CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
Bab 15


__ADS_3

"Kau!! Kenapa kau berkata seperti itu?"Bentak nyonya Josephine langsung berdiri dari duduknya. Ia merasa tak terima kalau anaknya di Katai seperti itu, apa lagi itu sama istrinya.


Saat Vanandya akan menjawab pertanyaan sang mama. Sebuah benda jatuh di depan mejanya membuat mereka membulatkan matanya.


Tanu merasa marah harusnya itu di berikan kepada dirinya bukan kepada wanita jal*Ng itu. Ia tak terima kalau kekasihnya memberikan kartu kepada istrinya.


Virendra yang melemparkan black kard kepada istrinya itu. "Apa segitu cukup? kau sama saja seperti ****** di luaran sana?"Bentaknya sambil berlalu pergi dari meja makan. Ia sudah tak berselera untuk makan bersama dengan wanita jal*Ng yang suka ngabisin duit.


Bersamaan itu juga tuan Victor pergi ke perusahaannya untuk mengecek laporan. Karena ada yang janggal tentang perusahaan cabang.


Ketiga wanita itu menatap sinis ke arah Vanandya. Mereka sudah menduga kalau wanita yang berstatus sebagai nyonya muda Magra byantaraarquez sangat matre. Tidak lebih dari seorang jal*Ng rendahan, Mereka lalu berdiri dan menyeret wanita itu ke ruang tamu.


PLAK.


"Kau ini sangat tau malu ya? Udah di pungut oleh keluarga kami masih saja meminta imbalan."Bentak nyonya Josephine yang baru saja menampar mantu'nya itu.


Amora pun menjambak rambut kakak ipar'nya itu dengan sangat keras. Mereka tak peduli jika wanita itu mati sekalipun, karena ia tak akan membiarkan wanita-wanita jal*Ng seperti dia bisa menikmati kekayaan yang di miliki oleh keluarga Marquez.


"Denger kakak ipar tersayang! Aku akan membuat hidup kamu menderita seperti berada di dalam penjara.!!"


PLAK.


PLAK.


Dua kali tamparan di pipi sang kakak ipar. Dan itu di berikan dari Amora ia tidak akan membiarkan kakak di manfaatin oleh wanita rendahan seperti Vanandya, walaupun dia anak dari lacerta ia bisa saja menghancurkan perusahaan itu sekejap mata.


Vanandya hanya meringis kesakitan. Ia tak akan pernah memaafkan mereka karena sudah membuat dirinya kesakitan, Namun sekarang tidak lagi.


"Silahkan saja.. Tapi inget karma akan tetap berlaku, anda juga akan merasakan lebih dari ini rara."Bisik Vanandya yang hanya bisa di denger oleh Amora.


Amora mematung mendengar perkataan kakak iparnya itu. ia merasakan sesuatu yang akan terjadi kepadanya setelah Vanandya berkata seperti itu. Ia pun langsung melepaskan cengkraman di rambut Vanandya.


Vanandya lalu menatap mereka satu persatu lalu pergi dari ruangan itu. Ia lebih baik pergi dari tempat terkutuk itu.


"Hai wanita jal*Ng. Aku akan menjodohkan anakku dengan wanita lain."


"Oh silahkan saja. Tapi inget mama kita gatau hati wanita seperti apa? bisa saja di luar bagus di dalam busuk siapa tau aja tuh Lubang sudah longgar."

__ADS_1


"Mendingan seperti udah pinter masak. Pinter cari duit, pinter dandan walaupun gak pake make up tetap cantik natural. Ga seperti wanita kebanyakan seperti ondel-ondel. Aku sih ga sombong ya ma, tapi kenyataannya emang gitu aku cantik badanku seperti gitar sepanyol."


"CK. Pede sekali anda ini. Cantikan juga wanita yang akan aku jodohkan sama putraku."


"Kan seorang wanita harus pede. Dan iya kita buktikan saja nanti siapa yang akan menang."


"Tentu saja calon mantuku lah."


"Ok lah mah kita besok bikin perlombaan siapa yang akan menang. Dan jurinya adalah papa mertua sama suamiku."


Vanandya pun pergi dari mansion itu tanpa mendengar jawaban dari sang mamah mertua yang seperti kolor ijo. Kemarahannya membuat bumi bergetar seperti mau kiamat.


Melihat kepergian sang mantu membuat wanita paruh baya namun masih tetap cantik seperti seorang gadis umur 20 tahun.


Ia mengerang kesel karena mantu'nya sangat berani kepadanya. Ia lama-lama disini bisa mendapatkan penyakit darah tinggi karena menghadapi wanita gelo seperti Vanandya.


"Tante. Aku kan calon mantu tante?"


"Ck. Jangan mimpi kau, walau sampai lebaran monyet aku tidak akan pernah merestui dirimu."


Tanu. Mengepalkan tangannya ia merasa marah karena wanita yang di sebut calon mantu oleh Rebecca, itu tandanya ia akan mempunyai saingan lagi selain Vanandya. 'Tidak Akan aku biarkan virendra di miliki oleh seseorang. Karena virendra hanya di lahirkan hanya untuk dirinya. 'Batin Tanu saat melihat kepergian sang nyonya Rebecca.


"Kita harus menggagalkan perlombaan mereka."


Mendengar perkataan Amora. Tanu tersenyum bahagia, untungnya ia berteman dengan Amora, jadi ia bisa memanfaatkan kebaikan yang di miliki oleh seseorang nona muda Marquez.


Amora pun pergi meninggalkan Tanu karena ia sudah membuat janji dengan kekasihnya.


***


"Kau gila. Perjanjian kita ga sampai ke situ?"


"Aku tau. Tapi dia juga harus merasakan seperti apa yang kakak rasakan."


"Dia kelurga terpandang kita ga bisa seenaknya mempermainkan dia."


"Kau!! Jadi selama ini kau tidak menyayangi kakak? Kau sudah jalan sejauh ini tapi kau tak menyayanginya saat dia hampir..."

__ADS_1


"Aku tau. Dan kita masih memiliki rencana lain, tapi jangan sampai merenggutnya,"


"Udahlah kau urusi dia biar aku urusi yang satu ini... Kita hanya perlu orang itu keluar."


Dua orang yang sedang mengobrol pun berpisah setelah tidak ada lagi obrolan.


***


"Vanandya?"


Wanita yang bernama Vanandya terkejut setelah namanya di panggil oleh seseorang. Ia pun menengok ke belakang.


"Cakra. Virendra, sedang apa kalian di tempat ini."Vanandya berkata dengan gelegetan dengan keringat dingin membasahi wajah cantiknya.


Mereka berdua menyipitkan matanya dengan jawaban vanandya.


"Bukannya ini tempat umum ya? Jadi bebas dong kita mau kesini. dan kita baru saja menyelesaikan meeting."


Vanandya mengangguk kan kepala sambil ber'oh ria. Ia melupakan kalau ini adalah tempat umum, jadi bebas semua orang mau kesini.


Vanandya lalu berkata kepada Cakra mau kemana lagi setelah ini. Karena ia ingin sekali ikut ke dalam perusahaan suaminya. Ia akan membuat suami'nya jatuh cinta sebelum semuanya terlambat.


Cakra dan virendra saling pandang. Terus tak berselang lama mereka mengajak Vanandya ke perusahaan Marquez.


Saat di dalam mobil hanya keheningan yang menerpa. Membuat suasana menjadi tak nyaman,


"Suamiku kita makan siang di restoran itu yuk?"


Virendra menatap wajah Vanadya. Ia merasakan merinding dengan perubahan sikap istrinya itu, ia berpikir apa istrinya memiliki kepribadian ganda atau dia kesurupan. Namun ia hanya menuruti saya perintah sang istri.


"Cakra?"


"Baik tuan."


Sebuah mobil Alphard berhenti di restoran Korea. Mereka pun keluar dari mobil lalu berjalan memasuki restoran mewah itu.


Mereka duduk di ruang VVIP tempat yang paling nyaman. Karena mereka tak menyukai keramaian.

__ADS_1


Cakra dan berapa bodyguard menjaga di ruang VVIP itu karena seorang yang sangat berpengaruh sangat banyak mempunyai seorang musuh.


"Vir...


__ADS_2