CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 182


__ADS_3

Valdes, pun perlahan demi perlahan mendekatkan wajah dirinya dengan wajah istrinya. Valdes pun mencium bibir Vanandya dengan kecupan singkat membuat. Namun, sangat dalam. Valdes pun melepaskan ciumannya.


"Sayang, apakah boleh kita melakukannya?" tanya Valdes, kepada istrinya. Karena, satu minggu ini dia tidak mendapatkan asupan dari istrinya, lantaran vanandya sedang bulan datang. Jadi, Valdes menunda melakukannya. Mereka, tidak akan menyerah sebelum mereka mendapatkan anak perempuan. Agar, kebahagiaan keluarga Meraka sangat lengkap.


Vanandya, yang mendengar permintaan dari suaminya, hanya menganggukkan kepala, menyetujui permintaan dari sang suami untuk mengecas batre. Agar, daya tahan tubuh mereka semakin kebal.


Melihat, reaksi istrinya yang setuju, Valdes membopong tubuh vanandya, membawanya ke kasur. Dengan perlahan dia menaruh vanandya di kasur. Valdes, tidak membuang-buang sia-sia, dengan perlahan dia mencium bibir istrinya untuk yang kedua kalinya. Dan, ciuman itu berganti menjadi ciuman panas. Keduanya saling bertukar air liur.


Setelah, berapa menit. Mereka sudah kehabisan nafas. Jadi keduanya melepaskan tautan mereka. Beralih ke arah bawah dia mulai melepaskan kain yang menempel di tubuh istrinya. Begitupun dengan Valdes dia melepaskan kain yang di pakai dirinya. Sekarang z ke-dunya sudah tidak memakai apa-apa lagi.


Namun, sebelum Valdes memulai permainan. Vanandya, terlah menghentikan, yang membuat Valdes menatap ke arah Vanandya dengan bingung.


"Kenapa, sayang?" tanya Valdes.


Aku tidak bisa, melakukannya." ujar Vanandya, yang membuat Valdes menatap ke arah Vanandya penuh kekecewaan.


Valdes, merasa kesal di saat ga*rahnya sedang naik dan siap untuk melakukannya, istrinya bilang kalau dia belum siap. Dia, sangat kecewa dengan apa yang Vanandya katakan. Dengan marah dia berjalan ke arah kamar mandi. Namun, baru saja memegang handle pintu suara Vanandya mengejutkan Valdes.


"Ck, gitu saja ngambek. Aku, kan bilang. Kalau aku tidak bisa melakukan saat pintu kamar tidak kau kunci. Jika, sampai ada yang tau kan berabe." kata Vanandya dengan senyum jahilnya.


Yang, membuat Valdes terdiam seperti patung, dia mencerna apa yang terlah di katakan oleh Vanandya. Setelah, paham dia membulatkan matanya. Dia, baru menyadari kalau pintu kamar belum. terkunci. Dengan, senang Valdes berlari ke arah pintu kamar dan langsung menguncinya.


Dan, dia mendekati istrinya penuh garang. Dia, di kerjain habis-habisan oleh istrinya. Yang bilang kalau vanandya belum siap, kan itu adalah kelemahan dirinya yang tidak bisa di tolak oleh istrinya untuk melakukan hubungan.


Tanpa, pemanasan terlebih dahulu Valdes langsing memasukkan burungnya kedalam sangar.


Blesss..! Suara dua benda bersatu menjadi kesatuan kesakralan.


"Akhhhhh.!" teriak vanandya, yang merasakan sakit di bagian terlarangnya. Karena, Valdes melakukannya dengan mendadak tanpa pemanasan dulu.


***

__ADS_1


Di, kamar lain seorang wanita sedang berbicara dengan serius, wanita itu adalah Yulia dan Amira, tidak lupa dengan orang yang selalu hadir yaitu Eriska.


"Akhirnya, rencana Kita sesuai prediksi. Jadi kita tak perlu capek-capek mengotori tangan kita." ucap Yulia.


"Kau, benar bibi. Karena, ini pembalasan mereka atas apa yang terlah mereka buat kepada kita. Dan, aku adalah orang yang pertama untuk menghancurkan vanandya, wanita yang sudah menghancurkan semuanya." kata Amira dengan senyum jahatnya.


"Saya ingatkan, kalian harus berhati-hati. Karena, keluarga lacerta bukan keluarga sembarang, karena dia ada penjaga di balik mereka. Dan, sebelum aku menyingkirkan penjaga yang selalu menjaga keluarga mereka, rencana kita tidak akan bisa berjalan." ujar Eriska,


Yulia dan Amira saling menatap ke arah Eriska, dia ingin mengetahui siapa orang yang menjaga keluarga mereka, yang berada di balik layar. Jika, mereka tau. Meraka, akan berusaha menyingkirkan orang itu.


"Sepertinya, aku harus terjun langsung, agar semua orang tau kalau aku adalah istri Vinton, dan saat itulah aku akan menghancurkan mereka semua." ucap Eriska.


Yulia dan Amira, merasa bahagia mendengar semua itu, jika Eriska ikut terjun maka mereka


"Jika, mama muncul sebagai istri kakek, maka semua keluarga akan syok dan yang pasti nenek Agni akan semakin terpuruk. Karena, " kata Amira,


"Pasti, itu sayang, dan mama juga akan memperkenalkan kamu sebagai anak mama, bukan anak dari Rebecca dan Victor. Agar vinton tau kalau dia memiliki seorang putri." ucap Eriska.


"Benar Tante, aku juga akan membantu Tante, untuk menghancurkan mereka. Karena merekalah kakakku mati." ucap Yulia penuh dendam.


Setelah, pembicaraan itu, mereka pergi ke tempatnya masing-masing. Karena, sebentar lagi mereka akan hancur.


**


"Gimana, keadaan kamu?" tanya seorang pria yang tak lain adalah vernando. Yang, saat ini dia sedang menemani Hayden di rumah sakit, karena, dia tidak tega meninggalkan Hayden di rumah sakit sendirian, apa lagi dia sudah tidak mempunyai keluarga.


"Saya, sudah baik-baik saja tuan. Tuan, tuan tidak perlu khawatir dengan keadaan saya. Karana, saya sudah terbiasa seperti ini, jadi semua ini hanya luka ringan." kata Hayden dengan lirih. Namun, hatinya merasa nyaman bisa di perhatikan seperti ini.


"Lebih, baik kamu istirahat saja. Untuk, malam ini aku akan tidur di sini menemani kamu." ucap vernando.


"Tapi, tuan...?" Saat, Hayden akan menolak permintaan vernando, sudah lebih dulu di potong oleh vernando. Dia, mengatakan kalau dia tidak suka di tolak ataupun mendapatkan penolakan. Jadi, semua apa yang terlah dia katakan harus mau, tidak boleh membantah.

__ADS_1


Baru, Hayden memejamkan matanya sebuah dering ponsel mengejutkan mereka, dan Hayden mencari ponselnya. Namun, tidak ketemu, dia takut ada orang yang mengabari dirinya.


Dan, benar saja. Vernando menunjukan ponsel miliknya yang di situ tertulis nama asisten rumah tangganya. Karena, dia takut wanita itu kenapa-kenapa.


Dengan, perlahan dia mengambil ponsel miliknya dari tangan vernando, dia lalu mengangkat panggilan dari asisten rumah tangganya.


"Hallo bi?" ucap Hayden.


"Hallo, tuan. syukur alhamdulillah tuan tampan menjawab telpon ku. Ini saya tuan Raisa." ujar raisa yang menjawab telpon dari Hayden.


"Ada, apa?"


"Tuan, sepertinya syilla sedang tidak enak badan, dan syilla seperti merindukan tuan tampan."


"Kenapa, bisa begitu? Padahal, aku dekat dengan dia hanya berapa waktu saja."


"Ini, yang di namakan ikatan batin, setelah tuan tampan menyebut sebagai papa untuk syilla dia jadi merasa senang dan bahagia sama tuan,"


"Aku, bahagia. kalau syilla mencari'ku, dan aku akan segera menemuinya."


Memang tuan akan pulang kapan?"


"Aku, akan segera pulang kalau tugasku di sini sudah selesai, setelah itu aku akan menemuinya."


"Aku, akan menunggu kamu tuan tampan, kamu di situ jaga diri baik-baik jangan sampai terluka, agar syilla bisa mengenali wajah kamu yang tampan itu."


"Sebaiknya, kamu tidur udah malam. Dan, kasian syilla juga sendirian."


Setelah, mengatakan itu sambungan telepon berakhir. Ada, sekulas senyuman terpancar di wajah dingin Hayden, karena selama ini dia jarang tersenyum.


"Siapa, yang menelpon..?"

__ADS_1


__ADS_2