
Dimas dan Dini sampai di sebuah kafe, mereka segera turun dan masuk ke dalam kafe.
"Gimana keadaan ibu sayang?" tanya Dimas.
"Udah sehat kok," jawab Dini.
"Mama sama papa nanyain kamu terus, udah lama kamu nggak ke rumah!"
"Gimana kalau hari Minggu nanti?"
"Boleh, mama sama papa pasti seneng kalau tau kamu mau dateng!"
Tak lama kemudian makanan dan minuman yang mereka pesan pun datang.
"Katanya kamu mau kasih tau aku sesuatu, apa?"
"Kamu mau tau bad news dulu apa good news dulu?"
"Bad news dulu aja deh, biar bisa diobati sama good news nya."
"Jangan dong, good news dulu aja ya hehe...."
"Ya udah terserah kamu aja, emang apa Good news nya?"
"Aku udah diterima kerja," jawab Dini dengan memamerkan deretan giginya.
"Dimana sayang? kapan mulai kerja?" tanya Dimas antusias.
"Itu dia bad news nya, aku diterima di perusahaan X, jauh dari rumah dan aku nggak tau posisi apa yang aku tempati nanti," jawab Dini.
"Soal jauh, aku bisa antar jemput kamu sayang, tapi kok bisa kamu diterima kerja tapi nggak tau posisinya?"
Dinipun menjelaskan awal mula pertemuannya dengan Ana dan berkat bantuan Andi, Ana memintanya bekerja di perusahaan X untuk menggantikan posisi yang akan ditinggalkannya.
"Kalau dari cerita kamu sih kayaknya posisinya cukup penting di perusahaan, nggak mungkin dia bisa interview kamu gitu aja terus tinggal nanya sama atasannya," ucap Dimas setelah mendengar semua cerita Dini.
"Mungkin, liat nanti aja, minggu depan aku udah mulai kerja."
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Dimas dan Dini sudah meninggalkan kafe. Dinipun menghubungi Andi, memberitahunya jika ia sudah bersiap untuk pulang.
Sesampainya di depan gang, sudah ada Andi yang menunggu Dini.
"Gue duluan ya Ndi!" ucap Dimas sebelum ia meninggalkan Dini dan Andi.
"Oke Dim, hati hati!" balas Andi.
Dini dan Andi lalu berjalan masuk ke gang rumah mereka setelah Dimas pergi.
"Ndi, hari Minggu aku mau ke rumah Dimas," ucap Dini pada Andi.
__ADS_1
"Kebetulan banget, hari Minggu nanti aku juga mau ketemu Anita," balas Andi.
"Mau kemana?"
"Belum tau juga sih, yang penting ketemu aja dulu!"
"Kamu makin deket ya sama dia, apa kamu......"
"Enggak Din, aku cuma ngisi waktu luang aja sama dia," ucap Andi memotong ucapan Dini.
"Kamu cemburu?" lanjut Andi menggoda.
"Enggak lah, ngapain cemburu!" balas Dini dengan tertawa canggung.
"Tenang aja Din, kamu tetep jadi prioritas buat aku," ucap Andi dengan mengusap rambut Dini.
"Ya udah aku pulang dulu, bye!"
"Bye!"
Dini dan Andi lalu berpisah di depan rumah masing masing.
**
Hari Minggu tiba, setelah selesai sarapan Dini segera menyambar tas selempangnya dan berpamitan pada sang ibu untuk keluar bersama Andi.
Baru saja Dini keluar, Andi sudah berjalan ke arah rumahnya. Merekapun segera berjalan berdua ke depan gang untuk menunggu Dimas.
"Macet mungkin Ndi, kamu duluan aja kalau buru buru!"
"Nggak papa aku tunggu Dimas dateng aja!"
Tak lama kemudian Dimas sampai dan segera menepikan mobilnya.
"Maaf telat sayang!" ucap Dimas dengan memeluk Dini dan mencium keningnya.
"Nggak papa kok," balas Dini.
"Lo mau bareng sekalian nggak?" tanya Dimas pada Andi.
"Gue naik bus aja!" jawab Andi.
"Ya udah kalau gitu gue duluan ya!" pamit Dimas yang dibalas anggukan kepala Andi.
Dimas lalu melajukan mobilnya ke arah rumahnya. Tak sampai 30 menit, Dimas sudah sampai di rumahnya.
Dimas dan Dini segera turun dan masuk ke dalam rumah yang langsung disambut oleh mama Dimas.
"Akhirnya menantu mama dateng, kamu apa kabar sayang?"
__ADS_1
"Baik ma, mama sama papa apa kabar?"
"Baik juga sayang, ibu kamu gimana? udah sehat?"
"Sudah ma, Sintia sama papa dimana ma?"
"Papa ada di ruang kerjanya, Sintia udah keluar sama Yoga tadi, ayo masuk cobain kue bikinan mama ya!"
"Eheemm, ini anak mama di sini juga loh!" ucap Dimas yang merasa diabaikan sang mama.
"Sana panggil papa, bilangin kalau Dini udah dateng!" balas sang mama.
Dimas lalu segera naik ke lantai dua menuju ruang kerja sang papa.
Dini, Dimas, mama dan papanya kini duduk di gazebo taman dengan minuman dan kue bikinan mama Dimas di hadapan mereka.
"Gimana Din, udah dapet kerja?" tanya papa Dimas.
"Sudah Pa, di perusahaan X," jawab Dini.
"Lumayan jauh ya kalau dari rumah kamu!" ucap papa Dimas.
"Kamu bisa anter jemput Dini kan Dimas?" tanya mama Dimas.
"Dimas sih bisa aja, nggak tau Andini nya mau apa enggak!" jawab Dimas dengan menyenggol lengan Dini di sampingnya.
"Dimas kan juga sibuk kerja ma, Dini bisa naik bus kok berangkat sama pulangnya," ucap Dini pada mama Dimas.
"Kalau nggak bisa antar jemput, paling enggak bisa jemputnya, kalian ini udah tunangan loh jangan terlalu sibuk kerja sampe lupa quality time berdua!"
"Iya ma, kita masih punya waktu untuk itu kok!" balas Dini.
"Oh ya, perusahaan X itu CEO nya masih muda loh, setau papa usianya 2 tahun di atas Dimas tapi dia udah lulus S2 di Amerika sebelum dia jadi CEO," ucap papa Dimas.
"Ganteng nggak pa?" tanya mama Dimas.
"Mama pernah ketemu kok waktu kita ada pertemuan sama Pak Wijaya," jawab papa Dimas.
"Yang papa bilang calon CEO idaman perempuan itu?" terka mama Dimas yang dibalas anggukan kepala sang suami.
"Itu sih perfect banget Pa, coba mama punya anak perempuan pasti udah mama jodohin sama dia!"
"Selain karena fisiknya, kemampuan bisnisnya juga udah nggak diragukan lagi ma, walaupun baru 2 tahun menjabat, saham perusahaan naik sampai 30%," jelas papa Dimas.
"Waaahh, bener bener calon menantu idaman!" ucap mama Dimas.
"Tapi ada satu yang kamu harus tau Din, walaupun dia masih muda tapi dia sangat tegas dan terkenal kaku, banyak yang bilang dia kurang bisa menguasai emosinya, tapi walaupun begitu dia sangat profesional!" ucap papa Dimas pada Dini.
Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan papa Dimas.
__ADS_1
"nggak masalah kayak apa sifatnya, aku juga pasti jarang ketemu dia, sama kayak di kantor sebelumnya, aku bahkan nggak pernah berhadapan langsung sama papa selain waktu mau resign kemarin," batin Dini dalam hati.
Di sisi lain, Dimas yang mendengar cerita papanya menjadi tertantang untuk segera terjun ke perusahaan sang papa. Namun niatnya untuk membangun bisnis dari nol tidak akan berubah, itu adalah salah satu mimpi besarnya dan ia akan mewujudkannya bersama Andi.