
Andi masih mendekap Alana dalam pelukannya, berharap sang buah hati akan segera terlelap karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan malam itu juga.
Namun pertanyaan Alana membuat Andi mati kutu, lidahnya seolah tiba tiba kelu karena tidak bisa menjawab pertanyaan gadis mungilnya.
"Alana tidur ya sekarang, besok papa akan ajak Alana ke toko kue buat pilih kue ulang tahun Alana," ucap Andi berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ke toko kue? Alana boleh pilih apa aja yang Alana suka?" tanya Alana bersemangat.
"Tentu dong, sekarang Alana tidur dulu biar papa bisa kerja dan besok pulang cepat buat ke toko kue sama Alana," jawab Andi dengan mengusap kening Alana.
Alana menganggukan kepalanya senang kemudian memeluk Andi manja dan memejamkan matanya.
Setelah beberapa lama Alanapun tampak tertidur dengan nyenyak. Dengan perlahan Andi melepaskan tangan Alana dari pinggangnya kemudian beranjak dari ranjang untuk kembali bekerja.
Andi membuka laptopnya dan mulai fokus pada pekerjaannya. Namun tiba tiba pertanyaan Alana seolah kembali berbisik di telinganya.
"Apa Tante Dini nggak bisa jadi mamanya Alana?"
Andi menghela nafasnya kemudian membuka folder penyimpanan di laptopnya. Ia membuka folder yang berisi foto foto kebersamaannya bersama Dini, Dimas dan Anita.
"semuanya emang nggak bisa ditebak, aku yang pernah berpikir untuk memiliki kamu nyatanya aku sendiri yang relain kamu sama Dimas, Anita yang cinta mati sama Dimas nyatanya punya anak dari hubungannya sama aku dan sekarang Anita dan Dimas pergi, tinggal aku sama kamu," batin Andi dalam hati.
Saat layar menampilkan foto dirinya berdua dengan Dimas, ia ingat apa yang Dimas ucapkan padanya sebelum Dimas menutup matanya untuk selamanya.
Lo harus janji sama gue, kasih tau Andini apa yang selama ini lo simpen dalam hati lo, dia berhak tau Ndi dan gue harap kalian berdua akan menemukan kebahagiaan kalian yang sebenarnya
"kebahagiaan yang sebenarnya? kebahagiaan seperti apa yang lo maksud Dim? andai lo tau betapa hancurnya Dini setelah lo pergi, mungkin lo akan bertahan lebih lama lagi buat Dini," batin Andi dalam hati.
Andi kemudian beranjak dari duduknya, pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Ia menatap bayangan dirinya di hadapan cermin untuk beberapa saat.
"sekarang waktunya lo yang bahagiain dia Ndi, gue yakin dia akan lebih bahagia sama lo dan gue akan jauh lebih bahagia buat kalian berdua,"
Andi memejamkan matanya dengan erat saat suara yang ia kenal menggema di telinganya. Ia kembali membasuh wajahnya, menyingkirkan semua pikiran yang mengganggunya.
Andi lalu meraih handuk dan mengusap wajahnya kemudian keluar dari kamar mandi dan menghampiri Alana di ranjang.
Tangannya mengusap pelan kening Alana yang tengah tertidur nyenyak.
Saat Andi akan kembali ke mejanya ia begitu terkejut saat melihat seseorang yang ia kenal duduk di tepi ranjangnya.
Di tengah kebingungannya, tiba tiba Alana bangun.
"Om Dimas," ucap Alana setelah ia bangun dari tidurnya.
"Hai cantik," sapa Dimas dengan senyumnya.
Andipun segera beranjak dan meraih Alana ke dalam dekapannya.
"Ini pasti cuma mimpi," ucap Andi dengan menatap Dimas tanpa berkedip.
Dimas hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya dan menutup laptop Andi yang masih terbuka.
"Jangan bikin Andini bersedih terlalu lama Ndi, dia butuh lo," ucap Dimas dengan membawa pandangannya pada Andi.
"Om Dimas kenapa disini?" sahut Alana bertanya.
"Om Dimas mau ketemu Alana yang katanya paling cantik sedunia," jawab Dimas yang membuat Alana tersenyum malu.
"Tante Dini juga cantik, boleh nggak kalau Tante Dini jadi mamanya Alana?"
Dimas tersenyum lalu kembali duduk di tepi ranjang dan membelai rambut Alana.
"Boleh, Tante Dini pasti bahagia banget kalau bisa jadi mamanya Alana," jawab Dimas.
"Enggak, ini nggak bener, itu nggak mungkin terjadi!" sahut Andi.
"Kenapa? dua perempuan yang lo cintai akan selalu ada di samping lo Ndi, dua perempuan yang lo cintai akan hidup bahagia sama lo," balas Dimas.
"Lo sahabat gue Dim, gue nggak mungkin....."
"Justru karena lo sahabat gue, lo harus gantiin gue buat jadi pendamping hidup Andini, waktu gue udah habis Ndi, sekarang giliran lo yang harus berjuang buat dia dan bahagiain dia," ucap Dimas lalu tiba tiba menghilang bersama cahaya yang menyilaukan mata.
Seketika Andi terbangun dari tidurnya dengan jantung yang berdegup kencang. Mimpi yang baru saja dialaminya terasa begitu nyata.
Andi kemudian beranjak dari ranjangnya dan mengernyitkan keningnya saat melihat laptopnya yang sudah tertutup.
"aku yakin tadi belum tutup laptopnya, abis ke kamar mandi aku nyamperin Alana dan ketiduran, tapi kenapa...... enggak, nggak mungkin, bisa jadi tadi mama masuk dan nutup laptopku," batin Andi dalam hati.
Andi kemudian keluar dari kamarnya berniat untuk membuat kopi. Saat ia akan kembali naik ke atas, ia melihat sang mama yang baru saja keluar dari kamar dengan membawa gelas kosong.
"Mama mau kemana?" tanya Andi pada sang mama.
"Ambil minum, kamu belum tidur?" jawab mama Siska sekaligus bertanya.
"Belum, mama tadi dari kamar Andi?"
"Enggak, mama baru bangun karena haus, kenapa?"
__ADS_1
"Enggak, nggak papa, Andi naik dulu ma!"
"Jangan tidur terlalu malam Ndi, jaga kesehatan kamu!"
"Iya ma," balas Andi sambil berjalan menaiki tangga.
Andi menggelengkan kepalanya tak percaya pada apa yang baru saja terjadi padanya. Jika bukan sang mama yang menutup laptopnya, lalu siapa?
"nggak mungkin mbak Asih berani nutup laptopku kan? masuk kamar tanpa permisi aja nggak mungkin, hmmmm.... mungkin aku sendiri yang lupa," batin Andi dalam hati.
Setelah menyeruput kopinya, Andi kembali fokus pada pekerjaannya.
Sampai jam satu dini hari Andi masih mengerjakan pekerjaannya yang belum juga selesai.
Saat hampir pagi, barulah Andi menutup laptopnya dan merebahkan badannya di samping Alana, memeluk Alana dan terlelap dengan cepat.
Entah baru berapa jam Andi tertidur, suara gadis mungilnya sudah membangunkannya. Andi sedikit mengerjap dengan masih memeluk gulingnya.
"Papa capek ya?" tanya Alana yang hanya dibalas anggukan kepala Andi.
"Kalau gitu besok aja ke toko kuenya," ucap Alana dengan nada yang tak bersemangat.
Andi kemudian membuka matanya dan menarik Alana ke dalam dekapannya.
"Papa akan pulang cepet dan kita akan ke toko kue nanti sore!" ucap Andi lalu mencium pipi gadis mungilnya.
"Beneran?"
"Beneran dong, sekarang papa mandi, Alana main dulu sama mbak Asih ya!"
Alana menganggukan kepalanya lalu keluar dari kamar Andi dengan berlari kecil.
Setelah selesai mandi dan bersiap, merekapun sarapan bersama. Andi kemudian berangkat ke kampus dan segera ke home store sebentar sebelum pulang.
Tepat jam 5 sore Andi sudah sampai di rumah. Alana yang sudah menunggu kedatangan sang papa segera berlari menyambut Andi dengan langkah kecilnya.
"Alana sudah siap pa, ayo ke toko kue!"
"Papa mandi sebentar ya sayang," balas Andi lalu memberikan kecupan singkatnya di pipi gadis mungilnya.
Setelah selesai mandi, Andi dan Alana segera meninggalkan rumah untuk pergi ke toko kue seperti yang sudah Andi janjikan.
Alana menghabiskan cukup banyak waktu disana untuk memilih desain kue yang ia inginkan.
Ia juga membeli beberapa cup cake yang menurut Andi terlalu banyak untuk ia habiskan sendiri.
"Enggak, Alana beli buat Tante Dini," jawab Alana.
"Alana mau ke rumah Tante Dini?"
"Iya, Tante Dini kan bilang kalau Alana boleh sering sering kesana, papa mau kan anterin Alana ke rumah Tante Dini?"
Andi menganggukan kepalanya pasrah, ia tidak bisa menolak permintaan gadis mungilnya itu.
Setelah menentukan kue yang Alana inginkan dan membeli beberapa cup cake, Andi dan Alanapun meninggalkan toko kue untuk pergi ke rumah Dini.
"Pa, Alana boleh undang Tante Dini ke acara ulang tahun Alana?" tanya Alana pada sang papa.
"Boleh, tapi jangan maksa Tante Dini buat datang ya!"
"Tante Dini nggak suka acara ulang tahun?"
"Bukan begitu sayang, mungkin Tante Dini sibuk jadi nggak bisa dateng," jawab Andi berusaha memberi pengertian pada gadis mungilnya.
Sesampainya di rumah Dini, Alana segera berlari kecil meninggalkan Andi ke arah pintu utama rumah Dini.
"Tante Dini......!!!" panggil Alana bersemangat saat Dini membuka pintunya untuk Alana.
Alana lalu menghambur dalam pelukan Dini dan Dinipun segera menggendong Alana.
"Tante Dini besok sibuk nggak?" tanya Alana dengan mengalungkan tangannya di leher Dini dengan manja.
"Enggak, Alana mau main kesini?"
Alana menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum penuh arti. Ia merasa senang karena jika tante Dini tidak sibuk itu artinya Tante Dini bisa menghadiri acara ulang tahunnya.
"Alana, turun!" ucap Andi pada Alana.
"Nggak papa, ayo masuk!" balas Dini.
Dini lalu mendudukkan Alana di sofa ruang tamu bersama Andi. Alana kemudian memberikan cup cake yang baru saja dibelinya pada Dini.
"Waaahhh, buat tante?" tanya Dini pada Alana.
"Iya, Tante suka?"
"Suka banget, Alana kok tau Tante suka cup cake?"
__ADS_1
"Om Dimas yang bilang," jawab Alana yang membuat Andi dan Dini seketika membawa pandangannya pada Alana.
"Om Dimas?" tanya Dini menyakinkan pendengarannya.
"Alana tadi dari toko kue buat pilih kue ulang tahunnya, terus dia liat cup cake dan dia beli buat kamu," sahut Andi menjawab.
"Makasih sayang," ucap Dini dengan membelai rambut Alana dan tersenyum datar.
"Tante, besok Alana ulang tahun loh, Tante datang ya!" ucap Alana pada Dini.
"Tante nggak bisa janji ya sayang, Tante akan kirim hadiahnya kalau Tante nggak bisa datang," balas Dini.
"Tadi Tante bilang besok nggak sibuk, berarti Tante bisa datang kan? pasti datang kan? iya kan?"
"Alana, tadi kan papa udah bilang, nggak boleh maksa Tante Dini," ucap Andi pada Alana.
"Tapi Tante Dini tadi bilang nggak sibuk pa.... harusnya Tante Dini datang!" balas Alana yang tampak mulai kesal.
Dini kemudian menarik tangan Alana dan mengangkatnya agar duduk di pangkuannya.
"Besok Tante Dini akan datang, Alana mau dibawain hadiah apa?"
"Beneran datang ya Tante? janji?"
"Iya, Tante janji," balas Dini dengan mencium pipi Alana.
"Alana nggak mau hadiah apa apa kok, karena Tante adalah hadiah dari Tuhan buat Alana," jawab Alana yang membuat Dini semakin gemas padanya.
Tak lama kemudian ibu Dini datang.
"Eh ada tamu cantik ternyata," ucap ibu Dini dengan membawa pandangannya pada Alana.
"Halo Oma Ranti," sapa Alana dengan melambaikan tangannya.
"Mau ikut Oma liat ikan kecil nggak?" tanya ibu Dini pada Alana.
"Mau mau," jawab Alana penuh semangat.
Dini kemudian menurunkan Alana dari pangkuannya. Alana membawa pandangannya pada Andi seolah meminta persetujuan dari Andi.
"Iya nggak papa," ucap Andi dengan menganggukan kepalanya.
"Yeeeeyyyy.....!!!!" balas Alana bersorak lalu pergi bersama ibu Dini untuk melihat aquascape yang ada di dekat tangga.
Kini hanya ada Andi dan Dini disana. Suasana kembali canggung setelah Alana pergi bersama ibu Dini.
"Kalau kamu besok nggak bisa datang nggak papa Din, jangan terlalu memaksakan diri," ucap Andi pada Dini.
"Aku udah janji sama Alana," balas Dini.
"Makasih Din," ucap Andi yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.
Suasana kembali hening beberapa saat sebelum Dini mengingat ucapan Alana tentang Dimas beberapa waktu yang lalu.
"Kamu pernah cerita apa tentang Dimas sama Alana?" tanya Dini pada Andi.
"Aku nggak pernah cerita apa apa, dia cuma pernah liat foto Dimas di laptop dan aku bilang kalau Dimas sahabat aku dan.... dia udah di surga," jawab Andi ragu di akhir kalimatnya.
"Tentang cup cake tadi?"
"Aku nggak tau, aku juga nggak pernah bilang Alana kalau kamu suka cup cake, mungkin karena dia suka cup cake jadi dia pikir kamu juga suka," jawab Andi menjelaskan.
Dini hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Andi meski sebenernya ia tidak puas dengan jawaban yang Andi berikan.
"Aku semalem mimpiin Dimas," ucap Andi yang membuat Dini segera membawa pandangannya pada Andi.
"Dia bilang sesuatu?" tanya Dini.
"Yang pasti dia mau kamu bahagia Din, dia mau kamu melanjutkan hidup kamu dengan bahagia," jawab Andi tanpa menjelaskan secara rinci tentang mimpinya.
Dini tersenyum tipis dengan mengalihkan pandangannya dari Andi untuk menyembunyikan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut matanya.
"Semua orang berharap hal yang sama buat kamu Din," ucap Andi.
"Semua orang nggak tau kesedihan yang aku rasain Ndi," balas Dini.
"Mungkin aku emang nggak tau seberapa besar kesedihan yang kamu rasain, tapi kita semua juga kehilangan Dimas, kita semua nggak rela Dimas pergi, tapi nggak ada yang bisa kita lakukan selain menerima takdir yang udah Tuhan gariskan ini," ucap Andi.
"Dimas udah bahagia disana Din, ada atau tidaknya Dimas disini, dia akan tetap ada di hati kamu," lanjut Andi.
Dini kemudian berdiri, berniat untuk pergi namun Andi menahan tangannya.
"Kamu harus bisa merelakan kepergiannya Din, biar dia bisa tenang dan bahagia disana," ucap Andi yang masih menahan tangan Dini.
Andi kemudian menarik tangan Dini, membuat Dini berbalik lalu Andi memeluknya.
"Aku tau kalian saling mencintai, aku nggak akan pernah berniat buat menggantikan posisi Dimas dalam hidup kamu Din, dari dulu sampai sekarang yang aku inginkan cuma satu, kebahagiaan kamu," ucap Andi.
__ADS_1
Dini hanya diam dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Tiba tiba terdengar suara Alana yang berlari ke arah ruang tamu, membuat Andi seketika melepaskan Dini dari pelukannya.