
Mentari sudah terasa terik meski belum berada tepat di atas kepala.
Di tepi pantai, seorang laki laki dan perempuan sedang duduk berdua memandang ombak yang tak hentinya bekejaran menabrak karang.
"Makasih udah tepati janji kamu," ucap Anita pada Dimas.
Dimas hanya diam, tak merespon ucapan Anita. Ia masih memikirkan Dini meski ia masih merasa kecewa pada Dini.
"Kalau kita bisa kesini sama Andi dan Dini pasti lebih seru!" ucap Anita.
"Mau kamu sebenernya apa sih Nit?"
"Berteman sama kamu, karena cuma kamu yang belum maafin aku," jawab Anita.
"Setelah semua kegilaan yang udah kamu lakuin?"
"Aku tau aku salah dan aku udah minta maaf, apa aku nggak berhak dapet kesempatan kedua?"
"Kesempatan selalu ada Anita, tapi kamu sendiri yang nggak pernah bisa manfaatin itu dengan bener!"
"Aku yakin kamu pasti tau gimana perasaan ku, nggak mudah buat melepas seseorang yang kita cintai Dimas, walaupun dia udah nyakitin kita, tapi dia tetep ada di hati kita, itu yang aku rasain sama kamu dan kamu juga ngerasain hal itu sama Dini kan?"
"Tapi aku nggak pernah ngelakuin hal buruk kayak kamu Anita!"
"Itu bedanya, aku udah buta karena terlalu cinta sama kamu," balas Anita.
"Aku mau pulang Nit!" ucap Dimas lalu berdiri dari duduknya namun segera di cegah oleh Anita.
Anita menahan tangan Dimas lalu ikut berdiri.
"Aku sendirian Dimas, aku selalu kesepian selama ini," ucap Anita pelan.
Dimas hanya diam dan menarik tangan Anita agar terlepas dari tangannya.
"Selama ini aku ngerasa nggak ada yang peduli dan sayang sama aku, sampe aku ketemu Ivan, dia satu satunya yang peduli sama aku, dari dia aku bisa ngerasain rasa sayang yang sesungguhnya, dia...."
"Dia bukan cowok baik Nit!"
"Mungkin emang itu yang kamu lihat, tapi yang aku rasain dia sayang sama aku, aku seneng karena pada akhirnya Tuhan kasih seseorang yang sayang sama aku, tapi ternyata cuma sebentar, aku..... aku..... bahkan belum bisa bikin dia bahagia," ucap Anita dengan mata berkaca kaca.
"Ayo pulang Nit!" ajak Dimas dengan menarik tangan Anita namun Anita menolak.
"Cuma dia yang peduli dan sayang sama aku Dimas, cuma dia yang mengerti aku dan aku udah kehilangan dia, selamanya," ucap Anita dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Lupain dia Nit, dia bukan cowok baik baik."
"Dia baik Dimas, bahkan lebih baik dari kamu, andai aku bisa minta, aku minta buat jatuh cinta sama dia daripada sama kamu, tapi aku nggak bisa, ini bukan kuasa aku Dimas!"
"Stop Nit, kita pulang sekarang!"
"Kamu tau kenapa cinta ini datang? kamu yang bawa benih cinta ini, kamu yang tanam dan kamu yang siram, apa salah kalau pada akhirnya cinta ini tumbuh subur di hati aku? apa salah karena aku jatuh cinta sama milik teman ku? kamu yang hadir dalam hidupku Dimas, kamu yang pertama datang, bukan aku! dan sekarang kamu salahin aku atas semua yang terjadi? kamu emang jahat Dimas, jahat!" ucap Anita dengan memukul dada Dimas.
Dimas yang selalu luluh dengan air mata itu pada akhirnya kalah. Ia menarik Anita dan mendekapnya.
Dalam hatinya, ia membenarkan ucapan Anita. Ia memang yang lebih dulu datang dalam kehidupan Anita, bukan Anita yang mendatanginya.
Meski itu hanyalah sebuah kesalahpahaman, cinta yang sudah terlanjur tumbuh tak dapat dipaksa mati begitu saja.
"Aku minta maaf Anita," ucap Dimas dengan mengusap punggung Anita.
Anita tak menjawab, ia masih menangis dalam pelukan Dimas. Sebuah pelukan yang sudah sangat lama ia rindukan.
Dimas lalu melepaskan Anita dari pelukannya dan menghapus air mata Anita.
"Aku yakin ada seseorang yang lebih baik dari aku ataupun Ivan yang akan tulus mencintai kamu," ucap Dimas dengan membelai rambut Anita.
"Percuma karena aku nggak akan bisa cinta sama dia!"
"Cinta bisa datang dengan sendirinya Anita, aku minta maaf karena udah hadir dalam hidup kamu dan memberikan kesalahpahaman di antara kita, aku harap ini yang terkahir kalinya kita bertemu, jangan pernah temui aku lagi Nit, semua yang udah kamu lakuin udah lebih dari cukup buat balas kesalahpahaman ini," ucap Dimas lalu pergi meninggalkan Anita.
"Dimas, jangan pergi!"
Dimas tetap melanjutkan langkahnya. Ia tidak menghiraukan Anita yang masih terus memanggilnya.
Dimas segera berjalan ke tempat parkir dan masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam mobil.
Begitu banyak panggilan tak terjawab dari Andi di sana.
Gue tunggu di home store -isi pesan Andi-
Dimas lalu melajukan mobilnya ke arah home store untuk menemui Andi.
Sesampainya di sana, home store masih terlihat tutup. Andi sengaja menunggunya di depan home store.
"Ada apa Ndi?" tanya Dimas tanpa rasa bersalah.
"Dari mana?"
"Dari..... ketemu temen, ada apa?"
"Oh, jadi udah baikan nih? udah jadi temen lagi?"
"Maksud lo apa sih?"
"Gue tau lo dari mana, sama siapa, ngapain aja!"
"Lo......"
"Iya, gue sama Dini dari pantai dan liat lo pelukan sama Anita, udah deket lagi ya sekarang?"
Dimas menggeleng lalu duduk di sebelah Andi.
__ADS_1
"Kenapa lo nggak langsung hajar gue?" tanya Dimas.
"Gue maunya gitu, tapi gue masih sayang sama tangan gue!"
"Lo masih percaya sama gue?"
"Dikit," jawab Andi singkat.
"Lo sama Andini salah paham, tapi gue nggak akan berusaha buat jelasin ini sama Andini, terserah dia mau mikir apa tentang gue, tapi yang pasti gue nggak baikan sama Anita."
"Apa yang lo ucapin berbanding terbalik sama apa yang terjadi Dim!"
"Lo cuma lihat dari jauh, lo nggak liat dan denger apa yang sebenarnya terjadi."
"Apa yang gue nggak tau?"
"Lupain aja, kalau lo udah selesai ngomong, gue mau balik dulu!"
"Lo nggak mau jelasin apa apa Dim?"
"Intinya gue ada hubungan apa apa sama Anita bahkan temen, kalau lo sama Andini nggak percaya itu terserah kalian, gue nggak peduli!" ucap Dimas lalu segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Andi.
"apa mereka berantem? kenapa? apa jangan jangan malem itu....."
Andi lalu meninggalkan home store dan kembali ke rumahnya. Tidak, ia tidak pulang. Ia menemui Dini di rumahnya.
"Din, kamu udah tidur?" tanya Andi dari depan pintu kamar Dini.
Tak ada jawaban, namun tiba tiba pintu kamar Dini terbuka. Dilihatnya Dini yang tampak berantakan dengan mata merah karena menangis.
Andipun masuk, mereka duduk di tepi ranjang.
"Aku udah ketemu Dimas," ucap Andi.
"Buat apa?" tanya Dini dengan pandangan kosong.
"Kalian berantem?" tanya Andi.
Dini menggeleng.
"Jujur Din, ada apa sebenarnya?"
"Mungkin kali ini kita bener bener selesai Ndi," jawab Dini.
"Kenapa? ada apa?"
"Malem itu, dia liat aku sama kak Adit, dia marah banget, aku coba buat ngerti posisinya saat itu, jadi aku kejar dia dan...... dia udah sama Anita di mobil," jawab Dini dengan air mata yang mulai tumpah namun segera dihapusnya.
"Mereka nggak ada hubungan apa apa Din, kamu....."
"Belum, bukan enggak, Dimas bahkan bohong sama aku kalau dia nggak akan bisa maafin Anita, aku seneng kita semua baikan dan berteman, tapi bukan ini yang aku mau, bukan hubungan diam diam di belakang ku kayak gini Ndi!"
"Cuma apa? cuma pelukan? makan bareng? jalan bareng? aku bahkan nggak tau sedeket apa mereka di belakang ku!"
"Enggak Din, kamu salah paham, Dimas nggak mungkin kayak gitu, aku tau Dimas dan kamu juga kan?"
"Apa dia jelasin sesuatu sama kamu? apa dia mengelak semua yang kita liat tadi?"
Andi menggeleng pelan.
"Dia bahkan mengakui perbuatannya kan Ndi?"
"Enggak Din, Dimas masih tetap sama, dia nggak mau berhubungan lagi sama Anita."
"Kenapa kamu sebegitu percayanya sama dia?"
"Karena aku tau dia beneran cinta sama kamu dan jauh dalam hati kamu, kamu juga masih cinta sama dia."
Dini hanya diam. Semua kepahitan yang ia terima, nyatanya tidak mengurangi sedikitpun rasa cintanya pada Dimas.
"Aku cuma mau kasih tau itu aja, aku pulang dulu, kamu juga harus tidur Din, besok pagi kamu kerja," ucap Andi dengan mengusap rambut Dini lalu beranjak pergi.
**
Pagi datang.
Dini sudah berada di depan gedung tempatnya bekerja. Ia masuk seperti biasa dan segera membuatkan minuman untuk Adit lalu masuk ke ruangannya.
Tak lama setelah ia duduk dan menyalakan komputer, Adit datang dan masuk ke ruangannya begitu saja.
"Gimana semalem? apa Dimas masih marah?" tanya Adit tanpa basa basi.
"Maaf pak, saya....."
"Masih ada 5 menit sebelum jam kerja, kakak bukan atasan kamu sekarang!"
Dini hanya tersenyum melihat jam di ponselnya.
"Jawab pertanyaan kakak Din, kamu baik baik aja kan?"
Dini mengangguk.
"Dini baik baik aja kak," ucap Dini dengan senyum yang dipaksakan.
"Nanti siang kita ke rumah, kita jelasin semuanya sama mama."
"Nanti siang? kenapa tiba tiba?"
"Maaf karena kakak libatin kamu dalam masalah ini, kakak nggak mau hubungan kamu sama Dimas berantakan karena hal ini."
"Kita emang selalu berantakan dari dulu kak," balas Dini dengan tersenyum kecut.
__ADS_1
"Oke jam kerja sudah dimulai, cepat selesaikan pekerjaan kamu dengan baik, oke?"
"Baik pak," balas Dini dengan menahan senyumnya.
Adit lalu tersenyum tipis dan mengusap rambut Dini lalu masuk ke ruangannya sendiri.
Di tempat lain, Andi dan Dimas sudah berada di home store. Mereka sedang mengerjakan pekerjaan masing masing.
"Lo ketemu Dini sama Adit?" tanya Andi pada Dimas.
"Iya, mereka romantis banget dan kayaknya lo tau tentang hal itu," jawab Dimas.
"Mereka pura pura Dim."
"Maksud lo?"
"Apa Dini nggak jelasin semuanya sama lo? apa lo pergi gitu aja tanpa nunggu penjelasannya? apa setelah itu lo langsung deketin cewek lain malam itu juga?"
"Apa yang mau dijelasin Ndi, jelas jelas gue liat mereka gandengan tangan, kedekatan mereka itu lebih dari sekedar partner bisnis Ndi, lo tau itu kan?"
"Lalu apa bedanya sama waktu gue liat lo sama Anita? apa pelukan di pinggir pantai masih kurang romantis buat lo?"
"Gue....."
"Gue percaya sama lo Dim, gue tau lo nggak mungkin nyakitin Dini kayak gitu, jadi apa yang kita lihat itu belum tentu bener kan? itu juga berlaku sama kejadian malem itu."
"Tapi Andini pilih laki laki itu Ndi!"
"Enggak, dia ngejar lo tapi lo udah sama Anita di mobil."
Seketika Dimas membelalak tak percaya.
"Lo serius?"
"Nggak tau berapa jauh dia jalan sampe gue ketemu dia di trotoar sendirian," ucap Andi tanpa menjawab pertanyaan Dimas.
"jadi yang aku lihat malem itu..... Andini jalan sejauh itu dan bertemu Andi di sana?" batin Dimas dalam hati.
"Kalian udah sama sama dewasa Dim, kapan kalian bisa belajar menyelesaikan masalah kalian sendiri?" tanya Andi kesal.
"Gue emang salah Ndi, tapi kenapa Andini ngelakuin itu? kenapa dia di sana sama atasannya dan pegangan tangan?"
"Kalau lo nggak pergi gitu aja malem itu, lo akan tau jawabannya, sekarang lo cari tau sendiri jawabannya, gue nggak akan ikut campur lagi sama masalah kalian."
"Gue harus pergi," ucap Dimas lalu menyambar kunci mobilnya.
"Kemana?"
"Gue harus ketemu Andini Ndi!"
"Bego banget sih, ini masih jam kerja, tunggu jam makan siang nanti!"
Dimas lalu membawa pandangannya pada jam tangannya dan melihat jam yang masih menunjukkan pukul 9 pagi.
Dimaspun kembali duduk.
Biiiiippp Biiiippp Biiippp
Ponsel Andi berdering, entah untuk ke berapa kalinya.
"Siapa sih Ndi, dari tadi nggak lo angkat!" tanya Dimas.
"Bukan siapa siapa," jawab Andi.
"orang emang cuma lihat apa yang terlihat, tanpa mereka tau kebenarannya, maaf tante, Andi nggak mau orang lain menilai tante dengan buruk, kita nggak ada hubungan apa apa dan kedekatan kita bisa diasumsikan buruk oleh orang lain nantinya, Andi nggak mau hal itu terjadi sama tante," batin Andi dalam hati.
Jika Dimas mengkhawatirkan nama baik Andi, maka kini Andi mengkhawatirkan nama baik mama Siska.
**
Jam makan siang tiba. Dimas sudah menunggu Dini di depan tempat kerjanya.
Sedangkan Dini dan Adit segera berlari ke luar kantor karena Adit baru saja menerima panggilan dari Lukman jika sang mama kembali melukis di tepi kolam renang. Jika sudah begitu, keadaan emosi sang mama sudah dipastikan tidak sedang baik baik saja.
Beberapa saat sebelum Dini memasuki mobil Adit, seseorang menarik tangannya.
"Dimas, kamu ngapain?"
"Ada yang harus kita selesaikan Din," jawab Dimas dengan masih menahan tangan Dini.
"Aku tau, semuanya udah selesai, itu kan yang kamu mau?"
"Enggak Din, aku....."
"Din, kakak berangkat sendiri ya!" ucap Adit dari dalam mobil.
"Dini ikut kak!" balas Dini dengan menarik paksa tangannya dari Dimas.
"kakak?"
"Ada yang harus kita bicarain Andini, aku mohon!"
"Aku harus pergi Dimas!"
"Kamu pilih dia?"
"Iya, aku pilih semua selain kamu, puas?"
Dini lalu masuk ke dalam mobil Adit dan meninggalkan Dimas begitu saja.
Dimas masih berdiri di tempatnya sampai mobil Adit menghilang dari pandangannya.
__ADS_1