
"Sayang saat ini gimana kondisi kamu apa sudah jauh lebih baik?"
"Kamu tak perlu risau aku sudah baikan kok?"
"Sayang saat ini bunda dan ayah.. Sedang kemari,"
Vanandya yang sedang memasak malam untuk keluarganya pun, merasa senang. Karena, ibunya akan datang kesini. Saat, ini semua makanan sudah tertata rapi di meja makan, lalu vanandya memanggil twins untuk segera turun.
"VANANDYA!!" teriak seorang wanita.
"Kaka?" gumam Vanandya.
Lalu mereka pun keluar dari ruangan makan. Lalu, menemui sang kakak. Karena, vanandya tau betul akan suara yang di miliki oleh kakak'nya.
Hazel, yang melihat adiknya baik-baik saja pun merasa bersyukur. Karena, adiknya tak mengalami depresi, yang media katakan.
"Kok.. Kakak bisa tau kami ada disini?" tanya valdes yang menimpali ucapan kakak dan adik itu.
Grey's pun menjelaskan kalau dirinya mengetahui karena anak buah dari perusahaannya. Namun, kedatangannya kali ini bukan tanpa alasan, karena ia ingin memberikan berita lain tentang kasus yang sedang trending.
"Val.! Boleh kakak berbicara?" ucap Grey's dengan nada serius tanpa ekspresi sama sekali.
Valdes, pun mengajak kakak'nya berbicara ke taman samping yang berada di tengah-tengah ruangan. Saat sudah sampai valdes merubah ekspresinya yang hangat menjadi dingin. "Ada apa kakak ingin berbicara denganku?"
"Kakak, ingin mengatakan kalau saat ini seluruh polisi sedang mencari vanandya. Kurasa, mira sudah melaporkan semua ini kepada pihak berwenang."
Tentu, perkataan kakak'nya membuat valdes merasa murka tanpa sengaja ia menendang pot bunga di sampingnya sampai pot bunga menjadi pecah.
"Brengsek, kenapa amira melakukan itu kepada vanandya!? Apa bukti yang tadi pagi aku dan Axel berikan kurang!" ucap valdes dengan aura yang berkobar bak seperti hutan terbakar habis. Dengan, kemarahan ia pergi meninggalkan kakak'nya, ia ingin menemui adiknya untuk mencabut tuntutan yang dia buat kepada vanandya.
Grey's yang dari tadi memanggil pun tidak di denger oleh adiknya itu. Bahkan, sampai vanandya dan hazel mendengar keributan mereka.
"Sayang ada apa ini?" tanya vanandya kepada suami'nya.
__ADS_1
"Iya gre, ada apa ini?" timpal hazel.
Namun, saat mereka akan menjelaskan sebuah ketukan pintu, membuat mereka mengurungkan niatnya untuk menceritakan tentang barusa terjadi. Vanandya yang mendengar suara ketukan intu pun, membukanya. Dan, ia sangat terkejut saat yang datang adalah seorang polisi.
"Benar ini kediaman vanandya?"
"Benar." ucap vanandya kepada berapa polisi. Dengan, terbata-bata ia merasakan takut,
Polisi itu pun memberikan surat penangkapan terhadap saudari vanandya karena terlah melakukan kejahatan dengan menjebak saudari amira. Karena, ulah dari Vanandya membuat Amira depresi dan kehilangan kesuciannya.
Valdes jelas menolak, karena memang istrinya tidak bersalah karena di sini Vanandya hanya membantu bukan menghancurkan. Tapi, polisi tetap polisi jika tidak ada bukti ia tidak akan membebaskan vanandya.
Vanandya pun menghembuskan nafas kasar'nya, lalu menyodorkan tangannya untuk membawa dirinya. Jika, memang Amira senang karena dirinya di penjara ia bakalan ikhlas, ia menatap ke suami dan kakak'nya untuk tetap tenang ia akan baik-baik saja.
Hazel yang melihat itu menangis. Karena, melihat adiknya di bawa oleh tim kepolisian. "Grey's jika kau ingin menikah denganku dan cinta sama aku, maka buktikan. Dengan, cara membebaskan vanandya dari penjara." ucap hazel kepada Grey's.
Valdes hanya terdiam saja melihat istrinya di bawa oleh polisi', tanpa di sadari jari-jari tangannya mengepal dengan sangat kuat. Bahkan, sampai buku-buku kukunya memutih.
"Amira, tak perduli kamu adikku atau bukan yang pasti aku akan menghancurkan kamu. Karena, sudah bermain-main dengan kakakmu."
***
Prok!
Prok!
Prok!
Prok!
Prok!
Seorang bertepuk tangan dengan sangat keras, karena mendengar dan melihat kalau Amira lah orang yang di balik semua ini, bahkan ia tak menyangka kalau. Amira seorang putri tunggal dari keluarga Marquez sangat kejam kepada keluarganya sendiri.
__ADS_1
"Saya, tak menyangka kalau kau berbuat hal yang sangat menjijikkan." ucap seorang pria yang tak lain adalah laksh. Saat ia baru saja keluar dari ruang perawatan ibunya, ia mendapatkan notifikasi dari adik perempuannya kalau dia ingin menemui Vanandya. Karena, dirinya tak curiga ia pun memberikan alamat rumah yang saat ini vanandya tempati.
Tapi ia salah besar, tujuannya Amira meminta alamat rumah vanandya hanya untuk memberikan kepada polisi agar dia segera di tangkap.
"Trik cara yang sangat murahan.! Akan ku pastikan bahwa rencana mu akan segera berakhir. Dengan, bukti yang sangat akurat." ucap Laksh.
"Jika kamu melakukan hal seperti itu, maka akan aku pastikan kamu juga akan sama seperti Vanandya." bentak amira.
"Terserah kamu saja, tapi penyesalan akan selalu datang di akhir permainan. Dan, saat permainan selesai kamu jangan menyesal." ucap Laksh kepada adik sepupunya.
***
Saat ini Hayden dan Kairo sedang berusaha untuk membebaskan vanandya dari penjara. Namun, semua itu tidak karena kejahatan Vanandya sudah banyak tersebar bahkan, ada yang mengusulkan agar vanandya di hukum seumur hidup.
"Kita harus gimana?" tanya kairo
"Tidak ada cara lain selain menunggu nyonya dan tuan besar kembali. Karena, semua bukti sudah di pegang oleh mereka kita hanya perlu menunggu saja." ucap hayden.
***
Sementara di ruangan tahanan Vanandya baru saja di masukan kedalam jeruji besi yang sangat dingin dan pengap. Namun, ia tetap tenang tanpa melakukan perlawanan. Tapi, ia harus berhadapan dengan para napi yang lain,
Para napi yang melihat kedatangan anggota baru pun tersenyum sinis. Saat kepergian petugas, mereka melancarkan aksinya dengan menyuruh vanandya melakukan apa yang mereka suruh.
Namun, vanandya hanya diam saja ia tidak ingin melakukan hal seperti itu, walaupun dirinya adalah seorang wanita lembut dan memiliki belas kasih. Tapi, jika dirinya di rendahkan seperti pelayan oleh orang lain ia tidak akan terima.
Melihat penolakan Vanandya pun membuat para Napi marah besar dengan kasar ia mendorong vanandya sampai terbentur tembok, belum sampai di situ ia juga menampar dan menjambak rambut Vanandya. Namun, vanandya hanya diam saja sambil meringis kesakitan,
"Terserah kalian apapun yang kalian lakukan, tapi saya tidak suka harga diri saya di injak-injak oleh kalian." ucap vanandya aura vanandya sama seperti aura tiga seseorang. Yaitu, nenek Daniah, Eleanor, Roosevelt. Semua, bercampur menjadi satu,
Karena, keturunan darah biru dan bangsawan, tidak akan pernah menuruti perintah seseorang hanya buat merendahkan harga dirinya.
Para napi benar-benar merasa terhina akan apa yang di katakan oleh vanandya, ia pun dengan marah ingin memukul vanandya dengan meninju wajah vanandya. Namun, di hentikan oleh seseorang.
__ADS_1
"BERHENTI...?!"