CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
Bab 26


__ADS_3

Setelah mengetahui letak dimana bundanya berada, Vanandya langsung menancapkan pedal gas'nya. Ia tidak perduli kalau dirinya mati, yang ia pedulikan saat ini adalah kondisi sang bunda.


Saat sudah sampai di lokasi tempat bundanya ia lalu menghentikan mobilnya, ia langsung keluar dari dalam mobil,


Vanandya yang melihat supir bundanya ada di luaran mobilnya, lalu menghampiri pria itu.


"Nona muda."Sapa supir, kepada anak majikannya.


"Dimana bunda?"


"Di dalam nona."


Vanandya lalu melihat kedalam mobil, ia terkejut melihat sang bunda yang berantakan, ia yakin depresi bundanya kambuh lagi.


"Bundaaa..."Teriak Vanandya kepada bundanya, ia sangat sedih. Kondisi bundanya sangat memperihatinkan, lalu ia menyuruh supir. Bundanya, untuk membuka kunci pintu mobil itu,


Setelah mobilnya tak terkunci. Vanandya masuk kedalam mobil, lalu ia menenangkan bundanya itu dengan cara memeluknya dengan erat, untungnya di dalam mobil tidak ada benda tajam.


Ia merasakan sesak dan sedih, melihat kondisi sang bunda. Air mata pun keluar begitu saja membasahi wajah cantik vanandya,


"Dia pembunuh, dia pembunuh, aku akan menghancurkan mereka.?"Racau varisa.


"Iya bunda, bunda tenang ya kita akan menghancurkan mereka."Ucap Vanandya kepada bundanya,


Lalu Vanandya memberikan obat kepada bundanya, bunda varisa pun perlahan mulai tenang. Tidak seperti sebelumnya.


"Bunda sudah tenang sekarang?"


Bunda varisa menganggukkan kepalanya,ia lalu tersenyum kepada putrinya untuk tidak perlu khawatir akan keadaan dirinya.


Vanandya, yang ingin mengantarkan bundanya pergi langsung di cegah olehnya, Vanandya harus tetap di tanah air agar bisa cepat menyelesaikan misinya.


Ia, hanya pasrah saja menuruti perintah bundanya. Lalu ia pun keluar dari mobil, tapi ia tak bodoh ia meminta kepada seluruh anak buahnya dan bodyguard bundanya untuk mengawal bundanya sampai ke tempat tujuan.


Vanandya berpamitan kepada bundanya untuk pulang ke kediamannya, ia juga sudah memberikan obat kepada bundanya. Agar sewaktu-waktu bundanya kambuh, bunda bisa meminumnya.


Mobi di tumpangi oleh bundanya berjalan meninggalkan tempat itu, dengan di kawal 10 mobil di belakang dan depannya agar sang nyonya baik-baik saja.


Setelah tidak terlihat ia juga meninggalkan tempat itu ia berlalu pergi ke mansion'nya.

__ADS_1


***


Tepat sebuah mobil Lamborghini Aventador berhenti di halaman mansion keluarga Marquez. berpapasan dengan mobil Vanandya juga baru sampai.


Mereka keluar dari mobil secara bersamaan, dengan aura yang berbeda.


BRAK'


BRAK'


Kedua mobil yang di tutup secara bersamaan, membuat mereka menoleh satu sama lain.


DEGH. Jantung seakan-akan berhenti seperti sebuah jam yang kehilangan batunya, saat melihat satu sama lain. Dengan keterkejutan melanda kedua anak Adam dan hawa.


'Sepertinya jodoh berpihak kepadaku, akhirnya kita bertemu kakak ipar.' Batin Vanandya kepada sosok pria di depannya itu.


Mereka lalu berjalan memasuki mansion dengan Vanandya di depan pria itu. Saat di ruang keluarga mereka di sambut hangat oleh keluarganya.


"Sayang, kamu dari mana saja? Tadi mama mencari kamu."Rebecca berkata dengan lembut kepada mantu'nya itu. Saat ia sudah mengetahui kalau vanandya anak dari sahabat lamanya ia pun menerima dia sebagai mantu'nya, dan kedua kandidat yang ia pilih untuk menjadi mantu sudah di buang jauh-jauh dari keluarganya.


Tuk Tuk Tuk. Suara sepatu Pantofel menginjak lantai, dengan wibawanya pria itu mendekati Keluarga'nya.


"Mama."Panggil pria itu kepada sang mama.


Rebecca lalu berjalan mendekati sang sulung, dan ia memeluk sang sulung. "Grey's gimana kabarmu? Kenapa pulang tak memberi tau kami?"Tanya Rebecca bertubi-tubi.


"Hm baik. Aku pulang untuk memberi pelajaran kepada orang yang terlah menghancurkan adikku."Aura yang di keluarkan oleh Grey's sangat dingin.


Mereka semua terdiam, ia tau pasti orang yang terlah menghancurkan orang tersayangnya akan lenyap di tangan pria kejam itu.


Grey's faresta Marquez. Anak sulung dari Rebecca dan Victor, dia pria berhati dingin, dia adalah pemilik mafia terkejam di dunia. Tidak ada yang menandingi kehebatan Grey's dalam dunia bawah, Grey's tidak akan segan-segan menghabisi orang itu jika sudah berurusan dengan orang-orang tersayangnya.


Lalu Rebecca, mengenalkan Grey's kepada mantunya, istri dari virendra. Mereka pun berjabat tangan satu sama lain,


"Grey's."


"Vanandya."


Mereka berucap dengan sangat dingin, aura yang terpancar sama-sama menakutkan.

__ADS_1


Deheman. Seorang pria mengejutkan mereka yang sedang berjabat tangan, dengan aura yang tidak kalah menakutkan dari mereka, pria itu menatap wajah. Kakak dan istrinya itu, dengan mata elangnya yang sangat tajam.


Seketika ruangan itu menjadi sangat dingin melebihi kutub Utara, karena aura yang terpancar di tubuh tiga orang yang saling bertatapan. Tak ada yang mau melepaskan tatapan tajam mereka.


Rebecca, yang sangat pusing karena kedua putranya itu saling tatapan seperti ini menerkam satu sama lain. Ia pun menghangatkan suasana di ruangan itu.


Rebecca langsung menggiring anak-anaknya dan suami'nya pergi ke meja makan, karena ini sudah waktunya jam makan malam.


Saat semuanya sudah ada di meja makan, satu persatu makan sudah di taruh di depan mereka.


"Gimana. Perusahaan yang ada di Italia grey?"Tanya Victor kepada anak sulungnya.


"Aman."Ucap seadanya saja.


Mereka kembali terdiam, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu.


"Vir. Kenapa kamu bisa kecolongan begini? Saya sudah memperingati kepada kalian untuk menjaga adik ku."Ucap grey dengan sangat dingin. Setelah sekian lama terdiam,


"Dia juga adik ku kak! Harusnya kau tanyakan saja kepada Briana Kenapa bisa ada di bar, saya kan sudah memperingati agar tidak terlalu Deket dengan seorang pria."Virendra mengucapkan tidak kalah dingin.


Grey, lalu menatap sang adik. Dengan tatapan tajam, ia juga menyalahkan adiknya itu dengan pergi dengan seorang pria tidak di kenalinya.


"Maafkan, aku kak."Briana berkata dengan lirih, ia sangat takut akan kemarahan kakak'nya itu, selain kak virendra, kak grey orang yang sangat di di takuti. Tapi kemarahan kedua kakak'nya tak sebanding dengan kemarahan kakak ke-duanya,


Grey's terdiam tanpa menjawab kata, 'Maaf ' Dari adiknya itu. Saat ini ia sedang berusaha mencari pelaku atas apa yang terlah dia perbuat kepada adiknya itu, ia tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja.


"Grey's, apa kamu sudah menemukan pelaku yang terlah melukai adikmu?"Rebecca berkata dengan lembut kepada sang sulung.


"Belum mah, tapi aku akan berusaha mencarinya."Ucap Grey's berapi-api.


"Vir. Setelah ini temui kakak di markas."


Virendra menganggukkan kepalanya,


Mereka lalu melanjutkan makan malamnya, namun sebuah dering ponsel mengejutkan mereka.


Vanandya yang ponselnya berdering langsung mengangkat panggilan itu. Ia sangat tidak suka mengabaikan panggilan,


"Hallo."

__ADS_1


"......"


"Apa?"


__ADS_2