
Saat sudah memasuki dalam mansion, ia terkejut dengan suara Bariton yang menggelegar di penjuru mansion.
"Dari mana saja kamu. Apa begini seorang wanita yang sudah bersuami kelayapan dengan pria lain."
Wanita itu mematung mendengar suara yang membuat ia merasakan nyeri di lubuk hatinya ia tidak suka jika ada orang yang menghina dirinya.
"JAWAB AKU VANANDYA NATASHA LACERTA!!"Bentak pria dengan sangat marah karena istrinya sudah mulai berani main api dengannya.
Vanandya hanya tersenyum sinis. Karena suami'nya membentak dirinya bahkan menuduh dirinya bermain dengan pria lain.
"Urusannya dengan kamu apa tuan virendra? Bukannya awal perjanjian kita sudah jelas tidak akan pernah mencampuri urusan masing-masing."Vanandya menekan kata depi kata.
Virendra menampar pipi istrinya itu, ia sangat murka apa lagi ia melihat istrinya bermain dengan tiga pria sekaligus.
"Dasar jal*Ng murahan. Kau menjerat pria kaya dengan trik murahan mu itu, sangat menjijikkan, saya heran kenapa ada wanita mur*han seperti dirimu itu. Atau jangan-jangan kau seperti ibu mu yang menjerat tuan lacerta dengan triknya.
PLAK.
Vanandya tidak terima jika Mamahnya di hina oleh orang lain yang mengatakan mur*han, ia tidak apa-apa jika dirinya di hina, tapi jika orang tersayangnya di hina ia akan maju.
Vanandya lalu menendang perut suami'nya sampai tersungkur kebelakang, Virendra yang belum siap langsung terjungkal karena serangan mendadak dari istrinya.
Vanandya berjongkok agar sejajar dengan virendra. "Saya terima jika anda menghina saya, tapi jika anda menghina wanita yang sudah melahirkan saya. Saya tidak akan tinggal diam lagi.!"Vanandya berdiri dari jongkoknya dan ia menginjak kaki virendra sampai sang punya mendesah kesakitan.
Ia berpapasan dengan duo jal*Ng rendahan yang sukanya bikin masalah. Ia pun melajukan langkahnya menunju ke arah anak tangga.
Kedua wanita yang tak lain adalah Tanu dan Amora, langsung membantu virendra untuk berdiri, mereka lalu duduk di ruang keluarga.
"Kakak gak papa?"
Virendra hanya diam saja, ia masih memikirkan yang baru saja terjadi barusan.
"Kakak. Kakak harus cepat ceraikan istri kakak, aku muak dengan kelakuan wanita itu bahkan tadi aku mendengar suara vanandya sedang berbicara dengan pria lain."
Virendra Langsung menatap ke arah adiknya itu seolah-olah bertanya.
Amora pun memberikan rekaman yang tadi sudah ia rekam saat orang suruhannya berkata kepada Vanandya.
Lalu ia memberikan rekaman itu kepada kakak'nya.
...ISI REKAMAN....
"Hai nona sendirian aja?"
"Urusan situ apa? Mau saya sendiri atau tidak ini bukan urusan anda."
__ADS_1
Vanandya.
"Lebih baik kita bersenang-senang di pantai itu nona sambil memadu kasih."Ucap satu pria.
"Benar nona kita bersenang-senang. Lagian kami mampu kok memuaskan nona cantik. Pasti nona puas deh dengan pelayanan kami, apa lagi kami memiliki kej****nan yang besar."
"Baiklah kita mulai. Aku juga ingin di puaskan."
...****************...
Isi percakapan antara orang suruhan Amora dan Tanu, mereka sudah mengedit suara itu menjadi lebih panas lagi.
Virendra meremas ponselnya, ia sangat jijik dengan kelakuan Vanandya yang seperti seorang mucikari, ia lalu bergegas naik ke lain dua dengan rauh wajah yang merah menahan marah.
BRAKK.
Suara pintu kamar Vanandya di buka dengan sangat keras, sampai seorang yang berada di dalamnya terkejut dengan apa yang terlah di lakukan oleh virendra.
"Kau gila. Kenapa kau masuk ke kamarku dengan tidak sopan?"
Virendra tak mendengarkan ocehan wanita itu, ia lalu mengunci pintu kamar itu dan berjalan mendekati Vanandya yang sudah mulai memasang pelindung.
"Aku akan bayar kamu 1 miliar satu malam gimana apa itu cukup?"
"Brengsek aku tidak ingin uangmu.!!"Bentak Vanandya yang merasa marah dengan perkataan virendra.
Vanandya hanya diam saja tak bersuara, sambil menjauh dari pria brengsek di depannya itu.
Karena Vanandya terus melawan virendra menarik tangan Vanandya dengan sangat kasar untuk mendekati dirinya. Ia lalu mendorong tubuh wanita itu ke kasur.
Virendra langsung mengungkung tubuh wanita itu di bawahnya dengan tanpa perasaan ia merobek kain yang melekat di dalam tubuh istrinya itu.
Setelah sudah tak memakai pakaian ia juga melepaskan kain yang ia pakai, saat ini mereka sudah tak berpakaian sehelai benang pun.
Dengan kasar virendra memasukan juniornya ke arah tempatnya. Sampai membuat pemilik gua itu meringis kesakitan dan air mata pun jatuh dari matanya. Namun, virendra tak memperdulikan wanita itu yang merasakan kesakitan.
Berjam-jam terlah mereka lewati, saat ini virendra baru saja melakukan pelepasan untuk kesekian kalinya. Setelah semuanya selesai ia melemparkan berapa kartu kepada wanita itu. Virendra pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan badannya.
Hiks.. Hiks.. Hiksss.. Tangis Vanandya pecah di ruangan itu, ia tak menyangka kalau dia akan melakukan ini kepada dirinya untuk kedua kalinya ia merasakan sakit tak kala perkataan suaminya yang berkata menyakitkan di saat ber**nta dengannya.
Lalu ia mengabari seseorang, ia sudah menujui rencana yang akan membuat dia tak akan berulang kali. Setelah sambungan telepon itu terhubung.
"Hallo."
"....."
__ADS_1
"Lakukan rencana mu."
"....."
"Aku yakin."
"...."
"Dia melakukan dengan kekerasan."
"..."
"Baiklah."
Sambungan telepon pun berakhir setelah obrolan selesai.
***
Vanandya turun dari tempat tidurnya saat matahari sudah terbit. Lalu ia membersihkan badannya guna menghilangkan bekas percintaan mereka,. yang begitu menjijikkan.
"Akan ku buat hidup mu hancur tuan virendra.!"Vanandya bergumam dengan berapi-api saat mengingat percintaan mereka yang begitu kasar kepada dirinya, bahkan ia sampai berjalan tertatih-tatih.
Ia tunggu orang itu melakukan tugasnya, agar orang itu tau rasanya mengalami seperti ini.
"Karma akan tetap berlaku, akan aku pastikan karma yang kalian alami akan sangat mengerikan."
Setelah membersihkan badannya ia pergi ke arah walk in closet dan memilih baju yang bisa menutup bagian jejek percintaan.
Ia lalu keluar dari walk in closet kau berjalan ke arah pintu, saat ia berjalan ia melihat banyak kartu yang di berikan oleh suaminya. Ia tak mengambilnya ia lalu pergi dari kamar itu.
Ia menuruni anak tangga dengan pelan-pelan, karena masih merasakan sakit di area terlarangnya. Ia mengabaikan orang-orang yang sudah berada di meja makan.
Tampa melihat orang itu Vanandya mengambil sarapan pagi, ia mengeluarkan aura yang begitu mencengkram dari biasa'nya.
"Hai.. Kau ini sangat tidak sopan, ada orang tua di sini kamu abaikan."Ucap nyonya Rebecca yang merasa kesel karena mereka tak di anggap ada oleh vanandya.
Vanandya melihat sekilas ke arah orang yang sedang berbicara kepada dirinya, lalu ia melanjutkan lagi sarapannya.
"Vanandya, apa kau denger aku sedang berbicara denganmu?" Bentak nyonya Rebecca. Merasa marah karena vanandya tak mendengarkan perkataan dirinya.
"Tidak!"
"Pantes. Kayanya kamu tak memiliki telinga."Timpal Tanu kepada Vanandya.
"Tante dia siapa..."
__ADS_1
...****************...