
Meneer menggelengkan kepala pelan karena waktunya sudah hampir habis. "Ka.. aku sudah tidak kuat lagi. Aku mohon titip keluargaku." Ucap Meneer terbata-bata.
"Tidak, kamu harus tetap bertahan sampai melihat keturunan kita bahagia." Ucap Eleanor yang sedih akan apa yang telah dikatakan oleh adiknya.
"Aku tidak bisa.. Aku menyayangimu kak, dan aku sudah mengizinkan anak-anak menentukan pilihan mereka, jadi aku menjodohkan mereka dengan keturunanmu kak." Ucap Meneer.
Perlahan demi perlahan Meneer menutup mata, dan monitor yang berada di sampingnya berganti dengan garis lurus.
"TIDAKKKK!" Teriak Eleanor dengan tersedu-sedu karena adiknya pergi meninggalkannya begitu saja.
Ia lalu keluar dengan air mata yang terus saja keluar, lantas ia memanggil seorang dokter.
Para dokter dengan sigap masuk kedalam dan memeriksa keadaan Nyonya Meneer.
"Ibu, apa yang terjadi?" Tanya Varisa dan Hendrik.
"Sayang, are you okay?" Tanya Rudra.
"Bibi, ada apa-apa? Ibu baik-baik saja?" Victor dan Faisal.
Vinton dan yang lain hanya diam saja, ia ingin mendengar apa yang akan di katakan oleh Eleanor.
Eleanor yang sudah kuat lagi terjatuh dengan derai air mata. Ia tak mampu berkata apa-apa.
Ceklek! Suara pintu terbuka menampilkan sosok seorang dokter dengan raut wajah kesedihan.
"Gimana ini, saya dok? Istriku akan baik-baik saja kan dok? Dia tidak akan meninggalkanku kan dok?" Cecer Vinton, yang sudah kehilangan kewibawaannya.
Namun, untungnya tidak ada orang di ruangan itu, cuma ada keluarga dan tim dokter yang merawat keluarganya.
"Maaf tuan.. Dengan berat hati aku harus mengatakan kalau Nyonya Meneer sudah tiada!" Ucapnya dengan lemah, karena tidak bisa menyelamatkan sang nyonya besar.
__ADS_1
DEGHH!
Seakan-akan waktu berhenti berputar mendengar kalau Meneer sudah tiada. Tangis kesedihan pun terdengar di ruangan itu, bukan hanya para wanita yang menangis, tapi para pria juga ikut menangis.
Mereka sangat sedih atas kehilangan cahaya lentera cinta mereka, karena Nyonya Meneer lah yang selama ini menjadi orang bijak dan mau melakukan apapun agar mereka tidak bersedih.
"Jadi ini arti mimpi yang selalu ku jumpai? Dan ini juga tanda saat aku kejatuhan cicak?" Gumam Vanandya, ya berapa hari terakhir dia selalu bermimpi ada pesta di rumahnya.
Vanandya tak menyangka kalau dirinya akan kehilangan nenek Meneer, orang yang pertama ia temui. Dan sampai ia bertemu dengan Valdes.
Saat ini jenazah Meneer sedang dimandikan dan mereka akan mengebumikan jenazah Meneer besok hari kalau anak-anak mereka sudah berkumpul.
Pagi pun tiba. Saat ini jenazah sudah siap dikuburkan. Mereka sudah bersepakat untuk menguburkan jenazah di dekat pemakaman keluarga Miharjo, karena dulu Meneer pernah bilang jika dia tiada nanti dia ingin dimakamkan di dekat orang tua angkatnya.
Para media sudah banyak di rumah sakit, mereka ingin meliputi kematian Nyonya besar Marquez, karena sejak kemarin para media tidak henti-hentinya membuat kekacauan.
Saat jenazah akan dipasukan ke dalam mobil ambulans, langsung dicegah oleh beberapa media. Namun, mereka abaikan saja yang terpenting saat ini mereka besarkan menguburkan jenazah.
Lima puluh mobil, mulai dari bodyguard keluarga Lacerta, keluarga Marquez, dan para anak buah Miharjo, mereka ikut serta untuk menguburkan sang jenazah.
Mereka terus beriring-iringan, mengawal dan mengikuti mobil jenazah.
Mobil para polisi dan wartawan juga mengikuti agar perjalanan aman tak terhambat, karena mereka ingin meliputi kematian Nyonya besar Marquez yang sangat di segani.
Valdes yang berada di mobil hanya diam saja karena dia sangat sulit mempercayai akan kematian nenek Meneer, karena dia yang merawat dirinya setelah kematian Daddy'nya. Tapi untungnya Vanandya terus berada di sampingnya.
Bahkan di dalam mobil mereka juga sama, tidak ada yang berbicara.
Saat ini mobil ambulans sudah sampai di tempat pemakaman keluarga Miharjo, yang hanya berisi makam keluarga Wangsami Harjo.
__ADS_1
Para petugas pun mengangkat peti jenazah, lalu mereka menggotongnya ke pusara yang sudah disediakan, dekat dengan Daniah Miharjo.
Seluruh keluarga keluar dari mobil lalu berjalan perlahan mengikuti para petugas yang membawa peti jenazah, dengan wartawan meliput acara pemakaman.
Setelah sampai di pusara, petugas langsung menurunkan peti jenazah ke liang lahat dengan hati-hati karena mereka tak ingin ada kesalahan.
Eleanor terus saja menangis karena kepergian sang adik angkat. Andaikan ia tidak melakukan balas dendam dan andaikan kemarin ia menolak, andaikan juga ia berbaikan dengan Meneer, pasti ia sangat bahagia.
Hanya bisa berandai-andai. Di saat penyesalan sudah datang menghampiri mereka, Eleanor berjanji akan terus menjaga keluarga mereka. Dan ia juga akan mengajari cucu dan cicit mereka dengan sebaik mungkin.
Saat ini para petugas mulai menimbun peti mati dengan tanah, yang membuat mereka mengikhlaskan kepergian Meneer.
"Selamat jalan adikku tersayang, andaikan waktu bisa diulang, pasti aku akan terus bersama denganmu sampai waktu kita harus pulang ke pangkuan sang pencipta." Batin Eleanor.
"Yang tenang di sana, sayang cintamu akan selalu berada di hatiku. Tunggulah aku menyusul'mu sayang, aku mengikhlaskan kepergianmu walaupun hati ini berat melepaskan." Batin Vinton.
"Nenek, pasti kamu sudah merasakan bahagia kan karena sudah pulang ke sang pencipta dan nenek juga sudah bisa bertemu dengan Daddy. Nenek, kamu jahat meninggalkan aku," Batin Valdes.
"Nek, maafkan aku yang telah menyakiti kamu karena perbuatan aku yang sangatlah keterlaluan, karena bermain api saat aku menjadi istri dari Virendra. Jujur, nek, aku sangat mencintai dan menyayangi Valdes, jadi restui lah aku nek. Selamat jalan nek." Batin Vanandya.
"Nenek, walaupun pertemuan kita dulu kurang baik, tapi aku sangat menyayangimu seperti aku menyayangi Omaku sendiri. Selamat jalan nek," Batin Hazel.
"Walaupun kamu sangat perhatian kepada kak Valdes, tetapi aku sedih jika kamu pergi meninggalkan dunia ini. Terima kasih, Nenek, atas semua perhatian yang diberikan kepada saya, seperti menjodohkan saya dengan Vanandya, meskipun perjodohan itu gagal karena kita ternyata tidak berjodoh. Kamu sangat menyayangi saya." batin Virendra.
"Selamat jalan, Nenek. Saya tahu kamu menyembunyikan sesuatu, tapi saya ikhlas apapun rahasia yang kamu sembunyikan dapat berdampak baik nantinya. Saya sangat menyayangi kamu, Nenek." batin Grey's.
"Ibu, kenapa kamu pergi, Bu? Kenapa harus seperti ini, cara kita berpisah? Bu, saya janji akan menghancurkan orang yang membuat ibu seperti ini. Selamat jalan, Bu, semoga tenang di sana." batin Victor.
Saat ini, yang mereka lihat hanya ada gundukan tanah yang basah. Satu per satu mereka menaburkan bunga ke pusara Meneer, kemudian mendoakan agar ia tenang di sana.
"Nenek...!"
__ADS_1