
Hari berganti, pagi datang bersama sinar mentari. Dimas masih berada di rumah sakit bersama Yoga.
"Lo nggak balik Ga?" tanya Dimas pada Yoga.
"Lo nggak papa sendirian?" balas Yoga bertanya.
"Nggak papa, lo balik aja dulu!"
"Oke, kabarin gue kalau ada apa apa, gue balik dulu," ucap Yoga lalu meninggalkan rumah sakit.
Dimas lalu masuk ke ruangan Dini dan melihat sang gadis yang masih terpejam. Dimas duduk di samping Dini dengan menggenggam tangan Dini.
Tak lama kemudian Dini mengerjap, ia membuka matanya dan melihat senyum laki laki yang dicintainya menyambut hari barunya.
"Dimas, aku mau pulang," ucap Dini pada Dimas.
"Iya sayang, kita pulang setelah dokter periksa keadaan kamu," balas Dimas dengan mengusap rambut Dini.
Dimaspun mengantar Dini pulang setelah Dokter memastikan keadaan Dini baik baik saja. Mereka pulang dengan menggunakan taksi.
"Dimas, tolong jangan bilang siapapun tentang kejadian kemarin, termasuk ibu," ucap Dini pada Dimas ketika mereka sudah berada di dalam taksi.
Dimas menganggukkan kepalanya lalu membawa kepala Dini bersandar di bahunya.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Dini. Dimas mengantar Dini masuk ke dalam rumahnya.
"Kalian dari mana? kenapa nggak kasih kabar ke ibu?" tanya ibu Dini begitu mereka sampai.
"Maaf bu, Dini semalam di rumahnya Dimas," balas Dini berbohong.
"Ibu tau kamu pasti sama Dimas, tapi kamu juga harus kabarin ibu dong Din biar ibu nggak khawatir!"
"Iya bu, Dini minta maaf."
"Kamu nggak kerja?" tanya ibu Dini.
"Dini lagi nggak enak badan bu, biar dia istirahat dulu di rumah," jawab Dimas.
"Ya udah kalau gitu, kamu kabarin Andi kalau kamu udah pulang, dia juga khawatir sama kamu!"
"Iya bu," balas Dini.
Dini dan Dimas lalu masuk ke dalam kamar. Dini duduk di tepi ranjangnya dengan tatapan kosong memikirkan kejadian yang semalam terjadi padanya.
"Sayang, kamu mau ke kantor polisi buat ngasih keterangan tentang kejadian kemarin?" tanya Dimas pada Dini.
Dini hanya menggeleng tanpa bersuara.
"Kasus ini nggak bisa diproses kalau kamu nggak datang ke kantor polisi sayang."
Dini hanya diam, matanya berkaca kaca merasakan ketakutan yang masih melekat dalam dirinya. Memori membawanya mengingat bagaimana Dika menyiksanya dengan kejam, bagaimana darah keluar begitu banyak dari setiap goresan pisau yang Dika berikan.
Semua rasa takut dan sakit itu masih terasa nyata setiap ia mengingatnya.
Dimas lalu mendekat dan memeluk Dini. Ia tau Dini tidak akan mau melakukan hal itu.
"Udah sayang, semuanya baik baik aja, jangan takut," ucap Dimas yang membuat Dini semakin terisak pilu.
"Lupain sayang, jangan diingat lagi, kamu hanya perlu ingat kebahagiaan kamu, kebersamaan kita dan hal hal indah yang pernah kamu lalui selama ini," lanjut Dimas dengan mengusap air mata yang membasahi pipi Dini.
Dimas lalu mengecup bibir Dini pelan dan membiarkannya di sana untuk beberapa saat.
Dini lalu mendorong tubuh Dimas dan menaikkan kakinya ke atas ranjang untuk segera berbaring.
"Aku mau istirahat," ucap Dini namun Dimas segera menarik tangannya dan kembali mendaratkan kecupannya di bibir Dini, menunggu sampai Dini memberinya balasan yang ia inginkan.
Keduanyapun saling bertaut untuk beberapa saat.
Dimas lalu menarik selimut Dini dan menutupi tubuh Dini dengan selimut.
"Kamu istirahat ya, aku pulang dulu," ucap Dimas lalu mengecup kening Dini sebelum ia keluar dari kamar.
Dimaspun meninggalkan rumah Dini dan pergi ke home store. Sesampainya di home store, ia segera masuk ke ruangannya dan merebahkan kepalanya di meja kerjanya.
"Lo dari mana? capek banget kayaknya!" tanya Andi.
"Hmmmm....." balas Dimas yang hanya berdeham.
Ia benar benar lelah dan tak sanggup membuka matanya saat itu. Ia pun tertidur di meja kerjanya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, saat Andi hendak keluar dari home store, Adit datang.
"Tante Siska nggak di sini!" ucap Andi.
"Gue cari Dimas," balas Adit.
"Dimas?"
"Iya, bisa kan?"
Andi lalu kembali masuk dan memanggil Dimas.
"Masuk Dit," ucap Dimas pada Adit.
"Gimana Dini?" tanya Adit pada Dimas.
"Dia nggak mau, gue nggak bisa maksa dia, dia punya trauma tentang hal itu sebelumnya," jawab Dimas.
__ADS_1
"Trauma?"
Dimas mengangguk.
"Dia pernah disekap sama pacarnya dulu, dia juga dilukai sampe dia koma di rumah sakit," ucap Dimas.
"Separah itu?"
Dimas kembali menganggukkan kepalanya.
"Gimana keadaanya sekarang? apa dia baik baik aja?"
"Dia butuh waktu buat lupain kejadian semalem, jadi mungkin dia belum bisa kerja selama beberapa hari ke depan," jelas Dimas.
"It's okay, jadi gimana rencana lo sekarang? apa lo akan tetep biarin Jenny bebas gitu aja?"
"Gue belum tau, tapi siapa dia sebenarnya? kenapa dia ngelakuin hal itu sama Andini?"
"Sorry karena udah bikin Dini kebawa sama masalah gue, gue rasa Jenny salah paham atau cemburu sama Dini, karena gue lebih deket sama Dini daripada sama dia!"
"Emang dia siapa? pacar lo?"
"Bukan, dia cuma bagian dari masa lalu yang udah gue lupain!"
Dimas mengangguk anggukkan kepalanya, ia mulai mengerti kenapa Jenny melakukan hal itu pada Dini.
"Gue balik Dim, kalau lo butuh bantuan gue, hubungin gue aja!" ucap Adit lalu berdiri dari duduknya.
"Tunggu!" cegah Dimas lalu ikut berdiri.
"Ada apa?" tanya Adit.
"Lo suka sama Andini?" tanya Dimas tanpa basa basi.
Adit tersenyum kecil sebelum ia menjawab.
"Gue bukan tipe orang yang mudah menyerah Dim, kalau emang gue suka sama Dini, gue nggak akan lepasin dia dari gue!"
"Jadi?"
"Gue suka jadi partner kerjanya dan gue suka jadi kakaknya, sebatas itu, apa lo merasa keberatan?"
Dimas menggeleng.
"Asal lo tau batasan lo!" ucap Dimas.
"Lo tenang aja, gue nggak mau mikirin tentang cewek, gue udah cukup sibuk sama perusahaan dan nggak ada waktu untuk hal hal kayak gitu!"
"Oke, gue percaya sama lo!"
Adit lalu keluar dari ruangan Dimas dan meninggalkan home store. Tak lama setelah Adit pergi, Andi datang dengan membawa 2 kotak makanan untuk dirinya dan Dimas.
"Bukan apa apa," balas Dimas.
"Nggak mungkin, apa ada hubungannya sama Dini?"
"Enggak Ndi, lo dari kemarin nanyain Andini mulu, bikin gue bad mood aja!"
"Hahaha.... sorry, makanya lain kali kasih kabar biar nggak ada yang khawatir!"
"Ndi, kalau gue udah pindah, apa lo bisa pastiin kalau Andini akan baik baik aja?" tanya Dimas dengan menatap Andi serius.
"Gue pasti jagain dia semampu gue Dim, tapi gue kan nggak bisa selalu ada di sampingnya, kita punya kesibukan kita masing masing, gue nggak bisa 24 jam sama dia."
"24 jam sama dia? iya, harus ada yang jagain Andini 24 jam!" batin Dimas dalam hati.
**
Di tempat lain, Adit sedang berada di kantor polisi untuk menemui 3 orang laki laki anak buah Jenny. Ia harus bisa membuat mereka jujur tentang Jenny.
"Kita nggak akan jawab pertanyaan apapun!" ucap salah satu laki laki itu ketika Adit datang.
"Oke, gue nggak akan nanya apapun, karena kalian nggak sampe melukai Dini gue akan kasih kalian masing masing 2 kali lipat dari yang Jenny berikan," ucap Adit.
"3 kali lipat!" sahut salah satu diantara mereka.
"Oke, jadi apa kalian mau kasih tau gue berapa uang yang kalian terima dari Jenny buat bantu dia culik Dini?"
"50 juta," jawab salah satu dari laki laki itu cepat.
"Jangan bohong, beberan Jenny kasih kalian 50 juta?"
"Iya, dia kasih kita 50 juta buat dibagi 3 kalau kita berhasil bawa Dini ke rumah itu, kita dijanjikan untuk dibebaskan kalau sampe kita gagal dan ditangkap polisi, kita....."
"Eh, gobl*k lo! kenapa lo ceritain semuanya?" teriak salah satu dari mereka yang sadar akan jebakan Adit.
"Oke, thanks, kalian tenang aja gue beneran kasih uang itu kalau kalian udah bebas nanti!" ucap Adit lalu pergi menemui Jenny.
"Adit, kamu kesini mau bebasin aku kan? kamu nggak akan biarin aku di sini selamanya kan?"
Adit hanya tersenyum lalu memutar rekaman yang baru saja ia dapat dari 3 orang anak buah Jenny.
"Aku ngelakuin itu karena aku cemburu Adit, aku yang dulu kamu cintai tapi kenapa kamu sekarang malah menjauh dari aku? cuma gara gara gadis kampung itu kamu....."
"Aku nggak ada hubungan apa apa sama Dini Jen, kalau kamu marah sama aku, jangan kamu lampiasin ke orang lain, Dini nggak tau apa apa, dia udah bahagia sama Dimas jadi jangan pernah kamu bawa orang lain dalam masalah kamu sama aku!"
"Tapi Dit....."
"Aku udah punya cukup bukti buat bikin kamu benar benar mendekam di sini, jadi jangan pernah kamu ngelakuin hal bodoh lagi yang akan merusak hidup kamu dan keluarga kamu!" ucap Adit lalu pergi meninggalkan Jenny.
__ADS_1
Tak lama kemudian seorang sipir mendatangi Jenny dan meminta Jenny keluar. Ia tidak terbukti bersalah karena tidak adanya laporan dari Dini, oleh sebab itu ia dibebaskan.
Jenny lalu berlari mengejar Adit dan memeluknya dari belakang.
"Makasih Dit, aku nggak akan ngelakuin hal bodoh lagi, aku janji," ucap Jenny.
Adit hanya diam dan melepaskan tangan Jenny yang memeluknya, ia lalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Jenny.
"Adit pasti masih cinta sama aku, itu kenapa dia nggak kasih bukti itu ke polisi, jadi apa Adit deket sama Dini cuma buat bikin aku cemburu? apa yang aku lakuin sama Dini udah keterlaluan?" batin Jenny bertanya tanya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang. Andi sudah berada di rumahnya dan sedang bersantai bersama sang ayah di depan rumah.
"Yah, apa mungkin seseorang yang nggak punya hubungan apapun bisa punya tanda lahir yang sama?"
"Kenapa kamu tiba tiba tanyain hal itu?"
"Nggak papa, Andi...."
"Apa kamu kira tanda yang di perut kamu itu tanda lahir?" terka sang ayah.
"Emang bukan Yah?"
"Itu bekas luka bakar yang nggak bisa hilang dari kamu kecil," jawab ayah Andi.
"Luka bakar? Andi nggak ingat pernah punya luka bakar di perut!"
"Itu udah lama banget Ndi, sejak kamu kecil, wajar kalau kamu lupa!"
"luka bakar? nggak mungkin aku lupa, aku selalu ingat kejadian masa kecilku, apa lagi kejadian besar yang ninggalin bekas luka di sini!" batin Andi dalam hati.
"Andi mau ke rumah Dini dulu yah!"
"Oh Iya."
Andi lalu melangkahkan kakinya pergi ke rumah Dini.
"Dini ada bu?" tanya Andi pada ibu Dini.
"Ada di kamarnya, dia lagi nggak enak badan," jawab ibu Dini.
"Dini sakit? dari kapan bu?"
"Ibu juga nggak tau, tadi pagi dianterin Dimas pulang udah lemes badannya."
"Andi masuk ya bu!"
"Iya, masuk aja!"
Andipun masuk ke kamar Dini setelah mengetuk pintu beberapa kali.
Dini segera bangun dari posisi tidurnya ketika Andi masuk.
"Kamu sakit?" tanya Andi sambil menempelkan telapak tangannya di kening Dini.
Dini tak menjawab, ia menarik tangan Andi lalu memeluknya. Ia tak berkata apapun, ia hanya ingin mencari ketenangan dengan memeluk Andi.
"Kamu kenapa Din? ada apa sebenarnya?" tanya Andi.
"Aku pingin pergi Ndi, kamu mau kan nemenin aku?"
"Pergi kemana?"
"Ke tempat yang jauh, jauh banget sampe nggak akan ada orang yang ngenalin aku!"
"Masalah itu untuk dihadapi Din, bukan ditinggal pergi," ucap Andi sambil mengusap rambut Dini.
"Aku takut Ndi, aku takut," ucap Dini dengan suara bergetar.
"Aku selalu di sini buat kamu Din, nggak ada yang harus kamu takutkan, hadapi hal yang menurut kamu menakutkan itu dengan keberanian kamu, dengan begitu nggak akan ada lagi hal yang bikin kamu takut!"
Dini memejamkan matanya dan semakin erat memeluk Andi. Ia tidak boleh lemah, ia harus kuat agar bisa menghadapi orang orang yang berbuat buruk padanya.
Tidak seharusnya hal menakutkan itu membuatnya terpuruk. Ia akan berusaha menjadi kuat tanpa ada seorangpun yang dapat melemahkannya.
Cukup lama mereka berpelukan. Hangat dekapan Andi membuat Dini tenang, membuatnya siap untuk menghadapi apapun dan siapapun yang berusaha melemahkannya.
"Kalau aku punya banyak uang, pasti aku bawa kamu ke luar negeri," ucap Andi yang berusaha menghibur Dini.
"Kamu mau ajak aku kemana?" balas Dini bertanya.
"Ke Jepang, Korea? itu kan yang kamu mau dari dulu?"
Dini lalu melepaskan pelukannya pada Andi dan mengangguk cepat.
"Aku akan ngumpulin uang buat ajak kamu ke sana!" ucap Andi.
"Beneran?"
Andi mengangguk pasti. Dini lalu mendekat dan mencium pipi Andi dengan cepat, membuat Andi seketika membeku di tempatnya.
Seluruh tubuhnya seolah telah kaku tak bisa bergerak, hanya jantungnya yang berdetak cepat seolah akan menghancurkan lapisan es yang membuat kaku seluruh tubuhnya.
Sedangkan Dini hanya tersenyum menutupi degup jantungnya yang berdetak sangat cepat.
Andi lalu menarik tangan Dini dan memeluknya dengan erat. Mereka saling merasakan detak jantung keduanya yang seakan sedang berlomba adu cepat.
"Kamu nggak papa?" tanya Dini pada Andi.
__ADS_1
Andi hanya mengangguk tanpa melepaskan Dini dari pelukannya. Ia juga merasakan degup jantung Dini yang berdetak cepat di dadanya.