
Setelah kebersamaan mereka di rumah sakit, saat ini keluarga Marquez begitu pun dengan keluarga lacerta sudah kembali normal, karena mereka sudah mengikhlaskan akan kepergian varisa dan vagas.
Saat ini Vanandya juga sudah kembali ke mansion milik Marquez yang sudah terdapat anggota keluarganya. Bahkan sekarang vanandya sedang menghabiskan waktu bersama dengan...
Hazel, Tanu, Kimberly, leksa, Tania, Pitaloka, rebecca. Dan Astuti istri dari Axel yang saat ini tengah hamil.
Kebersamaan itu membuat mereka lupa akan permasalahan keluarga yang sudah berakhir. Bahkan mereka sudah tidak memikirkan lagi tentang Gisel yang di yakini tengah hamil anak dari Grey's.
"Gimana, kalau kita pergi ke mall?" tanya Kimberly.
"Wahh.. Boleh tuh, lagian aku juga sudah lama tidak ke mall, bahkan uang kiriman dari suamiku sudah menumpuk." ujar Tania. Yang memang sangat hobi sekali dalam hal berbelanja.
Mendengar itu mereka hanya menggelengkan kepala saja, karena Tania tidak berubah setelah menikah.
"Lihat adikku ini terlalu hobi sekali berbelanja." ujar Pitaloka.
"Kakak ipar kan tau kalau saya tidak bisa move on dari kata berbelanja." ujar Tania.
"Hazel, Vanda, leksa, Tanu astuti. Kalian bagaimana? Apa kalian akan ikut bersama dengan kami berbelanja?" tanya Kimberly kepada mantu- mantunya.
Mereka hanya ikut saja, karana mereka juga sangat membutuhkan belanja, apa lagi tabiat seorang wanita adalah belanja agar pikirannya tenang.
Namun sebelum mereka pergi mereka izin terlebih dahulu kepada suami-suami mereka yang saat ini sedang bekerja di kantor, Namun Valdes sudah tidak satu kantor dengan keluarganya, karena saat ini dia sudah mengambil alih perusahaan istrinya,
Para pria keluarga Marquez pun mengizinkan istri-istri mereka untuk pergi ke mall, karena mereka tau saat ini para istri sedang membutuhkan belanja untuk merilekskan pikirannya.
Setelah mendapatkan izin dari suaminya mereka pun segera pergi ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap-siap, karena mereka harus tampil sempurna agar kecantikan mereka tidak pudar sedikit.
"Apa mantu-mantu mama sudah siap?" tanya rebecca.
""Bukan mantu kamu doang rebe, mereka juga mantu saya." ujar Kim tidak terima akan hal itu.
"Tidak mereka adalah mantu saya bukan mantu kamu, jadi jangan sebut-sebut." ucap rebecca.
__ADS_1
Kedua ibu paruh baya saling berdebat satu sama lain karena memperebutkan gelar mertua untuk mantu-mantunya.
"Sudah-sudah, kenapa kalian berantem ma, mi. Seharusnya kalian menjadi mertua harus kompak, karana kami adalah mantu kalian." ujar leksa.
Rebecca dan Kimberly terdiam mendengar perkataan dari leksa. Karena yang di ucapkan leksa memang benar mereka harus kompak agar mereka bisa mengajari kepada semua mantu-mantunya.
Keduanya pun tersenyum kepada mantu-mantunya, lalu mereka pun meminta kepada mantu'nya untuk segera pergi sebelum panas menerpa mereka,
Mereka membawa tiga mobil mewah, dan ketiga mobil itu pun segera meninggalkan kediaman mansion, dengan kecepatan sedang mobil mereka membelah jalanan ibu kota.
Hal itu tidak luput dari tatapan para pengendara, yang merasa iri karena bisa melihat keluarga Marquez yang sedang mengendari mobil mewahnya.
Cittt..
Mobil mewah sudah berhenti di parkiran mall, mereka lalu keluar dari mobil dan segera berjalan beriringan memasuki mall tersebut.
Saat berada di dalam mall, semua pandangan menatap ke arah keluarga Marquez yang sangat anggun dan sangat cantik. Apa lagi penampilan mereka sangat cocok di pakai oleh keluarga Marquez.
"Sa, sudah berapa kali mami bilang kalau kamu harus manggil mereka dengan sebutan nama saja. Karena posisi kamu itu yang tertua. Jadi mereka lah yang harus manggil kamu kakak."ujar Kim.
Karena ibu mertuanya mengajari dirinya kalau suami'nya adalah anak tertua, jadi keturunannya harus bersikap sopan kepada keturunan dari Faisal.
Entah itu Grey's, Valdes, vernando dan siapapun, mereka harus memanggil leksa dan Laksh dengan sebutan kakak. begitu juga dengan anaknya yang harus di sebut kakak oleh keturunan dari Victor.
"Tapi mi.."
"Sudah tidak ada kata tapi, nanti kamu juga akan terbiasa. Dan untuk kalian juga harus memanggil leksa dengan sebutan kakak." ujar Kimberly sambil berjalan mencari barang-barang yang bagus.
Semua wanita haya menganggu saja karena saat ini mereka tidak ingin berdebat akan masalah itu di saat mereka sedang menikmati kebahagiaan mereka.
Mereka pun berpisah karena mereka ingin mencari barang-barang branded. Saat sudah terlalu lama mencari mereka mulai mendengar perkataan dari para pengunjung.
"Apa kamu tau saat ini di kuil, sedang terjadi kericuhan karena perbuatan seorang wanita yang ingin menyakiti seorang anak?" tanya pengunjung b.
__ADS_1
"Benar, aku juga melihatnya, wanita itu sangat menakutkan melebihi seorang Iblis." ucap pengunjung C.
"Kasian banget, padahal bayi itu habis di lahiran ke dunia, tapi wanita yang seperti penyihir itu tidak memberikan ampunan." ucap pengunjung A.
Mendengar itu vanandya terdiam karena merasa tidak asing dengan tindakan seorang wanita itu, ia pun bertanya kepada pengunjung yang sedang bergosip itu.
"Dimana tempat kuil itu?" tanya Vanandya kepada para pengunjung yang sedang bergosip.
"Kulit itu tidak jauh dari tempat ini, tempatnya berada di pinggir pantai. tempat di mana para umat menyembah tempat tersebut." ujar pengunjung A.
Mendengar itu vanandya berterima kasih karena sudah memberi tau dirinya, ia lalu segera pergi meninggalkan mall, tanpa memberi tau kepada keluarganya kalau dirinya akan pergi menemui seorang wanita yang sedang menyakiti seorang anak yang baru lahir.
Karena ia membawa mobil bersama dengan yang lain ia pun pergi menggunakan taksi, ia pun langsung meminta kepada sang supir untuk membawa dirinya ke lokasi tempat kejadian tersebut.
Bahkan ia tidak sadari kalau ponsel yang ia bawa mati, karena ia lupa untuk mengecas.
Taksi yang di tumpangi dirinya melaju cukup kencang bahkan, karena Vanandya tidak ingin kalau anak tersebut terluka. Apa lagi ia merasakan hal yang sangat tidak tenang.
"Siapa sebenarnya anak itu, kenapa sampai menarik saya untuk menyelamatkan anak itu? Padahal tidak biasanya seperti ini." batin Vanandya dengan sangat gelisah.
Cit..
"Sudah sampai nyonya."
"Oh-iya, terima kasih pak," ujar vanandya, ia pun segera membayar taksi, lalu ia keluar dari mobil menunju tempat kuil tersebut. Namun banyak sekali pengunjung, sampai Vanandya tidak bisa lewat.
Vanandya pun segera meminta kepada mereka untuk memberi dirinya jalan karena ingin mengetahui siapa orang yang sudah membuat ia merasa cemas yang ingin mencelakai seorang anak. Padahal dia juga sama-sama wanita.
Karena sudah mendapatkan celah untuk masuk ia segera melewatinya ia segera baik ke tangga, yang kuil itu berada di puncak gunung. sampai membuat mereka harus menaiki tangga.
Di, saat sudah berada di atas angin besar menerpa dirinya sampai membuat rambut-rambutnya berterbangan searah kemana angin tersebut. Ia sangat syok melihat seorang wanita yang terbaring tidak berdaya apa lagi banyak darah di tubuh wanita itu.
"Gisel..
__ADS_1