Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Kabar Bahagia


__ADS_3

Waktu seperti berhenti, membiarkan hati merasakan debaran indah yang semakin nyata terasa.


"Ayo saya antar ke rumah sakit, mobil saya di sana!" ucap si perempuan pada Dini.


"Saya nggak papa mbak, saya....."


"Kamu harus ke rumah sakit Din!" ucap Andi memotong ucapan Dini.


Andi lalu menggandeng tangan Dini, membawa Dini mengikuti si perempuan.


Setelah sampai di rumah sakit dan sudah diobati lukanya, Dini dan Andi diantar pulang oleh si perempuan.


"Terima kasih karena sudah menolong saya, saya bener bener bingung tadi sampe nggak sadar kalau tas saya kebuka," ucap si perempuan pada Dini setelah mereka berkenalan.


"Saya juga terima kasih mbak, udah dianter pulang," balas Dini.


"Ini kartu nama saya, kalau ada apa apa sama luka kamu, kamu bisa hubungin saya," ucap si perempuan sambil memberikan kartu namanya pada Dini.


"Baik mbak," balas Dini.


Perempuan yang bernama Ana itu pun meninggalkan rumah Dini.


"Waaahh, ternyata mbak Ana kerja di perusahaan X Ndi!" ucap Dini setelah ia melihat kartu nama Ana.


"Coba liat!"


Andi memperhatikan kontak yang tertulis di kartu nama itu dan menghafalnya.


"Luka kamu jangan lupa diobatin ya, aku pulang dulu!" ucap Andi dengan mengusap rambut Dini.


Dini hanya mengangguk, entah kenapa debaran itu masih terasa dalam hatinya.


**


Di rumah Andi.


Andi mengambil ponselnya dan menghubungi Ana.


"Halo mbak, saya Andi yang tadi nganterin Dini ke rumah sakit," ucap Andi setelah Ana menerima panggilannya.


"Oh iya, ada apa ya?"


"Saya mau minta tolong mbak, barangkali mbak Ana ada rekomendasi perusahaan yang sedang buka lowongan, kebetulan Dini lagi cari kerja mbak."


"Kamu kirim CV nya lewat email saya ya, biar bisa saya buat pertimbangan!"


"Baik mbak, terima kasih banyak mbak!"


"Iya sama sama."


**


Hari berganti, Dini masih belum juga mendapatkan panggilan interview, membuatnya merasa jenuh di rumah. Jika saja sang ibu tidak melarangnya, ia pasti sudah menghabiskan waktunya di tempat kerja Dimas.


"Anbi, aku bosen di rumah," ucap Dini pada ikan kesayangannya.


"Din, ibu ke pasar dulu ya, kamu jaga rumah!" ucap ibu Dini.


"Iya bu."


Biiippp Biiippp Biiippp

__ADS_1


Ponsel Dini berdering, sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenalnya.


"Halo, Dini?"


"Iya, maaf ini siapa ya?"


"Saya Ana, yang kemarin kamu tolongin."


"Oh mbak Ana, maaf mbak nomornya belum saya simpan."


"Iya nggak papa, kamu hari ini ada waktu?"


"Ada mbak, ada apa ya?"


"Jam makan siang nanti kita ketemu di kafe yang kemarin ya, sama jangan lupa bawa CV kamu!"


"CV?"


"Iya, saya tunggu di sana nanti siang, bye!"


Klik. Sambungan terputus sebelum Dini tau maksud dari ajakan Ana untuk bertemu.


"kenapa mbak Ana nyuruh aku bawa CV? apa aku mau diajak kerja? mana mungkin mbak Ana tau kalau aku lagi cari kerja, ada ada aja kamu Din!"


15 menit sebelum jam makan siang, Dini sudah berada di kafe dengan membawa map yang berisi CV dan surat lamaran kerja.


"Udah lama Din?" tanya Ana dengan duduk di depan Dini.


"Baru kok mbak, saya udah bawa yang mbak minta, tapi buat apa ya mbak?"


"Pacar kamu udah cerita sama saya kalau kamu lagi cari kerja, dia juga udah kirim CV kamu lewat email," jawab Ana.


"Pacar?"


"Bukan mbak, dia sahabat saya," jawab Dini.


"Saya kira pacar kamu, kalian keliatan deket banget sih, maaf ya jadi salah paham!"


"Nggak papa mbak, Andi cerita apa aja sama mbak Ana?"


"Dia cuma bilang kamu lagi cari kerja dan setelah liat CV kamu yang dikirim Andi, saya jadi tertarik sama kamu, saya interview kamu disini ya!"


"Sekarang mbak?" tanya Dini tak percaya.


"Iya, apa kamu keberatan?"


"Enggak mbak, tapi pakaian saya....."


"Nggak papa, kamu santai aja, kebetulan saya lagi cari pengganti saya di kantor dan saya rasa kamu orang yang saya cari, jadi saya sengaja interview kamu secara langsung tanpa lewat HRD!"


"Baik mbak, saya siap!"


Setelah 30 menit berlalu, Ana merasa Dini adalah sosok yang pantas menggantikan posisinya di perusahaan X.


"Kalau dari saya pribadi sih saya suka sama kamu, tapi saya tetep harus tanya atasan saya dulu ya Din, saya akan hubungin kamu setelah saya diskusi sama atasan saya!"


"Baik mbak, terima kasih banyak."


Setelah pertemuannya dengan Ana, Dini segera pulang ke rumah.


**

__ADS_1


Malam telah tiba, Dini sedang makan malam bersama sang ibu.


Biiippp Biiippp Biiippp


Ponsel Dini berdering, panggilan dari Ana.


"Halo mbak Ana."


"Halo Din, saya cuma mau bilang kalau atasan saya setuju sama saya."


"Maksud mbak Ana? apa saya diterima?"


"Iya Din, kamu diterima, minggu depan kamu datang di perusahaan X, saya akan antarkan kamu untuk bertemu atasan saya sekaligus penyerahan jabatan," jawab Ana.


"Penyerahan jabatan?"


"Iya, saya akan resign Din, sebelum saya resign saya harus dapetin pengganti saya dan kamu adalah pengganti saya."


"Tapi saya....."


"Minggu depan akan saya jelasin semua tanggung jawab dan hak kamu di perusahaan, mungkin satu atau dua hari setelah kamu mulai kerja saya baru akan resign."


"Baik mbak, minggu depan saya akan kesana."


"Bagus."


Sambungan terputus. Dini lalu kembali ke meja makan dan memeluk ibunya.


"Ada apa Din? seneng banget kayaknya!"


"Dini diterima kerja bu!"


"Oh ya? dimana?"


"Di perusahaan X bu, walaupun lebih jauh dari yang dulu nggak papa kan bu?"


"Nggak papa Din, ibu terserah kamu aja asal kamu nggak kerja di......"


Tooook Toookk Toookk


Suara ketukan pintu membuat ibu Dini menghentikan ucapannya. Dini segera berlari ke ruang tamu, ia sudah menduga jika itu adalah Andi.


"Andiiiii!!" teriak Dini dengan melompat ke arah Andi dan memeluknya.


Andi dengan sigap menahan tubuh Dini yang tiba tiba melompat ke arahnya. Dini melingkarkan kedua kakinya di pinggang Andi, begitu juga tangannya yang melingkar di leher Andi. Ia sudah seperti kucing yang sedang manja kepada pemiliknya.


"Aku lagi seneng banget Ndi, banget banget!" ucap Dini tanpa merubah posisinya.


"Ada apa sih Din? cerita dulu biar aku bisa ikut seneng!"


"Aku diterima kerja di perusahaan X Ndi, berkat bantuan mbak Ana!"


"Makasih ya Ndi, udah bantuin aku," ucap Dini berbisik lalu mencium pipi Andi.


Andi seketika membeku, jantungnya tidak hanya berdetak namun terasa bergenderang dalam dadanya. Gejolak rasa yang terlampau indah memenuhi setiap sudut hatinya. Tanpa sadar Andi melonggarkan tangannya yang menumpu badan Dini, membuat Dini terjatuh ke lantai.


"Aduuuhhh!" pekik Dini kesakitan.


"Maaf Din, maaf, kamu nggak papa?"


Dini hanya tersenyum dan kembali mencium pipi Andi lalu berlari ke kamarnya, meninggalkan Andi yang masih terpaku di tempatnya.

__ADS_1


Andi sudah tidak bisa menguasai hatinya lagi. Kebahagiaan yang membuncah dalam dirinya membuatnya tidak bisa memikirkan apapun selain Dini. Ia hanya diam di tempatnya dengan segala macam aroma bahagia yang menyelimuti dirinya.


__ADS_2