Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Cerita dari Ibu


__ADS_3

Hembusan rasa bahagia kini terasa menerpa ruang hati yang sudah rindu. Dini menyunggingkan senyumnya pada laki laki yang sudah mengganggu pikirannya selama beberapa hari itu.


"Aku baik baik aja Din, jangan khawatir," ucap Andi.


"Iya, aku tau kamu pasti baik baik aja," balas Dini dengan menganggukkan kepalanya.


"Ibu dimana?" tanya Andi.


"Ibu kamu masih di luar, nunggu ayah kamu," jawab Dini.


"Adit dimana?" tanya Andi lagi.


"Kak Adit? kenapa kamu tanyain kak Adit?"


"Dia yang bantuin aku waktu kecelakaan itu Din, dia baik baik aja kan?"


"Kak Adit baik baik aja kok, kak Adit masih nemenin mama Siska di ruangannya, kalau tau kamu udah sadar kak Adit pasti ke sini, dia sering jagain kamu di sini," jawab Dini.


"Tante Siska kenapa?"


Dini diam beberapa saat, ia ragu apakah ia harus menceritakan apa yang ia ketahui atau tidak. Mengingat keadaan Andi yang baru sadar, ia takut akan membebani pikiran Andi.


"Aku kasih tau kak Adit ya kalau kamu udah sadar," ucap Dini berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mengambil ponselnya.


Andi lalu menarik tangan Dini, menahan Dini agar tak menghubungi Adit.


"Jangan, aku mau ketemu ibu dulu," ucap Andi.


Dini menganggukkan kepalanya lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Aku udah berapa lama di sini Din?"


"Hampir satu minggu, kamu bikin aku kangen sama kamu," jawab Dini.


"Sekarang masih kangen?"


Dini mengangguk dengan raut wajahnya yang manja.


"Masih kangen kalau belum peluk kamu," jawab Dini.


"Sini peluk!"


"Mana bisa, kamu masih sakit kan?"


Andi lalu menyentuh bagian perutnya dan menganggukkan kepalanya.


"Aku takut nggak bisa liat kamu lagi Din, aku takut nggak punya waktu buat peluk kamu sebelum aku pergi," ucap Andi.


"Kamu nggak boleh pergi Ndi, kamu udah janji selalu ada buat aku, jadi kamu nggak boleh ninggalin aku pergi," balas Dini dengan mata berkaca kaca.


"Tapi sekarang Tuhan masih kasih aku kesempatan buat nemenin kamu dan aku nggak akan sia siakan itu!" ucap Andi dengan membelai wajah Dini.


Di sisi lain, ayah Andi yang baru datang segera menghampiri sang istri.


"Gimana keadaan Andi bu?" tanya ayah Andi.


"Dia udah sadar yah," jawab ibu Andi dengan tersenyum canggung.


"Kenapa ibu masih di sini? apa Dokter masih ngelarang kita masuk?"


"Ada Dini yang nemenin Andi, ibu nggak berani masuk," jawab ibu Andi.


"Kenapa bu?"


"Ibu seneng Andi udah sadar, ibu sangat bersyukur, tapi ibu takut yah, ibu takut Andi marah sama ibu, Andi pasti kecewa sama kita yah, kita udah sembunyiin rahasia besar tentang dia, kita udah bohong sama dia, kita....."


Ibu Andi menghentikan ucapannya, dadanya terasa sesak memikirkan hal buruk yang akan terjadi pada hubungannya dengan anak yang selama ini dirawatnya dengan penuh cinta.


"Bu, Andi anak kita, selamanya dia akan tetap jadi anak kita, nggak peduli dia tinggal dimana, dia tetap anak kita, biarkan Andi marah, biarkan Andi menuntaskan emosinya, tapi ayah yakin Andi tetep sayang sama ibu, karena ibu yang udah ngerawat dia dari kecil, dia tumbuh dengan kasih sayang ibu dan ayah jadi dia nggak mungkin benci sama ibu dan ayah."


"Ibu takut yah, ibu nggak siap terima hal itu."


"Ibu harus siap, jelaskan semuanya sama Andi, dia harus tau yang sebenarnya!"


Tak lama kemudian Dini keluar dari ruangan Andi.


"Bu, Andi panggil ibu!" ucap Andi pada ibu Andi.


Ibu Andi lalu membawa pandangannya pada sang suami, sedangkan sang suami hanya membalasnya dengan sebuah senyum dan anggukan kepala.


Ibu Andi lalu masuk ke ruangan Andi, sedangkan Dini menunggu di depan sambil menghubungi Dimas.


"Halo Dimas, kamu dimana?"


"Di apartemen sayang, lagi ngerjain proposal," jawab Dimas.


"Aku cuma mau kasih tau kalau Andi udah sadar," ucap Dini.


"Syukurlah kalau gitu, setelah kerjaan ku selesai, aku pasti langsung kesana."


"Beneran?"


"Iya, mungkin sejam lagi aku on the way ke sana."


"Ya udah kalau gitu, selesaiin kerjaan kamu dulu ya!"


"Iya sayang, love you!"

__ADS_1


"Love you too."


"Dimas mau ke sini? dia rela berjam jam di perjalanan buat liat keadaan Andi, kenapa aku baru tau kalau persahabatan mereka sedekat itu," batin Dini dalam hati.


Di dalam ruangan Andi, ibu Andi masih terdiam di hadapan Andi. Ia belum mengatakan apapun sejak masuk ke dalam ruangan Andi.


"Bu, ibu kenapa sedih?" tanya Andi.


"Enggak, ibu nggak sedih, ibu seneng dan sangat bersyukur karena kamu udah sadar, ibu seneng banget," jawab ibu Andi dengan mata berkaca kaca.


"Tapi Andi liat ibu sedih," ucap Andi.


"Ibu minta maaf Ndi, ibu minta maaf," balas ibu Andi yang mulai terisak.


Andi lalu menarik tangan ibunya dan menggenggamnya.


"Andi nggak akan tanya kenapa ibu sembunyiin semua itu dari Andi tapi ibu jangan menangis bu, Andi minta maaf karena ucapan Andi kemarin udah keterlaluan."


"Enggak Ndi, kamu nggak salah, ibu sama ayah yang salah karena udah berbohong sama kamu, tapi kamu harus tau kalau ibu sama ayah sayang sama kamu sebagai anak kandung ayah dan ibu sendiri."


"Andi tau bu, Andi bisa ngerasain kasih sayang ayah dan ibu, terima kasih karena udah merawat Andi dengan semua kasih sayang dan perhatian yang tulus walaupun Andi bukan anak kandung ayah dan ibu."


Ibu Andi hanya terdiam dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. Lagi lagi ia bersyukur dalam hatinya karena Andi tidak membencinya.


"Bu, tolong jelasin yang sebenarnya terjadi, Andi mau denger ceritanya dari ibu," ucap Andi.


Ibu Andi mengangguk lalu memulai ceritanya.


"Ibu dulu kerja di rumah Bu Siska, keluarga bu Siska sangat baik sama ibu dan ayah walaupun ayah nggak kerja di sana, ibu nggak tau gimana ceritanya tapi yang ibu tau bisnis mereka hancur, rumah mereka akan disita tepat saat kamu akan lahir."


"Apa waktu itu udah ada Adit bu?"


"Iya, setau ibu Adit baru usia 2 tahun, waktu Bu Siska melahirkan kamu di rumah sakit, rumah mereka udah disita sama bank, mereka nggak punya tempat tinggal dan semua teman Bu Siska dan suaminya menjauhi mereka, jadi setelah kamu lahir bu Siska minta ibu buat bawa kamu dan merawat kamu."


"Kenapa ibu mau waktu itu?"


"Ibu sama ayah udah menikah bertahun tahun dan belum dikaruniai anak, jadi tanpa pikir panjang ibu menerima permintaan bu Siska waktu itu, ibu pikir ibu akan balikin kamu ke Bu Siska setelah keadaan membaik, tapi ternyata ibu dan ayah nggak bisa lepasin kamu, ibu dan ayah sangat menyayangi kamu dan sudah menganggap kamu anak kita sendiri," jelas ibu Andi.


"Maafin ibu dan ayah Ndi," ucap ibu Andi di akhir ceritanya.


Andi terdiam mendengar cerita ibunya. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya jika alur cerita seperti itu akan ia alami dalam hidupnya.


Sebuah rahasia besar yang sudah 25 tahun tersembunyi tiba tiba terkuak begitu saja.


Di sisi lain, Dini yang sedang berada di depan ruangan Andi bersama ayah Andi tiba tiba dihampiri oleh Adit.


"Gimana keadaan Andi Din?" tanya Adit pada Dini.


"Dia udah sadar kak, dia masih ngobrol sama ibunya, cuma ada satu orang yang boleh masuk," jawab Dini.


"gue tau lo pasti kuat," batin Adit dalam hati.


"Mama gimana kak?" tanya Dini pada Adit.


"Mama udah membaik, 2 hari lagi mama udah boleh ninggalin ruangannya," jawab Adit.


"Mama pasti seneng kalau tau Andi udah sadar," ucap Dini.


"Buat sementara kamu jangan kasih tau mama dulu ya, nanti kalau mama udah boleh keluar aja kita kasih tau mama."


"Iya kak."


Adit lalu menghampiri ayah Andi yang duduk di sebelah Dini.


"Om, tolong kasih kesempatan mama buat jelasin semuanya, setidaknya biar Andi tau cerita dari sudut pandang mama," ucap Adit memohon yang hanya dibalas anggukan kepala ayah Andi.


"Terima kasih om," balas Adit dengan senyum bahagianya.


Beban dalam hatinya kini sudah mengurai menjadi rasa bahagia karena Andi sudah sadar dan sang mama mendapat kesempatan untuk menjelaskan masa lalunya pada Andi.


Entah bagaimana respon Andi nanti, ia dan sang mama hanya bisa menerimanya. Setidaknya mereka sudah berusaha dan menjelaskan yang sebenarnya pada Andi. Ia percaya hubungan darah tidak akan pernah terpisah sejauh apapun waktu menjauhkannya.


Adit lalu kembali melihat Andi dari celah kaca pintu, ia kini yakin jika keputusannya untuk segera memberi tahu sang mama tentang Andi tidaklah salah.


Ia tak peduli jika Andi harus menggantikan posisinya di perusahaan, ia juga tidak akan kecewa jika sang mama nantinya akan lebih peduli pada Andi dibanding dirinya. Ia hanya ingin keluarganya berkumpul dalam satu atap kebahagiaan.


Saat Adit menatap Andi dari luar ruangan, tiba tiba Andi menoleh ke arahnya. Aditpun segera mengalihkan pandangannya dan duduk di samping Dini.


Tak lama kemudian ibu Andi keluar dan meminta Adit untuk masuk menemui Andi.


"Andi minta ketemu sama kamu," ucap ibu Andi pada Adit.


"Baik tante," balas Adit lalu melangkahkan kakinya ke arah ruangan Andi.


Dengan perlahan ia membuka pintu ruangan itu. Jantungnya berdetak kencang seperti sedang jatuh cinta. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk menguasai keadaan hatinya saat itu.


Adit hanya berdiri dan tersenyum canggung ke arah Andi.


"Lo nggak mau duduk?" tanya Andi.


Adit lalu mengangguk lalu duduk di kursi sebelah ranjang Andi.


Untuk beberapa saat mereka hanya saling diam. Entah apa yang sedang mereka pikirkan saat itu.


"Gue seneng keadaan lo membaik," ucap Adit.


"Thanks," balas Andi singkat.

__ADS_1


Mereka kembali terdiam. Suasana benar benar sangat canggung.


"Gue berharap apa yang terjadi sama gue cuma mimpi," ucap Andi.


"Ini nyata, bukan mimpi dan lo harus menghadapinya," balas Adit.


"Semuanya terlalu tiba tiba, gue....."


"Jangan jadiin hal ini beban buat lo, gue sama mama nggak maksa lo buat ikut kita, gue cuma pingin lo denger penjelasan mama, setelah itu terserah lo, semua keputusan lo sendiri yang nentuin," ucap Adit.


Andi terdiam beberapa saat. Adit benar, apa yang dialaminya bukanlah mimpi belaka. Bukan mimpi yang jika ia bangun, semuanya akan kembali seperti sedia kala. Apa yang terjadi padanya adalah kenyataan yang sudah lama tersimpan dan kini ia harus berani menghadapinya.


"Yang penting sekarang kesehatan lo, lo harus cepet keluar dari sini dan lanjutin hidup lo dengan baik," ucap Adit yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Andi sudah tertidur setelah meminum obat dari suster. Sedangkan Adit kembali ke ruangan sang mama.


Tak lama kemudian Dimas datang dan segera menghampiri Dini. Melihat Dimas datang, Dini segera berdiri dan mendapat pelukan dari Dimas.


"Andi udah sadar? masih di ICU?" tanya Dimas.


"Iya, Dokter bilang kemungkinan besok atau lusa dia bisa dipindahin ke ruang rawat," jawab Dini.


"Apa aku boleh masuk?"


"Dia masih tidur, tunggu dia bangun ya!"


"Oke," balas Dimas lalu duduk di samping Dini.


"Bukannya kamu tinggal di luar kota ya sekarang?" tanya ibu Andi pada Dimas.


"Iya tante," jawab Dimas.


"Kenapa kamu mau jauh jauh kesini cuma buat liat keadaan Andi?"


"Andi sahabat Dimas tante, sama seperti Andini, Dimas juga sedih liat keadaan Andi," jawab Dimas.


"Makasih udah percayain bisnis kamu sama Andi, Andi berhutang banyak sama kamu," ucap ibu Andi.


"Itu bukan cuma punya Dimas tante, Andi juga ikut andil di bisnis itu," balas Dimas.


"Andi pasti sangat beruntung punya sahabat seperti kamu."


"Saya juga beruntung bisa mengenal dan bersahabat dengan Andi tante."


Dini yang mendengar percakapan ibu Andi dan Dimas lalu teringat akan hal bodoh yang ia pikirkan beberapa hari kemarin. Hal bodoh yang membuatnya begitu egois.


"Dimas sama Andi emang deket banget, mereka nggak cuma berteman, tapi mereka saling memahami dan peduli satu sama lain, betapa bodohnya aku kalau aku sampe merusak persahabatan mereka, stop Dini, hentikan kebodohan kamu itu," batin Dini dalam hati.


Dimas menggengam tangan Dini dan tersenyum tipis. Gadis yang dicintainya itu tampak sedikit kacau. Sejak Andi di rumah sakit, ia tau Dini selalu menghabiskan waktunya di rumah sakit selain di kantor.


Hal itu membuatnya cemburu, tapi ia tau batas cemburu yang ia rasakan.


"Sayang, kamu belum mandi?" tanya Dimas berbisik.


"Udah, kenapa? apa aku bau?" tanya Dini yang langsung menghindar dari Dimas, namun Dimas segera menarik tangannya.


"Agak sedikit berantakan," ucap Dimas sambil melepas ikat rambut Dini dan mengikatnya lagi.


"Tapi masih cantik kok," lanjut Dimas sambil berbisik di telinga Dini.


"Dimas!" balas Dini dengan memukul lengan Dimas.


"Ikut aku keluar bentar ya!" ajak Dimas.


"Kemana?"


Dimas tak menjawab, ia lalu menarik tangan Dini begitu saja.


"Om, tante, Dimas sama Andini permisi bentar ya!" ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala ibu dan ayah Andi.


Dimas mengajak Dini ke tempat parkir rumah sakit, ia lalu membuka pintu mobilnya dan meminta Dini untuk masuk.


"Tenang aja, aku nggak akan ngajak kamu kemana mana kok, masuk aja!" ucap Dimas.


Dini lalu masuk, diikuti oleh Dimas yang duduk dibalik kemudi.


Dimas lalu mengambil sesuatu dari dashboard, dari bentuknya Dini sudah bisa menerka jika itu sebuah perhiasan.


Dimas lalu membuka kotak yang ia pegang, tampak sebuah kalung dengan inisial namanya tergantung di tangannya.


"Aku pake'in ya!" ucap Dimas yang dibalas anggukan kepala Dini.


Dini lalu berbalik membelakangi Dimas saat Dimas memakaikan kalung itu di lehernya.


"Cantik," ucap Dini dengan memegang huruf D yang ada di kalung itu.


"Lebih cantik kamu, kamu suka?"


"Suka banget, tapi kenapa kamu tiba tiba ngasih aku ini?"


"Biar kamu selalu inget sama aku, aku nggak mau kamu ragu sama aku Andini, aku sayang dan cinta sama kamu," ucap Dimas dengan menggenggam tangan Dini.


Dini lalu melepas tangannya dari genggaman Dimas dan memeluknya.


"Makasih Dimas, makasih," ucap Dini.


"maafin aku, maafin aku yang egois ini," batin Dini dalam hati

__ADS_1


__ADS_2