
Setelah selesai mendoakan almarhumah, mereka bangkit dari jongkoknya. Saat hendak meninggalkan makam, teriakan seseorang mengejutkan seluruh orang di sana, termasuk keluarga Lacerta.
"Nenek...!" tiga orang berlari ke arah makam sang nenek yang sudah lama tidak mereka jumpai.
Mereka menyesal tidak dapat melihat nenek terakhir kali sebelum wafat. "Nenek...! Mengapa nenek harus pergi dengan cara seperti ini? Kenapa nenek tidak menunggu kedatangan kami? Kami sangat menyayangi nenek. Namun, nenek tidak menyayangi kami. Kami harus datang dari jauh dan terburu-buru hanya untuk melihat nenek. Namun, nenek tidak mau melihat kami," ujar Amira dengan berlinang air mata karena kesedihannya.
"Benar, seperti kata kakak... Vernon bahkan sampai cuti sekolah agar bisa melihat nenek, tapi nenek tidak mau kami melihat," tambah Vernon.
"Saya tidak dekat dengan nenek, tapi saya merasakan kehilangan yang besar. Rasanya lebih besar dari kehilangan seseorang, sejak mama meninggalkan saya... Saya tidak bisa menangis lagi, tapi sekarang saya meneteskan air mata," ucap Laksh Vander Marquez, anak dari Faisal dengan istri pertamanya yang selama ini menetap di Eropa karena sedang menempuh studi di sana.
Beberapa saat kemudian, Amira bangkit dari duduk'nya dan ia berjalan ke arah wanita yang selama ini ia benci. Lalu dia menampar Vanandya dengan keras dan ia juga memarahinya karena Vanandya berada di balik semua masalah keluarganya.
Saat ia akan kembali menampar pipi Vanandya,
Namun, Axel berhasil menenangkan Amira dan mengingatkannya bahwa semua sudah menjadi takdir yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
"Inget Mir. Kakak, tidak bersalah semua ini adalah kesalahan yang harus kalian bayar atas tindakan kalian terhadap keluargaku." ucap Axel.
__ADS_1
"Apa..? Jadi kau adalah adik Vanandya?"
"Maaf mir."
"Jangan-jangan kau di suruh oleh Vanandya untuk mendekati'ku untuk menghancurkan aku.?" ujar Amira.
"Engga mir.. Aku melakukan itu bukan karena kakak. Tapi, aku cinta sama kamu." Bantah Axel.
Karena kemarahan Amira yang tidak terkendali dan terus memaki Vanandya karena terlah berhasil menghancurkan hidupnya dan sekarang dia melakukan lagi dengan cara mengirim axel, karena kemarahan Tanpa sengaja ia mendorong tubuh Vanandya dan membuat Vanandya jatuh terkena batu nisan di bagian perutnya, Valdes yang melihat istrinya terjatuh kesakitan, dan darah terus saja keluar dari sela-sela pahanya, akhirnya Valdes menggendong istrinya ia berjalan ke arah mobil. Dengan, di ikuti oleh keluarga lacerta.
Ia lalu memasukkan Vanandya kedalam mobil, ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai. Saat sampai di rumah sakit Valdes berteriak kepada sang perawat untuk cepat membawa istrinya, karena terjatuh dan mengalami sakit perut yang parah. Saat sedang menunggu dokter keluar Keluarga'nya datang menanyakan tentang kondisi vanandya. Namun, belum ada jawaban dari Valdes karena dokternya belum keluar.
Valdes terkejut, bukannya istrinya tak bisa mengandung lagi tapi kenapa dia tiba-tiba hamil.
Dokter menjelaskan memang benar kalau vanandya sulit untuk mengandung. Tapi, setelah di teliti Vanandya bisa hamil. Namun, kehamilan Vanandya akan sangat lemah dan rentan keguguran.
Mendengar penjelasan sang dokter. Valdes sangat sedih dan menyesal karena kemungkinan besar, jika ia melerai pertikaian antara adiknya dan Vanandya, kejadian ini tidak akan terjadi dan ia tidak akan kehilangan anak yang selama ini ia tunggu. Hendrik menyarankan agar mereka saling menguatkan dan tidak memikirkan hal-hal negatif untuk ke depannya.
__ADS_1
"Kami akan sebentar pulang, nanti Bunda akan membawakan baju ganti dan makanan untukmu," ucap Varisa.
Valdes hanya mengangguk, ia sudah tidak kuat lagi untuk mengatakan sesuatu. Karena mendengar kabar buruk secara bertubi-tubi, ia merasa tak berdaya.
"Sayang, maafkan Daddy karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Kalau saja Daddy peka, pasti kamu masih berada di perut Mommy kamu," batin Valdes.
Namun, penyesalan tetap penyesalan semua itu tidak bisa di ulang kembali.
"Hai Ma.. Sudah lama sekali kita tak bertemu, tapi saat kita bertemu Ma sedang tertidur pulas. Apa Ma tidak ingin melihat wajah anak Ma yang ganteng?" ucap Laksh kepada ibunya. Walaupun hanya ibu tiri, tapi rasa sayang Kimberly terhadapnya sangat lah besar, sampai bisa mengalahkan rasa bencinya pada Kimberly. Perlahan demi perlahan ia menerima kalau Kimberly adalah mamahnya,
"Ma.. Laksh sangat senang dan bahagia karena sebentar lagi Laksh akan memiliki adik bayi," ucap Laksh.
"Pa.. Kapan Mama akan sadar? Apakah Mama marah pada Laksh karena tidak pernah menemuinya?" ucap Laksh kepada ayahnya.
Faisal lalu memeluk tubuh putranya, ia hanya bisa bersabar dan berharap istrinya cepat sembuh. Rasanya ia tak percaya kalau putranya sudah sebesar dirinya, bahkan badan'nya sudar berisi.. Andaikan ia meluangkan waktu untuk menemani perkembangan sang putra pasti ia sangat senang, yang ia pikirkan hanyalah berkerja bahkan dengan sang istri jarang.
__ADS_1
"Pa.. Wanita yang ribut dengan Amira siapa?" tanya Laksh.
"Dia adalah..."