
"KAU. Atas dasar apa kau menampar diriku? Bukannya sudah ada perjanjian kalau tida ada yang boleh bermain fisik."Bentak Vanandya kepada suaminya, yang terang-terangan menampar pipi'nya. Lalu ia menatap tajam suami'nya lalu melirik ke arah jal*Ng licik itu, ia akan menunjukkan siap aslinya kepada mereka Naum ia urungkan saat melihat ada seseorang berjalan ke arah mereka.
"Kakak viren. Tanu."Panggil seseorang wanita dengan pakean yang sangat seksi dan menggoda.
' Ck. kayanya temen jal*Ng datang. Dan ini lebih parah dari jal*Ng di depannya. 'Batinnya.yang sudah muka dengan para lalat pengganggu.
Tanu, yang melihat wanita di depannya pun berhambur ke pelukan wanita itu. "Amora. Aku sangat seneng kamu datang kemari."
"Aku juga sangat seneng."Lalu tatapan wanita itu jatuh ke arah Vanandya. Namun tatapan wanita itu mengisyaratkan permusuhan terhadap wanita di depannya.
Tanu lalu menjelaskan. Siapa wanita itu sebenernya dan kenapa dia ada di sini. Dan Tanu juga memperkenalkan Amora kepada Vanandya, bahwa Amora itu adalah adik dari Virendra.
Vanandya. Hanya acuh tak memikirkan, sambil mengangkat bahunya ia berjalan meninggalkan ruang keluarga yang penuh drama, lebih baik ia gunakan waktunya untuk istirahat dari pada mikirin para ondel-ondel di rumahnya.
Saat sudah sampai di depan kamarnya ia meminta kepada para bodyguard nya tidak ada yang boleh masuk ke kamar pribadinya, termasuk sang tuan viren. Lalu ia masuk ke kamarnya setelah mendapat jawaban dari bodyguard'nya.
Vanandya pergi ke Walk in closet. Ia ingin mengganti dress-nya dengan Piyama polos. Setelah beres ia naik ke atas tempat tidur yang besar, namun ia sangat penasaran dengan adik dari suaminya itu.
"Amora Brianna Marquez."Gumam Vanandya. lalu membaca dengan detil data-data yang ia dapat.
Amora Brianna Marquez. Anak ke empat dari lima bersaudara. Amora adalah gadis manja yang suka berfoya-foya, Amora tidak nyaman menjalin cinta dengan sembarang pria. Amora sendiri Adalah adek kesayangan dari grey faresta Marquez.
"Hm. Kita lihat apa yang akan kau lakukan tuan grey."Gumamnya.
Ia meletakkan laptopnya di laci. Dan ia pun merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.
***
Pagi hari pun tiba, saat ini ia ingin memasak makanan buat menyambut adik iparnya itu. Tapi ia sedikit menambah bumbu-bumbu drama di meja makan nanti, karena ia tau kalau adiknya itu tidak suka dengan kehadiran dirinya di tengah-tengah keluarga nya.
Kenapa ia bisa masak, karena ia mengancam akan memecat semua pelayan yang ada di sini jika dirinya tak di beri ijin untuk memasak
Para pelayan yang akan takut. Ancaman dari sang nyonya hanya menuruti saja. Dan semua beres, ia menyuruh semua pelayan untuk menyajikan makanan di meja.
"Eh. Eti, apa kamu melihat pelayanku?"Vanandya bertanya kepada salah satu maid, dengan asal menyebutkan nama.
Wanita itu pun menggeleng dia tidak tau dimana kedua pelayan itu, mungkin dia sedang pulang kerumahnya, jadi ia biarkan saja.
__ADS_1
Vanandya pun duduk di meja makan, sambil menunggu para penghuni keluar dari sarangnya. Karena lelah menunggu, ia mengabari seseorang untuk melakukan tugasnya.
"1"
"2"
"3"
"4"
"5"
Tepat jari kelima selesai di hitung, orang yang ia tunggu akhirnya tiba, mereka lalu duduk di tempatnya masing-masing. Vanandya hari ini ekspresinya tersenyum dengan elegan, lalu menyapa adik iparnya itu yang haus akan pujian.
"Wah. Kau cantik sekali rara."Vanandya sambil tersenyum.
Deghh. Amora merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, karena mendengar namanya di sebut dengan 'Rara' Karena di keluarganya tidak ada seseorang pun yang memanggil dirinya dengan sebutan itu. Kecuali...
Amora. membulatkan matanya ia tak pernah dengan semua ini, harusnya dia sudah tak ada. tapi tidak-tidak. mungkin ia berhalusinasi jadi dirinya mengingat dia.
"Bisakah kau jangan memanggilku dengan nama itu?"Amora sangat benci dengan wanita di depannya itu yang sangat berbahaya, ia sangat tidak suka jika wanita di depannya menjadi kakak iparnya.
Saat Vanandya akan mengatakan sesuatu sudah lebih dulu suara dingin yang mengatakan kalau di meja makan tidak ada yang boleh berkata, apa lagi sarapan akan di mulai.
Ketiga wanita pun terdiam, mereka langsung menyantap hidangan sarapan pagi.
Tapi tiba-tiba suara angin keluar dari seseorang pun terdengar begitu nyaring.
Tentu yang ada di meja makan langsung menatap suara kentut, dari Tanu. Ya karena mulus Tanu mengeluarkan angin, yang membuat seluruh penghuni di tempat itu menurut hidupnya.
"Panu. Apa kau tak memiliki sopan santun? Disini Nyonya muda sedang makan kau enak-enakan buang angin?"Vanandya berkata dengan suara dingin, membuat mereka yang ada di tepat itu merasakannya.
Tanu. pun mengeluarkan jurus andalannya yaitu mewek. Yap dia sedang terisak dengan tangisnya, dan ia meminta maaf kepada kekasihnya dan juga vanandya ia merasa malu karena terlah membuang angin di waktu makan.
"Bisa tidak. Kamu berbicara dengan lembut kepada kekasihku?Kau tau dia itu memiliki hati yang sangat rapuh."Virendra membentak istrinya itu, ia sudah memperingati berapa kali agar wanita itu tidak membentak atau berkata kasar kepada kekasihnya itu.
"Cih. Terus aja kamu bela, yang sudah jelas-jelas dia salah.. Makanya punya pantat di kondisikan agar tidak kentut sembarangan."Lalu vanandya pergi dari ruang makan, ini merasa terhibur karena pertunjukan yang ia lakukan kepada Tanu itu sangat menyenangkan, ia juga harus bersiap-siap karena Tanu si kejam itu pasti akan membalasnya lebih kejam.
__ADS_1
Setelah di luar ia menyuruh pak Abdul untuk mengeluarkan mobilnya, karena ia ingin pergi ke rumah orangtuanya. Pak Abdul pun melaksanakan perintah dari sang nyonya muda. Dengan cepat mobil itu terlah sampai di depan vanandya.
Pak Abdul lalu keluar dari mobil nyonya mudanya, terus memberikan kunci mobil kepada nyonya Vanandya.
Saat ia akan membuka pintu mobil, ada tangan kekar yang menghalangi pintu itu, lalu dia menutup pintu mobil istrinya, dan menyeret istrinya untuk pindah ke tempat mobilnya, dia menyuruh agar Vanandya masuk.
Virendra pun menjalankan mobilnya, tanpa mengatakan sepatah dua kata. Sampai dering ponsel mengejutkan mereka, vanandya yang melihat temennya menelpon pun mengangkat telepon itu.
"Hallo."
"...."
"Oke,"
"..."
"Tidak, kamu tenang aja."
"..."
"Hm ok entar aku datang kesana."
Telepon pun berakhir, Vanandya pun. Menaruh ponselnya di dalam dompetnya ia merasa bahagia kala ia akan di ajak ke sesuatu tempat.
"Siapa?"
"Apa maksud anda?"Vanandya tidak mengerti apa maksud perkataan pria di sampingnya itu.
"Siapa yang menelepon mu?"
"Kamu nanya. Biar aku jawab ya, anda itu terlalu kepo."
Virendra yang merasa kesel dengan jawaban yang di lontarkan oleh Vanandya tidak sesuai dengan ekspektasinya, dengan kesel ia mengerem mendadak. Sampai membuat kening Vanandya benjol. Karena kening nya terkena Laci dashboard. Saat akan mengambil lip tint, yang terjatuh.
"Jawab aku.. Siapa dia?"
"Dia adalah..."
__ADS_1