
"Kamu seharusnya mengkhawatirkan Faisal, bukan uang," bentak Agni kepada mantunya yang terus saja memikirkan uang. Entah kenapa ia selalu saja marah kepada Kimberly apa dirinya, belum bisa menerima sepenuhnya kalau Kimberly adalah mantunya.
Hiks!
Hiks!
Hiks!
Kimberly terisak-isak mendengar Agni memarahinya. Ia sedih melihat Agni membentaknya.
Agni marah karena Kimberly menangis hanya karena dibentak sedikit. Dia mengira Kimberly berpura-pura menangis agar dirinya iba kepadanya, namun Agni tidak bisa mentolerir perilaku tersebut saat dia sudah marah.
Faisal menenangkan ibunya agar tidak marah pada Kimberly karena memang benar jika dirinya tidak bekerja, istrinya tidak bisa membeli apa-apa untuk memuaskan dirinya. Baginya, kecantikan istrinya merupakan prioritas utama.
Kimberly bangkit dari duduknya dan berlari dari ruang makan. Namun, pandangannya menjadi buram dan lama-lama ia pingsan.
Faisal melihat istrinya pingsan dan berlari ke arah Kimberly. Dirinya mengangkat tubuh istrinya dan saat dia hendak membawanya ke kamarnya, teriakan seorang wanita terdengar dari pintu utama.
__ADS_1
"MONICA!" teriak seorang wanita yang langsung berlari ke arah Faisal.
Wanita itu bertanya kepada Faisal tentang apa yang terjadi pada Kimberly karena dirinya sangat mengkhawatirkan keadaannya. Namun, Faisal hanya menjawab secara sederhana. Saat ini, ia harus membawa istrinya ke dalam kamar dan meminta pelayan untuk menghubungi dokter pribadinya.
Vinton dan yang lain kemudian mengikuti dan menanyakan apa yang terjadi dan mengapa Tuan dan Nyonya Maghfir datang berkunjung ke kediaman keluarganya.
"Ada apa kalian di sini..?" tanya Rebecca dengan nada tidak sabar.
"Tentu saja, kami ingin menemui Monica eh.. Maksudku Kimberly," ucap wanita bernama Sonya.
Namun, sebelum mendapatkan jawaban, seorang dokter muncul menghampiri mereka dan menanyakan siapa yang sakit dan dimana seseorang yang harus diperiksa.
Pelayan yang sebelumnya menghubungi dokter itu membawa mereka ke kamar Faisal dan istrinya. Setelah sampai, dokter tersebut memeriksa Kimberly dan meresepkan vitamin dan penguat kandungan.
Kimberly pun bertanya apa yang terjadi padanya, kenapa ia bisa berada di kamar mandi, dan mengapa ada dokter di kamarnya. Sang dokter menjelaskan dan menunjukkan sebuah tes kehamilan dengan hasil positif.
Seluruh keluarga pun senang dan Agni meminta maaf pada Kimberly karena bentakannya sebelumnya. Ia bahagia karena sebentar lagi ia akan memiliki cucu.
__ADS_1
Faisal dan Kimberly pun merasa senang karena mereka akan memiliki seorang anak. Faisal kemudian memesan obat yang diresepkan dokter untuk istrinya.
Setelah berendam, mereka merebahkan tubuhnya di kasur karena mereka sangat lelah. Valdes tiba-tiba berkata bahwa Vanandya harus berjanji untuk tidak meninggalkannya. Vanandya menyetujui dan berjanji akan selalu berada di samping Valdes.
Kai terus meratapi nasibnya karena terobsesi dengan Hayden, asisten Nyonya. Ia tidak bisa menghapusnya dari pikirannya.
"Apa jangan-jangan aku sering menonton film Petir Merah," gumam Kairo. Ia teringat bahwa ia sangat suka menonton film horor Petir Merah dari Thailand, terutama film Still 2gether yang menjadi favoritnya. Ia bahkan merasa terbawa suasana setelah menonton film tersebut.
Karena merasa pikirannya kotor setelah menonton film tersebut, Kairo langsung menuju kamar mandi untuk mandi junub. Ia meminta maaf kepada Sang Pencipta karena telah menonton film yang tidak baik. Setelah mandi, ia keluar dengan handuk yang digantung di pinggangnya dan sedang memilih pakaian ketika ada ketukan di pintu. Ia pergi ke pintu tanpa memakai baju.
"Ceklek!" suara pintu terbuka dan Kairo sangat terkejut melihat bahwa Hayden telah mengunjungi kediamannya. Kairo terus memikirkan yang tak-tak penting.
"Apa aku harus menjadi seperti Lucin agar bisa memiliki Hayden yang tampan seperti Tuan Valdes?" batin Kairo.
"Hey, Kai!" seru Hayden. "Ada apa kesini?"
"Aku kesini mau..."
__ADS_1