
Pagi kembali menyapa, Anita mengerjapkan matanya saat cahaya mentari memasuki kamarnya.
"apa aku cuma mimpi?" tanya Anita dalam hati.
Anita melihat ke arah jam dinding di kamarnya dan terlihat jam sudah menunjukkan pukul 9 tepat. Entah kenapa pagi itu ia merasa malas untuk beranjak dari tidurnya. Ia pun memilih untuk tetap berada di dalam selimutnya.
Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk, bibi masuk membawa bubur untuk Anita.
"Anita hari ini mau di rumah aja bi, Anita males kemana mana," ucap Anita pada bibi.
"Iya non, ini dimakan dulu buburnya," balas bibi sambil memberikan semangkuk bubur yang masih hangat.
"Makasih Bi," ucap Anita.
Bibi tersenyum dengan menganggukan kepalanya.
"Non Anita udah ambil keputusan?" tanya bibi yang membuat Anita menghentikan suapannya.
"Keputusan apa maksud bibi?"
"Menurut bibi, nggak ada salahnya kalau non Anita menikah sama den Andi, toh bapak juga suka sama den Andi, dia laki laki yang baik non," jawab bibi yang membuat Anita menaruh mangkuk di tangannya ke meja.
"Jadi aku nggak mimpi," ucap Anita pelan dengan memegang perutnya.
"Tadi pagi den Andi kesini, nanyain keadaan non Anita, bibi bilang non Anita masih tidur, jadi den Andi berangkat ke home store dulu," ucap bibi.
"Anita nggak mau ketemu Andi bi," ucap Anita.
"Kenapa non? kalau memang den Andi yang melakukan, biarkan dia bertanggung jawab!"
Anita menghela nafasnya dan tersenyum tipis. Ia sadar, apa yang terjadi padanya adalah murni karena kesalahannya sendiri.
Ia tidak bisa menyalahkan Andi atas apa yang sudah terjadi. Ia sangat mengenal Andi, ia tau seperti apa Andi menjaganya dengan baik.
"Ini semua salah Anita bi," ucap Anita yang membuat bibi semakin tidak mengerti.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumah Anita, Anitapun beranjak dari ranjangnya dan melihat ke arah luar melalui jendela kamarnya.
"Anita nggak mau ketemu Andi bi, bibi usir dia!" ucap Anita dengan mendorong bibi agar keluar dari kamarnya untuk mengusir Andi.
Bibipun keluar, namun bukannya mengusir Andi, bibi malah meminta Andi untuk membicarakan masalahnya dengan Anita baik baik.
Pintu kamar Anita kembali diketuk, Andi masuk dan menghampiri Anita.
"Kenapa kamu kesini lagi?"
Andi hanya tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Anita, namun Anita melangkah mundur menjauh dari Andi.
Andi menghela nafasnya dengan berat lalu duduk di tepi ranjang Anita.
"Apa yang harus aku lakuin supaya aku bisa jadi suami yang baik buat kamu?" tanya Andi.
"Nggak ada, aku nggak butuh kamu buat jadi suami aku," jawab Anita.
"Kenapa? apa karena aku bukan Dimas?" tanya Andi.
"Kamu nggak perlu merasa bertanggung jawab Ndi, ini bukan salah kamu!" jawab Anita.
"Nit, kamu sekarang mengandung anakku, gimana bisa kamu bilang aku nggak perlu bertanggung jawab!"
"Aku akan gugurin bayi ini Ndi, anggap semua ini nggak pernah terjadi dan...."
"Sebelum kamu lakuin itu, aku akan ceritain semuanya sama papa kamu dan mau nggak mau kita akan menikah!" ucap Andi dengan tegas.
"Kamu jangan gila Ndi, kamu punya masa depan yang harus kamu jalani, kamu punya mimpi yang harus kamu raih, jangan jadiin masalah ini penghalang buat raih mimpi kamu Ndi!"
"Aku bener bener nggak ngerti sama jalan pikiran kamu, apa kamu pikir aku bisa jalani hidupku dengan baik setelah aku lari dari tanggung jawab? enggak Nit, aku akan hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan seumur hidupku!"
Anita tersenyum tipis lalu duduk di sebelah Andi. Ia berniat untuk menceritakan apa yang sebenarnya ia rencanakan malam itu, dengan begitu ia berpikir jika Andi akan berhenti untuk merasa bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi dan dengan begitu ia bisa menggugurkan bayinya.
"Ini semua salah aku," ucap Anita.
"Maksud kamu?" tanya Andi tak mengerti.
"Malam itu, di ruangan home store kamu yang baru, aku sengaja bikin kamu dan Dini keluar dari sana, aku bawa 4 gelas minuman dan satu minuman itu aku kasih obat perangsang, kamu pasti tau seharusnya siapa yang minum minuman itu!" ucap Anita yang membuat Andi terkejut.
"Dimas?" terka Andi.
Anita menganggukan kepalanya.
"Tapi tiba tiba kamu datang dan minum minuman yang aku kasih buat Dimas," lanjut Anita.
__ADS_1
"Jadi aku minum minuman yang udah kamu kasih........"
"Iya, harusnya itu buat Dimas, harusnya rencanaku bisa berjalan lancar kalau kamu nggak tiba tiba datang malam itu, harusnya Dimas yang bertanggung jawab, harusnya Dimas yang menikahi aku, bukan kamu!"
Andi menggelengkan kepalanya tak percaya mendengar penjelasan Anita. Ia tidak mengira Anita akan melakukan hal sejauh itu.
"Aku nggak tau kamu emang terlalu baik atau bodoh sampe kamu nggak menyadari hal itu, sebagai temen kamu dari SMA, aku kenal kamu dengan baik Ndi, kamu nggak akan ngelakuin itu sama aku kalau bukan karena pengaruh obat itu!" ucap Anita.
Andi menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi malam itu.
Anita benar, ia terlalu bodoh untuk bisa menyadari hal itu. Karena rasa bersalahnya, ia tidak sempat memikirkan hal itu sebelumnya. Yang ia tau, ia sudah merusak masa depan temannya dan itu membuatnya dihantui dengan rasa bersalah setiap harinya.
"Karena kamu sekarang udah tau yang sebenarnya, jadi berhenti merasa kalau kamu harus bertanggung jawab karena kejadian malam itu, kamu bisa lupain semuanya dan anggap semua itu nggak pernah terjadi," ucap Anita.
"Tapi aku udah bikin kamu hamil Anita!"
"Itu bukan masalah, aku bisa atasi sendiri," ucap Anita.
"Dengan cara menggugurkannya?" tanya Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Anita.
"Enggak, aku nggak akan biarin kamu ngelakuin itu, aku akan tetap menikahi kamu karena kamu udah mengandung anakku Nit!"
"Hentikan kebodohan kamu Ndi, apa yang akan keluarga kamu bilang kalau mereka tau tentang hal ini, mereka akan kecewa sama kamu dan ini juga akan mempengaruhi bisnis kamu, pikirkan baik baik Ndi, kamu pasti akan setuju sama aku!"
"Sampai kapanpun aku nggak akan setuju sama keputusan gila kamu ini Anita!"
"Ini untuk kebaikan kita Ndi, tolong kamu pikir baik baik!"
"Kamu yang harus berpikir lebih baik Nit, ada nyawa yang tinggal dalam diri kamu sekarang dan dia adalah bagian dari kita, aku dan juga kamu, dia berhak buat tetap hidup Nit!"
"Tapi....."
"Kalau kamu nggak bisa merubah keputusan kamu, aku akan bener bener kasih tau papa kamu sekarang juga!" ucap Andi dengan mengambil ponsel Anita yang ada di meja.
"Enggak Ndi, jangan, aku mohon jangan!" ucap Anita dengan menahan tangan Andi.
Andi lalu memegang kedua bahu Anita dan mendudukkan Anita di tepi ranjang, menatap Anita dengan dalam, berharap Anita akan merubah keputusannya.
"Apa yang kita lakukan adalah kesalahan kita Nit, dia sama sekali nggak bersalah, jadi biarkan dia hidup dan bahagia, aku mohon sama kamu," ucap Andi bersungguh sungguh.
"Kamu yakin? kamu nggak akan menyesal?" tanya Anita.
"Aku yakin Nit, aku nggak akan menyesalinya," jawab Andi penuh keyakinan.
"Kita harus buat kesepakatan!" ucap Anita.
"Kesepakatan apa maksud kamu?" tanya Andi.
"Aku akan jaga bayi ini sampai dia lahir, tapi nggak akan ada pernikahan diantara kita dan jangan sampai papa tau tentang hal ini," jawab Anita.
"Dan setelah dia lahir?"
"Terserah kamu, kamu yang menginginkan bayi ini, bukan aku, tugas aku cuma jaga dia sampai dia lahir, setelah itu dia jadi milik kamu, aku nggak akan pernah mau ikut campur lagi!"
"Kamu sadar apa yang udah kamu ucapin?"
"Aku sadar dan ini kesepakatan yang harus kamu setujui atau aku akan gugurin bayi ini sekarang juga!" jawab Anita yakin.
"Oke, asal kamu bisa jaga dia dengan baik, aku setuju," ucap Andi.
Anita menganggukan kepalanya lalu mengulurkan tangannya pada Andi.
Dengan ragu Andi menerima uluran tangan Anita. Ia tidak punya cara lain selain menyetujui kesepakatan yang Anita buat. Ia tidak ingin terjadi hal buruk pada bayi dalam kandungan Anita.
"Nggak akan ada pernikahan dan aku nggak mau tau apapun tentang bayi ini setelah dia lahir, itu akan jadi tanggung jawab kamu dan jangan pernah libatin aku tentang apapun yang terjadi sama bayi ini nantinya," ucap Anita.
"Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya dan kapanpun kamu berubah pikiran, kamu bisa datang kapanpun kamu mau," balas Andi.
Anita hanya tersenyum tipis lalu melepaskan tangan Andi dari genggamannya.
"Siapa lagi yang tau masalah ini selain aku sama kamu?" tanya Anita.
"Bibi?"
"Biar aku yang jelasin semuanya sama bibi," ucap Anita.
"Kamu harus bener bener jaga dia dengan baik Nit, kalau sampai terjadi sesuatu aku nggak akan ragu buat ceritain semuanya sama papa kamu, aku yakin papa kamu akan percaya sama aku!" ucap Andi dengan tegas.
Anita hanya menganggukkan kepalanya lalu meminta Andi untuk pergi.
"Aku akan sering kesini, kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa bilang sama aku!" ucap Andi sebelum ia pergi.
__ADS_1
Anita kembali menganggukan kepalanya dengan mendorong Andi keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamarnya rapat rapat.
"aku nggak tau apa yang udah aku lakuin, aku nggak tau apa ini bener atau salah, aku cuma nggak mau papa tau, aku cuma perlu jaga bayi ini 9 bulan dan setelah itu aku akan memulai semuanya dari awal lagi," batin Anita dalam hati.
Ia tersenyum meski dalam hatinya ada sesuatu yang terasa perih.
**
Jam menunjukkan pukul 4 sore, Dini sedang berada di kamarnya, menatap ke arah luar melalui jendela kamarnya.
Langit sore itu tampak gelap, beberapa kali terdengar petir menyambar meninggalkan kilatan cahaya diantara hamparan mendung di langit.
"Udah mulai musim hujan ya," ucap Dini dengan mengusap perutnya.
Dini lalu mengambil ponselnya dan mengenakan handsfree di telinganya untuk mendengarkan lagu lagu kesukaannya.
Benar saja, tak lama kemudian tetes hujan mulai tampak berjatuhan, rintiknya mulai membasahi dedaunan yang ada di depan kamar Dini.
Dini berusaha untuk tetap tenang, ia mengusap perutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari tetes hujan yang semakin padat.
Entah apa yang membuat Dini tiba tiba melepas handsfree yang terpasang di telinganya, ia lalu membuka jendela kamarnya, membiarkan angin membawa tetes hujan membasahi tangannya yang menjuntai keluar dari jendela.
Dini tersenyum merasakan tetes hujan yang perlahan membasahi tangannya, membuat Dini semakin ingin merasakan sentuhan hujan di seluruh tubuhnya.
Dini lalu keluar dari kamar, membuka pintu utama rumahnya dan berjalan pelan ke arah halaman rumah.
Untuk pertama kalinya, Dini membawa dirinya menghampiri hujan yang selama ini selalu dihindarinya.
Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya basah oleh tetes hujan yang mulai membasahi dirinya.
Ia berdiri di bawah hujan, mendongakkan kepalanya, memejamkan matanya dengan mengusap perutnya yang semakin membuncit.
Ia bahkan tidak menyadari suara mobil yang masuk ke garasi.
Dimas yang melihat Dini berdiri di bawah hujan segera berlari menghampiri Dini dan menggendong Dini untuk dibawa masuk ke dalam rumah.
Dini yang begitu terkejut hanya diam saat menyadari kepanikan Dimas.
"Dimas turunin aku!" ucap Dini dengan memukul dada Dimas.
"Kamu kenapa berdiri di sana sayang?" tanya Dimas yang masih menggendong Dini ke dalam kamar.
Dimas membawa Dini masuk ke kamar mandi, menurunkan Dini di bathtub dan mengisinya dengan air hangat.
"Kamu baik baik aja? apa yang kamu rasain?" tanya Dimas yang terlihat panik, namun Dini hanya tertawa kecil melihat kepanikan Dimas.
"Aku nggak papa Dimas, aku baik baik aja," jawab Dini.
"Kamu.... kamu sengaja keluar buat....."
"Iya, aku sengaja keluar buat main hujan," ucap Dini dengan tersenyum manis.
Dimas terduduk di lantai dengan membelai wajah istrinya itu.
"Kamu bikin aku khawatir sayang," ucap Dimas dengan mengusap perut Dini.
"Maaf bikin kamu khawatir," balas Dini dengan membuka jas yang masih dipakai Dimas.
Dimas lalu membuka jas dan kemejanya, mereka lalu mandi bersama.
"Aku bikinin kamu susu hangat dulu," ucap Dimas setelah mereka selesai mandi.
Tak lama kemudian Dimas kembali dengan membawa susu hangat untuk Dini.
"Kenapa kamu tiba tiba main hujan? kamu nggak papa?" tanya Dimas pada Dini.
"Aku juga nggak tau kenapa, tiba tiba pingin ngerasain hujan aja," jawab Dini.
"Kamu udah nggak ngerasain apa yang kamu takutkan dulu? kamu beneran baik baik aja?"
"Aku baik baik aja kok, aku nggak ngerasain apa apa lagi, yang ada aku malah pingin main hujan lagi," jawab Dini.
"Udah cukup main hujannya, sekarang kamu masuk ke dalam selimut biar hangat," ucap Dimas sambil menarik selimut untuk menghangatkan Dini.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan menyandarkan kepalanya di dada Dimas.
Ia juga tidak mengerti apa yang membuatnya tiba tiba ingin bermain di bawah hujan, ia bahkan lupa apa yang ia rasakan dulu yang membuatnya takut pada hujan.
"apa mungkin karena kamu?" tanya Dini dalam hati sambil mengusap perutnya.
"Aku seneng kalau kamu bisa mengatasi ketakutan kamu sayang, tapi jangan terlalu lama main hujan kalau aku nggak di rumah, aku nggak mau kamu sakit," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.
__ADS_1
Dini hanya menganggukkan kepalanya dan memeluk Dimas manja.