CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 269


__ADS_3

Karena kesal menunggu terlalu malam ia keluar dari mobil dan ia segera berjalan meninggalkan mobil, ia ingin melihat apa yang terjadi kenapa ada kemacetan di sepanjang jalan,


Di saat sudah sampai di depan kemacetan ia melihat ada keluarga Marquez di tempat itu, ia pun langsung berjalan menghampiri mereka dan betapa terkejutnya ia melihat kedua orang tersayang sedang terbaring dengan ke adaan memperihatinkan.


"Valdes.. Apa yang terjadi?" tanya Hendrik.


Hèndrik lacerta Miharjo,


Ia sangat terkejut karena melihat istrinya sudah terbujur kaku di hadapan dirinya Hendrik pun segera terduduk di samping istrinya sambil memangku kepala istrinya.


"Sayang, bangun kamu jangan seperti ini. Aku tidak sanggup kehilangan kamu. Sayang come on, kita sudah berjanji hidup bersama sampai ajal kita menjemput." kata Hendrik sambil membangunkan varisa. Yang sudah tidak bernyawa lagi,


Begitu juga dengan Valdes ia juga sangat kehilangan akan sosok seorang putra yang sudah tak bernyawa, bahkan ia terus saja membangunkan anaknya agar dia bangun.


"Cepat, panggil ambulans.!" teriak Valdes dengan sangat khawatir.


Belum sempat mereka menelpon ambulans sebuah sirine ambulans terdengar Dan mereka segera membawa vagas dan varisa ke rumah sakit,


*


*


*


*


Saat ini seorang wanita sedang tidur di ruang perawatan, karena setelan sadar Wanita itu di pindahkan ke ruang perawatan. Namun perasaan wanita itu sangat gelisah karena ia tiba-tiba ke ingat akan anak dan ibunya.


Ia mengambil gelas yang berada di nakas, tapi sebelum gelas itu terpegang gelas yang akan dia ambil terjatuh ke lantai membuat perasaan nya tidak menentu, apa lagi ia selalu ke ingat akan sosok putra dan varisa.


"Mommy."


"Vanandya,"


Panggil seorang wanita dan seorang anak kecil kepada vanandya sampai membuat sang pemilik nama menatap ke arah mereka. Hal itu membuat terkejut karena melihat orang tersayangnya selamat.

__ADS_1


"Bunda? Vagas?" gumam Vanandya.


Ya, yang di lihat vanandya adalah varisa dan vagas. Namun keduanya hanya diam saja tanpa berkata apa-apa lagi, tapi keduanya menggunakan pakaian berwarna putih sambil melambaikan tangan mereka.


"Selamat tinggal mommy.!" ucap vagas.


Mendengar itu Vanandya langsung turn dari ranjang rumah sakit, dengan keadaan perut yang masih sangat nyeri. Namun saat vanandya menyamperi mereka, perlahan ke-dua menghilang dengan keluarganya cahaya yang sangat terang.


"Vagas jangan pergi, mommy pengen memeluk vagas." ucap Vanandya.


"Bunda, kenapa bunda juga pergi. AA u mohon kembalilah bunda, vagas." ujar Vanandya.


Vanandya segera terbangun dari tidurnya yang saat ini ada keluarga lacerta dan keluarga Marquez yang berada di tempat itu. Karena mendengar Vanandya terus saja mengigau.


"Sayang Are you ok?" tanya Eleanor.


"Oma, bunda sama vagas. Oma,"


"Ada apa dengan mereka?" tanya rebecca yang berada di tempat itu juga, karena kedua keluarga saat ini sedang berkumpul di ruang perawatan vanandya.


"Mereka seakan memberi isyarat kalau mereka akan mergi meninggalkan aku. Ada sebuah cahaya yang membawa mereka pergi dari hadapanku." ujar vanandya.


Semua orang terdiam mendengar apa yang di katakan oleh vanandya, seketika mereka juga langsung teringat akan mereka, jika benar apa yang di Ucapakan oleh Vanandya. Mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.


Namun mereka tidak ingin menduga-duga kalau apa yang di katakan oleh vanandya benar. Mungkin saja itu hanya bunga tidur yang vanandya alami,


"Sayang, mungkin itu hanya bunga tidur, jadi kamu yang berpikiran yang tidak-tidak karena itu tidak akan terjadi." ucap rebecca.


"Benar apa kata ibu mertua kamu Vanda, mungkin itu cuma bunga tidur jadi kamu jangan terlalu memikirkan, yang harus kamu pikirkan adalah kesembuhan kamu." ujar Eleanor.


Namun, perasaan vanandya semakin tidak enak apa lagi ia bermimpi di tinggal oleh orang tersayangnya. Ia terus saja mengelak apa yang mereka katakan karena perasaan seorang ibu tidak pernah salah.


Jika memang perasaannya salah maka ia akan akan melakukan pengasingan agar ia di jauhkan dari pikiran yang tidak masuk akal.


Mendengar itu tentu saja Keluarga marah, bagaimana bisa dia mengatakan itu, bahkan mereka saja tidak berani melakukan pengasingan tapi vanandya berani mengatakan itu demi dugaannya salah,

__ADS_1


"Vanda, apa kamu sadar apa yang kamu lakukan itu membuat kamu dalam bahaya, kamu jangan berasumsi dengan apa yang kamu mimpikan, kamu tau mereka orang-orang kuat jadi jangan kamu mengatakan hal itu lagi." hazel sangat marah mendengar adiknya mau melakukan pengasingan.


"Kak, ini perasaan seorang ibu kak, saya takut terjadi sesuatu sama mereka, apa lagi saat ini mereka berada di tangan Eriska." ucap vanandya.


"Saat ini, Valdes, Grey's, viren, Vernon dan ayah sedang mengejar mereka agar bisa selamat. Dan saya yakin kalau mereka bisa menyelamatkan bunda dan vagas." kata hazel.


"Benar Van, kamu yang berpikiran yang tidak-tidak, saya yakin kalau mereka bisa menyelamatkan bunda dan vagas, apa lagi mereka adalah orang kuat," timpal Kim.


Vanandya, hanya diam saja mendengar semua perkataan dari keluarganya. Ia pun menghela nafas panjang dan menghembuskan nafas perlahan,


Benar apa kata mereka seharusnya ia tak perlu memikirkan hal itu, yang harus ia pikirkan adalah mereka pulang dengan keadaan selamat tanpa kekurangan satu pun.


"Vanandya, opa tau perasaan kamu saat ini sedang dilema karana kamu baru saja kehilangan seorang anak. Jadi percaya lah mereka akan bisa menyelamatkan anak kamu dan bunda kamu." ujar opa Rudra.


"Iya opa."


"Kalau begitu sebaiknya kamu istirahat karena opa tidak ingin mendengar ocehan suami kamu saat dia pulang bersama dengan ibu mertuanya dan anaknya itu, karana melihat kamu jelek dengan keadaan Ter infus." ujar Rudra.


Hal itu membuat vanandya dan semua orang tersenyum karena candaan garing dari sang Rudra. Rudra lalu meminta Vanandya merebahkan tubuhnya dan segera beristirahat.


Setelah itu mereka pun keluar dari ruang perawatan vanandya dan mereka segera duduk di kursi tunggu, karana saat ini mereka sedang menunggu kedatangan Valdes dan yang lain.


"Andaikan Eriska tidak hadir dalam keluarga kita pasti saat ini keluarga kita tidak jadi seperti ini," ucap Rebecca.


"Ini semua sudah takdir yang tidak bisa di hapus begitu saja dari buku dunia. Karena peristiwa yang terjadi sudah menjadi kehendak dari sang pencipta. jadi kita hanya perlu menjalankan saja." ujar Rudra.


"Benar apa kata Rudra, kamu jangan pernah menyalahkan takdir yang sudah di buat rebe." ujar Eleanor.


"Becca. Bagaimana keadaan suami kamu apa masih belum ada perkembangan?" tanya Rudra.


Belum sempat Rebecca menjawab, Valdes dan yang lain datang menghampiri mereka dengan wajah dan tampang yang sangat sulit di artikan, bahkan baju mereka banyak bercak darah dan berapa bayu mereka juga kusus.


Apa lagi mereka melihat kaki Valdes di perban. Mereka segera menghampiri Valdes dan yang lain,


"Valdes apa yang terjadi, kenapa kaki kamu di perban seperti itu? Dan kenapa baju kamu juga kusut?"

__ADS_1


"Kalian berhasil kan menyelamatkan vagas dan varisa?"


"Mereka....


__ADS_2