
Flashback sebelum Dimas menemui Dini.
Dimas memijit keningnya saat ia baru saja masuk ke ruang kerjanya setelah selesai meeting. Ia menatap ke arah luar ruangan yang hanya dibatasi kaca tebal. Tampak senja telah mewarnai langit petang di ujung barat.
Dimas membuka rak di meja kerjanya dan mengambil sebuah botol kecil yang berisi butiran obat di dalamnya.
Dimas membukanya dan mengambil 2 butir obat sekaligus seperti biasanya. Sejak ia disibukkan dengan pekerjaan kantornya ia sering mengkonsumsi obat itu saat ia merasa pusing.
Tekanan dan ambisinya yang besar agar segera pindah ke perusahaan utama membuatnya harus bekerja ekstra keras. Tak ada waktu istirahat bagi Dimas yang membuat jam tidurnya semakin berkurang.
Ditambah masalah di luar pekerjaan yang terkadang mengganggu pikirannya. Semua itu ia rasakan dan ia pendam seorang diri, bahkan sang papa yang biasanya tau segala hal tentangnya pun tidak mengetahui hal itu.
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp
Ponsel Dimas berdering, sebuah panggilan dari seseorang yang membuat Dimas segera menggeser tanda panah hijau di ponselnya.
Seseorang itu adalah pak Yusman. Pak Yusman menjelaskan pada Dimas apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Dini. Pak Yusman berkali kali meminta maaf pada Dimas atas kecerobohannya itu.
"Sekarang Andini dimana pak? bapak masih awasi dia kan?"
"Maaf mas, sesuai perjanjian saya nggak bisa kasih tau mas Dimas dimana mbak Dini sekarang, seperti yang mas Dimas bilang saya hanya ditugaskan untuk menjaga mbak Dini, bukan memata-matai mbak Dini," jawab pak Yusman.
Dimas menghembuskan napasnya kasar mendengar ucapan Pak Yusman.
"Pak Yusman sadar apa kesalahan bapak? bapak udah bikin Andini tau apa yang saya lakukan di belakangnya, bapak pikir itu bukan kesalahan yang fatal? pernikahan saya bisa hancur karena kesalahan bapak itu!" ucap Dimas dengan berusaha menahan emosinya.
"Sekali lagi saya minta maaf mas, saya....."
"Permintaan maaf pak Yusman nggak akan bikin semuanya jadi lebih baik pak, kalau pak Yusman memang menyesali perbuatan pak Yusman, kasih tau saya dimana Andini sekarang!"
"Mbak Dini dijemput Andi mas, kayaknya mereka ke rumah Andi," jawab pak Yusman.
Dimas lalu mengakhiri panggilan pak Yusman dan segera menyambar kunci mobilnya lalu keluar dari ruangannya.
Tanpa pikir panjang Dimas mengendarai mobilnya keluar dari batas kota untuk menemui Dini di rumah Andi.
Beberapa jam ia tempuh dengan kecepatan tinggi dan penuh emosi dalam dirinya. Beruntung tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan.
Sesampainya di rumah Andi, emosi dalam dirinya meledak saat melihat Dini sedang bersama Andi.
Ia bisa membayangkan apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya. Sebuah pelukan, genggaman tangan dan mungkin kecupan singkat sudah dipastikan terjadi saat Andi baru saja menemui Dini yang sedang bersedih.
Dimas menemui Dini hanya ingin menjelaskan jika apa yang ia lakukan hanya untuk menjaga dan melindungi Dini, bukan untuk mengganggu privasinya ataupun niat buruk lainnya.
Namun melihat Dini yang sedang bersama Andi membuat amarah Dimas yang sudah muncul akibat kecerobohan pak Yusman semakin tersulut.
Rasa cemburu memenuhi dirinya dan membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya saat itu.
Ia tidak menyadari apa yang ia lakukan pada Dini selama ini membuat Dini berpikir jika ia tidak mempercayai Dini.
Yang sedang menguasai dirinya saat itu hanyalah kemarahan dan rasa cemburu yang menggebu.
Flashback off.
**
Sama sekali tak pernah terpikir bagi Dimas jika Dini akan menamparnya saat itu. Ia merasa yang seharusnya marah dan emosi adalah dirinya karena ia melihat calon istrinya sedang berpelukan dan bergenggaman tangan dengan laki laki lain di hadapannya.
Dimas lalu berbalik dan meraih tangan Dini. Tanpa sadar ia mencengkeram tangan Dini dengan kuat agar Dini tidak bisa pergi lagi darinya.
Dini berusaha menarik tangannya namun Dimas semakin kuat mencengkeram tangan Dini.
Andi yang pada awalnya ingin membiarkan Dini dan Dimas menyelesaikan masalah mereka berdua pun akhirnya tidak tinggal diam saat melihat Dimas mencengkeram tangan Dini dengan kasar.
Andi menghampiri Dini dan Dimas lalu mencengkeram tangan Dimas dengan kuat agar Dimas melepaskan tangannya dari Dini.
"Jangan ikut campur Ndi!" ucap Dimas dengan tatapan penuh emosi.
"Gue nggak akan ikut campur kalau lo nggak nyakitin Dini kayak gini!" balas Andi dengan tegas.
Dimas hanya tersenyum tipis tanpa melepaskan tangan Dini darinya.
"Sakit Dimas," ucap Dini dengan berusaha menggerakkan pergelangan tangannya.
"Lepasin dia Dim!" ucap Andi yang terdengar emosi.
__ADS_1
Dimas hanya diam dengan tangannya yang masih mencengkeram dengan kuat tangan Dini.
Dimas lalu mengangkat satu kakinya dan menendang Andi tanpa ragu, membuat Andi terjatuh dan melepaskan tangannya dari Dimas.
Dimas lalu menarik tangan Dini dengan kasar, memaksanya untuk pergi meninggalkan Andi.
"Enggak Dimas, aku nggak mau!" ucap Dini dengan berusaha menahan langkahnya.
Andi lalu kembali berdiri dan menendang Dimas dari belakang, membuat Dimas terjatuh bersama Dini.
Saat Dini terjatuh, saat itulah Dimas melonggarkan cengkeramannya pada Dini, membuat Dini segera menarik tangannya dan menghindar dari Dimas.
"Lo emang cowok brengsek Dim, lo nggak pantes buat Dini!" ucap Andi dengan mencengkeram kerah kemeja Dimas.
Saat Andi melayangkan tinjunya, Dini mencegah Andi untuk melakukannya.
"Jangan Ndi, aku mohon jangan," ucap Dini dengan menahan tangan Andi.
Andi lalu berdiri dari hadapan Dimas dan menarik tangan Dini ke dalam genggamannya agar Dimas tidak memaksa Dini untuk ikut bersamanya.
"Andini, ikut aku," ucap Dimas dengan suara pelan.
Dini hanya menggelengkan kepalanya tanpa berucap apapun.
"Ndi, biarin gue selesaiin masalah gue sama Andini!" ucap Dimas pada Andi.
"Gue nggak akan biarin lo nyakitin Dini Dim!"
"Lo tau seberapa besar gue cinta sama dia, gue nggak mungkin nyakitin dia jadi stop ikut campur masalah gue sama Andini!"
"Selama lo masih nggak bisa kendaliin emosi lo gue nggak akan biarin Dini pergi sama lo!" ucap Andi dengan tegas.
"Itu cuma alasan lo buat cegah gue jelasin semuanya sama Andini kan? kenapa? kenapa lo harus bertindak sejauh ini Ndi? lo suka sama Andini? lo cinta sama sahabat lo sendiri?"
Andi membelalakkan matanya tak percaya pada apa yang baru saja di dengarnya. Begitu juga dengan Dini yang langsung membawa pandangannya pada Andi.
"Dia sahabat kamu Andini, tapi dia....."
"Omong kosong apa yang lo maksud Dim, gue ngelakuin ini karena Dini sahabat gue dan gue nggak mau sahabat gue jatuh ke tangan yang salah kayak lo!" ucap Andi memotong ucapan Dimas.
Tiba tiba Dimas mengerjapkan matanya. Kepalanya terasa sangat pusing dan dalam sekejap saja ia tidak mampu menopang dirinya sendiri.
Dini dan Andi yang melihat hal itu segera menghampiri Dimas dengan panik.
"Dimas kamu kenapa?" tanya Dini dengan menahan tangan Dimas agar berhenti memukul kepalanya sendiri.
Samar samar Dimas mendengar suara Dini dan dunia yang dilihatnya pun tampak samar hingga akhirnya semua menjadi gelap.
Adit yang sedari tadi memperhatikan Dini, Andi dan Dimas dari dalam rumah segera keluar saat melihat Dimas pingsan.
"Dimas kenapa?" tanya Adit yang tak kalah paniknya.
"Nggak tau kak, dia tiba tiba pingsan!" jawab Dini.
Adit lalu mengambil kunci mobil dari saku Dimas dan meminta Andi untuk membantunya membawa Dimas masuk ke dalam mobil.
Karena mobil Dimas yang paling dekat dengan gerbang, Adit sengaja menggunakan mobil Dimas untuk membawanya ke rumah sakit.
Adit yang duduk di balik kemudi tanpa sengaja menginjak sesuatu dan mengambilnya. Sebuah botol kecil berisi obat yang sering Dimas konsumsi kini ada di tangan Adit.
"Ini punya Dimas?" tanya Adit pada Andi.
Andi lalu merebut botol obat itu dari tangan Adit.
"Sumatriptan!" ucap Andi saat membaca tulisan yang ada di botol obat itu.
"Apa itu?" tanya Adit.
"Obat sakit kepala yang cuma bisa dibeli pake resep dokter," jawab Andi lalu mengeluarkan seluruh isi dari obat itu dan menghitungnya.
"Itu nggak mungkin punya Dimas kan?" tanya Dini.
"Disini tertulis nama Dimas, ada tanggal pembeliannya juga dan kalau dilihat dari sisa obatnya Dimas minum obat ini lebih dari dosis yang seharusnya, tapi itu baru kemungkinan, bisa jadi dokter kasih dosis yang lebih tinggi buat Dimas," jawab Andi menjelaskan.
Mata Dini memerah, dadanya terasa sesak mendengar penjelasan Andi. Selama ini ia selalu melihat Dimas baik baik saja. Ia tidak pernah tau apa yang sedang Dimas alami selama ini, yang ia tau Dimas hanya bekerja keras agar bisa segera pindah dan mereka cepat menikah.
__ADS_1
Itu yang selalu Dimas ucapkan pada Dini.
"Dimas pasti baik baik aja Din, kamu tau dia nggak mudah menyerah!" ucap Andi menguatkan Dini.
Dini hanya menganggukkan kepalanya dengan menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya.
Sesampainya di rumah sakit, Dimas segera di bawa ke ruang UGD. Tak lupa Andi menyerahkan obat milik Dimas pada Dokter.
Dini, Andi dan Aditpun duduk di depan ruang UGD menunggu hasil pemeriksaan Dokter.
"Din, kakak nggak tau apa masalah kamu dengan Dimas, tapi emosi nggak akan bikin masalah kalian selesai, bicarain baik baik dan cari jalan keluarnya bersama," ucap Adit pada Dini.
Dini hanya diam dengan menganggukkan kepalanya. Matanya sudah sembab karena menangis sejak dalam perjalanan ke rumah sakit.
Ia hanya bisa berdo'a agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Dimas. Ia memang sangat kecewa pada apa yang diam diam Dimas lakukan padanya, namun ia tidak ingin hal buruk terjadi pada laki laki yang dicintainya itu.
Setelah beberapa lama menunggu, Dokter keluar dari ruang UGD dan menjelaskan keadaan Dimas.
Seperti dugaan Andi, Dokter menjelaskan jika Dimas mengkonsumsi obat itu secara berlebihan. Hal pertama yang terjadi jika mengkonsumsi obat itu lebih dari dosis yang seharusnya adalah pasien mengalami kecanduan dengan obat itu.
Selanjutnya pasien akan kesulitan untuk mengatur emosinya. Pasien akan menjadi lebih emosional dan over thinking.
Jika pasien masih terus mengkonsumsi obat itu maka bisa menyebabkan kerusakan yang serius pada jaringan otak.
"Kemungkinan pasien mengalami stres berat, entah karena tekanan pekerjaan atau hal lainnya yang membuat pasien mengkonsumsi obat itu dengan berlebihan," ucap Dokter di akhir penjelasannya.
"Pasti ada obat yang lain yang bisa menggantikan obat itu kan Dok?" tanya Andi pada Dokter.
"Ada, asalkan dia konsumsi obatnya sesuai resep Dokter tidak akan jadi masalah dan alangkah lebih baik jika dia dibiarkan beristirahat dari rutinitas yang membuatnya stres," jawab Dokter.
"Baik Dok, terima kasih," ucap Andi yang dibalas anggukan kepala Dokter.
Setelah Dimas dipindahkan ke ruang rawat, Dini masuk dan duduk di samping Dimas.
Ia menggenggam tangan Dimas dengan segala macam rasa dalam hatinya. Rasa kesal dan kecewanya seketika melebur menjadi perasaan bersalah dan menyesal.
"bukan kamu yang nggak baik buat aku Dimas, tapi aku yang nggak baik buat kamu, aku yang selalu merasa mencintai kamu nyatanya aku nggak tau apa apa tentang kamu, aku nggak tau apa yang terjadi sama kamu selama ini, aku nggak tau apa yang kamu rasain sebenarnya selama ini, maafin aku Dimas," ucap Dini dalam hati.
Malam semakin larut, Andi dan Adit masih berada di depan ruangan Dimas, sedangkan Dini masih duduk di samping ranjang Dimas dengan menggenggam tangan Dimas.
Tak lama kemudian Andi masuk ke ruangan Dimas.
"Aku anter kamu pulang Din," ucap Andi pada Dini.
"Kenapa dia belum sadar Ndi? kenapa dia belum buka matanya?" tanya Dini dengan suara bergetar.
"Dimas pasti baik baik aja Din, kamu tau dia laki laki yang kuat," ucap Andi.
Dini hanya diam dengan menatap Dimas yang masih terpejam. Hatinya terasa sakit melihat keadaan Dimas saat itu.
"Kamu udah hubungin om Tama atau Tante Angel Din?" tanya Andi.
"Aku nggak bawa hp, kamu bawa?"
"Aku sama kak Adit juga nggak bawa," jawab Andi.
"papa pasti tau kalau sekarang Dimas di rumah sakit, papa emang selalu tau apa yang terjadi sama Dimas, tapi apa papa juga tau tentang obat yang selama ini Dimas konsumsi?" batin Dini dalam hati.
"Kamu harus istirahat Din, jangan sampe ikut sakit!" ucap Andi pada Dini.
"Aku mau di sini sampe Dimas sadar Ndi, tolong kasih tau kak Adit kalau aku nggak bisa ke kantor besok," ucap Dini.
Andi hanya menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan Dimas.
"Gimana? Dini nggak mau pulang?" tanya Adit yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
"Lo pulang aja, gue di sini nungguin Dini," ucap Andi pada Adit.
"Lo yakin?"
"Iya, lo harus tetep kerja besok," jawab Andi.
"Oke, kalau ada apa apa hubungin gue," ucap Adit dengan menepuk pundak Andi.
Andi hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan Adit pergi meninggalkannya yang tinggal seorang diri di depan ruangan Dimas.
__ADS_1
Ia tidak menyangka jika Dimas akan mengalami hal itu. Ia sangat tau bagaimana kegigihan Dimas untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Tapi ia tidak pernah tau jika Dimas melakukan hal sejauh itu tanpa mempedulikan dirinya sendiri.