Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Double Date?


__ADS_3

Dini masih berada di tempat kerjanya, melanjutkan makan siangnya dengan memikirkan ucapan Adit padanya.


Din, ada kalanya seseorang harus pergi untuk menyembuhkan hatinya yang terluka, bukan karena dia pengecut tapi karena dia sudah merelakan apa yang membuatnya sakit hati


"Apa karena Anita pergi? atau karena dia nggak tau siapa yang kasih dia surat?" tanya Dini dalam hati.


Dini lalu menggelengkan kepalanya, tak ingin menerka nerka apa yang sebenarnya membuat Andi memutuskan untuk pergi.


Ia akan menanyakannya secara langsung pada Andi.


Dini lalu menghubungi Dimas untuk memberi tahunya agar Dimas tidak menjemputnya karena ia harus lembur hari itu.


"Karena kemarin aku ninggalin kantor gitu aja jadi kak Adit kasih aku banyak kerjaan sekarang," ucap Dini pada Dimas.


"Jadi aku harus jemput kamu jam berapa?" tanya Dimas.


"Aku belum tau, nanti aku pulang sendiri aja nggak papa," jawab Dini.


"Selesai jam kantor nanti aku ada meeting sayang, jadi kalau kamu nggak bisa hubungin aku berarti aku masih meeting," ucap Dimas.


"Iya nggak papa, mungkin setelah kamu meeting aku belum selesaiin kerjaanku karena emang banyak banget."


"Semangat sayang, jangan lupa minum vitamin!"


"Iya, kamu juga, aku lanjutin kerjaanku lagi ya!"


"Oke, love you!"


"Love you too."


Panggilan berakhir. Dini lalu melanjutkan pekerjaannya sampai lebih dari jam 5 sore.


Saat Dini membawa pandangannya ke arah ruangan Adit, ia juga melihat Adit masih sibuk dengan pekerjaannya.


Langit senja sudah hampir terlihat, pertanda petang mulai membayang di ujung langit timur.


Toookk toookk toookk


Pintu ruangan Dini diketuk dan Adit masuk ke ruangannya.


"Nggak dijemput Dimas?" tanya Adit yang hanya dibalas gelengan kepala Dini.


"Mau kakak anter pulang?"


"Kerjaan Dini masih banyak kak, banyak banget!" ucap Dini dengan nada kesal.


"Hahaha..... besok aja diselesaiin, sekarang kamu pulang aja!"


"Serius?"


"Serius dong, sebentar lagi hari pernikahan kamu, jadi kamu harus jaga kesehatan dan jangan terlalu capek," ucap Adit.


"Asiiiikkkk, jadi Dini boleh pulang sekarang?" tanya Dini yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum Adit.


"Makasih kak, makasih banget," ucap Dini lalu bergegas membereskan meja kerjanya.


Dini mencoba menghubungi Andi, untuk menanyakan keberadaan Andi karena ia ingin menemui Andi.


Beberapa kali Dini coba, tak pernah ada jawaban. Dinipun memutuskan untuk pergi ke home store.


**


Tooookkk tooookkk tooookkk


Rama mengetuk pintu ruangan Andi lalu masuk dan memberi tahu Andi jika ada perempuan yang mencarinya.


Andi tersenyum tanpa menanyakan siapa perempuan itu. Andi sudah bisa menduga siapa perempuan yang dimaksud Rama, ia lalu keluar dari ruangannya dan menemui si perempuan.


Benar saja, perempuan cantik yang mencarinya adalah Aletta.


"Apa aku ganggu kamu?" tanya Aletta saat Andi menghampirinya.


"Enggak, ayo masuk!" jawab Andi lalu menarik tangan Aletta untuk masuk.


"Eh, nggak papa?"


"Nggak papa dong, ayo!" Andi menggandeng tangan Aletta dan membawanya naik ke balkon.


Andi dan Alettapun kini berada di balkon. Mereka membicarakan banyak hal dan sesekali tampak tertawa.


"Kamu pulang kerja jam berapa?" tanya Andi pada Aletta.


"Kalau dari kantor sih jam 4, tapi kadang masih ada yang harus aku kerjain sampe malem," jawab Aletta.


Andi hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Aletta.


"Kenapa? kamu mau jemput aku?" tanya Aletta dengan menyenggol lengan Andi.


"Kalau kamu mau," jawab Andi dengan tersenyum.


"Jam kerjaku nggak tentu Ndi, kadang aku juga harus kesana kemari setelah pulang dari kantor," ucap Aletta.


"Aku bisa anterin kamu," ucap Andi.


Aletta hanya menggeleng pelan mendengar ucapan Andi. Bisa bertemu dan mengobrol dengan Andi cukup membuat Aletta merasakan keindahan cinta yang dulu pernah ia rasakan.


Meski ia tau hanya dirinya yang memiliki perasaan itu, setidaknya Andi memperlakukan dirinya dengan tulus.


Ia memang menyerah pada Andi yang ia tau tidak pernah mencintainya, tapi sampai detik itu ia masih menyimpan Andi dalam hatinya, meski ia tau apa yang dilakukannya hanya sia sia.


Ia hanya ingin mengisi kembali ruang kebahagiaannya yang sudah lama kosong. Dengan bertemu Andi, ia harap ia bisa mengisi kembali ruang kosongnya dengan penuh kebahagiaan.


Namun ia sempat kecewa saat ibu Andi memberi taunya jika Andi memutuskan untuk pergi ke luar negeri.


Bukan kecewa pada Andi, tapi kecewa pada dirinya sendiri yang menyia-nyiakan waktu yang ada sebelum Andi memutuskan pergi.

__ADS_1


Beruntung baginya, karena malam itu Andi datang dan membatalkan kepergiannya. Ia tidak tau pasti apa yang sebenarnya membuat Andi pergi dan tiba tiba membatalkan kepergiannya.


Ia hanya bisa menduga duga jika semua itu terjadi karena Dini, sahabat yang Andi cintai sejak lama, sahabat yang sebentar lagi akan menikah dengan laki laki yang juga bersahabat dengan Andi.


Aletta tidak ingin memikirkan hal itu terlalu jauh. Ia juga tidak menanyakannya pada Andi karena ia tau seperti apa rasa sakit yang Andi rasakan saat itu.


Meski berbeda kisah, sedikit banyak Aletta bisa mengerti bagiamana sakitnya saat orang yang kita cintai menikah dengan orang lain yang berhubungan baik dengan kita.


Aletta hanya ingin memberikan Andi kebahagiaan yang sudah selayaknya Andi dapatkan. Ia ingin menarik Andi dari jurang kesedihan yang menyakitkannya.


Ia tidak mengharapkan apapun dari Andi, ia hanya ingin Andi benar benar bahagia, bukan berpura pura bahagia.


"Apa udah ada cowok lain yang jemput kamu?" tanya Andi pada Aletta.


"Nggak ada, aku udah biasa sendirian Ndi!" jawab Aletta.


"Kalau gitu nggak papa dong aku jemput kamu? kalau kamu nggak mau, aku akan maksa!"


Aletta hanya tertawa mendengar ucapan Andi yang memaksa untuk menjemputnya pulang dari kantor.


"Hahaha.... kamu suka maksa ya sekarang?"


"Kadang pemaksaan emang diperlukan buat cewek barbar kayak kamu," jawab Andi dengan mencubit pipi Aletta.


"Hahaha... oke oke, kalau gitu terpaksa deh aku mau dijemput kamu hehehe...."


"Naahh, gitu dong," ucap Andi yang membuat mereka berdua tertawa.


Andi benar benar bersyukur dengan kembalinya Aletta di hidupnya. Meski ia tau jika Aletta bisa pergi sewaktu waktu, ia akan mengisi waktu yang ada dengan baik selama Aletta masih ada di dekatnya.


"Kamu pake ikat rambut yang kemarin?" tanya Andi saat ia memperhatikan ikat rambut yang Aletta pakai.


"Iya, kayaknya kamu lebih suka kalau aku pake ikat rambut ya?"


"Gimanapun penampilan kamu, aku tetap suka sama kamu," jawab Andi yang membuat Aletta melayangkan pukulannya di lengan Andi.


Andi hanya tertawa dengan mengusap lengan tangannya yang dipukul oleh Aletta.


Tanpa Andi dan Aletta tau, Dini mendengar dan melihat apa yang terjadi saat itu, saat Andi mengucapkan kata "suka" pada Aletta.


Dini lalu membawa langkahnya mundur dan tanpa sengaja menjatuhkan benda yang ada di sana.


Seketika Andi dan Aletta membawa pandangannya pada Dini dan terkejut melihat Dini yang berdiri di ujung tangga.


"Dini!"


Aletta lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Dini.


"Udah lama banget kita nggak ketemu, kamu makin cantik aja!" ucap Aletta dengan memeluk Dini.


Dini hanya tersenyum dengan membalas pelukan Aletta.


"Ayo sini, kamu cari Andi?" tanya Aletta sambil menarik tangan Dini untuk diajak duduk bersama di balkon.


"Apa aku ganggu kalian?" tanya Dini dengan membawa pandangannya pada Andi dan Aletta.


"Enggak," jawab Andi dan Aletta bersamaan.


Andi dan Aletta lalu saling pandang dan tertawa.


"Kamu sendirian Din?" tanya Andi pada Dini.


"Iya, Dimas masih di kantor," jawab Dini.


"Aku denger kamu sama Dimas mau nikah ya, selamat ya Din!" ucap Aletta pada Dini.


"Makasih Al, maaf aku nggak siapin undangannya buat kamu, kamu bisa datang sama Andi nanti," ucap Dini.


"Makasih Din," balas Aletta.


Suasana sedikit canggung beberapa lama sebelum akhirnya Dini memutuskan untuk pulang.


"Aku kayaknya harus pulang deh, aku duluan ya!" ucap Dini lalu beranjak dari duduknya.


Namun Andi menahan tangan Dini saat Dini akan pergi.


"Aku anterin ya!" ucap Andi.


"Nggak perlu," balas Dini dengan menarik tangannya dari Andi lalu berjalan meninggalkan balkon.


Andi lalu membawa pandangannya pada Aletta, ia ingin mengejar Dini namun ia juga tidak mungkin meninggalkan Aletta begitu saja.


"Kamu kejar aja," ucap Aletta yang mengerti kebingungan Andi.


"Aku nggak akan lama," ucap Andi lalu segera turun dan mengejar Dini.


"Tunggu Din!" ucap Andi setengah berteriak namun tidak dihiraukan oleh Dini.


Andi lalu menarik tangan Dini saat ia sudah berhasil mengejarnya.


"Aku bisa pulang sendiri Ndi," ucap Dini yang terdengar kesal.


"Kamu marah?" tanya Andi.


"Enggak, kenapa aku harus marah?"


Andi tersenyum lalu membawa Dini duduk di bangku yang ada di depan home store.


"Kamu ke sini pasti ada perlu sama aku kan? ada apa? apa yang bisa aku bantu?" tanya Andi pada Dini.


"Nggak ada, aku emang pingin ke sini dan ternyata aku malah ganggu kamu di sini," jawab Dini.


"Kamu nggak ganggu aku Din, Aletta juga nggak merasa terganggu kok," ucap Andi.


"Maaf," ucap Dini dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Ia tidak tau apa yang sebenarnya membuatnya kesal. Entah karena keberadaan Aletta di sana atau karena kedekatan Andi dan Aletta.


Ia benar benar tidak bisa mengerti dirinya sendiri. Perasaan kesal itu tiba tiba membuncah dalam dirinya begitu saja.


Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari Dimas.


"Halo sayang, kamu dimana?"


"Aku di home store Andi, kamu udah selesai meeting?"


"Udah, baru aja, aku jemput kamu disana sekarang ya!"


"Oke," balas Dini.


"Bye sayang, love you!"


"Love you too!"


Dini memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas lalu membawa pandangannya pada Andi.


Ia tidak akan membiarkan dirinya egois lagi. Ia tidak ingin Andi pergi darinya, ia tidak ingin Andi berada jauh darinya.


Meski begitu ia tidak berhak untuk mencampuri masalah pribadi Andi terlalu jauh. Selama ini Andi sudah mendukung hubungannya dengan Dimas, sudah sepatutnya ia pun mendukung hubungan Andi dengan perempuan pilihan Andi.


Meski ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya, ia tidak akan bersikap egois dan membuat Andi pergi jauh darinya.


"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Andi membuyarkan lamunan Dini.


Dini menghembuskan napasnya pelan dan tersenyum pada Andi.


"Maaf udah bersikap egois," ucap Dini dengan kembali menundukkan kepalanya.


Andi lalu memegang dagu Dini dan membawa pandangan Dini ke arahnya.


"Kamu nggak egois Din, mungkin keberadaan Aletta yang tiba tiba bikin kamu kurang nyaman, aku mengerti itu," ucap Andi.


"kamu selalu mengerti aku bahkan sebelum aku jelasin apapun sama kamu," ucap Dini dalam hati.


"Kamu bahagia sama dia?" tanya Dini.


"Aletta?" balas Andi bertanya yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Andi.


Andi tersenyum sebelum ia menjawab pertanyaan Dini.


"Dia selalu bisa bikin aku seneng, tapi satu satunya hal yang paling membahagiakan buat aku adalah saat aku lihat kamu bahagia, senyum dan kebahagiaan kamu adalah sumber kebahagiaan aku Din," ucap Andi.


"kamu selalu bilang hal itu Ndi, kebahagiaan aku adalah hal yang membahagiakan buat kamu, tapi kenapa kamu pergi saat kebahagiaan ku semakin dekat?" batin Dini bertanya dalam hati.


"Ayo masuk, kita tunggu Dimas di atas," ucap Andi dengan menarik tangan Dini.


Andi dan Dinipun kembali naik ke balkon dan duduk bersama Aletta.


"Dimas mau jemput Dini di sini," ucap Andi pada Aletta.


Aletta hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Andi.


Tak lama kemudian Dimas sampai dan segera menghampiri Dini di balkon.


Dini berdiri dari duduknya saat melihat Dimas datang. Seperti biasa, pelukan dan kecupan singkat menyambut kebersamaan mereka.


Aletta yang melihat hal itu segera membawa pandangannya pada Andi yang saat itu mengalihkan pandangannya dari Dini dan Dimas.


"Aletta!" ucap Dimas saat menyadari keberadaan Aletta.


"Hai Dim!" sapa Aletta dengan melambaikan tangannya.


"Hai, kamu apa kabar? udah lama nggak keliatan!"


"Aku baik, aku udah beberapa bulan kok di sini, emang baru ada waktu aja buat ketemu Andi," jawab Aletta.


"Sayang, kamu nggak buru buru pulang kan?" tanya Dimas pada Dini.


"Enggak, kenapa?"


"Gimana kalau kita makan malem dulu, anggap aja double date!" ajak Dimas dengan membawa pandangannya pada Dini, Andi dan Aletta bergantian.


Mereka semua terdiam dan saling pandang sebelum menjawab ajakan Dimas.


"Ayo, kamu nggak buru buru pulang juga kan Al?" tanya Dini pada Aletta.


"Enggak kok, kamu gimana Ndi?" jawab Aletta sekaligus bertanya pada Andi.


"Oke, ayo!"


Merekapun berangkat ke restoran terdekat untuk makan malam bersama. Mereka juga membicarakan banyak hal di sana.


"Kalian udah ketemu lagi sejak kapan?" tanya Dimas pada Andi dan Aletta.


"Baru kemarin kok, waktu Andi mau ke luar negeri, malemnya aku ke rumahnya dan ibunya bilang Andi udah pergi ke luar negeri," jawab Aletta menjelaskan.


"Dan ternyata aku nggak jadi pergi," lanjut Andi.


"Pas banget timingnya, jangan jangan ini pertanda!" ucap Dimas.


"Pertanda apa?" tanya Dini.


"Pertanda kalau mereka jodoh, iya kan?"


Andi dan Aletta hanya tertawa kecil mendengar ucapan Dimas.


"Apa jangan jangan kalian udah balikan?" tanya Dimas.


"Lo suka ngaco kalau ngomong!" ucap Andi dengan melemparkan sedotan ke arah Dimas.

__ADS_1


Dini dan Aletta lalu saling pandang dan saling tersenyum tipis mendengar gurauan Andi dan Dimas.


__ADS_2