
"BRAM BEGINI KAH CARA KAMU MEMPERLAKUKAN ASTUTI. MAMA TAK MENYANGKA KARENA PEREMPUAN ITU KAU TEGA MENYIKSA PUTRI KANDUNGMU!!"Wanita yang sudah tak muda lagi berjalan ke arah astuti. Ia tak menyangka kalau selama ini cucunya hidup menderita.
PLAK!! Nyonya Wijaya menampar keras pipi anaknya, lalu ia menatap citra dengan tatapan sinis. Karena dia mantunya harus pergi untuk selama-lamanya,
"Dengar Bram mulai sekarang astuti akan tinggal bersama dengan ibu, dan ibu tidak mau mendengar bantahan dari kamu."Ucap nyonya Wijaya.
"Dan besok temui ibu di kantor."Nyonya Wijaya membawa cucu pergi dari rumah neraka ini. Namun sebelum mereka pergi ia meminta kepada bodyguard untuk membereskan barang-barang pribadi cucunya tak kecuali.
Setelah mengatakan itu nyonya Wijaya benar-benar membawa cucu pergi dari tempat ini.
Astuti hanya diam saja tanpa bersuara, karena ia masih merasakan sakit akibat tamparan dari sang papah.
***
Sementara itu di sebuah ruangan terdapat seorang wanita yang sedang sedih karena tidak kekerasan yang di lakukan oleh seorang pria yang sangat kejam.
Jika boleh memilih ia ingin mengakhiri hidupnya saja tanpa merasakan sesakit ini. Kondisi dirinya sudah mulai melemah karena sering sekali di pukul oleh seorang.
TUK!
TUK!
TUK!
TUK!
Suara langkah kaki membuat wanita itu ketakutan, karena ia tau apa yang akan terjadi kepada dirinya walaupun dirinya sudah resmi menjadi istrinya namun tak di pungkiri kalau dirinya cuma di jadikan hewan peliharaan, bahkan derajad yang lebih tinggi di sini adalah para pelayan.
Belum melakukan persiapan seorang sudah menyiram dirinya dengan air dingin membuat tubuhnya menggigil kedinginan apa lagi AC yang menyala.
"Teryata kau sudah bangun?"
"Vir apa salahku? Kenapa kau memperlakukan aku seperti peliharaan?"
Virendra yang mendengar suara Tanu tertawa jahatnya, ya pria itu tak lain adalah Virendra dia menyiksa Tanu karena dia yang membuat Vanandya minta cerai darinya.
Karena memiliki rasa dendam ia menikahi Tanu setelah persidangan antara ia dan Vanandya. Ia ingin sekali menghancurkan posisi Tanu yang dulu adalah kekasih menjadi hewan peliharaan.
__ADS_1
Virendra lalu melepaskan ikat pinggang dari celananya lalu ia mencambuk tubuh Tanu tanpa ampun, ia sudah di selimuti aura kemarahan.
"Dasar jal*ng karena kau aku harus pisah dari istriku."
Tanu yang mendengar itu tersenyum kecut, mendengar ucapan dari Virendra yang mengatakan dirinya adalah perusak rumah tangga viren dengan Vanandya.
"Sebaiknya kau ngaca? Bukan aku yang menghancurkan tapi itu karena perbuatan kamu sendiri yang ingin pisah dengan Vanandya..., Dan apa kau lupa setelah ijab qobul kalian. tak lebih sekadar orang asing karena kau sudah menceraikan istri mu itu."Bentak Tanu yang tak bisa membendung kemarahan karena dirinya selalu saja di salahkan oleh pria yang sudah menepati hatinya.
Virendra tentu tak terima dengan semua bentakan Tanu, ia lalu menampar pipi Tanu berapa kali bahkan ia menjambak rambut Tanu dengan keras sampai berapa helai tercabut dari kepala.
Tak sampai di situ virendra menyeret Tanu dengan kasar ke arah kamar mandi ia turus saja memukul berapa kali kepada Tanu.
Pelayan mendengar teriakan Tanu pun merasa iba, namun mereka tak bisa melakukan apa-apa. Karena setatus mereka hanya pelayan tentu saja kalau mereka menolong tanu taruhannya sebuah nyawa. Jadi mereka membiarkan apa saja yang tuannya lakukan,
"HIKS.. HIKS... HIKSS.. Vir aku mohon maafkan aku tolong lepaskan aku.. aku tak kuat lagi.. Ingit Vir.. di.. dalam.. perut ini ada anak kamu.. darah daging kamu sendiri.."
"Cuih. Sekalinya jal*Ng tetap jal*ng, aku tau kalau aku tak akan bisa memiliki seorang anak karena kakakku terlah melakukan sesuatu agar tak bisa memberikan anak."Ia kembali memukul Tanu sampai babak belur dengan perbuatan dirinya.
Tanu hanya bisa pasrah saja, namun ia bisa bersumpah kalau anak yang dirinya kandung adalah anak Virendra.
Setelah selesai memukul Tanu ia pergi dari hadapan Tanu dan sebelum keluar dari rumah itu ia menyuruh agar mengobati semua luka Tanu, dia tidak ingin hewan peliharaan harus mati di tangah jalan.
***
Rebecca yang sedang dari merasakan cemas karena melihat ibu mertua jatuh sakit. Ia terus saja mondar-mandir seperti setrika,, Dan ia merasa kesal karena suami dari tak kunjung di angkat. Dan ayah mertua yang sedang pergi ke luar kota bersama dengan ibu agni merasa enggan untuk menelponnya, Kekesalan kembali terjadi anak-anak susah sekali di hubungi.
"Rebecca! Kau bisa diam tidak? Kepalaku pusing melihatmu mondar-mandir, tak perlu khawatir dokter sudah memeriksa keadaan ibu meneer."Cerocos Kimberly karena melihat adik ipar mondar-mandir.
"Diam kamu! Kau tidak tau aku sedang khawatir melihat ibu yang tiba-tiba pingsan?"
Kimberly monyong-monyong sambil mengikuti gerakan Rebecca yang sedang berbicara.
"Kimberly!!"
"Rebecca jaga sopan santun mu? Kau tau status kita di sini siapa yang lebih tinggi? Jadi kau harus panggil aku kakak ipar paham!"Pekik Kimberly langsung berdiri dari duduknya.
"Jangan karena status aku takut melawan mu? Asalkan kamu tau kau itu hanya anak kemarin sore yang menikah dengan kakak ipar,, mungkin kah menikahinya karena harta.."
__ADS_1
PLAK!
"Jaga ucapan mu Rebecca! Saya tidak sekalipun berpikir seperti itu."Bentak Kimberly yang tersurut emosi.
"Cih! Hanya seorang gila harta yang mau menikah dengan pria yang pantes nya buat ibu kamu"
Saat Kimberly akan bersuara pintu kamar meneer di buka, lalu nampak lah seorang dokter keluar dari kamar.
"Dokter gimana kondisi ibu mertua?"
"Nyonya Meneer baik-baik saja dia hanya kelelahan dan saya sarankan agar nyonya Meneer jangan mikir yang berat-berat."Setelah mengatakan itu ia menyerahkan resep obat yang harus di tebus.
Rebecca pun mengantarkan sang dokter keluar namun sebelum pergi ia menitipkan kepada Kimberly untuk menjaganya jaga-jaga kalau ibu sadarkan diri dan meminta sesuatu.
Setelah kepergian Rebecca Kimberly duduk di dekat meneer dengan tangan memegang tangan meneer. Bayangan buruk kembali terlintas di kepalanya,
"Akgghhh! Kenapa kepalaku tiba-tiba sakit apa ini."
DALAM INGATAN KIMBERLY.
"Akhhh tolong kebakaran!"
"Kebakaran!"
"Kebakaran!"
"Cepat pergi."
KEMBALI KE DUNIA NYATA.
Buliran bening keluar dari pori-pori wanita cantik itu.ingatan yang tidak jelas membuat ia merasakan sakit Kimberly pun berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
"Ingatan apa ini kenapa selalu membuatku sakit?"
"Dan kebakaran, kenapa banyak sekali anak kecil yang berteriak kebakaran?"
Kimberly terus saja bertanya-tanya tentang ingatan itu, sudah berapa tau ia mengalami ini tapi semua itu tak bisa ia kenali.
__ADS_1
"Kim!"