
DEGHHH!!
Meneer merasa dunianya berhenti seketika mendengar cerita dari kakak'nya, ia tak menyangka kalau ibunya akan meninggal dengan tragis. Dan itu di lakukan oleh keluarga suaminya.
"Kakak?" Satu kata yang bisa ia ucapkan, tak sudah tidak bisa berkata-kata lagi kepada wanita di depannya. Ia pun dengan kesedihannya berlutut di depan keluarga kakak'nya dengan tangan di depan dadanya. "Maaf.."
Eleanor enggan untuk menatap ke arah saudari angkatnya, karena ia tak mampu bertatap muka dengannya.
"Meneer, mulai saat ini kita tak memiliki hubungan apa-apa lagi? Dan ya mulai detik ini juga jangan panggil aku kakak, karena aku bukan kakakmu?"Setelah berkata seperti itu Eleanor pergi dari kediaman Marquez dengan di susul oleh suaminya.
Sedangkan varisa yang sudah pulih, pun menatap ke arah keluarga Marquez satu-persatu.
"Dimana hati nurani kalian? Entah dosa apa aku kepada keluarga ini sampai keluargaku harus hancur..!" Varisa berkata dengan sangat dingin. Lalu ia menatap ke arah sahabat'nya. "Caca? Dulu saat kita masih remaja, bukankah kita ingin menjodohkan anak-anak kita? Tapi saat ini aku menarik perjodohan itu semua. Dan aku minta buat virendra mengurus perceraian dengan putriku..!!"
"Tante, apa Tante juga akan menjauhkan aku dengan nana dan anak dalam kandungannya?"
"Ya, karena mulai detik ini aku tidak ingin melihat wajah-wajah pembunuhan keluarga ku."
Varisa lalu membawa Vanandya pergi dari tempat itu, namun sebelum melangkah lebih jauh. Valdes langsung bersimpuh di kaki varisa, dia memohon agar tidak menjauhkan dirinya dengan vanandya, apa lagi dia sedang menantikan anak dalam kandungan Vanandya.
Tapi ego dan keras kepala varisa sangat besar, ia tidak akan membiarkan putrinya harus Deket dengan keluar pembunuh. Ia pun melanjutkan jalannya dengan menarik tangan putrinya.
Vanandya tak bisa berbuat apa-apa ia diam saja, dengan dunia pikirannya, yang saling bertarung.
Hatinya sangat menginginkan agar Valdes berada di sisinya, namun pikirannya sangat menolaknya dengan alasan orang yang terlah menghancurkan hidup keluarganya.
"NANAAAAA..!!!"Teriak Valdes saat melihat Vanandya sudah menghilang di makan pintu.
Semua keluar hanya diam mematung, mereka juga menyesali atas perbuatannya karena. Ulah di masa lalunya, membuat anak-anaknya menderita.
Grey's, tak kala bersedih. Ia juga bersedih atas hilangnya wanita yang selalu singgah di hatinya, dengan perasaan campur aduk ia meninggalkan ruang tamu, ia berjalan ke arah kamar.
Dan di susul oleh Valdes, dengan aura yang menyeramkan.. Ia sangat membenci anggota keluarga,
Saat ini Valdes sangat emosi, ia sampai menghancurkan barang-barang di dalam kamarnya.. Ia tidak bisa hidup tanpa cahaya ya.
Dia kembali mengingat pertemuannya dengan vanandya.
__ADS_1
...FLASHBACK ONN....
Saat ini seorang pria, culun sedang di kroyok oleh segerombolan geng motor yang sangat berkuasa di daerah itu.. Karena pria itu tak bisa melawan orang sebanyak itu hanya dia saja menerima setiap pukulan yang di terimanya.
"Aku peringatkan kau sekali lagi jangan pernah mengusik ketenangan ku.. Atau ini akibatnya?"Ucap pria yang di yakini adalah ketuanya.
Saat hendak akan memukulnya lagi, ada suara sirene polisi yang membuat mereka mengurungkan niatnya dan mereka pun langsung pergi dari situ.
Di rasa cukup aman seorang wanita keluar dari dari semak-semak, dengan aura kecantikannya. Sampai membuat pria yang babak belur terdiam dengan terus memandanginya.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Namun pria itu hanya diam saja tak menjawab pertanyaan wanita tersebut.
PLAK.. Wanita itu memukul lengan tangannya, dan pria itu pun tersadar dari lamunannya.
"Hm.. Ta-tadi bicara apa?"
"Apa kamu sudah siap metong?"
"Apa? Aku belum siap untuk metong? Plis ampuni aku?!"
"A-aku, tersesat dan saat aku akan pergi aku melihat geng motor merampok anak kecil,"
"Oh, jadi kesimpulannya kau ingin membantu anak yang di rampok itu tapi kamu yang jadi sasarannya?"Tebak wanita itu.
Pria culun nan lugu hanya menganggukkan kepala dengan sedih.
"Btw, nama kamu siapa?"
"Hm namaku Aldebarat. Kalau kamu?"
"Namaku Nandya."Merekapun berjabat tangan dengan bahagia, saat itu juga mereka menjadi sahabat akrab.
Dimana ada nandya di situ ada Al, mereka bagaikan amplop dan prangko.. Tak bisa di pisahkan, bahkan mereka berjanji akan hidup dalam satu sisi.
Namun kejadian malam tahun baru persahabatan mereka hancur tak tersisa. Karena kesalahan fatal yang di lakukan oleh Aldebarat membuat Vanandya membenci dan meninggalkan pria itu.
__ADS_1
Aldebarat sangat menyesal terlah menodai kesucian sahabat. Karena dirinya di jebak oleh temennya menggunakan obat pera*gsang, sampai membuat ia harus melakukan dengan Vanandya.
Setelan kejadian itu hidup Valdes menjadi pendiam karena cahayanya terlah pergi.. Karena tak ingin merasakan kesedihan ia pergi ke luar negri sambil mengurus perusahaan kakeknya yang ada di sana.
Teryata pertemuan singkat antara Vanandya dan Valdes mampu membuat hatinya saling terhubung, bahkan cintanya sangat besar satu sama lain.
...FLASHBACK OFF...
Mengingat semua itu Valdes merasakan kesedihan, ia tak ingin Vanandya pergi untuk kedua kalinya apa lagi dengan membawa anaknya yang masih di dalam perut.
"Nandya, aku tak akan membiarkan kamu pergi dari sisiku untuk yang kedua kalinya..!"Tekatnya, ia pun berdiri dari duduknya lalu keluar dari kamarnya dengan tangan yang terus mengeluarkan darah akibat Valdes memukul kaca.
Rebecca dan yang lain masih sedih atas peristiwa tadi kembali terkejut saat melihat Valdes keluar dengan darah yang menetes.
"Valdes..!"Panggil Rebecca namun tak di dengar oleh Valdes.
Victor, langsung menghentikan anaknya itu dengan suara lantangnya.
Valdes pun menghentikan langkahnya lalu berbalik arah menatap ke arah keluarganya.. "Ada apa anda menghentikan diriku, tidak cukup kah kau merusakku? Sekarang terlah memisahkan diriku dengan belahan jiwaku.!"Valdes berkata dengan dingin.
"Valdes jaga bicaramu dengan orang yang lebih tua?!!"Bentak tuan vinton. Ia tidak suka jika cucu-cucunya menjadi seorang pembangkang dengan orang yang lebih tua.
"Maaf kakek saya tidak bisa menjaganya."
"Kau beraninya kau..?"Saat akan berbicara langsung di hentikan oleh meneer, ia tak ingin sampai membuat cucunya semakin marah kepadanya.
Meneer lalu mendekati cucunya, sambil membelai punggung kokohnya.
"Sayang kamu mau kemana?"Meneer berbicara dengan lembut kepada Valdes, karena ia sangat mengetahui kalau Valdes sangat membutuhkan perhatian agar dia mampu meluluhkan hatinya yang keras.
Namun Valdes enggan untuk berbicara. Karena pada dasarnya ia tak bisa meluapkan perkataannya.
Meneer lalu membawa cucu keduanya untuk duduk di sampingnya, Valdes hanya bisa mengikutinya saja.
Setelah duduk meneer menyuruh mantu'nya untuk mengambilkan kotak obat. Rebecca lalu memberikan kontak obat kepada ibunya.
Dengan telaten meneer mengobati luka Valdes, Di perlakukan seperti itu Valdes hanya diam saja, tanpa ada ekspresi sedikitpun di wajahnya.
__ADS_1
"Sayang, Sebenarnya kamu ingin kemana?"