Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Andi dan Adit (3)


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Andi sedang bersiap untuk menemui Dini di rumahnya.


Setelah selesai bersiap, ia pun segera turun untuk meminta izin sang mama. Saat ia baru saja menuruni tangga, Adit juga keluar dari kamarnya dan ikut turun bersama Andi.


"Anak anak mama mau kemana ini, cakep cakep banget!"


"Adit mau ngajak Andi keluar bentar ma, nggak papa kan?"


"Jangan pulang terlalu malem ya sayang, Andi harus banyak istirahat dulu," jawab sang mama.


"Iya ma, nggak akan lama kok, Adit pergi dulu ma!" balas Adit sambil mencium kening sang mama.


"Hati hati sayang, jaga adik kamu ya!"


"Iya ma."


Setelah Andi dan Adit berpamitan pada sang mama, mereka segera keluar dari rumah menggunakan mobil Adit.


Kali ini Andi duduk di kursi depan, di sebelah Adit. Ia tidak ingin membuat kakaknya itu merasa menjadi supir pribadinya.


"Tumben lo di depan!" ucap Adit.


"Lo lebih suka gue di belakang? mau gue pindah?"


"Nggak usah, gue bukan supir lo!" balas Adit.


Adit lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah Dini.


Sesampainya di depan rumah Dini, Adit yang hendak turun dari mobil segera dicegah oleh Andi.


"Lo mau ngapain?" tanya Andi dengan memegang tangan Adit kuat kuat


"Turun lah, nggak boleh?"


"Enggak, lo bilang mau ninggalin gue di sini kan?"


"Gue cuma mau nyapa Dini, posesif banget sih!"


"Lo mau gue bilang mama soal kalung itu? walaupun nggak ada bukti, mama pasti percaya sama gue hehe...."


"Oke oke, gue pergi, kabarin gue kalau mau pulang!"


"Gitu dong," balas Andi dengan senyum penuh kemenangan lalu keluar dari mobil Adit.


Andi masih berdiri di depan rumah Dini sampai mobil Adit benar benar menghilang dari pandangannya.


Untuk beberapa saat, Andi menatap rumah di depannya. Rumah sederhana yang menyimpan banyak kenangan indah dalam hidupnya. Di sana ia tinggal dan tumbuh dengan penuh kasih dari kedua orang tuanya.


"ayah, ibu, sampe kapanpun, kalian tetap orang tua Andi," ucap Andi dalam hati.


"Andi!!" panggil Dini setengah berteriak.


Andipun segera membalikkan badannya dan menangkap Dini yang berlari ke arahnya lalu memeluknya.


"Kamu ngapain di sini? sama siapa?" tanya Dini setelah melepaskan Andi dari pelukannya.


"Adit yang nganterin aku," jawab Andi.


"Terus kak Adit nya mana?" tanya Dini sambil celingak celinguk mencari keberadaan Adit.


"Jadi Adit lebih penting daripada aku?"


"Hehe.... nggak gitu, aku seneng banget kamu ke sini, ayo masuk!"


Dini lalu menggandeng tangan Andi untuk diajak masuk ke dalam rumah.


"Malem Bu," sapa Andi pada ibu Dini.


"Malem Ndi, kamu udah sehat?"


"Sudah Bu, tapi belum boleh masuk kerja dulu," jawab Andi.


"Iya, kamu harus bener bener sehat dulu!"


"Dini sama Andi mau ke kamar dulu ya Bu!" ucap Dini yang hanya dibalas anggukan kepala ibunya.


Di dalam kamar, Andi duduk di kursi belajar Dini, sedangkan Dini duduk di tepi ranjangnya.


"Aku beberapa kali hubungin Anita nggak bisa, kamu tau kenapa?"


"Jadi kamu ke sini cuma buat nanyain Anita? kenapa nggak ke rumahnya aja langsung?"


"Enggak gitu, aku ke sini karena aku kangen sama kamu."


"Alesan!"


"Beneran, tapi sebenarnya Adit yang ngajak aku ke sini!"


"Kak Adit? kok bisa?"


Andipun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi sebelum akhirnya Adit mengajak Andi untuk bertemu Dini.


"Jadi kak Adit udah punya pacar? pacar beneran?" tanya Dini tak percaya.


"Dia sih nggak bilang iya, tapi dilihat dari responnya kemungkinan besar dia emang punya pacar," jawab Andi.


"apa pacar kak Adit itu Jenny? enggak, jangan, kak Adit pasti bisa dapet yang lebih baik, jangan Jenny pokoknya." batin Dini dalam hati.


"Kalung itu bagus banget Din, dia pasti sayang banget tuh sama pacarnya!" ucap Andi.


"Dan pacarnya pasti seneng banget ya kan?"


"Apa semua cewek suka dikasih perhiasan Din?"


"Mmmm.... mungkin nggak semua, tapi sebagian besar cewek suka dikasih hadiah, dikasih kejutan dan hal hal manis kayak gitu, kalau menurutku sih nggak harus perhiasan mewah, hal hal sederhana juga bisa bikin bahagia kok," jelas Dini.

__ADS_1


"Contoh hal sederhana?"


"Kayak sekarang, kamu tiba tiba dateng ke sini, itu udah bikin aku bahagia banget," jawab Dini.


"Dimas sering kasih kamu hadiah dan kejutan, apa itu yang bikin kamu bahagia sama dia?"


"Sebenarnya kebahagiaan nggak bisa diukur dari itu Ndi, aku bahagia sama Dimas karena kita punya perasaan yang sama, hadiah dan kejutan yang Dimas kasih buat aku itu sebagai bentuk perhatiannya dia buat aku, itu semacam bonus buat aku, karena tanpa kejutan dan hadiah pun perasaan aku nggak akan berubah," jawab Dini.


"Kamu sayang banget sama dia?"


Dini mengangguk pasti dengan senyum manisnya.


"Suatu saat kamu pasti juga akan tau gimana rasanya mencintai seseorang dari hati, tanpa paksaan dan tanpa alasan kenapa rasa cinta itu bisa tumbuh di hati kamu," ucap Dini.


"aku tau Din, aku tau gimana rasanya mencintai dari hati, hati yang selalu patah sebelum sempat memiliki, hati yang selalu terluka sebelum sempat terungkapkan, aku mencintai kamu bukan cuma tanpa alasan Din, tapi juga tanpa batas yang aku tak pernah tau bagiamana akhirnya," batin Andi dalam hati.


"Soal Anita, aku udah hubungin dia waktu kamu di rumah sakit, tapi nggak bisa, aku ke rumahnya dan asisten rumah tangganya bilang dia lagi di luar kota, dia ikut papanya ke desa terpencil yang nggak ada akses internet nya sama sekali," ucap Dini.


"Dimana? berapa lama?"


"Aku juga nggak tau tepatnya dimana, tapi asisten rumah tangganya bilang sih dia di sana sekitar satu bulan."


"Lama juga ya!"


"Kenapa? kamu sedih? kangen sama dia?"


Andi mengangguk pelan dengan menundukkan kepalanya.


"Apa nggak cukup ada aku di sini?"


Andi hanya tersenyum kecil lalu mengacak acak rambut Dini.


"Ngomong ngomong, kamu tau nggak siapa pacar kak Adit?" tanya Dini.


"Nggak tau lah, aku nggak sekepo itu!"


"Kayaknya kamu harus lebih deket deh sama kak Adit, biar kamu tau siapa pacarnya."


"Penting banget ya?"


"Iya dong, biar aku bisa godain kak Adit di kantor hehe....."


"Enggak, aku nggak mau."


"Kenapa?"


"Aku nggak suka kamu deket deket sama dia!"


"Iiissshhh, kamu ini sahabat apa pacar ku sih, posesif banget!"


Andi hanya tersenyum canggung mendengar ucapan Dini.


Mereka lalu membicarakan banyak hal. Tak jarang mereka tertawa puas saat mengingat masa lalu mereka. Begitu banyak hal yang sudah mereka berdua lewati. Tangis dan bahagiapun sudah mewarnai kebersamaan mereka dan hal itu lah yang menguatkan persahabatan mereka.


Persahabatan? apakah bisa disebut bersahabat jika salah satu memendam perasaan cintanya begitu lama? Entahlah, mereka masih bersama dalam sebuah hubungan yang mereka sebut "sahabat".


**


Adit memeluknya dengan erat, namun ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di bagian perutnya.


"Dia udah berapa bulan di sana? dia semakin keliatan besar!"


"Baru masuk 2 bulan Dit, emang udah keliatan besar?"


"Enggak sih, tapi aku bisa ngerasain kalau ada dia di sana," jawab Adit sambil mengusap perut Ana.


"Jadi, kapan kita liburan?" tanya Ana lalu menggandeng tangan Adit untuk diajak masuk ke dalam rumah.


"Itu yang mau aku bahas sekarang, aku sebenarnya udah cuti dari kemarin, tapi aku cuma di rumah, aku pingin ngabisin waktu sama mama dan adikku An."


"Apa dia udah tinggal sama mama sekarang?"


"Iya, kita udah tinggal sama sama sekarang."


"Syukurlah kalau gitu, kamu emang harus luangin banyak waktu kamu buat mama dan adik kamu!"


"Kamu nggak marah?"


"Kenapa aku harus marah? kamu lagi bahagia kan sekarang?"


Adit mengangguk ragu.


"Aku bahagia tapi....."


"Aku baik baik aja kok, kita bisa liburan kapan pun kamu ada waktu, nggak harus dalam waktu dekat ini," ucap Ana dengan menggenggam tangan Adit.


"Makasih An, makasih udah mengerti aku," ucap Adit lalu memeluk Ana.


"Harusnya kamu nggak di sini sekarang, mama sama adik kamu pasti lebih seneng kalau ada kamu di rumah," ucap Ana.


"Kamu nggak kangen sama aku?"


"Enggak, kenapa aku harus kangen sama kamu?"


"Kamu udah balik kayak dulu?"


"Maksud kamu?"


"Ana yang aku kenal kemarin Ana yang cengeng dan manja banget sama aku, bukan Ana yang wonder woman kayak dulu!"


"Aku cengeng? manja? bukan aku mungkin!"


Adit hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum lalu kembali memeluk Ana.


"Aku punya sesuatu buat kamu," ucap Adit.

__ADS_1


"Apa?"


Adit lalu mengambil kotak perhiasan kecil dari dalam sakunya dan menunjukkannya pada Ana.


"Itu apa?"


Adit lalu menarik tangan Ana dan menaruhnya dalam genggaman Ana.


"Boleh aku buka?" tanya Ana yang dibalas anggukan kepala Adit.


Ana lalu membukanya dan melihat sebuah kalung yang begitu indah.


"Dit, ini....."


Adit lalu mengambilnya dan memakaikannya di leher Ana.


"Ini bukan apa apa, ini cuma hadiah karena aku lagi bahagia," ucap Adit.


"Aku yakin kalung ini seharga mobil, iya kan?"


"Apapun akan aku kasih buat kamu An, aku akan pastiin kamu selalu bahagia sama aku," ucap Adit tanpa menjawab pertanyaan Ana.


"Apa aku pantas pake kalung ini? aku cuma cewek....."


"Sssttt..... kalung ini cuma ada satu dan kalung ini cuma buat kamu," ucap Adit memotong ucapan Ana.


Ana hanya diam dengan menatap kedua mata laki laki dihadapannya itu.


"maaf Dit, aku nggak pantas buat kamu, aku cuma cewek kotor, aku cuma anjing kotor yang kamu pungut dari tempat sampah, aku nggak akan biarin hati ini berharap lebih karena aku sadar kita berada di dunia yang berbeda," ucap Ana dalam hati.


Setelah beberapa lama di rumah itu, Adit lalu memutuskan untuk menjemput Andi di rumah Dini.


"Aku harus balik An, kalau udah ada waktu, aku akan ke sini lagi!" ucap Adit.


Ana hanya menganggukkan kepalanya dan menghindar ketika Adit akan mencium keningnya.


"Kenapa?" tanya Adit.


"Kamu pulang aja, aku udah ngantuk," Jawab Ana sambil berpura pura menguap lalu segera masuk meninggalkan Adit yang masih berdiri di depan pintu.


Tanpa Adit tau, Ana masuk ke dalam kamar dengan kedua sudut mata yang mulai berkaca kaca. Ia lalu melepas kalung pemberian Adit dan menyimpannya dalam kotak kecil kemudian menaruhnya di dalam rak lemari.


"sadar Ana, sadar, Adit itu kasian sama kamu, kalaupun dia tulus, bagaimana sama mamanya? jangan rusak hubungan anak dan ibu yang begitu hangat itu!" ucap Ana dalam hati.


**


Adit sudah menunggu Andi selama 15 menit di depan rumah Dini, namun Andi tak kunjung keluar.


Aditpun memutuskan untuk menghubungi Andi.


"Halo, mau sampe kapan lo di sana?"


"Sampe gue bosen, sayangnya gue nggak bisa bosen kalau di sini," jawab Andi yang saat itu masih berada di kamar Dini.


"Lo nggak inget mama bilang jangan terlalu malem, jadi lo mau keluar sekarang atau gue yang masuk ke sana?"


"Oke oke, gue keluar sekarang!" balas Andi lalu mengakhiri panggilan Adit begitu saja.


Andi lalu keluar bersama Dini. Di depan rumah Dini, sudah ada Adit yang menunggu di depan mobilnya.


"Hai Din!" sapa Adit.


"Kak Adit dari tadi?"


"Lumayan, dia emang biasa nggak tau waktu gitu ya kalau lagi keluar?" tanya Adit pada Dini namun pandangannya ke arah Andi.


"Tuh, kakak kebanggan kamu!" balas Andi kesal.


"Udah, jangan berantem di sini, pulang sana!" ucap Dini dengan mendorong punggung Andi, namun Andi segera berbalik, memegang kedua tangan Dini dan menariknya, membuat Dini terhempas ke dalam pelukan Andi.


"Jaga diri baik baik, hubungin aku kalau ada apa apa!" ucap Andi berbisik lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan berjalan masuk ke dalam mobil.


Dini hanya berdiri terpaku di tempatnya, otaknya masih berusaha menjelaskan apa yang baru saja terjadi.


"Din, kakak pulang dulu ya!" ucap Adit membuyarkan lamunan Dini.


"Ii...iya... iya kak, hati hati," balas Dini terbata bata.


Adit hanya tersenyum kecil lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Dini.


"Lo belajar adegan kayak gitu dari mana sih?" tanya Adit.


"Adegan apa?" tanya Andi tak mengerti.


"Itu tadi, yang barusan gue liat, geli banget, kayak liat sinetron!"


"Cowok yang nggak pernah pacaran kayak lo nggak akan pernah ngerti hal hal yang romantis kayak gitu!"


"aahh sialan, nusuk banget ucapannya," batin Adit dalam hati.


"Romantis kalau udah ada yang punya ya ujung ujungnya jadi menangis hahaha....." balas Adit yang tak mau kalah.


"kenyataan yang menyakitkan," batin Andi dalam hati.


"Lo dari mana? ketemu pacar lo ya?" tanya Andi.


"Sejak kapan lo jadi kepo sama urusan gue!"


"Sejak gue jadi adik lo, Hyung!"


"Apa? hyung?"


"Iya hahaha...."


"Udah gila lo ya!"

__ADS_1


Andi hanya tertawa menertawakan dirinya sendiri yang memanggil Adit dengan sebutan "Hyung".


Selama perjalanan, mereka tak bisa berhenti berdebat. Ada saja hal yang bisa mereka debatkan bahkan hal hal yang kecil dan tidak penting. Mereka memang seperti kucing dan tikus, namun itu lah yang membuat mereka tanpa sadar menjadi semakin dekat.


__ADS_2