
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Keadaan home store masih ramai karena beberapa pegawai Andi masih membereskan barang barang di lantai satu.
Sedangkan di lantai dua hanya ada Andi dan Dini. Mereka masih terdiam dengan saling menatap.
Tiba tiba ponsel Dini berdering, membuat Andi segera melepaskan tangannya dari Dini karena terkejut. Namun saat Dini akan melangkah mengambil ponselnya, Andi kembali menarik tangan Dini dan memeluknya.
Dini hanya diam dengan segala rasa dalam hatinya. Perlahan, tangannya mulai bergerak dan melingkar di badan Andi. Mereka saling memeluk erat tanpa berucap sampai beberapa lama.
"Makasih Din," ucap Andi lalu memberikan kecupan singkat di kening Dini.
Dini hanya tersenyum dengan menatap sahabatnya itu. Entah kenapa hatinya terasa berdebar. Debaran indah yang membuatnya nyaman dan bahagia.
Dini lalu kembali memeluk Andi, entah kenapa rasanya menyenangkan bisa memeluk sahabat yang disayanginya itu.
"Makasih karena udah kasih aku banyak hal indah," ucap Dini.
"Aku emang nggak bisa kasih semuanya yang kamu mau Din, tapi aku akan kasih hidupku buat kamu, kebahagiaan dan hal indah yang memang pantas kamu dapatkan," ucap Andi.
Dini lalu melepaskan Andi dari pelukannya dan mencium pipi Andi dengan singkat lalu kembali ke kursinya dan menerima panggilan dari Dimas, membiarkan Andi yang masih berdiri di tempatnya dengan jantung yang berdetak sangat cepat.
Andi seakan membeku, ia bahkan tidak bisa merasakan apapun selain bahagia dalam hatinya. Hatinya yang selalu layu kini seperti disiram dan mekar tiba tiba.
"Kamu dimana sayang? masih di kantor?" tanya Dimas pada Dini.
"Aku di home store Andi, tadi ke sini sama kak Adit," jawab Dini.
"Papa juga ke sana tadi, kamu ketemu papa?"
"Iya, waktu aku baru nyampe aku liat papa udah mau pulang."
"Ya udah kalau gitu salam buat Andi ya sayang, kamu jangan pulang terlalu malem!"
"Oke."
Dini lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dan tersenyum tipis melihat Andi yang masih berdiri di tempatnya seperti patung.
"Dimas titip salam buat kamu," ucap Dini yang membuyarkan lamunan Andi.
"Dimas, iya, ada Dimas, nggak usah baper Ndi, itu tadi bukan apa apa," batin Andi dalam hati lalu kembali duduk di hadapan Dini.
"Oh iya, tadi om Tama juga bilang gitu, dia kasih 2 set komputer baru lewat om Tama," ucap Andi.
"Aku seneng kalian nggak berantem lagi, rasanya damai kalau kita udah nggak ada masalah lagi!"
Andi hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum canggung.
"Mau masuk ke ruanganku?" tanya Andi
"Boleh," balas Dini.
Andi lalu mengajak Dini turun dan masuk ke sebuah ruangan di lantai satu.
"Ini ruang kerja kamu?" tanya Dini.
"Iya dan lampu ini aku taruh di sini," jawab Andi sambil menaruh lampu hias pemberian Dini.
"Kenapa nggak di atas aja ruang kerjanya?" tanya Dini.
"Di atas udah ada 2 kamar Din, kalau aku bikin ruangan lagi di sana, balkonnya pasti nggak ada, karena kamu suka ke balkon jadi aku bikin ruang kerjaku di sini dan balkonnya bisa dipake buat santai," jawab Andi.
"Jadi kamu tetep pertahanin balkon itu karena aku suka kesana atau karena buat tempat santai?"
"Karena aku tau kamu suka liat pemandangan dari atas, jadi aku pertahanin balkon itu karena kamu," jawab Andi.
"So sweet banget sih, pantesan orang orang ngira kita pacaran," ucap Dini.
Malam semakin larut, keadaan home store juga sudah lebih sepi dibandingkan tadi. Beberapa karyawan Andi sudah pulang dan beberapa lainnya sudah masuk ke kamar mereka di lantai dua.
"Papanya Dimas tadi kenapa ke sini? nggak mungkin cuma buat nganterin hadiahnya Dimas kan?" tanya Dini penasaran.
"Om Tama emang ke sini sama orang suruhan Dimas yang bawa komputer itu, tapi om Tama ke sini bukan buat itu, om Tama kasih aku berkas tentang clothing arts ini," jawab Andi.
"Emangnya kenapa sama clothing artisnya?"
"Om Tama udah percayain aku buat handle clothing arts ini sendiri tanpa campur tangan Dimas lagi dan secara hukum clothing arts ini udah atas namaku," jawab Andi.
"Kamu beruntung bisa kenal Dimas dan keluarganya Ndi, mereka semua emang baik banget," ucap Dini.
"Kamu bener Din, aku juga nggak mau ngerasa berhutang budi sama Dimas, gimanapun juga modal awal clothing arts ini dari aku dan Dimas, tapi Dimas sama om Tama nggak mau nerima apapun dari aku."
"Jadi gimana?"
__ADS_1
"Dimas nggak mau nerima modal yang dia kasih buat clothing arts, dia minta aku buat donasiin uang itu ke yayasan panti asuhan yang sering mama datengin, jadi aku akan jadi donatur tetap yayasan itu tapi atas nama Dimas," jawab Andi menjelaskan.
"Kalian emang baik banget, aku beruntung banget punya kalian berdua," ucap Dini.
Karena malam semakin larut, Andi lalu mengajak Dini pulang. Sepanjang perjalanan banyak hal yang mereka bicarakan, termasuk tentang Anita.
"Anita nggak bisa dibiarin sendirian Din, harus ada seseorang yang bisa nemenin dia biar dia nggak terpaku sama Dimas," ucap Andi.
"Dan seseorang itu adalah kamu!" balas Dini.
"Buat saat ini iya, tapi aku cuma menempatkan diriku sebagai batu pijakan sampai dia bertemu seseorang yang bisa peduli sama dia dengan tulus," ucap Andi.
"Kenapa kamu lakuin itu? kenapa kamu nggak benci sama dia?"
"Aku emang marah dan kecewa sama apa yang udah dia lakuin, tapi aku nggak bisa benci sama dia Din, karena aku......"
"aku tau gimana sakitnya mencintai seseorang yang sudah memilih orang lain di hidupnya, aku tau gimana rasa sakitnya hal itu Din," lanjut Andi dalam hati.
"Karena aku mau dia berubah dan cara biar dia berubah menurutku adalah dengan pendekatan, sampai dia sendiri sadar akan kesalahannya," lanjut Andi.
"Sampai kapan?" tanya Dini.
"Aku nggak tau," jawab Andi dengan menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Dini. Andi dan Dini lalu turun dari mobil.
"Cepet mandi dan istirahat, jangan begadang, kamu kelihatan capek banget hari ini!" ucap Andi pada Dini.
"Iya, kamu juga harus istirahat karena aku tahu kamu sibuk banget dari pagi," balas Dini.
Andi lalu mendekat dan memeluk dini
"Makasih udah datang Din, aku senang banget hari ini," ucap Andi yang masih memeluk Dini dengan erat.
"Aku juga pengen bahagiain kamu seperti kamu bahagiain aku!" balas Dini.
"Dan kamu berhasil, aku benar-benar bahagia banget hari ini, makasih!" ucap Andi dengan melepaskan Dini dari pelukannya.
Dini hanya tersenyum dan meminta Andi untuk segera pulang karena Andi juga terlihat sangat kelelahan.
**
Waktu berlalu, hari telah berganti, minggu hingga bulan turut berlalu tanpa terhenti.
Setelah beberapa lama mengabaikan panggilan itu akhirnya Dimas menyerah dan menerima panggilan itu.
"Akhirnya kamu angkat Dimas, aku butuh bantuan kamu!" ucap Anita dari ujung panggilan.
Dimas menepuk jidatnya pelan, menyesal karena sudah menerima panggilan itu. Namun ia tidak boleh memperlihatkan kekesalannya pada Anita.
"Ada apa Nit?" tanya Dimas.
"Kamu bisa jemput aku di terminal nggak? di sini udah nggak ada taksi dan aku nggak bisa pesen taksi karena hp-ku lowbat, that's why aku pinjam HP orang buat telepon kamu!"
"Oke, tunggu di pintu keluar sebelah utara aku akan pesen taksi buat kamu," ucap Dimas lalu mengakhiri panggilan itu.
Dimas tersenyum tipis lalu memesan taksi untuk Anita.
"kamu pikir aku nggak tahu akal bulus kamu, aku bukan lagi Dimas yang mudah kamu bodohi Nit," ucap Dimas dalam hati lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Di tempat lain Anita hanya mendengus kesal karena rencananya untuk bersama Dimas gagal.
Namun ia tidak patah semangat, masih ada rencana lain yang bisa ia lakukan. Tak lama kemudian seorang supir taksi mendatangi Anita dan ternyata itu adalah taksi yang dipesan Dimas untuk Anita.
Sang supir taksi lalu melajukan mobilnya ke arah yang ditunjukkan oleh Anita, sesampainya di tempat tujuan Anita segera turun dan masuk ke dalam gedung apartemen di hadapannya.
Dimas yang saat itu masih mengerjakan pekerjaan kantor nya segera berjalan ke arah pintu saat ia mendengar bel pintunya berbunyi. Karena terlalu fokus pada pekerjaannya ia tidak berpikir jika yang membunyikan bel itu adalah Anita.
"Hai," siapa Anita dengan senyum manisnya saat Dimas membukakan pintu untuknya.
"aaarrgghhh sial!" batin Dimas dalam hati.
"Ada perlu apa?" tanya Dimas tanpa mempersilahkan Anita masuk.
"Aku nggak disuruh masuk nih?" tanya Anita.
"Aku lagi sibuk banget Nit, banyak kerjaan yang harus aku selesaiin sekarang!" jawab Dimas.
"Aku nggak akan ganggu kamu kok, aku cuma mampir karena Mbak Dewi belum pulang," ucap Anita memberi alasan.
Dengan terpaksa Dimas membiarkan Anita masuk ke dalam apartemennya. Anita duduk di sofa sedangkan Dimas duduk di lantai dengan laptop di meja dan beberapa berkas yang tampak berserakan di meja.
__ADS_1
Beberapa menit telah berlalu, namun tidak ada percakapan diantara Anita dan Dimas, membuat Anita sangat bosan, namun Anita tidak bisa melakukan apapun karena ia sudah bilang jika tidak akan mengganggu Dimas.
30 menit berlalu tanpa percakapan sekalipun membuat Anita benar-benar jengah dan memutuskan untuk membuka percakapan.
"Dimas aku......."
"Maaf Nit aku benar-benar sibuk banget, aku nggak bisa fokus kalau harus ngerjain pekerjaanku sambil ngobrol," ucap Dimas memotong ucapan Anita.
"Oke," balas Anita kesal.
Dimas lalu meninggalkan Anita ke kamar mandi dan tanpa sadar ia meninggalkan ponselnya di meja.
Drrrrrttttt drrrrrrrttttt drrrrrrrttttt
Ponsel Dimas yang berada di meja bergetar Anita pun melihat ke arah layar yang berkedip dan mendapatkan nama Dini di sana.
Anita lalu menggeser tanda panah hijau dengan sengaja.
Anita hanya diam sampai beberapa menit kemudian ia berbicara.
"Makasih udah bantuin aku ya Dim, aku nggak tahu gimana jadinya aku tadi kalau nggak kamu bantuin," ucap Anita dengan suara pelan.
Cklekk
Saat Anita mendengar suara pintu terbuka Anita segera mengambil ponsel Dimas dan memberikan padanya.
"Ada telepon, aku nggak tahu dari siapa tapi waktu aku pegang gak sengaja ke sentuh tombolnya," ucap Anita pada Dimas.
"Kamu nggak punya hak buat pegang HP ku Nit, tolong jangan melewati batas!" ucap Dimas lalu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
Saat Dimas melihat ponselnya panggilan kini telah berakhir. Dimas lalu melihat riwayat panggilan nya dan segera menghubungi Dini. Ia berharap Dini tidak akan salah paham padanya.
"Halo sayang, aku......"
"Kamu lagi sama Anita?" tanya dini.
"Dia di apartemen sekarang dia yang kesini bukan aku yang ngajak!"
"Malam-malam gini dia ke apartemen kamu ngapain?"
"Dia tadi hubungin aku, minta aku jemput dia di terminal karena udah nggak ada taksi di sana tapi aku nggak mau jemput dia jadi aku pesenin taxi buat dia, aku nggak tahu kalau dia bakalan ke sini!" jawab Dimas menjelaskan.
"Kamu tau dia cuma modus kan? emang dia nggak bisa pesen taksi sendiri?"
"Dia tadi hubungin aku pakai HP orang lain karena dia bilang hp-nya lowbat makanya dia nggak bisa pesen taksi!"
"Dan kamu percaya sama dia?"
"Nggak, aku tahu itu cuma alasannya tapi aku juga nggak bisa biarin dia gitu aja Andini, kamu pasti mengerti kan?"
"iya aku tau, kamu nggak punya pilihan lain tapi kenapa kamu nggak kasih tahu aku dari tadi?"
"Dari tadi aku ngerjain kerjaan kantor dan dari dia datang pun aku nggak ngobrol apa-apa sama dia karena aku benar-benar sibuk, maaf karena belum sempet kasih tahu kamu sebelumnya."
"Sekarang kamu di mana?"
"Aku di kamar sayang!"
"Kamu mau dia cepet keluar dari apartemen kamu atau enggak?"
"pasti mau lah, tapi apa yang harus aku lakuin sekarang? dia bilang dokter Dewi belum pulang kerja makanya dia datang ke sini."
"Kamu keluar sekarang, lanjutin pekerjaan kamu sambil video call gimana?"
"Good idea sayang, aku akan bikin dia nggak betah di sini!" balas Dimas lalu keluar dari kamarnya dan menyalakan panggilan video pada Dini.
Dimas menaruh ponselnya di meja dan mengerjakan pekerjaannya sambil melakukan panggilan video dengan Dini.
Dimas dan Dini bercerita banyak hal tentang kebersamaan mereka
Anita yang dari tadi berada di sana dan hanya diam karena tidak mau mengganggu Dimas merasa semakin kesal, ia pun akhirnya berpamitan untuk pergi ke rumah sakit tempat Dewi bekerja.
Setelah Anita pergi, Dimas pun membereskan laptop dan berkas-berkas di meja lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Dia udah pulang sayang," ucap Dimas pada Dini.
"Tunggu aja, besok apalagi rencana dia buat deketin kamu!" ucap Dini.
"Kamu jangan bilang gitu dong! aku jadi nggak berani pulang!"
"Yang penting kamu nggak terpengaruh sama dia, kamu tahu kalau dia masih Anita yang sama seperti dulu dan satu hal yang paling penting kamu harus ceritain semuanya sama aku!"
__ADS_1
"Iya sayang, dari awal pun aku nggak percaya sama dia dan aku janji akan ceritain semuanya sama kamu."
Malam semakin larut, Dimas pun mengakhiri panggilan nya pada Dini dan memejamkan matanya untuk terlelap dalam mimpi.