
"Apa maksud kamu?"Ujar seseorang wanita yang tidak jauh dari mereka. Dia adalah lestari Wijaya. Anak tiri Bram Wijaya.
Lestari merasa marah dengan perkataan adik tirinya itu. Dengan mengatakan kalau itu suruhan dirinya.
Astuti lalu mendekati kakak'nya itu dengan air mata yang mengalir deras. Ini saatnya untuk membalas kelicikan mereka,
"Kakak. Kakak kan yang mencuci otak ku untuk membenci ibu, agar ayah membenci diriku, karena kakak iri karena ayah dan ibu menyayangiku. hiks.. Hiks.. Hiks."Tangis astuti pejah.
PLAK. Sebuah tamparan dari lestari mengenai pipi Astuti sampai membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Semua pengunjung dan pegawai, merasa khawatir akan keadaan Astuti. Mereka menyalahkan lestari karena terlah berbuat seperti itu kepada astuti.
Vanandya dan indah yang tidak jauh dari situ tersenyum simpul, ia tak menyangka kalau Astuti bakat dalam akting, ia baru saja mendapatkan informasi mengenai keluarga Astuti,
Jdi ia simpulkan kalau ibu dan kakak tiri astuti sangat kejam dan licik, dia sering menyiksa Astuti bahkan dia menempatkan Astuti di gudang. Jadi ia mengirimkan pesan kepada astuti, jika ingin melawan dengan wanita licik cukup lawan lah dengan kecerdikan.
Vanandya lalu mendekati Astuti, lalu mengangkat Astuti untuk berdiri. Yang kondisinya kacau balau, ia langsung menatap tajam ke arah kakak tirinya astuti.
"Nona. Anda ini sangat kasar sekali kepada adik anda?"
"Kamu siapa ikut campur urusan keluarga ku?"
"Aku, adalah majikan sekaligus temen astuti." Vanandya berkata dengan sangat lantang.
Mereka terkejut, kalau astuti anak kandung dari Bram Wijaya pewaris tunggal Wijaya group menjadi pelayan seseorang wanita yang mereka tidak kenali.
Banyak mencibir kalau Vanandya simpanan om-om jadi dia bisa menyewa seorang pelayan pribadi. Vanandya yang mendengar cibiran itu tersenyum sinis.
"Jika kalian tidak mengetahui saya lebih baik diam sebelum aku menghancurkan kalian.. Aku adalah nona muda lacerta anak tunggal dari lacerta."
Seketika itu juga mulut para pengunjung langsung menutup, karena mendengar kalau wanita itu adalah nona muda lacerta, saat mereka mengetahui kalau Vanandya anak dari keluarga lacerta. semua pengunjung ingin mendekatinya.
Siapa si yang tidak mengenal keluarga lacerta, keluarga Konglomerat yang ketiga selain keluarga Marquez dan satu lagi perusahaan yang menduduki nomer satu namun sangat tertutup bahkan untuk mengorek informasi mengenai Keluarga'nya mereka tak bisa.
"Haha kau itu cuma keluarga lacerta, sedangkan aku adalah calon mantu keluarga Marquez."
Mendengar perkataan lestari, membuat senyum di wajah Vanandya mengembang, membuat para pengunjung dan pegawai yang melihat senyuman anak tunggal lacerta, merasa terhipnotis dengan kecantikan yang di miliki oleh Vanandya.
"Aku denger anak lacerta, sangat sopan baik bahkan dia sering berbagi rezeki kepada orang-orang."
__ADS_1
"Iya aku juga pernah denger itu, dan aku juga pernah mendengar kalau anak lacerta sampai turun ke jalanan, hanya ingin memberikan sesuap nasi untuk orang yang tak mampu."
Dan masih banyak lagi gosip mengenai anak Tunggal lacerta, yang tidak pernah menunjukkan wujudnya. Dan sekarang mereka melihatnya dengan sangat jelas.
Vanandya lalu mengajak astuti pergi dari tempat itu.
***
Kedua pria yang sedang berhadapan itu sedang membicarakan tentang apa yang terjadi di mall.
"Jadi?"
"Iya tuan muda. Nona muda seringkali membagi sumbangan kepada orang di luaran sana."
"Aku tak menyangka kalau dia sangat dermawan kepada semua orang."
"Itulah, nyonya muda."
***
Kembali ke Vanandya yang sedang menikmati makanan siang bersama dengan kedua sahabatnya itu. ia ingin mengetahui latar belakang mereka.
"Aku adalah anak tunggal dari Wijaya group dan Malik group. mereka dua perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran dan periklanan. Dua perusahaan itu bersatu setelah Bram Wijaya menikah dengan Dinda Kanya Malik. Menikah, lalu mereka di berikan momongan yaitu Astuti Sabrina Wijaya. Sampai usiaku lima tahun, mamaku meninggal karena kecelakaan. Dan ayah menikah lagi dengan citra, dan detik itu juga hidup ku berubah."
Astuti tidak melanjutkan ceritanya sudah cukup, ia sangat tidak kuat lagi untuk bercerita.
Karena hari sudah mulai sore mereka kembali ke mansion Marquez. Saat ia berjalan ke parkiran, Vanandya melihat seseorang wanita sedang bersama pria lain, yang ia tau dia adalah kekasih dari wanita itu.
Namun ia abaikan saja. Mungkin saat ini pembalasan akan di mulai, sudah cukup ia menunda lagi pembalasannya.
Mobil yang di tumpangi mereka pun berjalan meninggalkan restoran yang sangat besar, bahkan makanannya sangat nikmat.
***
Lain sisi. Saat ini Amora sedang berada di sebuah bar terbesar di Indonesia, Amora di ajak oleh kekasihnya untuk menikmati waktunya untuk bersama.
Alunan musik, mengelun dengan merdu di telinga mereka. Para pengunjung bar pun menari dengan di dampingi oleh pasangan mereka.
Agra menawarinya minuman kepada Amora, namun Amora menolak karena ia tak pernah meminum-minuman keras, karena ia tak di bolehkan minuman beralkohol.
__ADS_1
Namun agra memaksa, kalau ini tidak memabukkan karena minuman yang ia berikan mengandung vitamin yang akan membuat Amora sehat.
Amora dengan ragu pun meminum yang di berikan oleh agra. Satu kelas ia habiskan, rasanya sangat nikmat, jadi ia menambah satu kelas lagi.
Agra tersenyum simpul saat melihat Amora sudah banyak meminum. Dan sebentar lagi dia akan mabuk kepayang.
Kling. Bunyi pesan masuk kedalam ponselnya.
"Aku sudah menutup jejak kalian, jadi tidak ada seorang pun yang bisa melacak keberadaan kalian." Pesan pertama.
"Lakukan apapun sampai kau puas. Mungkin itu balasan yang setimpal baginya." Pesan kedua.
"Setelah kau melakukan itu tinggalkan dia, agar dia kembali ke tanah air." Pesan ketiga.
Agra yang mendapatkan pesan, bahwa semuanya sudah aman, ia juga sudah mematikan ponsel Amora agar tidak ada yang melacaknya, ia melihat Amora yang sudah mabuk. Lalu membawanya ke kamar yang sudah di siapkan olehnya sejak berapa hari yang lalu.
***
Vanandya, baru saja sampai di depan mansion, Namun, ia melihat seseorang yang Sedang berdiri di luar rumah dengan perasaan cemas. Ia lau bertanya kepada wanita paruh baya itu.
"Mama ada apa? Kenapa mama ada di luar?"Tanya Vanandya kepada mama mertuanya
"Mama sedang menunggu Amora pulang. Sejak tadi sore Amora belum pulang-pulang. Mama khawatir sama Amora."
Vanandya merasakan sedih saat melihat, mama mertuanya merasa sedih dan khawatir kepada Amora.
"Apa mama sudah menelepon amora?"
Rebecca menganggukkan kepalanya ia sudah mencoba menelpon Amora, tapi ponselnya tidak aktif. Ia juga sudah menelepon suami'nya namun sama juga tak aktif.
Vanandya lalu membawa mama mertuanya ke dalam rumah ia mendudukkan ibu mertuanya di sofa. Lalu ia kedalam membuatkan secangkir teh untuk mamah mertuanya.
"Ini mah diminum."
Saat nyonya Rebecca sedang meminum teh buatan mantu'nya itu, ada sebuah pesan masuk dari Amora.
"Mah. Amora sedang ada di acara ulang tahun sahabat amor. Jadi ga bisa menelpon mama."
Itulah isi pesan yang di berikan Amora kepada mamahnya.
__ADS_1
"Sayang...