
Pagi, tiba saat ini semua keluarga Marquez sedang berkumpul di ruang makan. Rebecca, yang melihat keluarganya berkumpul kembali merasa bahagia. Walaupun saat ini para mantu'nya makan dengan ekspresi wajah datar.
Agni, juga ikut duduk tapi tatapan matanya mengarah ke Yulia dengan sangat tajam, bahkan auranya sangat mematikan. Walaupun, dia tidak bIsa bicara dan berjalan dia masih bisa menunjukkan dengan tatapan mata.
Namun, tanpa di sadari oleh Yulia dan agni, vanandya melihat semua itu. Dia berpikir kalau ada sesuatu yang di rahasiakan oleh Yulia, dan. Dari penglihatan matanya Agni ingin membongkar semua kejahatan dari Yulia. Tapi, saat Agni akan memberi tau ada seorang yang berusaha mencelakai dan mengakibatkan Agni mengali stroke.
Sebenarnya, vanandya ingin mengajak jalan Agni ke taman dan ingin menanyakan juga tentang tatapan mata kepada Yulia yang penuh dendam dan kemarahan. Namun, saat ini belum waktunya yang tepat untuk membicarakan itu, karena dia harus pergi ke rumah sakit. Bersama dengan suami'nya.
Dan, setelah vanandya menyelesaikan malamnya dia pergi ke kamarnya untuk mengambil tas yang akan dia gunakan ke rumah sakit, setelah semua beres vanandya pun kembali turun ke lantai dasar menggunakan lift.
"Sayang," panggil vanandya kepada Valdes.
Valdes, yang sedang makan pun langsung menyelesaikan makanya, dia tau kalau istrinya masih marah kepada keluarganya atas perlakuan mereka terhadap Hayden, jadi dia tidak ingin berlama-lama bersama mereka. Valdes, susah memahami sifat vanandya, jadi dia hanya perlu menurutinya.
Keduanya, pun langsung pergi dari kediaman Marquez, mereka akan pergi ke rumah sakit untuk menemui Hayden. Saat, mereka sudah berada di jalan vanandya kepikiran akan tatapan mata Agni.
"Sayang, sepertinya nenek Agni sangat membenci Yulia," ucap vanandya kepada suaminya yang sedang mengendarai mobil.
"Kenapa, kamu sangat yakin kalau nenek membenci yulia? Bukannya, nenek stroke gak bisa berbicara, jadi mustahil. Kita mengetahuinya atau tidak." ujar Valdes yang masih mengendarai mobil. Tanpa, melihat ke arah istrinya.
"Ya, aku melihat sendiri dari tatapan mata nenek kalau dia sangat membenci Yulia." kata vanandya,
__ADS_1
"Astaga, sayang. Tatapan mata itu bukan berarti tatapan kebencian, bisa jadi itu tatapan hal yang lain. Kan, kamu tau sendiri kita mendengar kalau nenek Agni sangat menyayangi Yulia bahkan dia sampai menyerahkan kekuasaannya kepada Yulia. Mana, mungkin dia membencinya." ucap Valdes. Yang, tidak percaya akan perkataan istrinya.
"Ya, sudah kalau tak percaya. Akan aku buktikan kalau perkataanku benar." ucap vanandya dengan dingin.
Mobil, mereka pun terlah sampai di hospital L. Itu, adalah hospital milik keluarga lacerta yang semua orang tidak ketahui. Keduanya keluar dari mobil dan memasuki rumah sakit yang sudah banyak pengunjung menyaksikan pasangan itu.
Namun, ke-dua nya tidak memperdulikan tatapan mereka, karena jika mereka memperdulikan tatapan itu aka. membuat mereka sakit hati. Saat mereka melewati koridor mereka mendengar bisik-bisik dari para suster. Yang, salah satunya sedang menggendong bayi, vanandya yang penasaran pun berjalan mendekati para suster itu. Valdes, menatap sang istri dengan tatapan bertanya. Namun, tidak di gubris oleh vanandya. Karena, penasaran apa yang akan istrinya lakukan Valdes hanya mengikuti dari belakang.
"Permisi sus."
"Iya, nyonya ada yang bisa kami bantu?" tanya suster L, dengan sopan.
"Tadi aku mendengar kalian mengatakan bayi. Memangnya ada apa dengan bayi yang sedang kalian gendong?" tanya vanandya kepada suster.
Mendengar, hal itu vanandya merasa iba dan kasian. Lalu, dia menatap ke arah suami'nya untuk memberikan persetujuan untuk merawat dan membesarkan anak itu. Karena, vanandya tau kalau dia sudah tidak bisa memiliki seorang anak lagi jadi dia ingin mengadopsi anak yang baru saja kehilangan orang tuanya.
Valdes, yang mengerti akan tatapan mata istrinya, dia menganggukkan kepala, karena kebahagiaan sang istri kebahagiaan dia juga. Jadi, jika, vanandya bahagia bisa merawat anak itu dia akan mengabulkan keinginan Vanandya.
"Suster, Bolehkan aku yang merawatnya?" tanya vanandya kepada sang suster.
Kedua suster itu sempat ragu dan mereka saling bertatapan. Karena, mereka tidak bisa membiarkan anak itu jatuh ke tangan orang asing. Jadi, mereka tak bisa melakukan itu.
__ADS_1
"Kalian, tak perlu takut seperti itu. Karena, kami berencana ingin mengadopsi anak itu, dan jika kalian tidak percaya maka kalian bisa datang ke mansion Marquez. Dan, kalian cari tau nama Valdes Hutabarat Marquez.!" ucap Valdes dengan dingin dan datar. Yang, membuat kedua itu merasa gemetar dia tidak mengetahui kalau pasangan di depan adalah anggota Marquez.
Sang, suster yang menggendong bayi, pun menyerahkan bayi yang baru lahir kepada vanandya, lalu dia mengatakan kepada vanandya. "Baiklah, nyonya kami percaya. Jadi, aku titip anak ini nyonya, dan tolong jaga dan rawat bayi perempuan ini. Karena, ibu dari anak ini sebelum meninggal berpesan untuk menjaganya, karena anak ini sedang di incar oleh orang-orang yang ingin melenyapkan dia nyonya." kata, suster. Yang, mempercayai kalau vanandya bakalan bisa merawat dan membesarkan. Bahkan, bayi yang dia gendong bakalan di jaga oleh keluarga Marquez.
"Apa, maksud suster?" tanya Vanandya, yang tidak mengerti akan apa yang terlah di katakan oleh suster L.
"Kami, tak bisa mengasih tau nyonya. Tapi, ibu dari anak itu mengatakan untuk menjaga keselamatan anak itu." kata sang suster.
"Apa, kalian menyembunyikan sesuatu dari kami? Dan, kenapa tiba-tiba kalian langsung percaya begitu saja. Setelah menyebut kami keluarga Marquez?"
"Bukan, maksud kami seperti itu tuan. Kami, melakukan itu untuk keselamatan sang bayi. Karena, orang Jahat sedang mengincar nyawa bayi yang tidak berdosa. Dan, kami percaya pada kalian karena kami tau keluarga kalian bisa menjaga dan melindungi anak tak berdosa itu." kata sang suster.
Membuat Valdes dan vanandya terdiam. Namun, mereka akan mencari tau sendiri kenapa anak itu terancam dan kenapa orangtua dari bayi itu meninggal.
Valdes dan vanandya pun saling bertatap. Keduanya pun bersepakat untuk mengadopsi anak itu. Dan, mereka juga akan menjaga bayi mungil dengan sekuat tenaga mereka.
"Nyonya, kalau gitu kami permisi dulu. Dan, ini ada sebuah amplop yang terlah orang tua itu tulis, dan sepertinya di dalam ada sebuah liontin. Berikan kepada bayi itu di saat usia anak perempuan itu menginjak 17 tahun." kata sang suster yang langsung pergi meninggalkan vanandya dan Valdes. Dengan, bayi yang sudah di serahkan ke pada vanandya.
"Aku, akan menyuruh kai. Untuk, menyelidiki identitas dari bayi itu dan aku juga akan mencari tau siapa orang yang terlah mencelakai keluarga dari anak yang tidak berdosa itu." ujar Valdes.
"Baiklah, sayang. Sayang, aku merasa tertarik dengan bayi ini. aku ingin sekali merawatnya dan aku tidak ingin kehilangan bayi ini."
__ADS_1
"Kamu akan memberi nama siapa...?"