CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 68


__ADS_3

"Hai.. Salam kenal?"Ucap grayland dan twins kepada Tanu yang sedang berdiri depan mereka.


Tanu pun menyapa balik anak-anak, dengan senyum ramah kepada grayland sama twins.


Alvagas, yang melihat seorang anak di gendongan Tanu pun berjalan ke belakang Tanu dan menyapa anak kecil itu. Dengan ramah,


"Hai.. Siapa nama kamu?"Ucap alvagas kepada anak itu sambil menjulurkan tangannya namun tak sampai kepada anak Thommy.


Tanu yang melihat itu pun menyuruh agar anaknya turun dari gendongannya. Dan Thommy pun turun dia berdiri di depan alvagas dan mereka pun saling bertatap.


Lalu alvagas menjulurkan tangannya kembali ke arah Thommy. Thommy yang melihat itu pun diam sejenak sebelum ia menerima jabatan tangan alvegas ia menatap ke arah sang mama.


Alvegas yang memang yang punya yang kesabarannya setipis tisu pun mengambil tangan Thommy dan mereka pun berjabat tangan.


"Nah gini kan enak dari tadi.. Tangan aku pegel tau kaya tadi.. Eh iya kenalin namaku alvagas, dan nama kamu siapa?"


Kesabaran alvagas pulai menipis, seakan-akan tisunya di bagi menjadi sepuluh bagian.. "Ayok dong berbicara jangan diam Pulu entar aku kasih hadiah?"Bujuk Alvagas kepada kepada Thommy agar mau berbicara dengannya.


Mereka yang melihat interaksi antara dua anak kecil hanya diam saja,


"Lucas."Jawab Thommy dengan suara khas anak kecil.


Oma Eleanor, opa rudra dan Tanu merasa terkejut mendengar Thommy bersuara, pasalnya semenjak itu Thommy tak pernah sekalipun berbicara walaupun di bujuk dengan apa saja dia menolak.. Tapi sekarang seakan tuhan menghendaki keinginan alvagas agar Thommy mau berbicara.


Alvegas merasa bahagia karena mendapatkan teman baru pasalnya kakak'nya adalah dokter cinta sedangkan kembarannya orang yang sangat dingin.


Alvagas pun berkata kepada Thommy apakah dia mau jadi sahabatnya. Lantas Thommy menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Tanu merasakan bahagia melihat anaknya tersenyum, walaupun dia jarang bicara, ia yakin lama-lama putranya akan terus berbicara.


"Lho.. Tanu?"Ucap seorang wanita yang baru saja datang, dan melihat sosok Tanu berada bersama dengan anak, Oma dan opanya.


Tanu yang melihat Vanandya dan Valdes di depannya merasa takut, karena ia harus berhadapan dengan vanandya wanita yang pernah ia sakiti. Begitu pun dengan Thommy ia langsung bersembunyi di balik tubuh Mamahnya.


Vanandya melihat gelagat Tanu dan anak kecil itu merasa ketakutan pun melihat ke arah Oma'nya, namun Oma hanya membalas tatapan cucunya dengan senyuman.

__ADS_1


Vanandya menghela nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar.


Ia lalu mendekati Tanu dan memeluk tubuh Tanu yang gemetar ketakutan.


"Tidak apa-apa tanu.. Kamu jangan takut aku sudah melupakan kejadian itu sekarang kita mulai dari awal."Ucap Vanandya penuh kelembutan membuat Tanu mendongak menatap vanandya. "Dan aku akan membantu kamu melakukan keadilan jadi tak perlu takut ok"


Tanu mengangguk kepala, menjawab pertanyaan Vanandya.


Lain dengan Valdes ia sejak tadi diam saja sambil melihat ke empat anak kecil yang ada di depannya. Ia sudah tau twins adalah anaknya karena mereka mirip dengan Valdes. Namun saat melihat ke arah grayland ia seperti melihat orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Sedangkan melihat Thommy ia seperti melihat virendra kecil.


Beribu pertanyaan yang berada di pikirannya saat melihat kedua anak beda umur itu, ia sebenernya ingin menanyakan sesuatu tapi waktunya belum tepat.


"Sebaiknya kita masuk kedalam, karena makan malam sebentar lagi di mulai."Ujar oma Eleanor menghentikan aksi peluk-pelukan.


Mereka pun beriring-iringan memasuki rumah yang begitu besar seperti istana kerajaan. Pastilah secara Vanandya pemilik perusahaan terbesar sedunia, Masa rumahnya gubuk derita, ga bakalan mungkin dong.


Saat mereka memasuki pintu utama rumah itu, mereka pun langsung di sambut hangat oleh keluarga lacerta.


Barisan pun mengajak mereka untuk duduk di ruang keluarga, ia juga sempat tersenyum misterius ke arah Valdes. Namun ia kembali ke ekspresi biasa.


Valdes yang memang melihat ibu mertua tersenyum misterius merasa merinding bahkan bulu kuduknya berdiri. Ia jadi takut berhadapan dengan mertuanya,


'Aku bersumpah atas nama agama, lebih baik berhadapan dengan musuh dari pada berhadapan dengan mertua.'Batin Valdes berteriak.


Suara jantung berdebar kencang pertanda saat ini Valdes merasa gugup, dengan situasi ini.. Apa lagi ia sendirian di ruang keluarga hanya ada mertuanya dengan tatapan tajam.


"Valdes Hutabarat Marquez! Kau tau kenapa aku memanggilmu kesini?"


"Tidak ayah?"Entah keberanian dari mana Valdes mampu menjawab dengan lancar.


Valdes lalu menghembuskan nafas kasar'nya ia hanya berdoa setelah ini ayah mertuanya mau merestui dirinya, kalau tetap sama dengan terpaksa ia culik Vanandya dan bikin dia badan dua lagi.


"Apa kamu berharap aku akan merestuimu?"Tuan Hendrik kembali berkata dengan aura dingin.


"Tentu yah, aku sangat berharap ayah mau merestui ku!"

__ADS_1


Sebelum melanjutkan perkataannya Hendrik menghela nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya. "Tapi kalau aku tak merestui mu gimana?"


"Tentu saja aku akan buat Vanandya hamil lagi eh.."Oh isi pikirannya Valdes keluar dan membuat aura di situ semakin mencengkram bahkan Valdes melihat pupil mata ayah mertua yang sangat tajam seakan-akan ingin menerkam mangsanya hidup-hidup.


"Berani sekali kau mengatakan itu di depanku?"


"Maksud saya.. Saya rela mati demi bisa bersama dengan Vanandya."


"Bagus dong kalau kamu mati! Dengan begitu akan akan menikahkan Vanandya dengan pria lain."


Valdes tercengang dengan perkataan ayah mertuanya, ia pun langsung bersimpuh di kaki ayah mertuanya untuk mengijinkan dirinya bersama dengan Vanandya, ia tidak bisa hidup tanpa cahaya hatinya, bahkan ia tetap bertahan hidup agar bisa melihat wanita yang pernah ia renggut keperawanannya.


Namun Hendrik masih mempertahankan semuanya ia ingin melihat sejauh mana pria yang diam-diam menikahinya Tanta seizin dari dirinya,


"Baiklah aku akan merestuimu tapi apa kamu mau melakukan apapun yang aku minta?"


Valdes mendengar itu langsung tersenyum ia langsung bangkit, lalu menghadap ke arah mertuanya.


"Apapun yang om minta aku akan turuti!"Ujarnya dengan serius.


Hendrik pun tersenyum, Tanta ada yang mengetahui senyuman apa itu.


"Seluruh harta kamu?"


Valdes berpikir sejenak lalu menganggukkan kepala. "Baik yah, hari ini juga aku akan buat seluruh warisan yang aku punya atas nama ayah."


"Sepertinya aku berubah pikiran."


"Terus Ayah mau apa"


Hendrik pun terdiam sejenak, ia sedang memikirkan permintaan yang susah di kabulkan oleh mantu'nya itu, enak saja ia akan menyerahkan anaknya dengan mudah, itu tidak akan terjadi dalam kamus besarnya.


"Cepat ayah! Apa permintaan ayah?"Ucap Valdes, karena kesal ayahnya tak menjawab ia pun sedikit membentaknya


"Hm.. Apa kamu sanggup membuat seribu piramida dalam satu malam?"

__ADS_1


Kali ini Valdes yang mematung dengan permintaan aneh ayah mertuanya.


"Tapi ayah..."


__ADS_2