
Waktu berlalu, hari berganti. Namun rasa sakit dalam hati belum juga teratasi.
Minggu pagi itu, Ana duduk dengan segelas susu di tangannya. Melihat dan mencium bau susu itu sudah membuatnya mual, namun ia tetap harus menghabiskan susu itu mengingat laki laki di hadapannya sedang menunggunya untuk menghabiskan susu itu.
"Susu itu nggak akan habis kalau cuma kamu perhatiin An!" ucap Adit pada Ana.
Ana hanya diam, ia masih memegang susu di tangannya tanpa ada niat untuk meminumnya.
"Aku akan turutin apapun yang kamu mau asal kamu mau minum susu itu An, aku janji," ucap Adit membujuk.
"Gue bukan anak kecil Dit," balas Ana.
Adit lalu duduk di samping Ana dan mengambil segelas susu yang Ana pegang kemudian meletakkannya di meja.
Adit menarik tangan Ana dan menggenggamnya lalu membawanya menyentuh perut Ana.
"Sekarang, kamu nggak cuma hidup buat diri kamu sendiri An, ada nyawa yang harus kamu jaga, ada bagian dari hidup kamu yang berharga di sini, saat semua orang ninggalin kamu, kamu harus percaya kalau dia akan selalu ada buat kamu," ucap Adit.
Dalam hatinya, Ana membenarkan ucapan Adit. Semua rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan adalah kesalahannya bersama Deva. Sedangkan janin dalam rahimnya bukanlah sebuah kesalahan, melainkan sumber kekuatan yang akan membawanya untuk hidup lebih bahagia.
Meski kehadirannya tidak ia inginkan, namun ia yakin dengan hidup bersamanya ia akan menjalani hari hari indah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia akan memulai hidupnya dari awal bersama sang buah hati yang akan selalu menemaninya.
"Dit, apa gue bisa jadi ibu yang baik?"
"Pasti An, kamu perempuan tangguh yang selama ini aku kenal, dia pasti bangga dan bahagia karena punya ibu seperti kamu," jawab Adit.
"Tapi lo harus janji satu hal sama gue, jangan pernah usik Deva lagi dan jangan pernah ungkit dia lagi, bisa?"
"Bisa," jawab Adit penuh keyakinan.
Ana tersenyum tipis mendengar jawaban Adit yang singkat namun penuh keyakinan itu. Ia lalu melepaskan tangannya dari genggaman Adit dan mengambil segelas susu yang ada di meja.
"Oke, anggap ini air biasa," ucap Ana dengan menutup hidungnya lalu meminum susu itu hingga habis tak bersisa.
Seketika rasa mual menjalari dirinya, namun ia berusaha menahannya. Dengan sigap, Adit memberikan potongan buah pada Ana, berusaha mengalihkan rasa susu yang membuat Ana mual.
"Gimana? masih mual?" tanya Adit.
"Udah lumayan," jawab Ana.
Ana lalu pergi ke kamarnya dan mengambil ponsel yang Adit belikan beberapa hari yang lalu.
"Gue mau pake HP ini, nggak papa?" tanya Ana.
"Nggak papa dong, itu emang buat kamu," jawab Adit.
"Aku juga mau ganti nomor HP, tapi aku belum beli," ucap Ana.
"Kamu mau aku beliin?"
"Nggak perlu, ada yang lebih penting dari itu," ucap Ana.
"Apa?"
"Gue mau minta tolong, gue udah nggak punya pilihan lain," ucap Ana.
"Minta tolong apa An, bilang aja!"
Ana lalu kembali masuk ke kamarnya dan keluar dengan membawa laptop miliknya.
"Ini satu satunya barang gue yang masih ada nilai jualnya, gue tau ini bukan laptop mahal dan lo pasti udah punya yang lebih bagus daripada ini, gue minta tolong lo buat beli laptop gue, tapi kalau gue udah ada uang bakalan gue ambil lagi, tapi gue nggak bisa mastiin kapan," ucap Ana dengan memelankan suaranya di akhir kalimatnya.
"An, aku...."
"Gue tau gue emang nggak tau malu, gue maksa cepet cepet resign dari kantor tapi akhirnya malah kayak gini, sekarang semua tabungan dan perhiasan gue udah abis Dit, gue juga minta maaf kalau sikap gue kemarin kemarin bikin lo kesel, gue cuma...."
Ana menghentikan ucapannya karena Adit tiba-tiba memeluknya.
"2 hari lagi ulang tahun mama, kamu dateng kan?" tanya Adit mengalihkan pembicaraan.
"Aku nggak punya apa apa buat mama Siska Dit," jawab Ana.
Adit lalu melepaskan Ana dari pelukannya.
"Kamu nggak cek saldo ATM kamu?" tanya Adit.
"Buat apa, ATM ku udah jadi sarang laba-laba," jawab Ana.
"Coba cek aja," ucap Adit.
Anapun mengambil ponsel lamanya dan mengecek saldo ATM nya. Matanya membelalak tak percaya karena ada saldo puluhan juta di sana.
Ia pun segera mengecek mutasi nya sejak satu minggu yang lalu.
"Reward pegawai?"
Adit menganggukkan kepalanya.
"Apa semua orang dapat ini?" tanya Ana.
"Cuma orang orang tertentu yang hasil kerjanya memuaskan buat gue, tenang aja itu uang halal kok," jawab Adit menjelaskan.
Ana lalu menaruh ponselnya dan memeluk Adit.
__ADS_1
"Thanks Dit, makasih banget, gue beruntung banget kenal sama lo!" ucap Ana.
"Rencana kamu sekarang apa An?" tanya Adit.
Ana lalu melepaskan dirinya dari pelukan Adit.
"Gue mau kerja dari rumah aja, keadaan gue nggak memungkinkan buat kerja di kantor," jawab Ana.
"Hubungin gue kalau lo butuh apa apa," ucap Ana.
"Kenapa lo baik banget sama gue Dit?" tanya Ana.
"Nggak cuma sama kamu An, Jaka sama Dini juga pasti dapat reward itu nanti, karena....."
"Bukan soal itu, lo pasti tau maksud gue!"
"Aku udah pernah bilang berkali kali An, aku nggak punya alasan apapun," ucap Adit.
"Gue minta maaf Dit, maaf karena sikap gue beberapa hari kemarin," ucap Ana menyesal.
"Nggak perlu dibahas lagi An, itu bukan masalah besar buat aku," balas Adit.
Ana mengangguk dengan tersenyum.
"Jadi kamu dateng kan ke acara mama?" tanya Adit.
"Iya, aku pasti dateng," jawab Ana penuh semangat.
Adit hanya tersenyum dengan memperhatikan Ana.
"Kenapa sih? gue cantik?"
Adit mengangguk dengan masih menatap wajah Ana.
"Lo bikin gue risih!" ucap Ana lalu hendak berdiri namun Adit menahannya.
"Aku lama nggak liat kamu ketawa," ucap Adit.
"Kebahagiaan gue udah dirampas Dit, masa depan yang udah gue rencanain dengan baik udah hancur, nggak ada alasan buat gue bahagia setelah itu, tapi sekarang gue sadar kehadiran nyawa lain dalam diriku gue akan bawa kebahagiaan yang jauh lebih indah dari masa depan yang udah gue rencanain," balas Ana.
"Kamu bener, dia akan jadi sumber kebahagiaan buat kamu An," ucap Adit yang diikuti anggukan kepala Ana.
**
Di tempat lain, Dini sedang berada di rumah Dimas. Pagi itu ia membantu Dimas menyiapkan barang barang yang akan Dimas bawa ke tempat tinggalnya yang baru.
"Ini koper khusus buku buku sama berkas berkas kamu ya!" ucap Dini dengan menunjuk sebuah koper di atas ranjang Dimas.
"Oke sayang," balas Dimas sambil memasukkan pakiannya ke dalam koper.
"Mama kenapa lagi?" tanya Dimas yang menyadari kehadiran sang mama.
Mama Dimas hanya menggeleng, kedua sudut matanya sudah penuh dengan air mata.
Dini yang melihat hal itupun memberi kode pada Dimas agar memperhatikan mamanya.
Dimaspun menghentikan kegiatannya dan membawa pandangannya pada sang mama.
Dimas mendekat dan menarik tangan mamanya agar duduk di ranjangnya.
"Ma, Dimas cuma ke luar kota, bukan keluar pulau apa lagi keluar negri," ucap Dimas dengan menggenggam tangan mamanya.
"Papa kamu emang jahat," ucap mama Dimas yang akhirnya menumpahkan air matanya, membuat Dimas segera memeluk mamanya.
"Ini keputusan bersama antara papa dan Dimas ma, tolong jangan salahin papa, Dimas nggak mau nerusin perusahaan papa tanpa punya kemampuan sebaik papa, Dimas mau lebih dari papa ma, mama tau itu kan?"
Mama Dimas mengangguk pelan. Ia tau kepergian sang anak adalah hal yang baik demi masa depannya, tidak seharusnya ia menangisi hal itu.
Namun sebagai ibu yang sangat menyayangi anak semata wayangnya, berada jauh dari Dimas memberikan kesedihan tersendiri baginya.
Mama Dimas lalu melepaskan dirinya dari pelukan Dimas.
"Kamu nggak perlu bawa banyak barang, 2 atau 3 hari lagi mama akan kesana bawain barang barang kamu," ucap mama Dimas yang dibalas anggukan kepala Dimas.
Mama Dimas lalu membawa pandangannya pada Dini.
"Kamu baik baik aja sayang?" tanya mama Dimas yang hanya dibalas dengan anggukan dan senyum Dini.
"Mama tau ini juga berat buat kamu, tapi mama harap kamu sama Dimas bisa jaga komunikasi kalian, lebih saling mengerti dan memahami kesibukan masing masing," ucap mama Dimas pada Dini dan Dimas.
"Iya ma."
"Iya ma," jawab Dimas dan Dini bersamaan.
"Mama tunggu di bawah buat sarapan ya, jangan lama lama," ucap mama Dimas lalu keluar dari kamar Dimas.
Dini lalu mengambil foto dirinya dan Dimas di meja, ia meletakkannya di atas buku buku Dimas yang sudah ia tata di dalam koper.
Dini menatap foto itu beberapa saat, bibirnya tersenyum tipis namun dalam hatinya ada segaris kesedihan yang ia rasakan.
"Sayang," panggil Dimas dengan memeluk Dini dari belakang.
Dini tak menjawab, tenggorokannya seperti tercekat karena menahan tangis yang segera ingin ia tumpahkan.
"Aku juga ngerasain apa yang mama dan kamu rasain, ini nggak akan lama, aku janji," ucap Dimas.
__ADS_1
"Apa semuanya akan baik baik aja?" tanya Dini dengan suara bergetar.
"Pasti, aku, kamu dan semuanya akan baik baik aja," jawab Dimas.
Dimas lalu memutar badan Dini dan menghapus air mata yang mengalir pelan dari kedua sudut mata Dini.
"Aku nggak mau nangis, aku udah tahan dari tadi tapi aku... aku nggak bisa," ucap Dini yang pada akhirnya menumpahkan semua tangisnya.
Dimaspun memeluk Dini, berusaha menenangkan kekasih nya yang tidak ingin berada jauh darinya. Meski Dimas juga berat mengambil keputusan itu, tapi Dimas tidak bisa egois.
Ia tidak bisa sibuk dengan bisnisnya sendiri dan membiarkan sang papa mengelola perusahaannya sendiri. Ia adalah anak satu satunya dan sudah dipastikan jika suatu saat nanti ia akan mewarisi perusahaan besar sang papa.
Oleh sebab itu ia akan memulainya dari saat itu, memulai nya dari bawah sebagaimana sang papa dulu memulainya.
Ia juga harus memikirkan kehidupannya bersama Dini setelah mereka menikah. Ia harus bisa memberikan tak hanya kebahagiaan, namun juga masa depan yang cerah untuk gadis yang dicintainya itu.
Setelah Dini lebih tenang, Dimas melepaskan Dini dari pelukannya.
"Mama sama papa udah nunggu kita di bawah," ucap Dimas pada Dini.
Dini mengangguk.
Setelah membasuh wajahnya dan menggunakan make up tipisnya. Ia turun ke bawah bersama Dimas.
"Kenapa semuanya jadi sedih gini sih, Dimas cuma mau kerja, bukan perang!" ucap papa Dimas.
"Papa nggak lucu," balas mama Dimas.
Mereka lalu memulai sarapan dengan tenang. Setelah selesai, Dimas dan Dinipun bersiap untuk berangkat.
"Jaga diri kamu baik baik ya sayang, selalu kabarin mama, hubungin mama dan papa kalau ada apa apa!" ucap mama Dimas.
"Iya ma, mama jangan khawatir, Dimas pasti bisa jaga diri," balas Dimas.
"Papa yakin kamu bisa selesaiin ini lebih baik daripada papa!" ucap papa Dimas.
"Pasti, Dimas juga yakin!" balas Dimas yakin.
Saat Dimas dan Dini hendak masuk ke dalam mobil, tiba tiba seseorang berlari ke arah mereka.
"Sorry, gue telat!" ucap Andi yang baru saja tiba.
"Pagi om, tante," sapa Andi pada orangtua Dimas.
"Om pikir kamu nggak jadi ikut!" ucap papa Dimas.
"Jadi kok om," balas Andi.
Pagi itu, seharusnya Andi ikut pergi ke rumah Dimas bersama Dini, namun Dini harus berangkat lebih dulu karena Andi harus menemui seorang klien pagi pagi sekali.
Akhirnya mereka pun berangkat. Dini satu mobil dengan Dimas, sedangkan Andi membawa mobil yang papa Dimas berikan untuk mobilitas Andi di home store.
Setelah 4 jam perjalanan, akhirnya mereka tiba. Mereka beristirahat di apartemen yang akan Dimas tinggali mulai hari itu.
"Tempat kerja lo dimana Dim?" tanya Andi.
"Nggak jauh, sekitar 15 menit dari sini," jawab Dimas.
"Aku bantu beresin barang barang kamu ya!" ucap Dini.
"Jangan sayang, kamu istirahat aja, nanti malem Yoga sama Sintia mau ke sini, biar mereka yang bantuin aku," balas Dimas.
Setelah beberapa jam beristirahat, Dini dan Andipun berpamitan pulang.
"Kamu jaga diri baik baik ya sayang, jangan terlalu khawatir sama aku, aku akan jaga hati aku buat kamu," ucap Dimas dengan memeluk Dini.
"Kamu juga jaga diri baik baik, aku selalu nunggu kamu dateng," balas Dini.
Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya dan berganti memeluk Andi.
"Jaga dia baik baik Ndi," ucap Dimas pelan.
"Jangan khawatir," balas Andi.
Dini dan Andipun keluar dari apartemen Dimas. Mereka segera kembali pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, tak banyak percakapan diantara mereka karena Dini lebih banyak diam.
"Semuanya akan baik baik aja Din, jangan khawatir," ucap Andi pada Dini.
"Aku bahkan udah kangen sama dia," balas Dini.
"Mau balik lagi?" tanya Andi.
"Yang bener? kita udah setengah perjalanan sekarang!"
"Ya kalau itu mau kamu, nggak papa," balas Andi.
"Enggak, aku tau ini juga nggak mudah buat Dimas, jadi aku juga nggak boleh sedih terus kan?"
"Nah itu tau!"
"Oke, semangat Dini, ini bukan apa apa, Dimas akan cepet balik dan semuanya akan jadi lebih indah dari sebelumnya, semangaaattt!!!!"
Andi hanya tersenyum tipis sambil mengacak acak rambut Dini.
"aku yakin akan ada hal yang lebih indah daripada saat ini, karena kamu berhak mendapatkan kebahagiaan itu Andini," ucap Andi dalam hati.
__ADS_1