CINTA DI ATAS PERJODOHAN

CINTA DI ATAS PERJODOHAN
BAB 232


__ADS_3

Sherly putri.


Seorang anak yang selalu menyendiri bahkan tidak pernah berbaur dengan anak-anak panti lain'nya dia akan selalu sendiri di taman, tak jarang anak-anak panti yang mau bermain dengan Sherly apa lagi dengan sifat Sherly yang pendiam tidak banyak berbicara kepada siapapun.


Sherly juga sering di Katai bisu oleh anak-anak panti lain'nya karena Sherly tidak pernah mengeluarkan suaranya.


Vanandya, yang memiliki aura ke ibuan pun datang menghampiri anak yang bernama Sherly ia ia ingin mengobrol dengan Sherly, apa benar yang di katakan oleh anak-anak kalau Sherly tidak bisa berbicara atau memang karena sifat Sherly lah yang tidak suka banyak berbicara.


"Hallo, apa boleh saya duduk di sini?" tanya vanandya saat sudah berada di hadapan Sherly.


Sherly yang sedang menatap ke arah tanah pun mendongakkan kepala lalu menatap ke arah Vanandya, setelah itu Sherly hanya mengangguk dan kembali menatap tanah.


"Nama kamu siapa?" tanya Vanandya.


Lagi-lagi tidak ada jawaban dari Sherly dia hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan dari vanandya.


Vanandya tersenyum ke arah Sherly ia mengulurkan coklat di hadapan Sherly, karena ia ingin membuat Sherly tersenyum. Ia pun kembali berkata kepada Sherly.


"Orang bilang, kalau kita makan coklat bisa membuat hati kita tenang apa lagi coklat bisa memperbaiki mood kita yang sedang kacau." ujar vanandya.


Ia meminta kepada Sherly untuk mengambil coklat yang berada di tangannya, dengan takut Sherly mengambil coklat dari tangan Vanandya.


"Terimakasih!" ucap Sherly,


Hal itu membuat vanandya terkejut mendengar suara Sherly, teryata dugaan anak-anak tentang Sherly salah yang mengatakan kalau dia bisu atau susah bicara.


Anak itu pun membuka bungkus coklat lalu ia memakan cokelat yang di berikan oleh vanandya.


Di lain tempat Valdes dan ibu panti sedang melihat interaksi antara keduanya, dan mereka juga sangatlah terkejut kalau Sherly mau mengucapkan terimakasih kepada Vanandya, bahkan selama Sherly berada di tempat ini ia tidak pernah mendengar suara Sherly.


"Tuan sepertinya istri anda mampu meluluhkan hati anak-anak, karena Sherly selama berada di sini tidak pernah mengeluarkan suaranya," ujar ibu panti.

__ADS_1


"Itulah istri saya, yang memiliki hati yang sangat baik, bahkan dia selalu menolong orang-orang, saya juga sebagai suaminya merasa bangga kepada Vanda." ucap Valdes.


"Benar tuan istri anda memilik hati bak seperti malaikat, bahkan saat rema dia selalu bermain di sini dan menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak, maka dari itu anak-anak yang melihat kedatangan nona Vanda langsung berhamburan mendekati nona. Karena mereka semua sudah menganggap Vanda seperti ibu mereka sendiri." ucap ibu panti yang menceritakan tentang Vanda.


Valdes yang mendengar cerita istrinya yang sangat baik, ia sangat bangga bahkan ia tersenyum tipis karena tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Sayang, aku tidak percaya teryata di balik sifat kamu yang tegas, keras kepala, kamu menyembunyikan rahasia di balik semua itu, aku benar-benar bangga sama kamu sayang, aku berharap sifat kamu tidak akan pernah berubah," monolog Valdes dalam hati.


Mereka pun kembali menatap ke arah Vanandya yang sedang berpelukan dengan Sherly bahkan ke-dua nya saling tersenyum, mereka benar-benar tidak percaya padahal mereka baru bertemu, tapi seakan-akan ke-dua nya sudah saling mengenal


Valdes dan Ibu panti pun berjalan mendekati ke-dua nya.


"Wah, sepertinya anak bunda sudah bisa tersenyum?" ujar ibu panti kepada Sherly.


"Harus dong Bu, jika Sherly tidak tersenyum dia tidak akan cantik maka dari itu Sherly tersenyum agar Sherly bisa menampilkan kecantikannya," ujar Vanandya.


Yang yang membalas perkataan ibu panti adalah Vanandya, karena ia tau kalau Sherly belum bisa berbicara kepada orang-orang hanya dirinya saja yang Sherly ajak bicara.


Sherly yang mendengar vanandya akan. pulang pun sangat sedih bahkan dia tidak ingin kalau Vanandya pergi dari panti asuhan ini.


Vanandya pun berjongkok agar sejajar dengan Sherly ia memegang dagu Sherly. dan ia mengatakan dengan lembut kepada Sherly.


"Sayang, mommy janji bakalan sering main ke tempat ini, jadi kamu tidak perlu bersedih oke?" ujar Vanda.


Sherly pun menganggukkan kepalan walaupun berat, padahal ia baru saja dekat dengan Vanda.


Setelah berpamitan kepada semua orang, Vanandya dan Valdes masuk kedalam mobil dan Valdes menjalankan mobilnya dengan pelan.


***


Sementara di kediaman Marquez kembali tegang dengan upah Gisel yang selalu semena-mena terhadap orang-orang di dalam Marquez.

__ADS_1


"Kalian dengar, disini akulah yang akan menggantikan posisi hazel di rumah ini, dan akulah yang akan menjadi nyonya muda ke empat di kediaman Marquez. Jadi jika kalian membantah saya bakalan menghukum kalian! Apa kalian paham?!" ucap Gisel dengan tegas.


Para pelayan yang sedang berkumpul di situ hanya mengangguk saja, karena mereka tidak berani dengan Gisel. Apa lagi mereka mengetahui kalau Gisel sedang mengandung anak dari tuan Grey's.


"Gisel, jangan pernah kau mengaku-ngaku sebagai nyonya muda ke empat di dalam kediaman marquez, karena posisi kamu saat ini tidak lebih sebagai tamu bukan sebagai nyonya apa kau paham?!" ucap Rebecca dengan tegas.


Gisel menatap sinis ke arah Rebecca ia sangat membenci Rebecca, karena dia selalu saja mengacaukan rencananya untuk menguasai Marquez. Namun sekarang ia tidak akan membiarkan Rebecca menang, apa lagi saat ini ia tengah hamil dan hal itu akan membuat pengaruhnya sangat besar di kediaman Marquez.


"Mama, harus ingat bahwa saat ini aku sedang mengandung anak dari Grey's yang nantinya akan menjadi seorang putri mahkota di kediaman Marquez group, dan mama harus ingat itu," ucap Gisel dengan sinis.


"Kau?!"


Rebecca benar-benar merasa jengah dengan kehadiran Gisel di kediaman Marquez apa lagi dengan status sebagai wanita yang mengandung anak dari putranya.


Walau begitu ia tidak akan pernah menganggap anak itu ada, karena ia sangat tidak menyukai Gisel.


"Kenapa mama? Apa mama sudah kalah dari aku?" ucap Gisel.


"Kami tidak akan pernah kalian dari seorang wanita rendahan kami hanya mengalah demi kesenangan kamu dan setelah itu kami lah yang akan menang melawan mu," ucap seorang wanita dengan anggun dan tegas.


Vanandya.


Valdes.


Kedua orang yang mendengar pertengkaran antara mama dan Gisel, mereka pun berjalan menghampiri Rebecca dan memeluk wanita paruh baya itu. Lalu Valdes menatap ke arah Gisel.


"Ingat ini Gisel kami tidak akan pernah kalah darimu, dan kami akan menghancurkan kamu setelah anak itu lahir setelah itu ucapkan selamat tinggal kepada dunia.!" ucap Valdes dengan dingin.


"Apa kau mengancam ku tuan Valdes Hutabarat Marquez?" ucap Gisel.


"Aku tidak mengancam mu, aku hanya memberikan peringatan kepada mu karena saat ini kau tengah hamil maka kami akan memberikan jeda untuk kau hidup di dunia." ucap Valdes.

__ADS_1


"Sayangnya kau tidak bisa melakukan hal itu karena aku memiliki.."


__ADS_2