
Andi dan Dini masih berada di kafe bersama kliennya. Tapi entah kenapa kliennya seperti sedang mempermainkannya.
Kliennya sama sekali tidak membahas masalahnya dengan clothing arts, ia malah membahas hal hal yang cenderung bersifat pribadi yang membuat Andi kurang nyaman.
"Maaf Bu, bukannya kita bertemu di sini mau membicarakan masalah yang....."
"Bu? hahaha..... apa saya setua itu?"
"Maaf," balas Andi.
"Oke nggak papa, saya emang udah punya anak, tapi saya rasa usia saya nggak beda jauh sama kamu dan lagi saya juga sudah nggak bersuami," ucap si klien.
Andi hanya diam dengan membuang muka mendengar ucapan si klien.
"Maaf mbak, saya masih ada urusan lain, kalau mbak minta saya datang kesini bukan buat bahas masalah yang sebenarnya sebaiknya saya pergi," ucap Andi.
"Sabar dulu dong, saya cuma bercanda kok waktu saya bilang mau bawa ke jalur hukum masalah ini, saya tau kamu sudah berusaha memberikan apa yang saya inginkan," ucap si klien.
"Apa ganti rugi itu juga candaan mbak?" tanya Andi.
"Hehehe.... itu semua alasan supaya saya bisa ketemu kamu," jawab si klien yang membuat Andi hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap si klien.
"Apa dia pacar kamu?" tanya si klien sambil menunjuk Dini.
"Iya, dia pacar saya," jawab Andi yang terpaksa berbohong.
"Hmmmm.... saya pikir kamu nggak punya pacar," ucap si klien yang tampak kecewa.
"Saya anggap masalah ini selesai, kalau mbak masih ingin mengajukan gugatan, silakan, saya permisi," ucap Andi lalu berdiri dari duduknya.
Si klien pun ikut berdiri dan berlari ke arah Dini.
"Kamu beruntung mendapatkan cintanya," ucap si klien pada Dini lalu segera pergi begitu saja.
Dini hanya menatap wanita itu dengan tatapan tak mengerti sampai wanita itu menghilang dan Andi datang.
Andi hanya mengernyitkan keningnya heran dengan sikap kliennya itu.
"Ayo Din, kita pulang sekarang!" ucap Andi pada Dini.
Dini menganggukkan kepalanya lalu keluar dari kafe bersama Andi.
"Orang itu tadi bilang apa sama kamu?" tanya Andi pada Dini saat mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Kamu beruntung mendapatkan cintanya,"
Dini tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Andi.
"Kenapa Din?" tanya Andi yang melihat Dini tiba tiba tersenyum.
"Kamu beruntung mendapatkan cintanya," ucap Dini menirukan ucapan wanita tadi.
"Haah, gimana?" tanya Andi memperjelas pendengarannya.
"Dia bilang 'kamu beruntung mendapatkan cintanya'," jawab Dini dengan tersenyum ke arah Andi.
Andi tersebut tipis mendengar jawaban Dini.
"Kenapa dia bisa bilang gitu?" tanya Dini.
"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu, maaf karena aku bilang sama dia kalau kamu pacar ku," ucap Andi yang membuat Dini cukup terkejut.
"Kenapa kamu bilang gitu?"
"Dia sengaja ngajak aku ketemu di kafe bukan buat bahas masalah yang sebenarnya Din, dia ada maksud lain buat ngajak aku ketemu di sana," jawab Andi.
"Maksud lain gimana?" tanya Andi tak mengerti.
"Dia malah bahas hal hal pribadinya, dia juga nanya hal hal pribadiku dan aku nggak nyaman dengan itu, sampe akhirnya dia nanya apa kamu pacarku? aku sengaja jawab iya biar dia berhenti bahas hal hal pribadi kayak gitu," jawab Andi menjelaskan.
"Hmmmm.... kayaknya dia suka deh sama kamu!" ucap Dini.
"Jangan aneh aneh deh Din, dia udah punya anak," balas Andi.
"Berarti udah punya suami dong!"
"Katanya sih cerai," ucap Andi.
"Waaahhh, ini sih fix dia suka sama kamu, dia mau kamu jadi ayah dari anaknya hehe....."
"Yang masih ori banyak Din, kenapa aku harus sama janda!"
"Jangan bilang gitu, ntar kamu beneran nikah sama janda loh!"
"Amit amit, jangan sampe'!" ucap Andi dengan menggelengkan kepalanya.
Dini hanya terkekeh melihat sikap Andi.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Dini. Andi dan Dini keluar dari mobil.
Saat Andi akan berpamitan pulang, ibu Dini keluar dari rumah dan meminta Andi untuk mampir.
Andipun menganggukkan kepalanya dan mengikuti Dini masuk ke dalam rumah.
"Andi baru pulang kerja juga loh Bu, dia pasti capek, mau langsung istirahat di rumah," ucap Dini pada sang ibu.
"Enggak kok, aku nggak capek," sahut Andi.
"Kamu mandi aja, ibu siapin makan malamnya dulu, kita makan malam sama sama," ucap ibu Dini.
Dinipun masuk ke dalam kamar lalu pergi ke kamar mandi.
"Ibu lagi masak?" tanya Andi.
__ADS_1
"Iya, kamu tunggu sebentar ya!" jawab ibu Dini.
"Andi bantuin Bu," ucap Andi.
Ibu Dini hanya tersenyum membiarkan Andi membantunya di dapur.
"Gimana bisnis kamu Ndi?" tanya ibu Dini.
"Lancar Bu," jawab Andi sambil mengocok telur.
"Ibu dan ayah kamu pasti bangga sekali lihat kamu sekarang, mereka sayang banget sama kamu Ndi, ibu bisa bilang seperti ini karena ibu lihat sendiri bagaimana mereka membesarkan kamu dengan baik," ucap ibu Dini.
"Iya Bu, Andi juga sayang banget sama ibu dan ayah, buat Andi mereka tetap orangtua Andi selamanya," balas Andi.
"Kamu anak yang baik Ndi, ibu yakin kamu akan mendapatkan pendamping hidup yang sebaik kamu," ucap ibu Dini.
Andi hanya tersenyum tipis mendengarkan ucapan ibu Dini.
"Andi hanya berharap jika pendamping hidup yang ibu maksud adalah Dini, walaupun itu cuma harapan dan nggak seharusnya Andi berharap," batin Andi dalam hati.
"Kalau Dimas nggak datang di hidup Dini, mungkin Dini akan jadi pendamping hidup kamu Ndi, nggak ada laki laki lain yang ibu percaya buat jagain Dini selain kamu," ucap ibu Andi.
Andi masih tersenyum, tak tau harus menjawab apa ucapan ibu Dini.
"Kalau ibu bisa merubah takdir, ibu akan minta Tuhan supaya menempatkan kamu jauh di dalam hatinya Dini sampai nggak ada seorangpun yang bisa masuk ke hatinya selain kamu," ucap ibu Dini.
"Sayangnya kita nggak bisa merubah takdir jodoh yang udah tergaris bu," balas Andi dengan tersenyum pilu.
"Iya, kamu benar, ibu sangat menyayangi Dini Ndi, dia satu satunya yang ibu miliki saat ini, ibu cuma mau dia bahagia dan ibu harap dia bahagia dengan pilihannya," ucap ibu Dini.
Andi kembali menganggukkan kepalanya dengan menatap kosong penggorengan di hadapannya.
"Bau gosong, bau gosong!" teriak Dini dari dalam kamar mandi.
Seketika Andi tersadar dari lamunannya dan segera mematikan kompor begitu menyadari kepulan asap memenuhi dapur Dini dan telur dadar yang dimasaknya sudah menghitam.
"Maaf Bu, Andi nggak fokus tadi," ucap Andi yang merasa bersalah sedangkan ibu Dini hanya tertawa karena ia sendiri juga tidak menyadari jika penggorengannya sudah mengeluarkan kepulan asap di sekitarnya.
Setelah membereskan kekacauan yang dibuatnya, Andi melanjutkan menggoreng telur dadar yang baru.
Tak lama kemudian Dini keluar dari kamar mandi.
"Apa yang gosong tadi?" tanya Dini.
"Telur," jawab Andi.
"Kamu yang bikin gosong?" tanya Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
"Hahaha.... bikin telur dadar aja nggak bisa, nanti aku ajarin gimana caranya," ucap Dini sombong lalu masuk ke kamarnya.
Andi hanya tersenyum tipis lalu menyiapkan makan malam di meja bersama ibu Dini. Merekapun makan malam bersama, Andi, Dini dan sang ibu.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Andi dan Dini membereskan meja dan membawa piring kotor ke dapur.
"Jangan, masak tamu cuci piring sih!" ucap Dini dengan memegang tangan Andi, mencegahnya menyalakan kran air.
Seketika Andi terdiam saat Dini memegang tangannya. Dini yang menyadari hal itu segera melepasnya dan tersenyum canggung.
Andi lalu menyalakan kran air dan mencuci piring kotor dibantu dengan Dini.
Mereka mencuci piring sambil membicarakan banyak hal dan sesekali tertawa.
Ibu Dini yang melihat hal itupun tersenyum senang.
Malam semakin larut, Andi berpamitan untuk pulang pada Dini dan ibunya.
Setelah kepulangan Andi, Dini duduk di depan tv bersama sang ibu.
"Dia selalu bisa bahagiain kamu," ucap ibu Dini.
"Andi?" tanya Dini.
"Iya, kamu selalu bahagia kalau lagi sama Andi," jawab ibu Dini.
"Ibu benar, dia sahabat yang baik buat Dini," balas Dini.
"Jaga hubungan kalian baik baik Din, kamu nggak akan bisa menemukan laki laki lain setulus Andi," ucap ibu Dini yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
"Gimana hubungan kamu dengan Dimas?" tanya ibu Dini.
"Baik, ibu kenapa nggak cerita sama Dini kalau ibu abis ketemu papa dan mamanya Dimas?"
"Mereka yang minta ibu buat nggak kasih tau kamu," jawab ibu Dini.
Dini lalu mendekat dan memeluk ibunya.
"Do'ain Dini sama Dimas ya Bu," ucap Dini.
"Pasti, ibu selalu berdo'a buat kebaikan kamu," balas ibu Dini.
**
Di tempat lain, Dimas baru saja pulang ke apartemen nya saat hari sudah larut.
Setelah mandi dan berganti pakaian Dimas mengambil ponselnya dan melihat kapan ia terakhir kali menghubungi Dini.
"Sore tadi dia masih sama Andi, apa sampai sekarang mereka masih sama sama?"
Dimas lalu membuka penyimpanan kontaknya dan menghubungi Andi.
"Halo Ndi, lo dimana?" tanya Dimas saat Andi sudah menerima panggilannya.
"Di rumah, kenapa?" jawab Andi yang saat itu baru saja sampai di rumah.
__ADS_1
"Andini udah pulang kan?" tanya Dimas.
"Udah, kenapa nggak lo hubungi aja langsung!"
"Nggak papa, ada yang mau gue bicarain juga sama lo!" ucap Dimas.
"Ada apa?" tanya Andi.
"Andini pasti udah cerita soal pernikahan kita kan?"
"Udah," Jawab Andi singkat.
"Gue harap lo nggak ngelakuin sesuatu yang bisa merusak kebahagiaan gue sama Andini," ucap Dimas.
Andi tersenyum tipis mendengar ucapan Dimas.
"Apa menurut lo gue sejahat itu?" tanya Andi.
"Gue percaya sama lo Ndi, tapi gue nggak percaya orang orang di sekitar lo!" jawab Dimas.
"Maksud lo?"
"Gue nggak tau siapa aja yang tau tentang perasaan lo sama Andini selain gue, gue cuma nggak mau mereka mempengaruhi lo dan gue nggak mau mereka ikut campur tentang hal ini, lo pasti ngerti maksud gue kan?"
"Iya gue ngerti, lo tenang aja," jawab Andi.
"Lo sahabat terbaik gue Ndi, Andini juga anggap lo sahabat terbaiknya, gue harap nggak akan ada yang berubah tentang itu," ucap Dimas.
"Iya, gue juga berharap yang sama," balas Andi.
"Ya udah, gue hubungin Andini dulu, bye!"
Panggilan berakhir. Andi mendongakkan kepalanya, menatap gelap langit malam bersama hatinya yang terluka.
Andi lalu masuk ke dalam rumah dan menemui salah satu asisten rumah tangganya.
"Mama sama kak Adit kemana ya mbak? kok mobilnya nggak ada?" tanya Andi.
"Ibu keluar dari tadi pagi mas, kalau mas Adit mungkin masih di kantor karena belum pulang juga dari pagi," jawab si asisten rumah tangga.
Andi menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Bukannya tadi Dini gantiin Adit buat meeting ya, berarti dia nggak di kantor dong, apa dia lagi sama mama? kemana?"
Andi lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Adit.
"Halo, lo sama mama nggak?" tanya Andi saat Adit sudah menerima panggilannya.
"Iya, kenapa?"
"Lagi dimana? kenapa gue nggak diajak?"
Tiba tiba terdengar suara Adit yang berbicara pada sang mama.
"Anak mama nih nyariin," ucap Adit sambil memberikan ponselnya pada sang mama.
"Halo sayang, kamu udah pulang?" tanya mama Siska pada Andi.
"Udah, mama lagi dimana sekarang?" jawab Andi sekaligus bertanya.
"Mama lagi di rumah calon kakak ipar kamu," jawab mama Siska yang membuat Ana tersenyum malu di sebelahnya.
"Calon kakak ipar? maksud mama siapa?" tanya Andi terkejut.
"Kamu nggak usah pura pura nggak tau, Adit udah cerita semuanya dan dia juga bilang kalau kamu tau semuanya," jawab mama Siska.
"Andi bingung," ucap Andi yang tidak mengerti apa yang sudah terjadi.
"Sini sayang, mama pijitin lagi kaki kamu," ucap mama Siska pada Ana setelah ia mengembalikan ponsel Adit.
"Mama udah tau semuanya," ucap Adit mengkonfirmasi ucapan sang mama.
"Ini beneran lo lagi di rumah mbak Ana sama mama?" tanya Andi yang masih tidak percaya.
"Iya, bentar lagi gue pulang," jawab Adit.
"Mama gimana?"
"Mama mau tinggal di sini sama Ana," jawab Adit yang membuat Andi semakin bingung
"Ini ada apa sih sebenarnya? kenapa cuma gue yang nggak tau apa apa?"
"Hahaha..... besok gue jelasin semuanya, gue tutup dulu ya!"
"Tunggu tunggu....."
Tuuuuttt tuuuuttt tuuuuttt
Panggilan berakhir.
"Kakak sialan!" gerutu Andi kesal.
"Jadi mama udah tau tentang mbak Ana? kenapa bisa? apa mama diam diam ngikutin kak Adit? bisa jadi, mama pasti nyuruh orang buat ngintai kak Adit," ucap Andi menerka nerka.
Andi lalu merebahkan badannya di ranjang dan memejamkan matanya.
"Gue nggak tau siapa aja yang tau tentang perasaan lo sama Andini selain gue, gue cuma nggak mau mereka mempengaruhi lo dan gue nggak mau mereka ikut campur tentang hal ini, lo pasti ngerti maksud gue kan?"
Ucapan Dimas kembali terngiang di kepalanya. Andi menghembuskan napasnya kasar dan beranjak dari ranjangnya. Andi pergi ke kamar mandi dan mengguyur badannya di bawah shower.
Andi terdiam di bawah guyuran air, berharap luka dalam hatinya ikut luruh bersama guyuran air yang membasahi dirinya.
Andi mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya. Merasakan sakit dalam hati yang seolah sedang mengejek dirinya.
__ADS_1
Rasa sakit itu ia biarkan menggoresnya tanpa ampun seolah memang hatinya adalah tempat rasa sakit dan cinta itu tumbuh bersamaan.