
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mereka akhirnya sampai di pemakaman keluarga Tholense dan turun dari mobil. Lalu mereka berjalan masuk ke dalam makam yang khusus untuk keluarga besar.
Tanuja pun berjongkok di depan pusara orangtuanya yang sudah meninggalkannya. Dia tidak dapat membayangkan telah kehilangan kedua orangtuanya dengan usia yang masih sangat muda.
"Ibu, ayah... Maafkan Tanu karena baru menjenguk kalian. Ayah, aku juga sudah mengambil hak Tanu dan mengusir mereka. Mungkin, jika tidak bantuan dari keluarga Lacerta, aku tidak akan mendapatkan yang seharusnya milik Tanu. Oh ya, ibu, ayah... Aku juga membawa cucu kalian," ucap Tanu di depan pusara kedua orangtuanya.
Thommy yang berada di dekat Tanu hanya diam saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sementara Oma Eleanor, Opa Rudra, dan keluarganya yang tidak jauh dari situ hanya menatap sedih, iba atas kata-kata Tanu yang sangat menyedihkan.
Vanandya yang melihat pusara sang nenek buyut pun berjalan mendekati pusara itu. "Hai, nenek buyut. Andai kau masih hidup, pasti kamu melihat keluarga Miharjo. Lihat, ini adalah anak dan cucumu," ucap Vanandya sambil menunjuk ke arah keluarganya.
Oma Eleanor yang mendengar itu pun berjalan mendekati sang cucu. Dia melihat batu nisan yang tertulis Roosevelt, nama yang sama dengan nama belakang dirinya.
"Ibu, andai kau tak berpisah dengan ayah, mungkin aku masih bisa melihatmu sampai kau menghembuskan nafas terakhirmu. Jujur, aku masih tak percaya kalau kamu adalah ibuku. Maaf, Bu, pertemuan kita sampai di sini. Semoga kita bisa bersama lagi di alam sana," batin Eleanor lalu berdiri dengan dibantu oleh Rudra.
Setelah melepas rindu, Rudra mengajak mereka pulang karena tubuhnya yang sudah tidak muda lagi membuatnya lelah. Apalagi, ia sudah memiliki seorang cucu, jadi usianya sudah diambil oleh keturunannya. Mereka semua pun memutuskan untuk langsung pulang ke Indonesia karena pekerjaan yang tidak boleh ditinggalkan lama-lama.
Setelah satu bulan mengambil perusahaan dari tangan Mahayuda, saat ini Vanandya sedang bersantai-santai di dalam kediamannya. Dia enggan melakukan aktivitas apa pun lagi, apalagi kedua putranya tinggal dengan Oma-nya. Jadi, dia di mansion yang besar ini hanya ditemani oleh para bodyguard dan asisten yang berjaga.
Saat sedang asik bermain ponsel, dia dikejutkan dengan suara langkah kaki, dan dia waspada takut ada bahaya. Namun anehnya tak bergerak, jadi dia pun siap mengambil alat sapu untuk memukul orang yang mendekatinya.
Vanandya bersembunyi di balik tembok, dan saat orang itu sudah mendekat, dia pun langsung memukul orang itu dengan sangat keras. Orang itu ternyata Valdes, suaminya sendiri, yang meringis kesakitan sambil menghindar dari serangan sang istri yang sedang memukul dirinya.
Valdes pun langsung menangkap genggaman sapu dan melemparkannya ke sembarang arah lalu menatap sang istri. "Apa kau gila memukul suamimu sendiri?"
Vanandya yang melihat suaminya hanya cengengesan sambil tangannya membentuk huruf V. "Ya aku tidak tahu kalau itu kamu? Apa kamu lupa kalau kamu pernah bilang begitu tadi pagi..."
...FLASHBACK ON...
__ADS_1
...Saat ini Vanandya sedang sarapan pagi bersama suaminya Valdes karena anaknya masih di kediaman ayah Hendrik, jadi mau tidak mau mereka makan berdua. Setelah selesai sarapan pagi, Vanandya mengantarkan suaminya ke depan rumah karena suaminya akan berangkat ke kantor.
"Sayang, aku berangkat dulu ya. Kamu baik-baik saja di rumah."
"Iya, suami aku tercinta."
"Terus, kalau ada apa-apa, telepon aku?"
"Iya, sayang."
"Nanti kalau ada orang masuk ke rumah, pukul saja, jangan kasih ampun, biar orang itu jera tidak masuk kedalam rumah lagi."
"Siap, Komandan."
Setelah suaminya berangkat ke kantor, Vanandya pun kembali menutup pintu dan berjalan ke arah ruang keluarga untuk bersantai.
Sang suami hanya bisa membulatkan matanya. Ternyata, perkataan dirinya sampai memukul dirinya sendiri, 'Ini mah namanya senjata makan tuan,' batin Valdes. Dia pun tak akan pernah menyuruh istrinya lagi untuk siap sedia.
"Eh, tapi ini baru jam 10? Kenapa kamu pulang cepat?" tanya Vanandya yang menyadari kalau Valdes hanya dua jam di luar.
"Oh, itu ada rapat KKB."
"Hah? Apa itu KKB?"
"Kumpulan keluarga bucin, jadi aku dipulangkan lebih cepat."
Vanandya yang mendengar hanya menganga lebar mendengar jawaban dari Valdes. Emangnya, sekolah ada KKB.
__ADS_1
"Hm, sayang, lebih baik kita nonton film aja yuk," ajak Valdes kepada Vanandya karena ia baru saja mendapatkan DVD baru hasil rekomendasi dari sang asisten pribadi.
"Nonton Drakor ya, soalnya aku ingin melihat para suami-suami aku ya."
Valdes langsung menjawab cepat karena ia tak akan pernah mengijinkan Vanandya menonton Drakor. Bisa-bisa dia lebih mementingkan Drakor daripada dirinya, tentu saja ia tak terima.
"Tidak sayang! Aku sudah punya DVD film pemberian dari Kai."
Mendengar ucapan dari Valdes, Vanandya memicingkan matanya. Dia curiga kalau DVD yang diberikan oleh Kai tidak benar, apalagi dia sedang mencintai asisten pribadinya yang notabenya sesama pria.
"Jangan bilang kalau DVD itu...?" Vanandya tidak melanjutkan perkataannya karena enggan menyambungkan.
Valdes pun langsung menggelengkan kepala. Walau dia suka jeruk, tapi dia tidak berbuat kotor. Yang dia tau, dia juga suka bakpao. Jadi, semua ini hanya obsesi semata.
Tanpa berlama-lama, Valdes menggendong istrinya untuk membawanya ke dalam kamar karena ia tak sabar ingin menonton film yang diberikan oleh Kai. Setelah sampai di dalam kamar, Valdes meletakkan Vanandya di kasur, lalu ia berjalan ke pintu dan menguncinya takut kejadian yang satu bulan yang lalu terulang kembali. Dia juga langsung menyetel DVD. DVD itu pun berputar dan menampilkan kisah cinta dua remaja yang sedang kasmaran.
Karena Valdes merasa panas, ia melepaskan kemejanya yang sudah berkeringat dan melepaskan celananya juga. Vanandya yang tidak menyadari itu, hanya diam sambil menyaksikan film yang diputar oleh suaminya.
Vanandya tenang saja, karena film tersebut tidak mengandung unsur bahaya bagi anak-anak. Valdes yang sedang berbaring di sebelahnya tidak mengenakan pakaian apa pun, lalu iseng memegang tangan Vanandya dan menunjuk ke arah anak mereka yang sedang tertidur.
Vanandya yang sedang asyik menonton film terkejut saat tangannya menyentuh benda kramat milik suaminya, dan segera menarik tangannya dari benda tersebut. Dia menatap suaminya dengan tajam karena suaminya telanjang.
"Mengapa kamu tak berpakaian..?!" Tanya Vanandya kesal pada suaminya.
"Aduh sayang, suhu cuaca sangat panas, kalo gini kan lebih sejuk," jawab Valdes santai.
"Tapi kamu bisa memakai pakaian lain yang lebih pantas!" sahut Vanandya semakin kesal terhadap suaminya.
__ADS_1
"AKHHHHH!"