Akhir Kisah Dini

Akhir Kisah Dini
Gosip yang Beredar


__ADS_3

Kerlip bintang tersusun indah di atas hamparan gelap malam. Di dalam rumah sederhananya, Dini sedang berada di kamarnya bersama sang ibu yang memijit kakinya.


"Kenapa bisa kayak gini sih Din?" tanya ibu Dini.


"Dini kepleset bu," jawab Dini berbohong.


"Kebiasaan kamu ini, kemarin waktu di kamar juga kepleset kan?"


Dini hanya tersenyum tipis. Ia malu karena sudah berbohong tentang dua hal itu pada ibunya.


Sesaat pikirannya tertuju pada Dimas. Ia merindukan laki laki yang dicintainya itu.


"Udah bu, Dini mau istirahat dulu," ucap Dini pada ibunya.


Ibu Dini pun keluar dari kamar Dini. Sedangkan Dini segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Dimas. Namun sampai 3 kali ia coba, Dimas tidak pernah menjawab panggilannya.


"Kamu kemana sih Dimas?"


Dini lalu mengirimkan pesan pada Dimas meski beberapa pesan yang ia kirim sebelumnya belum juga Dimas balas.


Di tempat lain, Dimas sedang berada di rumah Andi untuk mengambil mobil sekaligus menanyakan keadaan Dini pada Andi.


"HP lo bunyi terus tuh!" ucap Andi yang mendengar ponsel Dimas berdering.


"Biarin aja," jawab Dimas lalu menonaktifkan ponselnya.


"Gimana keadaan Andini Ndi? dia baik baik aja kan?" lanjut Dimas bertanya.


"Kenapa lo nggak tanya sendiri sih!"


"Gue nggak bisa," balas Dimas.


"Lo balas dendam karena dia udah cuekin lo?"


"Apa menurut lo gue kayak gitu?"


"Enggak sih, ya terus kenapa lo menghindar dari Dini?"


"Ada hal yang nggak bisa gue jelasin Ndi!"


"Lo mau ngulang kesalahan yang sama? gue heran deh sama kalian ini, yang bikin ribet hubungan tuh kalian sendiri bukan orang lain!"


"Lo nggak ngerti karena lo nggak ada di posisi gue Ndi!"


"Gue tau, gue nggak ngerti apa yang lo alami sama Dini, tapi lo harus inget Dim, kunci dalam suatu hubungan itu komunikasi, kalau komunikasi lo udah buruk, gue yakin hubungan lo juga semakin buruk!"


Dimas diam beberapa saat. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Andi, namun ia juga tidak bisa semudah itu memberitahukan semuanya pada Dini.


"Kalian harus saling terbuka, apapun masalahnya kalian hadapi sama sama, nggak ada hubungan yang berjalan lancar kalau cuma salah satu yang berjuang Dim!" ucap Andi.


"Lo bener Ndi, thanks," balas Dimas lalu segera berlari meninggalkan Andi menuju ke rumah Dini.


Tentu saja ia memperlambat langkahnya saat ia sudah berada di depan rumah Dini. Dengan sangat pelan dan hati hati Dimas berjalan ke arah jendela kamar Dini dan mengetuknya dengan sangat pelan.


Dini yang mendengar suara ketukan itu segera bangun dari ranjangnya dan berjalan ke arah jendela dengan tertatih tatih.


Dini lalu membuka jendelanya dengan pelan dan begitu bahagia melihat laki laki yang dirindukannya sedang berdiri di hadapannya.


Dimaspun mendekat dan masuk ke kamar Dini melalui jendela. Sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi, Dini segera mengunci pintu kamarnya.


Dimas merasa bahagia sekaligus kecewa pada dirinya. Melihat Dini yang berjalan tertatih tatih membuat ia begitu menyesal karena sudah mencampakkan gadisnya.


Setelah Dini mengunci pintu kamarnya, Dimas segera mendekat dan menggendong Dini lalu mendudukkannya di ranjang.


Dimas duduk di samping Dini dan memeluk Dini dengan erat. Tak terasa air matanya menetes. Hubungannya dengan Dini terasa begitu rumit baginya. Semua kerumitan itu memaksanya untuk menjauhi gadis yang dicintainya itu.


Meski begitu ia tidak akan menyerah. Ia yakin takdir akan memberikan jalan padanya untuk bisa bersama dengan Dini, satu satunya gadis yang selalu tinggal dalam hatinya.


"Dimas, kamu kenapa?" tanya Dini dengan berbisik.


Dimas tak menjawab, ia semakin erat memeluk Dini.


Setelah berhasil menguasai hatinya, Dimas menghapus sisa air matanya dan melepaskan Dini dari pelukannya.


"Kamu kenapa?" tanya Dini dengan memegang kedua pipi Dimas.


Dimas hanya menggeleng dan tersenyum.


"Kening sama kaki kamu kenapa?" tanya Dimas.


"Nggak papa kok, cuma kepleset," jawab Dini berbohong, ia merasa saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk menceritakan kejadian sebenarnya pada Dimas.


"Aku minta maaf sayang, maaf karena beberapa hari ini aku terlalu sibuk," ucap Dimas dengan membawa tangan Dini ke dalam genggamannya.


"Aku juga minta maaf," balas Dini.


"Setelah kaki kamu sembuh, kita ke pantai ya!"


Dini mengangguk penuh semangat. Semua pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Dimas hilang begitu saja. Rasa bahagia dalam hatinya membuyarkan semua keresahan yang ia rasakan sebelumnya.


"Aku balik dulu, jaga diri kamu baik baik," ucap Dimas lalu mencium kening Dini.


"Aku masih kangen," balas Dini dengan raut wajah sedih.


Dimas lalu kembali duduk dan memeluk Dini.


"Cepet sembuh biar kita bisa ngabisin waktu di pantai," ucap Dimas lalu melepaskan Dini dari pelukannya.


Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Dini sebelum Dimas benar benar meninggalkan kamar Dini.

__ADS_1


Dimas kembali ke rumah Andi, menghampiri Andi yang masih duduk di depan rumah menunggu kedatangan Dimas.


"Nekat juga ya lo!" ucap Andi.


"Lo bawa dulu mobil gue, anterin Andini ke rumah sakit besok!" ucap Dimas sambil melemparkan kunci mobilnya pada Andi


"Terus lo pulangnya gimana?"


"Banyak taksi di jalan, gue balik dulu!"


"Nggak mau gue anter?"


Dimas hanya menggeleng, lalu meninggalkan rumah Andi.


**


Pagi telah datang. Andi pergi ke rumah Dini untuk melihat keadaan Dini.


"Eh Andi dateng, ayo sarapan bareng Ndi!" ajak ibu Dini.


"Terima kasih bu, Andi cuma mau....."


"Ayo sarapan dulu!" ucap Dini dengan menarik tangan Andi.


"Kaki kamu udah nggak papa Din?" tanya Andi yang melihat Dini sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Udah baikan kok, berkat tangan ajaib ibu yang mijitin kakiku semalem," jawab Dini.


"Beneran? kamu yakin mau kerja? nggak istirahat dulu?"


"Huuuussstt, di larang ngomong waktu makan!" balas Dini lalu mengambilkan sepiring nasi goreng beserta lauknya untuk Andi.


Setelah selesai sarapan, Dini dan Andi berpamitan pada ibu Dini.


"Pake mobil Dimas aja Din, masih aku bawa!" ucap Andi diikuti anggukan kepala Dini.


Tak lama kemudian mereka sampai di tempat kerja Dini.


"Kabarin kalau pulang, tunggu aku atau Dimas yang jemput kamu!" ucap Andi sebelum Dini keluar dari mobil.


"Siap bos," balas Dini lalu membuka pintu mobil, namun Andi menarik tangan Dini yang lain membuat Dini segera membawa pandangannya ke arah Andi.


"Jaga diri kamu baik baik Din," ucap Andi.


Dini mengangguk dengan senyum manisnya lalu keluar dari mobil. Sedangkan Andi masih memperhatikan Dini sampai Dini sudah tak terlihat lagi dari hadapannya. Ia lalu melajukan mobil ke arah home store untuk kembali sibuk dengan pekerjaannya bersama Dimas.


Ketika Dini berjalan di lobby, beberapa pasang mata tampak memperhatikannya. Bisik bisik tentang dirinya bahkan ia dengar dengan jelas namun ia memilih untuk mengabaikannya.


Hal itu sudah Dini prediksi sebelumnya, mengingat apa yang terjadi kemarin sudah dipastikan dirinya akan menjadi bahan hangat untuk mereka yang suka bergosip.


"cantik sih, wajar kalau pak Adit suka!"


"tapi dia kan udah punya pacar, orang tiap hari dianterin kok, kemarin juga dijemput kan?"


"aku denger sih di perusahaan lamanya dia cuma di bagian divisi pemasaran, eh disini langsung jadi personal assistant, pasti karena dia ada affair sama Pak Adit."


"bener banget, padahal dari kemarin kemarin kan susah banget cari personal assistant yang cocok sama pak Adit, eh dia yang nggak punya pengalaman apa apa bisa langsung deket sama pak Adit."


"harusnya kan Pak Jaka yang gantiin mbak Ana, kasian Pak Jaka, dia pasti kecewa banget tuh sama Pak Adit!"


"ya gimana lagi, yang bisa diajak ke 'hotel' kan Dini, bukan Pak Jaka hahaha...."


Dini memasuki ruangannya tanpa mempedulikan cuitan cuitan pegawai lain tentangnya. Baginya, keberadaannya di perusahaan itu hanyalah untuk bekerja dengan baik, semua yang mengganggu konsentrasinya tidak akan ia pedulikan sama sekali.


5 menit sebelum kedatangan Adit, Dini menyiapkan air hangat dan menaruhnya di meja Adit. Ketika Dini hendak keluar, Adit masuk ke ruangannya.


"Kenapa kamu disini?" tanya Adit.


"Bawa air minum Pak Adit," jawab Dini sambil menunjuk meja kerja Adit.


"Harusnya kamu libur Din, apa kaki kamu sudah membaik?"


"Sudah pak," jawab Dini.


Adit lalu menarik tangan Dini dan membawanya ke sofa.


"Duduk!" perintah Adit.


Dengan ragu Dini duduk di sofa ruangan Adit. Adit lalu mengambil sebuah kotak dari dalam Paper bag yang ia bawa.


"Semoga cocok," ucap Adit sambil membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya.


Sebuah sepatu flat dengan merk ternama kini berada di tangan Adit.


"Lepas sepatu kamu dan pakai ini!" ucap Adit lalu menaruh sepatu mahal itu di dekat kaki Dini.


"Tapi pak....."


"Apa harus saya yang melepas sepatu kamu?"


"Enggak Pak, saya bisa sendiri," jawab Dini cepat.


Adit lalu duduk di tempat kerjanya, menyesap air hangat yang selalu menjadi minuman paginya.


"Kaki kamu baru sembuh, jangan pakai sepatu heels, anggap saja sepatu itu sebagai ganti karena saya sudah membuang sepatu kamu kemarin."


"Terima kasih pak," balas Dini lalu berdiri dengan mengenakan sepatu pemberian Adit.


Adit mengangguk lalu memberi isyarat pada Dini agar meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


Dinipun berjalan ke arah pintu ruangan Adit.


"Dini!" panggil Adit sebelum Dini benar benar pergi.


"Kamu mau biarkan sepatu kamu di sana?" tanya Adit dengan menunjuk sepatu Dini yang berada di dekat sofa.


"Oh maaf pak," ucap Dini lalu segera mengambil sepatunya.


"Bawa sekalian paper bag nya!"


"Baik pak."


Dini pun kembali ke ruangannya dengan membawa Paper bag berlogo merk fashion terkenal itu.


Kriiiing Kriiiing Kriiiing


Telepon di hadapan Dini berdering, ia segera mengangkatnya.


"Din, jam 10 nanti kita ada pertemuan yang kita tunda kemarin, siapkan berkasnya dan bawa ke ruangan saya!"


"Baik pak."


Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang. Adit dan Dini berjalan memasuki ruangan pertemuan yang akan dihadiri oleh para investor dan juga perwakilan dari perusahaan cabang.


Di dalam ruangan itu, perwakilan dari perusahaan Adit yang hadir adalah Jaka, seorang pegawai kepercayaan Adit.


Setelah pertemuan itu selesai, Adit menghentikan Jaka yang akan keluar dari ruangan.


"Kamu bantu Dini mengerjakan materi meeting agenda bulanan Jak!" perintah Adit pada Jaka.


"Baik pak," jawab Jaka.


Adit lalu kembali ke ruangannya, sedangkan Dini dan Jaka mengerjakan materi meeting yang diminta Adit.


"Kaki kamu udah sembuh Din?" tanya Jaka.


"Sudah pak," jawab Dini.


30 menit berlalu. Dini merasa takjub dengan kemampuan Jaka menjelaskan secara detail materi demi materi yang ia butuhkan.


"Maaf Din, ada yang mau aku tanyain sama kamu, ini di luar pekerjaan, boleh?"


"Boleh pak, silakan!"


"Apa kamu denger gosip tentang kamu di perasaan ini?"


Dini menggeleng dengan senyum manisnya. Sebuah senyum yang menutupi ketidaknyamannya ketika Jaka menanyakan hal itu.


"Baguslah kalau gitu, lebih baik kamu nggak perlu tau biar nggak ganggu pekerjaan kamu!" ucap Jaka yang hanya dibalas anggukan kepala Dini.


"Aku disini udah lama Din, dari sebelum Pak Adit yang jadi CEO disini, karena loyalitas dan hasil kerjaku yang bagus aku jadi orang kepercayaan Pak Adit di sini!"


Lagi lagi Dini hanya menganggukkan kepalanya, ia tidak tau harus merespon seperti apa.


"Di perusahaan lama kamu di bagian apa Din?" tanya Jaka.


"Saya di bagian divisi pemasaran pak," jawab Dini.


"Manajer?"


"Bukan pak, saya......."


"Kalian belum selesai?" tanya Adit yang tiba tiba masuk.


"Sudah pak, saya sudah jelaskan semua yang saya tau, sisanya Dini bisa berkoordinasi langsung dengan para manajer divisi," jawab Jaka.


"Bagus, kembali ke ruangan kamu!"


"Baik pak," jawab Jaka lalu keluar meninggalkan Dini dan Adit berdua di sana.


"Saya ada janji makan siang dengan klien, kamu ikut saya!" ucap Adit pada Dini.


"Baik pak," jawab Dini.


Jam makan siang tiba, Adit dan Dini meninggalkan kantor untuk makan siang bersama klien di sebuah restoran. Setelah selesai, mereka segera kembali ke kantor.


Di tengah perjalanan, Adit mendapat kabar jika sang mama sedang kritis di rumah sakit. Aditpun melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Kali ini ia mengajak Dini untuk menemui sang mama yang berada di ruangan VIP setelah sempat kritis selama beberapa jam.


Dokter menjelaskan jika mama Adit pingsan di dalam kamar mandi dan benturan di kepalanya menyebabkan cidera yang cukup serius.


"Mama kamu masih tidur karena pengaruh obat bius, sebentar lagi dia akan bangun," ucap Dokter yang dibalas anggukan kepala Adit.


Tak lama kemudian mama Adit bangun dan tersenyum pada Adit.


"Bisa bisa nya mama senyum setelah bikin Adit khawatir!" ucap Adit dengan menggenggam tangan mamanya.


"Maaf selalu bikin kamu khawatir sayang," balas mama Adit.


"Mama kenapa bisa jatuh di kamar mandi? kenapa nggak panggil perawat buat bantuin mama?"


"Tadi mama baca chat di grup Dit, anaknya temen mama ada yang ditangkap polisi karena ketauan pesta guy, mama jadi takut, mama....."


"Ma, kenapa mama nggak pernah percaya sama Adit sih?"


"Gimana mama mau percaya kalau kamu sendiri nggak bisa bikin mama percaya!"


Adit menghela napasnya panjang. Ia tidak menyangka keputusannya untuk memilih single sampai usia 27 tahun membuat sang mama terbebani.


Adit membawa pandangannya ke arah Dini yang berdiri di sampingnya. Tanpa pikir panjang, ia menarik tangan Dini ke dalam genggamannya.

__ADS_1


"Ini Andini ma, pacar Adit," ucap Adit yang membuat Dini begitu terkejut.


Ia menatap laki laki di hadapannya itu dengan penuh tanda tanya.


__ADS_2