CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
bab 187


__ADS_3

Malam yang sunyi dan sepi, berganti menjadi pagi yang cerah, dan saatnya. Para mahluk hidup melakukan aktivitasnya masing-masing.


Di, sebuah yang sangat megah terdapat seorang wanita yang sedang mengurus seorang, bayi. yang sangat mungil. Wanita, itu sedang menidurkan bayinya. Karena sejak tadi subuh dia sudah bangun. Entah, kenapa bayi itu bangun.


Lalu, seorang pria mendekati wanita itu dengan menggunakan handuk yang melilit bagian terlarangnya. "Apa, Valle sudah tidur?" tanya Valdes.


Vanandya, meletakan baby Valle ke bok bayi, lalu dia menyiapkan pakaian kerja yang akan. di gunakan oleh suaminya, saat sedang memilih baju sebuah benda pusaka tumpul menyentuh area sensitifnya. Membuat vanandya mendesah lirih. "Shhhh.. Ahhhhh." ******* Vanandya membuat Valdes bertanya. "Kamu, kenapa sayang? Harusnya kamu mencari bajuku bukan mendesah seperti itu." kata Valdes,


"Aku, tidak akan mendesah seperti ini jika kamu tidak mulai duluan." ucap vanandya kesal.


"Lah, memangnya aku mulai apa, perasaan sejak tadi aku dia saja." ucap Valdes dengan polos.


"Valdes, si Justin kamu menyentuh si pirang aku.!" pekik, vanandya. Namun, ada ******* kenikmatan di sela-sela perkataannya.


Valdes, tersenyum puas. Melihat muka merah istrinya antara kenikmatan dan kekesalan. Valdes, pun menurunkan kain yang melekat di bagian bawah milik istrinya. Dan, sekali dorong, benda tumpul itu terlah masuk sepuasnya kedalam goa.


Valdes, bermain cepat karena dia akan segera berangkat ke kantor. Valdes, menggerakkan pinggulnya dengan tempo cepat yamg membuat vanandya semakin nikmat, oleh gempuran sang suami.


Bahkan, berapa kali juga Vanandya mengeluarkan isinya, sampai dia kelelahan. Namun, belum ada tanda-tanda suaminya akan keluar. "Sayang, aku mau keluar?" ucap vanandya kepada suaminya yang akan mengeluarkan cairan suci. Yang ke empat kali. Karena, rasa nikmat membuat dia terus menerus mengeluarkan cairan sucinya.


"Bareng, sayang aku juga mau keluar bersama." ujar Valdes. Dan, setelah mengatakan itu selang berapa menit, cairan suci keluar secara bersamaan di dalam goa.


Valdes, berdoa agar semua benih-benihnya bisa menjadi kacang agar dia bisa bahagia. Memiliki seorang anak.


Setelah, menghabiskan waktu satu jam. untuk bertarung. Valdes, langsung segera ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Dan, Vanandya menyiapkan pakaian untuk di gunakan suaminya berkerja.


Valdes, keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Vanandya. Namun, dia tidak menemukan istrinya, bahkan di walk in closet. Saat, sudah siap istrinya datang dari kamar anaknya yang terhubung dengan kamar mereka.

__ADS_1


"Sayang, kamu dari mana?" tanya Valdes saat melihat istrinya keluar dari kamar putra mereka.


"Aku, habis mandi di kamar Vegas." jawab vanandya kepada sang suami.


Valdes, hanya menganggukkan kepala. Lalu, dia menyodorkan dasi kepada vanandya, dia meminta vanandya untuk memakaikan dasi di lehernya.


Vanandya, menerima itu. Lalu, memasangkan dasi dengan telaten. Namun, sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Dia, tau kalau itu adalah kerjaan suami'nya.


"Sayang, apa kamu sudah mencari asisten baru?" tanya Valdes.


Vanandya, yang mendengar itu terdiam sejujurnya dia tidak ingin Hayden keluar dari perusahaannya. Tapi, mau bagaimana lagi dia meminta persyaratan itu. Karena, jika Hayden berkerja di perusahaannya. Maka, kemungkinan besar Hayden akan selalu melihat Kairo. Dan, Hayden tidak ingin itu terjadi.


"Aku, sudah serahkan ke pada Hayden. Sebelum dia pergi dia harus meminta izin terlebih dahulu kepada yang lain. Karena, Hayden adalah orang kepercayaan keluarga mereka. Jadi, tidak mudah untuk Hayden keluar." kata Vanandya kepada suaminya.


"Jadi, sekarang dimana Hayden berada?" tanya Valdes.


"Jangan-jangan, dia adalah kekasih dari Hayden. Karena, dia tidak ingin kami tau jadi dia menyembunyikan mereka di rumah yang berada di Bali." ucap Valdes.


"Itu, tidak mungkin. Kurasa Hayden bukan orang seperti itu. Tapi, aku pernah dengar kalau kemarin Hayden menyelamatkan seorang wanita dengan seorang anak kecil yang kisaran berumur dua tahun." kata Vanandya.


"Jika, benar seperti itu kenapa kita tidak menjodohkan mereka atau menikahkan mereka saja, kan seru jika Hayden mempunyai pasangan. Karena, aku sendiri kasian kepada Hayden." ucap Valdes.


"Sudahlah, kita pikirkan lain waktu, sekarang kamu sudah telat, sebaiknya kita turun ke bawah takut keluarga menunggu kita." ucap Vanandya, yang langsung mengajak suami'nya turun ke lantai dasar. Namun, sebelum pergi Vanandya menitipkan anaknya kepada sang suster. Yang, sudah di kerjakan oleh Valdes untuk merawat anaknya,


Saat, mereka sudah di meja makan, keduanya menyapa keluarga Marquez. "Selamat pagi.!"


"Pagi, juga." jawab mereka.

__ADS_1


"Sayang, dimana baby Va?" tanya rebecca, yang tidak melihat cucu perempuannya.


"Dia, berada di kamar bersama suster." Ucap vanandya, yang di jawab dengan anggukan kepala sadi Rebecca.


Mereka langsung duduk, lalu vanandya menyiapkan roti kepada Valdes dengan selai yang di minta oleh Valdes. Dan, Vanandya pun menyiapkan untuk sendirinya sendiri. Valdes saat ini ingin memakan roti selai saja. Karena, tidak ada waktu untuk makan nasi


Mereka, kembali menikmati sarapan pagi mereka dengan tenang. Tanpa, ada yang berucap, sampai Valdes, berkata kalau dia sudah selesai.


Vanandya, pun berdiri dari duduknya dia akan mengantarkan suaminya berangkat kerja sampai di depan mintu. Namun, saat mereka membuka minta mereka sangat terkejut melihat ada kurir datang membawa boks yang begitu besar.


Kurir pengantar itu pun menanyakan sesuatu kepada Valdes dan vanandya. " Apa, benar ini kediaman Marquez?" tanya kurir pengantar paket.


"Jika, benar emang kenapa?" tanya Valdes dengan dingin. Bahkan, dia sempat heran dengan tukang kurir di depannya. Mana, mungkin, seorang tidak mengetahui kediaman Marquez. Padahal, orang di luaran sana sudah mengetahui keberadaan mansion Marquez.


"Aa-aku, ingin mengantarkan paket buat keluarga kalian," ucap sang kurir dengan gugup, kafana dia takut di apa-apain oleh mereka. Karena, dia belum siap merenggang nyawa.


"Paket?" gumam Valdes. Karena, setahu dirinya, keluarga Marquez tidak pernah membeli membeli paket.


"Mungkin, salah satu keluarga kalian yang memesan Bu paket." ucap sang paket.Dan, setelah mendapatkan.


Setelah surat terima, selesai, tukang paket itu pergi dari kediaman Marquez. Dengan rasa ketakutan. Karena, melihat wajah pasangan suami istri yang sangat menakutkan. Dia, tidak menyangka kalau suami-istri itu memiliki watak yang sama,


"Terus ini bagaimana? Haruskah, kita biarkan saja atau kita bawa ke dalam dan memberikan kepada mereka semua.?" tanya vanandya.


Valdes, tanpa menjawab, dia langsung mengangkat boks besar itu yang tidak mereka. Dan, di saat keluarga Marquez datang dari ruang makan. Lalu, mereka bertanya apa yang berada di. boks besar.


Namun, vanandya dan Valdes hanya menggelengkan kepala, Mereka juga tidak tau isi di dalam boks itu. Jadi mereka mengusulkan untuk membuka kotak itu.

__ADS_1


Deg...!


__ADS_2