Dimas!!!" panggil seseorang dari sebrang jalan.
Dimas dan Andi kompak menoleh ke arah sumber suara. Disana ada Dini yang sedang berlari ke arah rumah Andi. Dimas lalu berdiri dan merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk gadisnya.
Dini berlari ke arah Dimas dan menghambur dalam pelukan Dimas. Dimas lalu mencium kening Dini dan melepaskan pelukannya.
"Kamu ngapain disini?" tanya Dini pada Dimas.
"Aku..... aku....."
"Ngomongin kerjaan," jawab Andi.
"Oh soal kerjaan!"
"Kamu nggak papa ketemu Dimas disini? ntar ibu kamu liat loh!" tanya Andi pada Dini.
"Ibu lagi nggak di rumah, aman!"
__ADS_1
"Besok aku nggak bisa anter kamu kerja sayang, aku harus ketemu klien di luar kota, kamu sama Andi nggak papa ya?"
"Lo bisa kan Ndi?" tanya Dimas pada Andi.
"Bisa aja, Dini nya mau nggak?" balas Andi bertanya pada Dini.
"Enggak, aku berangkat sendiri aja!" jawab Dini.
"Kali ini kamu nggak bisa bantah, kamu mau Andi atau pak Adi yang anterin kamu besok?" tanya Dimas dengan memegang kedua bahu Dini dan menatapnya.
"Kok bawa bawa pak Adi? ya udah deh sama Andi aja!"
"Gitu dong, anak manis," balas Dimas dengan mengusap rambut Dini.
Biiiippp Biiippp Biiippp
Ponsel Andi berdering, panggilan dari ibunya.
"Halo Ndi, kamu masih di rumah?"
"Di rumah bu, kenapa?"
"Kalau Bu Sri ambil baju, ambilin yang ada di meja ibu ya yang warna merah."
"Diambil sekarang bu?"
"Iya, ini ibu masih dijalan bentar lagi nyampe rumah, takutnya Bu Sri udah kesitu ibu belum nyampe'!"
"Oh, iya bu!"
"Lo harus pulang deh kayaknya!" ucap Andi pada Dimas.
"Kenapa?"
"Ibu mau pulang, kalau ibu liat lo sama Dini disini bisa bisa ibu bilang ibunya Dini!" jawab Andi.
Dimas menganggukkan kepalanya, setelah berpelukan dan mencium kening Dini, Dimas lalu meninggalkan rumah Andi.
Setelah Dimas pergi, Dini juga akan pergi, namun Andi menahan tangan Dini.
"Lepasin, aku masih marah sama kamu!" ucap Dini dengan menarik tangannya.
"Aku minta maaf Din, aku...."
"Besok nggak perlu nganter aku, anter aja Anita, aku bisa berangkat sendiri!" ucap Dini lalu berlari pulang.
__ADS_1
Ya, Dini masih kesal pada Andi, namun ia menyembunyikannya dari Dimas.